Posted in FF, Romance, Twoshoot

FF Series : Is This Our Fate? [Kook-Seo]

Jung Je Hwan’s Present

“Is This Our Fate? (Chapt. 1)”

Cast by Jang Seo Rin, Jeon Jung Kook, Kim Hee Chul and other cast

Genre : Romance

Rating : PG 15

Length : Oneshoot

Recommended song : WINNER – Confession

***

Pertemuan kedua belum bisa kita anggap sebagai takdir, tapi kalau kita sudah bertemu lebih dari tiga kali, bisakah aku menganggap mu sebagai takdir ku kelak? –Jeon Jung Kook

Benarkah begitu, tuan muda Jeon? –Jang Seo Rin

***

                Asap tebal mengepul keluar dari mulut gadis yang kini melangkahkan kakinya cepat di trotoar di pagi hari bulan Januari yang bisa dibilang sangat dingin ini. Dia berkali-kali memperhatikan jam tangannya sambil mengumpat sebal, kenapa dia harus bangun kesiangan. Ini juga salahnya sendiri karena kemarin malam, bukannya Seo Rin, gadis itu, beristirahat ia malah menamatkan drama yang diperankan oleh aktor kesukaannya itu. Yang menyebabkan gadis itu harus tidur sangat larut malam. Dan yang lebih parah lagi, dia lupa menyetel alarm sebelum berangkat tidur.

“Sial, aku bisa benar-benar mati hari ini.” Umpat Seo Rin sekali lagi. Kalau bukan karena telepon dari sahabatnya itu, Seo Rin yakin dirinya saat ini masih tertidur pulas di ranjang empuknya itu dan besoknya ketika ia masuk kantor dia akan langsung mendapatkan death glare dari team leadernya itu ditambah dengan pemotongan tunjangannya. Memikirkan hal itu saja membuatnya bergidik ngeri.

“Ayo, Jang Seo Rin, kau pasti bisa sampai kantor sebelum si freak Kim Hee Chul tiba di kantor. Kau pasti bisa Jang Seo Rin.” Kali ini, Seo Rin mengeluarkan semua tenaganya untuk berlari ke arah kantornya yang sudah mulai terlihat di ujung matanya.

Seo Rin berlari tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya. Sesekali dia menabrak orang yang menghalangi jalannya sambil mengucapkan kata ‘jwesonghamnida’ berkali-kali setiap kali orang yang ditabraknya menyumpah serampahi dirinya. Target Seo Rin kali ini adalah dirinya bisa sampai dengan selamat di kantornya sebelum Kim Hee Chul yang moody itu datang. Bahkan ia sudah tak memperhatikan dandanannya yang mulai luntur karena keringat yang menguncur dari dahinya. Bahkan rambutnya yang tadi tersisir rapi sekarang sangat berantakan. Ia terlihat sangat kacau pada pagi hari yang dingin ini.

Tepat ketika Seo Rin melewati belokan yang akan menghantarkannya sampai dengan kantor tempatnya bekerja, dia menambah kecepatannya dalam berlari. Napasnya tambah terengah-engah ketika ia berhasil memasuki kompleks kantornya. Dengan kekuatan yang masih dimilikinya, dia memasuki lobi tempat kerjanya. Dia menyapa resepsionis seperti kebiasaannya ketika sampai di lobi itu. Dan juga berusaha menormalkan napasnya yang terputus-putus akibat olahraga paginya di musim dingin.

Neo waegeurae? Penampilan mu kacau.” Balas Lee Yun Ji, sang resepsionis yang memperhatikan penampilan Jang Seo Rin yang memang sangat kacau itu.

“Kim—huh—Kim Hee—heuh—Chul? Kim Hee Chul, dia di sudah datang?” Tanpa perlu repot menanggapi komentar rekannya itu, dia bertanya dengan napas terputus-putus apakah team leadernya itu sudah tiba di kantor atau belum.

“Aku belum melihatnya sedari tadi. Mungkin dia akan datang agak siang.” Jawab Yun Ji. Setelah mendengar jawaban Yun Ji itu, Seo Rin langsung melangkah meninggalkan Yun Ji. “Gomawo, Yun Ji-ya.” Dengan pastinya mengucapkan terima kasih kepada rekannya itu.

Paling tidak setelah mendengar penuturan Yun Ji jika si bosnya itu memang belum tiba di kantor bisa membuat Seo Rin sedikit bernapas lega. Usahanya berlari-lari di pagi seperti ini, paling tidak membuahkan hasil.

***

                “YAKK!! JANG SEO RIN!! NEO JUGOSHIPPEO, EO?” Teriakan Kim Hee Chul membahana seantero lantai tiga tempat Seo Rin baru saja menginjakkan kakinya. Lelaki cantik berusia 33 tahun itu memergoki Seo Rin berjalan mengendap-endap dengan keadaan yang sangat-sangat kacau ke arah meja kerjanya.

Sedangkan Seo Rin, yang tadi perasaanya lega mengetahui Kim Hee Chul belum tiba di kantor dari resepsionis Lee di lobi, mendadak mati kutu setelah mendengar teriakan membahana dari lelaki yang kadar kecantikannya bahkan melebihi kadar kecantikan dirinya sendiri. Seo Rin yang tadi mengendap-endap layaknya maling mulai menegakkan badannya dan berusaha menyapa team leadernya itu. “Eh, timjangnim, anyeonghaseyo.” Sapa Seo Rin dengan menundukkan wajahnya. Dia bisa merasakan tatapan mematikan dari team leadernya itu dan Seo Rin mungkin sudah pasrah dengan apa yang dilakukan team leadernya yang semena-mena itu.

Memperhatikan penampilan Seo Rin yang lebih dari cukup di bilang kacau dengan rambut berantakan dan keringat yang bercucuran di pelipis kepalanya, Kim Hee Chul melupakan sejenak kenapa dia berteriak marah ke bawahannya itu. “YAKK!! Kau niat bekerja hari ini, nona Jang?” Tanya Kim Hee Chul dengan intonasi yang bisa dibilang kesal itu.

Ne timjangnin.” Ujar Seo Rin seadanya. Kalau aku tak niat bekerja hari ini, kenapa juga aku harus memforsir tenaga ku pagi-pagi seperti ini untuk berlari-lari? Batin Seo Rin kesal. Seo Rin memandang Ryu Hwa dengan raut wajah memelas darinya yang hanya dibalas gelengan kepala prihatin dari sahabatnya itu.

“Lalu, ada apa itu dengan penampilan mu? Kau lebih baik dibilang gelandangan dari pada seorang bawahan Kim Hee Chul. Dan lagi, nona Jang, kau sudah telat lebih dari dua puluh menit. Kau tahu itu?” Ujar Kim Hee Chul dengan beruntun. Mendengar perkataan menghina dari Kim Hee Chul tersebut, rekan-rekan Seo Rin bukannya merasa kasihan malah hanya terkikik pelan. Seo Rin yang mendengar hal itu dari rekannya, hanya bisa memandang dengan tatapan mematikan terhadap mereka semua.

Jeongmal jwesonghamnida, timjangnim. Saya tak akan mengulanginya lagi.” Akhirnya, inilah satu-satunya cara agar team leadernya yang bisa dibilang kelewat unik itu, untuk melepaskan Seo Rin dari hukuman-hukuman yang bahkan tak bisa dipikirkan olehnya.

“Kau beruntung aku sedang dalam mood yang malas untuk memerahi orang, jadi kau hanya ku beri peringatan. Kalau sekali lagi kau terlambat dan datang ke kantor dengan keadaan seperti gelandangan seperti itu, aku tak segan-segan untuk memotong sebagian dari honor mu selama tiga bulan. Kau paham itu, nona Jang.” Tutur Kim Hee Chul yang hanya dihadiahi anggukan pasrah sekaligus senang dari Seo Rin, yang mengetahui bahwa dia tak akan mendapatkan hukuman yang aneh-aneh dari team leadernya itu.

“Untuk itu, rapikan dandanan mu itu. Aku tak mau mempunyai bawahan yang mirip gelandangan seperti itu.” Ujar Kim Hee Chul sekali lagi sebelum kembali masuk ke ruangan kebesarannya.

Ne timjangnim.” Dengan hembusan napas lega, Jang Seo Rin terduduk ke meja kerjanya yang bersebelahan dengan meja kerja Ryu Hwa.

“Walau bagaimanapun, ucapan Kim Hee Chul itu benar adanya. Kau lebih terlihat seperti gelandangan daripada karyawan majalah, Rin-ah.” Ujar Ryu Hwa dengan nada yang prihatin ke arah temannya itu.

