Posted in FF, Oneshoot, Romance

FF Series : Our First Meeting [Kook-Seo]

Jung Je Hwan’s Present

“Our First Meeting”

Cast by Jang Seo Rin, Jeon Jung Kook and other cast

Genre : Romance

Rating : PG 15

Length : Oneshoot

***

Ini kebetulan yang menyenangkan. Aku bertemu dengan mu ketika hal buruk menimpa ku. Kau merawat ku, kau menjaga ku. Walaupun hanya sementara, aku menyukainya. Semoga ke depannya aku dan diri mu bisa sering bertemu. –Jang Seo Rin

***

Seperti hari-hari sebelumnya, Jang Seo Rin berjalan sendirian setelah turun dari halte bus menuju ke rumahnya. Dia melewati taman yang sudah mulai sepi karena memang jam tangannya sudah menunjukkan jam setengah delapan malam, ditambah dengan cuaca dingin di pertengahan Desember ini, menyebabkan tak banyak orang yang mau berkeliaran di luar rumah mereka. Dia tak akan pulang semalam ini jika saja ketua timnya yang baik hati itu tak memberikannya banyak artikel yang mesti dirinya edit.

“Sialan kau, Kim Hee Chul. Kau enak-enakan berlibur dengan pacar mu itu dan membiarkan ku menyelesaikan itu sendiri.” Gerutunya lagi sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Dia lupa membawa sarung tangan ketika berangkat kerja tadi walaupun dia tahu perkiraan cuaca hari ini akan lebih dingin dari kemarin. “Kalau saja kau bukan ketua di tim ku, kau sudah ku tendang.” Lagi-lagi dia menggeretu sebal mengingat perlakuan yang baik hati dari ketuanya yang semena-mena itu.

Dia terus berjalan sambil sesekali mengumpat serampah kepada ketua timnya yang bisa dia bilang mempunyai banyak kepribadian itu. Kadang ketua Kim sangat baik hati kepada anak buahnya dengan mentraktir Seo Rin dan rekan-rekannya makan. Kadang dia bisa berubah sangat dingin di kantor, bahkan berbicara dengan anak buahnya pun hanya satu dua kata. Kadang ketua timnya itu, berubah menjadi monster dengan kata-kata pedasnya. Kadang-kadang atau malah sering menurut Seo Rin, ketua timnya itu berubah sangat menyebalkan seperti yang terjadi hari ini padanya.

Seo Rin terus saja bergulat dengan pikirannya mengenai ketua timnya yang sangat luar biasa itu. Sampai-sampai dia tak mengetahui bahwa dari halte bus tadi, dia sedang dibuntuti oleh seseorang. Hatinya masih sangat dongkol dengan ketua timnya itu. Bahkan ketika dia orang yang berpenampilan dengan pakaian serba hitam itu sudah mulai mendekati Seo Rin, Seo Rin masih saja tak memperhatikannya bahkan terganggu pun tidak.

Seo Rin hendak menyeberang, ketika sesosok yang ada di belakangnya itu berjalan lebih cepat dan membekap mulut Seo Rin. Seo Rin meronta meminta tolong, tapi suaranya itu tertahan oleh bekapan tangan orang yang memakai topi hitam juga kaca mata hitam itu. Tapi naas, keadaan sekitarnya yang memang sepi itu membuat teriakan tertahannya tak ada yang mendengarnya. Tubuh Seo Rin terus memberontak dan mencoba melepaskankan diri, tapi orang yang membekap itu terus membawanya ke sisi tergelap dari taman yang tadi dilewati oleh Seo Rin dan tentunya orang itu.

“Ahhh… leee… paass..kan…” Tangan