“Kau tahu, aku tadi bangun kesiangan. Dan aku berusaha sekuat tenaga untuk sampai kantor ini tepat pada waktunya. Dan sialnya aku tadi malah salah bis, yang menyebabkan aku harus berlari dari halte dekat rumah mu itu.” Ujar Seo Rin sambil meletakkan kepalanya di atas meja kerja.

“Salah siapa coba tadi malam bukannya istirahat malah menonton drama hingga larut?” Sindir Ryu Hwa.

“Oke-oke, semua salah ku.” Sambung Seo Rin mengakui kesalahannya.

“Ya sudah, lebih baik kau membersihkan diri mu itu. Sungguh keadaan mu hari ini sangat mengenaskan, Seo-ah.” Titah Ryu Hwa. Seo Rin yang diperintahkan pun langsung berdiri dari tempat duduknya dan melakukan apa yang diminta team leadernya tadi dan juga Ryu Hwa. Bahkan tanpa perlu ditebak dirinya sendiri pun, Seo Rin sudah sangat putus asa dengan bagaimana keadaannya sekarang mengingat sudah tiga orang dalam sehari yang berkomentar tentang bagaimana kacaunya pmpilan.

***

                Selesai membenahi penampilannya yang kacau balau, Seo Rin langsung bergegas kembali ke ruangan. Namun, kesialan lagi-lagi menghampirinya. Ketika ia bergegas ke arah kantornya, salah satu heels yang melekat pada sepatu berhak tinggi milik Seo Rin entah kenapa patah dengan tiba-tiba yang menyebabkannya oleng dan hampir jatuh terjerembab. Di saat yang bersamaan seseorang yang juga baru saja keluar dari toilet pria mencegah Seo Rin merasakan kerasnya lantai kantor. Seo Rin yang sudah pasrah dia akan merasakan kerasnya lantai kantornya hanya bisa menutup mata takut.

Satu detik… Dua detik.. Tiga detik… Seo Rin masih juga menutup matanya. Dia tak merasakan rasa sakit akibat jatuh namun yang Seo Rin rasakan adalah ada dua tangan yang berada di pinggangnya dan menariknya agar tak terjatuh. Yang menyebabkan jarak antara Seo Rin dan pria itu sangatlah dekat dan membuat Seo Rin dapat mencium harus parfum yang dipakai pria itu. Hal itu tak urung membuat Seo Rin membeku dan semakin enggan membuka kedua matanya. Dia merasa seperti mengenali wangi parfum yang menguar di indra pembauannya.

Agasshi, chogiyo?”  Tanya pria yang membantu Seo Rin. Dia berusaha menyadarkan Seo Rin yang sedari tadi masih menutup rapat kedua matanya. Seo Rin yang merasa terpanggil pun akhirnya membuka matanya. Dan hal pertama yang ia saksikan adalah, wajah seorang yang satu bulan yang lalu menjadi penolong gadis itu. Seo Rin yang sedak tadi sudah membeku hanya dengan mencium bau parfum pria ini manjadi semakin tak karuan. Bahkan detak jantungnya mulai bekerja secara berlebihan.

“Ahh, kau, Seo Rin-sshi?” Tanya pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Jeon Jung Kook. Seo Rin pun kembali ke alam sadarnya setelah pria itu memanggil namanya tanpa cacat.

“Ahh, n—ne, Jung Kook-sshi.” Jawab Seo Rin dengan kikuk. Dalam keadaan sadar seperti ini, jantung Seo Rin bekerja semakin tak terkendali apalagi ketika dirinya merasakan tangan Jung Kook masih menahan pinggangnya secara posesif. Dengan refleks, Seo Rin melepaskan diri secara paksa dari kedua tangan Jung Kook. Ia pun langsung mundur beberapa langkah dari hadapan Jung Kook. Jung Kook yang menyadari situasinyapun hanya menunduk malu dan salah tingkah.

“Eum, yang tadi, jeongmal gamsahamnida, Jung Kook-sshi.” Ujar Seo Rin untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka berdua.

“Ah aniyeyo, aku juga kebetulan baru keluar dari kamar mandi itu.” Jawab Jung Kook setelah berhasil menguasai dirinya.

“Kalau begitu, aku harus segera kembali bekerja. Keureom.” Kata Seo Rin mulai melangkah meninggalkan lelaki itu dengan langkah pincang.

Chankamanyo, Seo Rin-sshi.”ujar Jung Kook. Ia pun menyusul Seo Rin yang sudah berada di depannya. Seo Rin yang namanya merasa dipanggil pun memalingkan wajahnya ke arah Jung Kook.

Waeyo, Jung Kook-sshi?” Bukannya mendapatkan jawaban dari lelaki yang telah memanggilnya itu, ia malah mendapati Jung Kook tengah berjongkok di hadapannya. Seo Rin pun hanya diam tak mengerti apa mau dari lelaki yang telah menolongnya tempo lalu itu.

Jung Kook yang kini tengah berjongkok di hadapan Seo Rin, lalu dengan perlahan membuka high heels yang dikenakan oleh gadis yang tengah memandangnya penasaran itu. “Jogiyo, Jung Kook-sshi, apa yang sedang kau lalukan dengan high heels ku?” Tanya Seo Rin dengan sopan, setelah mengetahui Jung Kook melepas sepatunya itu tanpa izin darinya. Sedangkan Jung Kook, tanpa menjawab pertanyaan Seo Rin, ia langsung melepas heel yang ada di sepatu Seo Rin.

Chamsimanyo, Jung Kook-sshi, apa yang sedang kau lakukan dengan sepatu ku? Kenapa kau melepas heel nya dengan seenaknya?” Tanya Seo Rin yang geram melihat Jung Kook dengan tanpa meminta izin darinya mencopot heel yang ada di high heels yang biasa ia gunakan untuk bekerja itu.

“Bisa kau lepas sepatu mu yang satu lagi, Seo Rin-sshi?” Pinta Jung Kook, lagi-lagi tak mengindahkan pertanyaan Seo Rin.

Shireundeyo.” Tolak Seo Rin keras. Bagaimana mungkin ia melepas sepatu yang masih dikenakannya itu? Ia masih tak habis pikir bagaimana mungkin lelaki yang masih setia dalam posisi berjongkoknya itu, dengan berani-beraninya merusak sepatu kesayangannya?

Ppaliyo.” Desak Jung Kook. Karena merasa ucapannya tak digubris oleh gadis dihadapannya itu, Jung Kook pun akhirnya mencopot sepatu berhak tinggi yang melekat di kaki kanan gadis itu.

“YAKK!! YAKK!!” Teriak Seo Rin tak terima karena Jung Kook tanpa sopan santun langsung melepas sepatunya itu dan yang lebih parahnya lagi adalah mematahkan juga heelnya yang masih terlihat sangat baik itu. Kini, sepatu high heels nya menjadi flat shoes. “Kau apakan high heels ku? Kalau begini, bagaimana aku bisa bekerja, Jung Kook-sshi?” Lanjut Seo Rin yang sekarang benar-benar sudah berada dalam puncak kemarahannya.

“Malahan kalau begini, kau bisa bekerja, Seo Rin-sshi. Cha.” Tanpa diduga-duga Seo Rin, setelah melepas sepatunya secara paksa dan mengubahnya menjadi flat shoes lelaki itu memasangkan kembali ke kedua kaki Seo Rin.

“Tapi tetap saja, kau telah merusak salah satu sepatu kesayangan ku, Jung Kook-sshi.” Jawab Seo Rin masih dengan nada tak terima miliknya.

“Tapi, bukankah aku membuat mu menjadi lebih nyaman, huh? Kau pasti tak nyaman menggunakan sepatu berhak tinggi mu yang patah sebelah seperti tadi, maka dari itu aku membuat mu lebih nyaman menggunakan sepatu kesayanganmu itu.” Kata Jung Kook menanggapi reaksi marah dari lawan bicaranya itu.

“Huft… Ne, geurae! Jeongmal gamsahamnida, Jung Kook-sshi!” Kata Seo Rin dengan penekanan di setiap katanya. Dia benar-benar dibuat kesal oleh lelaki yang pernah dianggapnya sebagai penolong itu. “Keurom.” Setelah mengucapkan kata tersebut, Seo Rin langsung bergegas kembali ke ruangannya tanpa perlu berbasa-basi tersenyum kepada lelaki itu. Ia pun hanya mengumpat lelaki yang dikiranya sebagai malaikat penolongnya itu, DULU.

“Gadis yang menarik.” Melihat kelakuan Seo Rin yang dianggap menggemaskan dan tentunya sangat berbeda ketika dia dan gadis itu bertemu satu bulan yang lalu, membuat Jung Kook tak bisa menghentikan lengkungan simetris di  bibirnya. Jung Kook pun akhirnya juga berlalu dari tempat itu, menuju ke ruangan sepupunya yang kebetulan juga bekerja di kantor ini.

***

                “Hyung, anyeong!” Terdengar oleh sang pemilik ruangan sapaan juga bunyi pintu yang ditutup oleh sang tamu, membuatnya menolehkan sejenak kepalanya yang sedari tadi melihat hasil pekerjaan anak buahnya.

“Apa yang kau lakukan di kantor ku?” Ujar sang pemilik ruangan tanpa perlu repot-repot memandang lawan bicaranya.

“YAKK! Begitukah kau menyambut sepupu mu ini?” Ujar sang tamu yang kini duduk di hadapan sang pemilik ruangan yang tanpa tahu sopan santun langsung mendudukan dirinya.

“Aku sedang sibuk, Jung Kook-i.” Kata sang pemilik ruangan akhirnya mengalah, dan kini meletakkan hasil pekerjaan anak buahnya. Jung Kook—sang tamu—yang akhirnya merasa menang telah merebut perhatian kakak sepupunya itu, hanya dapat mengembangkan senyum kemenangan darinya.

“Kau sama saja dengan Jong Hyun hyung. Sama-sama gila kerja. Maka tak heran, eomma dan appa menjodohkan dia.” Sindir Jung Kook.

“Tapi aku lebih baik dari hyung mu itu. Aku bisa mencari pasangan hidup ku sendiri dan tak perlu menggunakan cara kolot perjodohan seperti itu.” Ujar Kim Hee Chul—sang pemilik ruangan—tak terima dengan perkataan sang adik sepupu itu.

“Oke-oke, hyung memang lebih baik dari Jong Hyun hyung.” Kata Jung Kook mengalah.

“Jadi untuk apa, tuan muda Jeon ini datang jauh-jauh ke kantor ku yang tak lebih besar dari Seven Company?” Tanya Kim Hee Chul.

“Kau tahu tentang rencana pertunangan Jong Hyun hyung?”

Eo. Wae? Dua hari lagi kan?”

“Emm. Tapi hyung, sahabat Jong Hyun hyung yang rencananya bakalan mengisi acara pertunangan itu, kemarin terkena kecelakan. Dan sekarang dia sedang berbaring di rumah sakit. Kau tahu Cho Kyu Hyun hyung, kan?” Ujar Jung Kook panjang lebar sambil membuka kulkas yang ada di ruangan itu lalu mengambil jus jeruk yang memang di simpan Kim Hee Chul di situ. “Hyung, aku ambil ini ya?” Lanjut Jung Kook sambil menunjukan barang yang ia ambil dari kulkas sepupunya itu. Kim Hee Chul pun hanya mengangguk membolehkan.

“Aku dengar tentang itu. Aku rencananya akan menjenguk bocah tengik itu hari ini. Lalu? Kalau Cho Kyu Hyun kecelakaan memangnya kenapa?” Tanya Kim Hee Chul yang belum juga mengetahui duduk permasalahannya.

“Aduh hyung. Kalau Kyu Hyun hyung tak bisa mengisi acara pertunangan itu lalu siapa yang kau kira akan mengisinya? Aku? Kau, Hyung?”  Hee Chul yang akhirnya mengetahui duduk permasalahannya pun akhirnya paham dan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau mau kan mencarikan penyanyi atau seseorang yang bisa bermain alat musik yang bisa mengisi acara pertunangan Jong Hyun hyung? Aku diminta eomma untuk mencari pengganti Kyu Hyun hyung. Sedangkan di lain sisi aku diperintah appa untuk mengecek proyek yang ada di Jeju hari ini dan besok. Jadi, aku tak bisa kemana-mana untuk mencari pengganti Kyu Hyun hyung. Jadi bagaimana? Kau mau membantu ku, kan?” Kata Jung Kook panjang lebar.

“Aku punya banyak kenalan.”

Jinja, hyung? Okelah aku serahkan semuanya pada diri mu. Oh, dan jangan lupa, kau harus datang membawa  yeoja chingu mu dan mengenalkannya di hadapan keluarga besar.”

MWO? Ku kira itu acara pertunangan Jong Hyun, kenapa aku juga harus mengenalkan yeoja chingu ku?” Ujar Kim Hee Chul kaget.

“Entahlah, aku cuma diminta untuk menyampaikan ini kepa—“ Ucapan Jung Kook terinterupsi dengan ketokan pintu.

“Siapa?” Tanya Kim Hee Chul.

“Ini saya timjangnim. Saya ingin menyampaikan hasil pekerjaan saya. Dan saya ingin mengonsultasikan sesuatu dengan anda, timjangnim.” Sahut orang dibalik pintu itu.

“Baiklah. Masuk!” Ujar Kim Hee Chul yang kini sudah berpindah ke kursi kebesarannya. Memang sejak dia tadi mengobrol dengan adik sepupunya itu, mereka berdua duduk di kursi tamu yang memang disediakan di kantornya itu. “Lebih baik kau pergi sekarang, deongseng. Aku harus bekerja.” Ujar Kim Hee Chul.

“Oh baiklah. Anyeong, hyung. Pokoknya perkara tadi aku serahkan pada diri mu.” Ucap Jung Kook yang mulai beranjak dari daru ruangan Hee Chul. Belum sempat ia menyentuh kenop pintu, ia mendapatkan panggilan dari handphonenya itu. Dan di saat bersamaan juga datang karyawan Hee Chul yang sedang memperhatikan berkas yang akan diserahkannya kepada atasannya tersebut. Sedangkan Jung Kook yang fokus berbicara kepada orang dibalik teleponnya itu, sama sekali tak peduli dengan orang yang bisa saja menabrak dirinya karena berjalan tanpa memperhatikan jalannya. Jung Kook pun akhirnya keluar dari ruangan Hee Chul dengan sebelumnya menutup pintu ruang kerja kakak sepupunya itu. Tapi disaat menutup pintu itulah indra pembauannya, mendapatkan rangsangan dari wangi parfum yang menguar dari badan karyawan Kim Hee Chul itu. “Sepertinya aku mengenal wangi parfum ini.”  Batin Jung Kook. Namun hal itu tak diambil pusing oleh dirinya dan kembali terfokus berbicara dengan rekan bisnisnya dibalik telepon.

***

                “Timjangnim, jadi berita yang telah saya terima dari bagian jurnalistik telah saya sunting dan siap untuk masuk bagian penerbitan.” Ujar Seo Rin sambil menyerahkan beberapa berkas yang tadi ia bawa.

“Jang Seo Rin, kau bisa bermain piano, kan?” Ujar Kim Hee Chul yang tengah mengamati hasil pekerjaan anak buahnya itu.

“Heh? Maaf?” Kata Jang Seo Rin yang merasa pendengarannya salah dengar itu. Biasanya saat dia menyampaikan hasil pekerjaannya seperti sekarang ini, walaupun dia telah bekerja dengan tanpa kesalahan sekalipun, Kim Hee Chul, atasannya itu akan mengoceh tentang bagaimana buruknya dia dalam menyunting berita. Tapi saat ini, dia malah ditanyai apakah dia bisa bermain piano atu tidak?

“Aku tanya apakah kau bisa bermain piano atau tidak?” Tanya Kim Hee Chul sekali lagi setelah meletakkan hasil pekerjaan Seo Rin.

“Em, saya bisa memainkannya, timjangnim.” Kata Seo Rin pada akhirnya setelah meyakinkan bahwa apa yang ia dengar tak salah.

“Ternyata ingatan ku tak salah, kau memang orang yang memaikan piano saat ulang tahun perusahaan ini tahun lalu, iya kan?” Tanya Kim Hee Chul lagi.

Ne, itu benar, timjangnim. Memangnya mengapa, timjangnim? Apakah saya waktu itu bermain dengan buruk?” Berusaha untuk mengontrol rasa dongkolnya karena Seo Rin merasa dirinya sedang di interogasi oleh atasannya yang jauh dari kata normal itu.

“Aku pikir permainan mu waktu itu tak begitu buruk.” Ujar Kim Hee Chul dengan bergumam. Walaupun begitu Seo Rin masih tetap bisa mendengarnya. Batin Seo Rin dengan rasa kesalnya, kau tak tahu apa kalau aku ini merupakan pianist termuda yang bisa tampil di acara pembukaan ASIAN GAMES dulu? Dan kau masih menyebutnya dengan ‘tidak buruk’? Lalu penampilan yang bagus seperti apa Kim Hee Chul-sshi?

Di lain sisi, seperti merasa mendapatkan sebuah mukjizat, Hee Chul langsung mengembangkan senyum kebanggaan dari bibirnya itu. Hal itu tak ayak membuat Seo Rin bergidik ngeri dengan berubahan mood team leadernya tersebut. Tadi pagi saat dia baru saja masuk kantor, Kim Hee Chul bagaikan singa yang tidurnya sedang diusik. Terus, saat tadi Seo Rin menyerahkan hasil pekerjaannya, Kim Hee Chul dengan wajah datarnya menyanyai Seo Rin apakah dirinya bisa bermain piano. Dan sekarang, baru saja Seo Rin lihat, team leadernya sudah mengembangkan senyumannya yang membuat bulu kuduk Seo Rin meremang. Memang ketua timnya itu mempunyai banyak kepribadian yang bisa berubah kapan saja.

“Kalau begitu, kau mau kan, mengisi acara pertunangan sepupu ku yang dua hari lagi akan dilaksanakan?” Ujar Kim Hee Chul. Inilah apa yang dipikirkan olehnya yang menyebabkan Kim Hee Chul tak henti-henti membanggakan dirinya sendiri, karena dia mempunyai banyak orang-orang disekitarnya yang bisa membawa keuntungan. Yah, seperti Seo Rin ini. Tak perlu repot-repot bagi Kim Hee Chul untuk menelepon dan menanyai beberapa teman dan kenalannya yang bisa bermain alat musik atau bernyanyi. Dengan sendirinya, orang mungkin bisa mengisi acara pertunangan sepupunya itu, telah datang dihadapannya.

Ne?” Ujar Seo Rin terkejut dengan pernyataan atau lebih tepatnya tawaran Kim Hee Chul yang baru saja dilontarkan itu.

“Iya, mengisi acara pertunangan sepupu ku dengan pertunjukan piano dari mu itu, nona Jang. Kau mau kan? Dan kau akan dibayar dengan bayaran yang sangat tinggi.” Tawar Kim Hee Chul sekali lagi.

“Tapi, timjangnim, kenapa harus saya?” Tanya Seo Rin.

“Pengisi acara yang sesungguhnya baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang dia sedang berbaring di rumah sakit serta tak bisa kemana-mana. Dan aku diminta mencari pengganti dari orang itu. Dan, dari bawahan ku yang bisa bermain alat musik dan tak begitu buruk adalah diri mu. Kau paham?” Ujar Kim Hee Chul panjang lebar.

Ne. Tapi—“ Belum sempat Seo Rin mendebat ucapan ketua timnya itu, Kim Hee Chul langsung menimpalinya.

“Tak ada tapi-tapian. Toh kalau diri mu tak mau, tak apa. Tapi, yah, mungkin kau akan mendapati gaji yang kau terima tak utuh seperti biasa yang kau terima. Mudahkan bagi ku?” Ancam Kim Hee Chul dengan sekenaknya.

Ye? Tapi itu tak adil. Huft, baiklah saya mau mengisi acara itu. Tolong beritahu saya lokasinya dan jam berapa saya harus bersiap?” Kata Seo Rin akhirnya. Dia benar-benar kalah telak dengan team leadernya itu apalagi menyangkut adu pendapat. Ditambah ancaman Kim Hee Chul yang memang tak pernah main-main itu.

“Nah begitu dong, nona Jang. Dan, acaranya akan diadakan di ballroom Louis Hotel jam 7 tepat. Dan ku minta kau bisa menepatkan dandanan mu saat di acara tadi. jangan berdandan seperti gelandangan seperti tadi pagi dan ingat TEPAT WAKTU, arraseo?” Ujar Kim Hee Chul dengan penekanan pada kata TEPAT WAKTU.

Ne, arraseoyo, timjangnim.” Kata gadis itu dengan sedikit ketus mengingat kesalahannya yang merupakan kesalahan pertamanya selama ia bekerja di perusahaan penerbit ini terus saja diungkit-ungkit oleh ketua timnya yang 4D itu.

“Oke, kau boleh meninggalkan ruangan ku sekarang. Oh ya, ngomong-ngomong pekerjaan mu kali ini tak begitu buruk. Kalau kau bekerja seperti ini terus, aku tak perlu mengomeli mu setiap kau menyerahkan pekerjaan mu.” Cela Kim Hee Chul. Sebenarnya, tak ada masalah dengan pekerjaan Seo Rin, hanya saja seperti yang kita tahu, pekerjaan Seo Rin selalu tampak cacat setelah diserahkan pada atasannya itu. Yah, mungkin saja Kim Hee Chul dan Jang Seo Rin merupakan musuh masa lalu.

Jeongmalyo, timjangnim? Saya akan bekerja lebih keras lagi setelah ini. Jeongmal gamsahanida.” Yah, walau bagaimanapun juga hasil jerih payah Seo Rin tak mendapatkan omelan dari Kim Hee Chul yang antik itu. Dan bagi Seo Rin, hari ini merupakan hari yang bersejarah baginya, karena setelah satu tahun setengah dia bekerja di bawah pimpinan Kim Hee Chul, baru kali ini pekerjaannya tak mendapatkan kritikan pedas ataupun omelan menyebalkan dari atasan 4Dnya itu.

“Kalau begitu, saya kembali bekerja dulu, timjangnim.” Ujar Seo Rin yang mendapatkan anggukan kepala dari ketua timnya.

***

FROM : Freak Kim Hee Chul

Nona Jang, jangan lupa acaranya hari ini jam tujuh tepat. Kau ku tunggu di depan lobi Louis Hotel. Berdandanlah, jangan membuat nama ku tercoreng di hadapan keluarga besar ku karena mempunyai bawahan yang tak bisa merawat diri seperti diri mu. Dan ingat, HARAP TEPAT WAKTU.

                Baru saja Seo Rin sampai di rumahnya ketika sms dari ketua timnya itu menganggu niatan Seo Rin untuk merebahkan badan lelahnya di atas ranjang. Ia pun lalu menilik jam dinding yang menggantung tenang di dinding kamarnya. 16:30. Yah, ia pulang lebih awal tiga puluh menit dari biasanya. Walaupun begitu, ia tetap merasakan lelah apalagi waktu yang seharusnya nanti ia gunakan untuk istirahat malah ia gunakan untuk tampil di acara pertunangan orang yang bahkan nama pun tak ia ketahui.

“Kim Hee Chul, kau benar-benar tak waras! Bagaimana kau mungkin membuat bawahan mu ini bekerja seharian lalu dipaksa tampil di acara pertunangan sepupu mu yang bahkan sama sekali tak ada hubungannya dengan ku?” Kesal Seo Rin sambil membanting iPhone nya ke atas ranjangnya. “Sungguh aku bisa melaporkan mu ke dewan redaksi dengan tuntutan penyalahgunaan jabatan.” Lanjut Seo Rin yang kemudian mulai mengacak-acak rambutnya asal karena dia sedang dirundung rasa kesal kepada ketua timnya yang makin hari makin tak menunjukan kenormalan itu.

“Dan ini apa? Jangan membuat nama ku tercoreng di hadapan keluarga besar ku karena mempunyai bawahan yang tak bisa merawat diri. MWO? Tak bisa merawat diri kata mu? Hahaha, kau sungguh lucu Kim Hee Chul. Hanya satu kali aku tampil layaknya gelandangan di hadapan ku karena aku tak ingin terlambat datang ke kantor dan kau masih saja mengungkit-ungkit masalah ini. Huh, jinja, aku merasa selalu tampil buruk di hadapan si freak Kim Hee Chul itu? Auhh, jinja!”

“AUGH!! Jika saja jabatan ku lebih dari mu, Kim Hee Chul. Ahh, jjajaeungna jinja!!” Keluh Seo Rin lagi dan lagi. Sungguh berbagai macam umpatan yang bisa dipikirkan oleh Seo Rin siap meledak dari mulut manis gadis itu. Bahkan sekarang mukanya sudah memerah menahan emosi yang bisa kapan saja mulai meledak. Sungguh ketua timnya itu bisa membuat Seo Rin kehilangan kewarasannya sewaktu-waktu.

“Ahhh, Kim Hee Chul, kau benar-benar membuat ku gila.” Runtuk Jang Seo Rin sekali lagi. Seo Rin masih merasa belum puas untuk mengumpat lelaki yang tampangnya tak kalah cantik darinya itu. Dia akan mengumpat atasannya itu lagi sebelum iPhone kesayangannya itu berkedip dua kali menandakan ada sebuah pesan masuk. Seo Rin pun lantas mengambil iPhone nya yang berada dalam jangkauannya lalu membuka pesan masuk tersebut.

FROM : Freak Kim Hee Chul

YAKK!! JANG SEO RIN, KENAPA KAU TAK MEMBALAS PESAN KU, HUH? KAU PIKIR PESAN YANG KU KIRIM KAN HANYALAH SPAM SEMATA, HUH!!

Dan bisa ku tebak kau pasti sedang bersantai-santai. CEPAT PERSIAPKAN DIRI MU. AWAS KALAU KAU SAMPAI TELAT NANTI. TAK ADA PENGAMPUNAN UNTUK MU KALI INI.

                “Huh, apa ini? Apa caps locknya jebol sampai-sampai dia harus mengirimi ku pesan dengan semua huruf kapital ini? Ahh, nan jeongmal michigetta.” Ujar Seo Rin entah pada siapa. Setelah mengumpat lagi, ia berusaha mengontrol emosinya kali ini agar ia tak menambah dosa yang diperbuatnya dengan mengumpat ketua timnya itu.

“Oke, Seo Rin, sekarang tenangkan diri mu lalu balas pesan dari ketua tim mu itu sebelum ia memborbardir ponsel mu dengan pesan yang berisi ancaman.” Ujar Seo Rin berusaha menenangkan dirinya sendiri. Setelah merasa tenang, Seo Rin lalu mulai mengetikkan pesan balasan kepada team leadernya dan mengirimnya.

To : Freak Kim Hee Chul

Maaf tak sempat membalas pesan anda sebelumnya, ponsel saya tertinggal di tas. Dan sekarang saya sedang melakukan perawatan agar tak memalukan anda sebagai bawahan anda.

Setelah mengirim pesan itu, Jang Seo Rin lalu bangkit dan memulai ritualnya untuk tampil menarik dan membuat ketua timnya itu mencabut kata-kata sebelumnya. “Huh, akan ku buktikan pada mu dan semua orang di acara pertunangan itu, bahwa aku akan tampil menawan dari siapapun. Dan ku harap kau akan mencabut ucapan ku tentang gelandangan waktu itu.” Dan bisa dipastikan Seo Rin waktu yang tersisa akan cukup untuk membuat keinginannya tampil menawan di hadapan semua orang.

***

                Di lain sisi, terlihat seorang pemuda yang baru saja sampai di rumah bak istananya setelah melakukan perjalanan panjang dari Jeju. Terlihat dasinya sudah tak terpasang dengan semestinya lagi. Bahkan kemeja biru laut yang seharusnya terkancing rapi sampai leher, sudah terlepas dua kancing teratasnya. Bahkan kancing lengannya sudah di lepas dan digulungnya kedua lengan kemeja itu sampai sikunya. Di bahu pemuda itu juga tersampir jas yang saat bekerja dia kenakan. Sungguh, kalau hari ini bukan acara pertunangan kakak kandungnya sendiri, lebih baik dia pergi berlibur di pulau pribadi milik keluarganya. Sungguh ia sangat lelah untuk sekedar memperhatikan penampilannya sekarang.

Aigoo, Jeon Jung Kook-i, kenapa kau baru pulang sekarang? Kau tak lupakan acara pertunangan hyung mu hari ini, heum?” Ketika Jung Kook melangkahkan kaki di rumah keluarganya yang bak istana itu, ia langsung disambut oleh ibunya yang bersahaja. Lelaki itupun langsung melangkah menuju tempat ibunya yang kini sedang duduk di sofa ruang keluarga.

Mianhae eomma, tapi ada sedikit kendala di proyek yang ada di Jeju dan aku harus segera membenahinya. Huh… aku sangat lelah sekarang ini.” Ia pun dengan manjanya langsung menjatuhkan dirinya di pelukan ibunya tersayang itu. Sang ibu yang mengerti betapa lelahnya anaknya yang kini menginjak usia 23 tahun, langsung menepuk pundak Jung Kook dengan penuh rasa sayang. Walaupun umur Jung Kook sudah menginjak 23 tahun dan dia merupakan salah satu orang penting di perusahaan keluarga selain appa dan hyungnya, ia selalu menampakkan sisi manja sebagai anak bungsu kepada seluruh anggota keluarganya.

Arraseo arraseo. Cha, lebih baik kau segera mandi atau berendam terlebih dahulu agar badan mu lebih segar. Eomma akan meminta bibi Byun untuk menyiapkan kamar mandi untuk mu.” Ujar Park In Young alias nyonya Jeon itu kepada anak bungsunya itu. Sedangkan Jung Kook hanya mengangguk-angguk di dalam pelukan ibunya itu tanpa berniat melepaskan pelukan ibunya sesentipun. Nyonya Jeon pun langsung memanggil kepala pembantu rumah tangga dan memintanya menyiapkan kamar mandi untuk Jung Kook. Di saat itulah, Jeon Jong Hyun mendekati ibu dan adik tersayangnya.

“Baiklah nyonya.” Ujar bibi Byun patuh. Ia pun langsung bergegas meninggalkan ruang bersantai keluarga Jeon itu.

Dongseong, kau sudah menemukan orang untuk menggantikan Cho Kyu Hyun?” Tanya Jong Hyung yang langsung duduk di sofa yang kosong.

“Hee Chul hyung yang berjanji mencarikannya untuk mu. Aku terlalu sibuk mengurusi proyek di Jeju, hyung. Dan, ku pikir dia pasti sudah menemukan penggantinya.” Ujar Jung Kook masih dalam pelukan ibunya.

Jinja? Baguslah kalau begitu.”

“Kau tenang saja, hyung, adik kesayangan mu ini sangat bisa diandalkan. Jadi nanti kau tinggal menikmati acaranya dan yah, tinggal memasangkan cincin pengikat di jari manis Seul Bi nuna, mudahkan?” Ujar Jung Kook yang kini sudah melepas pelukan ibunya.

“Oke. Kalau ada sesuatu yang tak sesuai dengan keinginan ku maupun keinginan Seul Bi, kau akan terima akibatnya, dongseong tersayang.” Kata Jong Hyun.

“Jong Hyun-ah, kau sebaiknya menyiapkan diri mu dan berdandanlah dengan tampan jangan sampai mengecewakan calon istri mu. Kau juga, anak nakal, sana pergi merendam diri mu selama beberapa saat agar tubuh mu kembali segar.” Ujar Jeon Hong Jung alias Tuan Jeon yang tiba-tiba muncul dari arah ruang kerjanya.

Arraseo, appa. Tapi, biarlah aku melepas lelah dulu dengan eomma. Proyek Jeju sangat menguras energi ku.” Kata Jung Kook menimpali ayahnya yang malah terlihat seperti sedang mengadu tentang kesulitan yang dihadapinya di Jeju.

“Kau harus belajar mulai sekarang, dongseong untuk mengurusi kendala-kendala kecil yang menimpa salah satu proyek seperti sekarang ini.” Ujar Jong Hyun yang terdengar seperti sedang meledek adik satu-satunya itu.

Arraseo, hyung, arraseo. Ka, sana, persiapkan diri mu. Dasar menyebalkan.” Cecar Jung Kook tak terima karena diledek Jong Hyun.

“Sudah-sudah kalian ini selalu saja seperti ini. Jong Hyun lebih baik kau persiapkan diri mu seperti kata appa mu dan jangan ganggu adik mu yang sedang kelelahan ini.” Ujar Nyonya Jeon.

Okay mom.” Sebelum bergegas mempersiapkan dirinya, Jong Hyun sempatkan mencium pahlawan dalam hidupnya itu yang dilanjutkan dengan mengacak rambut adik kesayangannya yang kadang menyebalkan itu.

“YAKK!!” Teriakan Jung Kook itu hanya dibalas kekehan puas dari lelaki yang beda lima tahun darinya itu.

“Kau juga sana, persiapkan diri mu. Kau juga harus ikon malam ini selain Seul Bi dan Jong Hyun.” Ujar Tuan Jeon yang dihadiahi anggukan setuju dari istrinya.

“Benar itu, kau harus tampil mempesona kali ini. Kali aja, ada anak kolega bisnis appa mu yang tersangkut pesona seorang Jeon Jung Kook.” Hal itu tak elak membuat Tuan Jeon dan juga Jung Kook sendiri tertawa geli.

“Aku selalu tampil mempesona, mom. Oke, aku akan segera bersiap.” Ujar Jung Kook yang lalu mencium pipi ibu dan ayahnya lalu pergi meninggalkan ruang bersantai menuju kamar tidurnya.

“Kalau bawahan mu tahu kelakuan mu di rumah, appa yakin mereka pasti tak akan menghormati mu lagi, Kookie-ya.” Ledek ayahnya yang hanya mendapatkan kekehan geli dari ibunya.

Appa!”

Arraseo arraseo.”

Yah, begitulah persiapan yang dilakukan Jung Kook dan keluarganya menyongsong acara pertunangan Jeon Jong Hyun.  Mereka terlihat santai di dalam rumah, tapi saat mereka sudah tampil di khalayak umum, meraka akan menjadi pribadi-pribadi yang berwibawa. Mungkin, peran keluarga yang hangat akan membentuk pribadi-pribadi yang hebat seperti yang diterapkan di keluarga Jeon ini.

***

                Waktu hampir menunjukan pukul tujuh malam, taksi yang membawa Seo Rin telah sampai di lobi Louis Hotel tempatnya akan mengisi acara sebuah pertunangan dari seseorang yang bahkan tak dikenalnya. Dan lagi, Kim Hee Chul meng-smsnya untuk datang sebelum jam tujuh karena ia berencana untuk memperkenalkan pengganti pengisi acara utama kepada keluarga yang akan mengadakan acara pertunangan.

Agasshi, kita telah sampai di Louis Hotel. Anda bisa turun.” Kata sopir taksi itu sopan.

“Berapa yang harus saya bayar, ahjussi?” Tanya Seo Rin sambil mengeluarkan senyumannya.

“20000 Won. Saya mendiskonnya karena malam ini agasshi tampil sangat menawan. Pasti agasshi akan menghadiri acara penting di hotel ini.” Jawab sopir taksi ramah.

“Ah jeongmalyo? Gamsahamnida ahjussi.” Kata Seo Rin lalu memberikan uang pas kepada sopir taksi itu. Dia pun langsung bergegas keluar dari taksi dengan berhati-hati mengingat malam ini Seo Rin mengenakan long dress yang memang jarang dipakainya.

“Jang Seo Rin, sebelah sini.” Baru saja Seo Rin akan melangkahkan kakinya masuk ke dalam lobi dalam hotel tersebut, sebelum suara yang sangat familiar di dengar olehnya. Dia pun langsung menolehkan perhatiannya ke arah suara itu lalu berjalan dengan hati-hati ke arah sumber suara itu.

Berbicara dengan penampilan Seo Rin malam ini, pasti semua orang yang pernah mengenal Seo Rin akan sangat terkejut dengan perubahan yang sangat mencolok dari dirinya. Seo Rin yang memang merupakan gadis manis dengan wajah yang sudah sangat menawan tanpa make up sekalipun, memoleskan make up yang terkesan tak berlebihan di wajah sempurnanya itu. Bibir pink cherry nya yang memang jarang diolesi lipstik kecuali pelembab, malam ini mengenakan lipstik warna pink yang warnanya tak jauh berbeda dari warna bibir aslinya. Kedua pipinya yang memang biasanya dibiarkan merona merah ketika ia malu ataupun marah, malam ini diolesi blush on yang menambah kesan imut. Dan tak lupa, matanya yang ia olesi berbagai macam produk kecantikan mulai dari maskara, eyeliner, dan eye shadow menambah kesan feminim namun tegas dari diri Seo Rin.

Selain make up yang menghiasi wajahnya yang memang terlahir secara sempurna, malam ini Seo Rin sedikit melakukan eksperimen dengan rambutnya. Rambut indah sepunggungnya yang ia gelung asal ketika bersantai di rumah maupun ia biarkan tergerai bebas saat bekerja, malam ini ia gelung indah ke atas hingga menyisakan beberapa helai rambut saja di sisi kanan dan kiri wajahnya yang sangat proposional itu. Malam ini, penampilan Seo Rin bertambah mempesona dengan long dress sepanjang mata kakinya dengan belahan yang berada di sisi kanan kakinya sampai beberapa senti di atas lutut yang berwarna peach itu. Dan dibagian atas gaun itu, dibuat kemben sehingga menampakan bahu mulus Seo Rin yang selama ini jarang ia umbar. Ia juga menakan high heels setinggi 12 senti menter rancangan designer terkenal dunia yang juga berwarna kalem senada dengan kostum dan make upnya.

Penampilan Seo Rin tak urung membuat beberapa orang yang berlalu lalang sejak tadi, terpesona. Bagi kaum adam, melihat penampilan Seo Rin kali ini, membuat mereka ingin menjadikan Seo Rin milik mereka selama-lamanya. Dan bagi kaum hawa, tentu saja mereka sangat iri dengan penampilan sempurna Jang Seo Rin. Bagaimana mungkin Tuhan menciptakan manusia tanpa kecacatan seperti itu? Begitu juga dengan beberapa orang yang tengah menanti kedatangan Seo Rin itu, mereka sangat terpesona dengan segala kesempurnaan milik Seo Rin.

Anyeonghaseyo timjangnim.” Sapa Seo Rin dengan ramah.

“Untuk hari ini kau bisa memanggiku dengan oppa, lagipula kau juga pasti kenal dengan yeoja chingu ku ini. Se Ra-ya, kau kenal Seo Rin kan?” Tanya Hee Chul yang mengalihkan pandangannya kepada gadis di sampingnya itu. Melihat siapa yang berada di samping ketua timnya itu tak urung membuat Seo Rin terlonjak kegirangan. Choi Se Ra, sahabat semasa SMA nya yang telah lama menempuh studi di luar negeri yang menyebabkan mereka kehilangan kontak satu sama lain.

“Se Ra-ya?” Tanya Seo Rin mencoba untuk memastikan.

Eo, jeongmal oraenmaniya, Seo-ah.” Kata Se Ra seraya memeluk tubuh ramping sahabatnya itu. Selama beberapa detik mereka saling melepas rindu sampai Kim Hee Chul menginterupsi kegiatan kedua sahabat itu.

“Sudah-sudah, kalian bisa melakukannya nanti di dalam. Oh ya, samchon, imo, Jong Hyun-ah, Seul Bi-ah, dia merupakan mengganti Cho Kyu Hyun dalam acara nanti, Jang Seo Rin. Dan Seo Rin-ah, mereka merupakan Jeon Hong Jung samchon, Jeon In Young imo dan adik sepupu ku Jeon Jong Hyun serta calon istrinya, Kwon Seul Bi. Insahae.” Kata Hee Chul.

Ne, anyeonghaseyo Jang Seo Rin imnida. Jeongmal bangapseumnida.” Kata Seo Rin dengan sopan dan ramah

Jinja neomu yeppo.” Ujar Nyonya Jeon dengan tulus.

Ne, gamsahamnida, Nyonya Jeon.” Ujar Seo Rin. Dan Seo Rin berasa di sebuah dunia khayalan setelah mengetahui di acara siapa ia akan tampil. Sungguh ia tak pernah menyangka bertemu dengan keluarga Jeon yang bisa dibilang sangat terhormat di Seoul dan sangat berpengaruh dalam pertumbuham ekonomi Korea Selatan ini. Dan bisa dipastikan bahwa tamu undangan yang malam ini menghadiri acara ini pastilah orang-orang yang menduduki posisi penting.

“Jang Seo Rin-sshi?” Celutuk seorang lelaki yang mengenakan jas dan kemeja tanpa dasi dengan dua kancing teratas di biarkan terbuka.

Seo Rin yang merasa namanya dipanggil pun, akhirnya menolehkan kepalanya diikuti oleh semua orang yang ada di situ. “Jeon Jung Kook-sshi?” Ujar Seo Rin setelah mengetahui siapa gerangan orang yang memanggil namanya.

“Kalian sudah saling mengenal rupanya?” Tanya Kim Hee Chul.

“Aku tak sengaja bertemu dengannya di kantor mu tempo hari, hyung.” Ujar Jung Kook berusaha menjelaskan. Saat ini, dia sangat terpukau dengan penampilan Seo Rin yang sangat menawan hati.

Ne, itu benar.” Kata Seo Rin membenarkan ucapan Jung Kook, dengan tersenyum ramah kepadanya. Sungguh, bagi Jung Kook senyuman Seo Rin kali ini adalah bumerang untungnya. Bagaimana tidak? Ketika Seo Rin menampilkan senyumannya yang sangat memikat hati itu, jantung Jung Kook entah kenapa berdetak secara tak karuan. Dan hawa dingin yang melingkupinya menjadi panas di sekitarnya.

“Ahh, begitu rupanya.” Kata Kim Hee Chul mengangguk paham. Memang dunia ini sangatlah sempit.

Cha, lebih baik kita segera masuk. Acara akan segera di mulai.” Ujar Tuan Jeon pada akhirnya. Mereka semua akhirnya menuju ballroom hotel elit tempat di adakannya acara.

***

                Acarapun di mulai, Jang Seo Rin kini terduduk di kursi yang berada di depan grand piano yang sebentar lagi akan di mainkannya. Kim Hee Chul memberitahunya bahwa ia hanya akan di minta memainkan piano saat Jeon Jong Hyun dan Kim Seul Bi bertukar cincin dan pada saat penampilan spesial darinya sendiri sebagai kado pertunangan. Yah, jadi Seo Rin tak akan terus memainkan pianonya selama sisa waktu acara ini. Setelah ia bebas dari tugasnya, ia bisa melakukan apapun yang ingin ia lakukan di ballroom hotel yang kini telah dihias sedimikian rupa sehingga tampak sangat mewah.

“Baiklah, kita akan ke acara inti yang memang sudah dari tadi ditunggu-tunggu oleh para hadirin yang terhormat. Marilah kita panggil pasangan yang akan melakukan pertunangannya hari ini, Jeon Jong Hyun dan Kwon Seul BI.” Kata sang pembawa acara dengan sangat antusias yang di hadiahi tempuk tangan meriah dari tamu undangan yang memenuhi ballroom itu.

Setelah beberapa patah kata yang disampaikan oleh kedua belah pihak, kini sang pembawa acara akhirnya mengkode Seo Rin untuk segera memainkan pianonya. Kang Dae Sung, sang pembawa acara, akhirnya berkata, “baiklah, ini adalah momen yang telah kita tunggu bersama. Dan semoga setelah pertukaran cincin ini, diharapkan akan membawa kedua belah pihak menuju ke pelaminan dalam waktu yang secepatnya.”

Dan dentangan melodi yang mengalun lembun dari piano yang Seo Rin mainkan membuat para hadirin terhanyut dalam suasana yang romantis itu. Dan dalam suasanan romantis, Jeon Jong Hyun dan Kwon Seul Bi kini telah memakai cincin yang diharapkan mengikat mereka sampai ke pelaminan nanti. Jang Seo Rin terus saja memainkan pianonya sampai nada terakhir yang pada akhirnya mendapatkan tepuk tangan meriah dari para tamu undangan dan juga keluarga besar yang mempunyai acara. Kini, sang pembawa acara memberikan mic nya kepada Seo Rin.

Gamsahamnida, emm, perkenalkan saya Jang Seo Rin. Dan merupakan suatu kehormatan bagi saya bisa tampil di acara seperti ini. Dan untuk Jeon Jong Hyun-sshin beserta Kwon Seul BI-sshi, sudilah kalian berdua menerima hadiah pertunangan dari saya yang tak ada apa-apanya.” Ujar Seo Rin yang menghadap kepada dua sejoli yang tengah menatapnya balik dengan senyuman itu. “Bagi para hadirin, semoga menikmati.” Lanjut Seo Rin lalu duduk di atas kursinya lagi.

Belum sempat Seo Rin memencet tuts tombol nada, Jung Kook datang dan membisikkan sesuatu kepada sang pembawa acara. Jung Kook pun akhirnya mengambil alih mic yang dibawa oleh Kang Daesung.

“Maaf mengganggu sebentar, maaf Jang Seo Rin-sshi menginterupsi permainan anda, tapi izinkanlah saya melakukan duet dengan pianist kita yang sangat manis malam ini untuk memberikan hadiah kepada kakak saya tersayang. Saya akan bernyanyi yang akan diiringin oleh pianist berbakat ini.” Jung Kook berjalan mendekat ke arah Seo Rin yang sedang duduk. Seo Rin yang pada lagu awal santai sekarang merasakan pipinya memanas seketika, apalagi saat Jung Kook dengan sengaja menyebutnya manis. Pipi Seo Rin yang memang karena efek blush on merah, menjadi lebih merah lagi. Apalagi saat Jung Kook mendekat, dan Seo Rin bisa membau parfum yang sangat familiar untuk hidungnya.

“Bolehkan saya, Jang Seo Rin-sshi?” Tanya Jung Kook kepada Seo Rin. Seo Rin yang awalnya terkejut mampu menguasai dirinya sendiri, akhirnya mengangguk setuju. Anggukan setuju Seo Rin itu di hadiahi senyuman menawan dari Jung Kook dan tepuk tangan meriah dari para hadirin. Setelah mendapat persetujuan dari Seo Rin, Jung Kook mengembalikan mic yang tadi dipinjamnya dan mengucapkan terima kasih kepada kakak tingkatnya itu.

“Jadi lagu apa yang ingin kau nyanyikan, Jung Kook-sshi?” Tanya Seo Rin.

“Kau bisa membawakan Confession milik Winner?” Tanya Jung Kook balik. Seo Rin sempat berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk sambil menampilkan senyumannya yang dibalas senyuman oleh Jung Kook.

Setelah mereka sepakat tentang lagu yang akan dibawakan, Jung Kook pun memberi kode kepada sang pembawa acara. “Baiklah, kita saksikan duet antara pianist Jang Seo Rin dan juga Jeon Jung Kook. Selamat menyaksikan.” Ujar sang pembawa acara.

“Lagu ini kami persembahan untuk Jong Hyun hyung dan Seul Bi nuna.” Ujar Jung Kook. Dia pun mulai bernyanyi baik demi bait, lirik demi lirik mengikuti alunan merdu piano Seo Rin.

***

                Jung Kook dan Seo Rin akhirnya selesai menampilkan penampilan yang sangat apik. Bahkan lagi dan lagi para hadirin terpukau dengan penampilan kedua insan itu. Mereka berduapun setelah mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari para hadiri segera berdiri bersebelahan dan tanpa sengaja saling manautkan jari-jari mereka lalu membungkuk sembilan puluh derajat. Dan seperti baru tersadar atas apa yang mereka perbuat, mereka melepaskan tangan masing-masing dan suasana antara mereka pun berubah canggung.

Seo Rin benar-benar merasa mati kutu dan tak tahu apa yang harus dia lakukan bahkan katakan, begitu juga dengan Jung Kook. Sehingga suasana di antara mereka tak kunjung mencair. Akhirnya salah satu dari mereka pun, berani mengucapkan apa saya yang melintas di kepala mereka.

“Jung Kook-sshi, sepertinya aku harus ke toilet sebentar.” Kata Seo Rin pada akhirnya.

“Ah, keureyo?  Baiklah kalau begitu, aku juga rasanya haus setelah menyanyi tadi. Aku akan mengambil minum. Ya, mengambil minum.” Kata Jung Kook dengan grogi. Ia pun akhirnya langsung bergegas meninggalkan Seo Rin yang masih saja setia berdiri di depan grand piano yang tadi dimainkannya.

“Apakah hanya aku seorang yang merasakan panas di sini? Sepertinya bukan kamar mandi yang aku cari, aku lebih baik keluar dari ballroom ini sebelum aku meledak kepanasan.” Ujar Seo Rin pada dirinya sendiri, setelah ia ditinggal oleh Jung Kook. Dia juga dari tadi hanya memegang kedua pipinya yang memanas karena malu itu.

Seo Rin pun akhirnya melangkahkan kakinya meninggalkan ballroom yang kini berisi orang-orang yang mulai berdansa dengan pasangan masing-masing.

Di lain sisi.

“Ada apa dengan jantung ku? Mengapa berdetak dengan abnormal seperti ini? Dan kenapa hawanya sangat panas seperti ini?” Ujar Jung Kook pada dirinya sendiri sambil meneguk habis minuman yang ada di hadapannya. Tak biasanya ia bersikap seperti ini di hadapan seorang gadis.

“YAKK! Dongseong, kau kenapa berkeringat seperti ini? Kau sakit, eo?” Tanya seseorang yang datang dari arah berlawanan darinya. “Oh ya, aku sangat berterima kasih kau menyumbangkan suara mu itu dalam acara pertunangan ku dengan Seul Bi.” Kata orang itu yang tak lain dan tak bukan Jeon Jong Hyun.

“Benar, kau memang adik kesayangan nuna yang tak mengecewakan.” Imbuh Seul Bi sambil tersenyum bangga.

Hyung, nuna, sepertinya aku harus mencari udara segar sekarang.” Ujar Jung Kook yang sama sekali  tak menggubris ucapan kakak dan calon kakak iparnya itu.

“Ada apa dengan bocah itu?” Tanya Jong Hyun tak habis pikir dengan kelakuan aneh adiknya hari ini yang hanya disambut dengan gelengan.

***

                Jung Kook mulai melangkahkan kakinya keluar dari ballroom yang tengah mengadakan pesta dansa. Di sini, ia merasakan hawa segar sekaligus dingin menghampirinya. Namun hal itu malah membuat hati Jung Kook menjadi lebih sejuk dan tenang. Ia pun tetap melangkahkan kakinya sampai mengarah ke bangku yang kini di duduki oleh seorang gadis yang bahu sampai lengannya polosan.

“Bagaimana mungkin, dia kuat berada di suhu yang sangat dingin ini dengan mengenakan pakaian seperti itu?” Ujar Jung Kook. Dia pun akhirnya memutuskan untuk mendekati gadis itu. Ketika langkahnya semakin dekat dengan bangku yang diduduki gadis itu, baru di sadari oleh Jung Kook bahwa gadis itu adalah Seo Rin yang hampir membuat seluruh organ vitalnya bekerja di atas batas normal. Dia pun dengan gentle melepas jas yang melindunginya dari hawa dingin itu dan menyampirkan di pundak Seo Rin yang polos tanpa penutup apapun.

“Kau bisa sakit, Seo Rin-sshi.” Ujar Jung Kook lulu duduk di sebelah Seo Rin yang terkaget dengan kedatangan tiba-tiba Jung Kook dan juga jasnya yang kini menyampir di pundak Seo Rin.

Aniyeyo. Aku suka hawa dingin. Lebih baik kau yang mengenakan jas ini, Jung Kook-sshi.” Kata Seo Rin yang mencoba melepas jas yang tersampir di pundaknya itu.

“Ck, tak baik seorang gadis duduk di sini hanya mengenakan gaun yang terbuka seperti itu. Kau bisa sakit.” Ujar Jung Kook yang mencoba membenahi letak jasnya yang tadi ingin dilepas oleh Seo Rin.

“Tapi—“

“Sudah tak ada tapi-tapian. Aku ini seorang lelaki yang kuat, aku bisa bertahan di hawa sedingin apapun. Lagian, tak enak jika kita di lihat orang aku mengenakan jas dan membiarkan gadis yang hampir mempesona seluruh ballroom.” Ujar Jung Kook lagi.

Jeongmal gamsahamnida, Jung Kook-sshi. Kau terlalu banyak menolong ku.” Kata Seo Rin dengan tulus. Entah bagaimana, lelaki di sampingnya itu selalu ada saat dia membutuhkan bantuan.

Eo.” Kata Jung Kook yang kini mulai mengamati langit biru kelas yang sama sekali tak ada bintangnya. Hal itu tak urung membuat Seo Rin juga mengikuti arah pandang Jung Kook untuk mengamati kelamnya lagit malam.

“Seo Rin-sshi, kau percaya takdir?” Tanya Jung Kook secara tiba-tiba. Kini ia menatap instens lawan bicaranya.

Ne? Takdir? Emm, entahlah, tapi keluarga ku selalu mengajarkan kepada ku untuk percaya pada takdir Tuhan, karena takdir Tuhan itu memang ada.” Kata Seo Rin yang juga menatap lawan bicaranya.

“Benarkah? Kalau tentang jodoh, kau juga percaya itu?” Tanya Jung Kook dengan polosnya.

“Tuhan menciptakan manusia dengan bepasang-pasangan, jadi mau tak mau ya aku harus percaya akan jodoh. Dan aku berusaha untuk percaya tentang takdir apa yang Tuhan tuliskan untuk ku dan juga dengan siapa aku nanti berjodoh.” Kata Seo Rin.

“Aku pernah mendengar bahwa jika seorang lelaki maupun perempuan yang dulunya tak pernah bertemu, dan mereka berdua dipertemukan secara kebetulan yang luar bisa. Dan jika kebetulan pertemuan mereka itu sampai tiga kali, mereka akan berjodoh. Kau percaya dengan itu?” Tanya Jung Kook sekali lagi.

“Emm, kalau yang itu aku juga pernah mendengarnya tapi—entahlah, aku mau mempercayai bagaimana kalau aku tidak mempercayai bagaimana kalau hal itu terjadi di kehidupan ku?” Ujar Seo Rin dengan dibumbui kekehan kecil yang lagi-lagi membuat Jung Kook terpesona.

“Seo Rin-sshi, hari ini merupakan pertemuan kita yang ketiga, dan semuanya secara kebetulan. Apakah mungkin kita berjodoh?” Tanya Jung Kook yang tak ayal membuat organ vital Seo Rin bekerja secara abnormal seketika.

Ne?” Dan tepat setelah Seo Rin mengucapkan kata itu, sebuah benda lunak tak bertulang mendarat mulut dipermukaan bibir Seo Rin secara mendadak. Seo Rin membelalakkan matanya karena terkejut dengan tindakan spontan dari Jung Kook. Bahkan kini detak jantungnya bertambah cepat setelah mendengar dan merasakan detakan jantung yang tak kalah cepat dari lawannya itu.

Awalnya Jung Kook memang hanya menempelkan bibirnya, tapi perasaan ingin mengecap rasa bibir pink milik Seo Rin semakin membuncah. Akhirnya, Jung Kook mulai melumat bibir atas Seo Rin. Seo Rin yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya mampu memejamkan matanya dan menikmati apa yang dilakukan Jung Kook untuknya. Karena memang bagi Seo Rin, ini adalah ciuman pertama selama 23 tahun dia hidup di bumi ini. Jung Kook akhirnya melepaskan tautan bibir mereka, setelah Seo Rin merasa kehabisan napas.

Mianhaeyo. Tapi aku melakukan itu karena aku ingin mengenal mu lebih dekat, Seo Rin-sshi. Aku melakukan tadi dengan—dengan—tulus.” Kata Jung Kook yang hanya mampu memandangi sepatu pantofel miliknya itu.

Waeyo?” Tanya Seo Rin dengan bodohnya. Ia masih merasa linglung saat ini.

“Karena aku, aku tertarik dengan mu. Aku belum bisa mengatakan bahwa aku menyukai mu, tapi ada perasaan yang menggebu saat aku bertemu dengan mu.” Kata Jung Kook mencoba menjelaskan.

“Kenapa harus aku Jung Kook-sshi?” Tanya Seo Rin sekali lagi.

“Entahlah, aku sendiri juga tak mengerti.” Kata Jung Kook. “Mianhaeyo, jika perbuatan mu tadi membuat mu tak nyaman. Tapi sungguh, aku melakukannya bukan karena maksud apa-apa. Aku benar-benar tulus.” Ujar Jung Kook sekali lagi. Sedangkan Seo Rin masih terdiam berusaha menetralkan detak jantungnya yang menggebu akibat perbuatan dan ucapan Jung Kook baru saja.

“Kalau begitu, aku akan ke dalam dulu. Kau bisa meminjam jas ku sampai kau tiba di rumah nanti. Dan jika kau ingin mengembalikannya, kembalikan saja ke Hee Chul hyung.” Kata Jung Kook yang mulai beranjak dari tempat duduknya.

Belum sempat Jung Kook melangkahkan kakinya jauh, Seo Rin sudah menggapai lengan Jung Kook. “Ayo kita ke dalam.” Katanya lirih sambil memandangi high heelsnya. Mendengar ajakan itu, Jung Kook hanya menyunggingkan senyum bahagianya. Begitupun dengan Seo Rin.

Jung Kook pun lalu merangkul pinggang Seo Rin dan membawa gadis itu mendekat kearahnya. Saat ia merangkulkan tangannya, Jung Kook merasakan pergelangan tangan Seo Rin yang dingin layaknya es batu “Seo Rin-sshi, tangan mu dingin sekali. Kau tak apa-apa?” Tanya Jung Kook khawatir. Sedangkan Seo Rin hanya meggeleng, memberitahu lelaki yang lebih tinggi darinya sekitar 15 senti itu. Walaupun sebenarnya, badan Seo Rin sedang menggigil.

Chamsimanyo.” Jung Kook melepas rangkulan tangannya dan membenarkan letak jasnya. “Seo Rin-sshi, sepertinya kau harus benar-benar memakai jas ku. Cha, pakailah.” Kata Jung Kook. Seo Rin yang memang merasa sangat kedinginan akhirnya hanya menurut ucapan Jung Kook.

Jeongmal gamsahamnida, Jung Kook-sshi.” Kata Seo Rin sambil lagi-lagi tersenyum. Entahlah, ia juga tak tahu apa yang terjadi dengan dirinya sehingga tadi ia menahan tangan Jung Kook dan malah mengajaknya masuk ke ballroom. Bahkan Seo Rin tak masalah saat tangan Jung Kook yang tadi sempat berada di pinggangnya. Malahan, dia merasakan kehangatan menghampirinya saat Jung Kook memeluknya seperti itu. Sehingga, dia tak terlalu menggigil.

Ka ja, kita masuk.” Ujar Jung Kook yang lalu melingkarkan tangannya di pinggang Seo Rin lagi. Dia berusaha membuat badan Seo Rin dan dirinya berdekatan, sehingga dapat menatralisir hawa dingin yang menyerang mereka berdua.

Aku merasa selalu nyaman berada dekat dengan mu, Seo Rin-sshi. Tapi, aku belum tahu perasaan apa yang aku miliki untuk mu. Jadi maukah kau bersabar, sampai aku mengetahui perasaan macam apa ini?

Jung Kook-sshi, aku tak menyangka akan mempunya pertemuan kedua dan ketiga dengan mu. Semoga kita bisa mempunyai kesempatan yang lain lagi.

***

Okay, sebenarnya FF ini lanjutan dari FF aku yang sebelumnya, yang “Our First Meeting”, dan FF ini ntar bakalan jadi projek FF Series pertama aku selama aku mendalami dunia per-FF-an ini (?) Jadi maklum, kalau semisal FF ini jauh dari kata sempurna. Yah, pokoknya begitulah. Sebelumnya thanks buat yang udah baca.

Author:

Just an ordinary girl with an extraordinary. I'd rather die than live without any passions -JK-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s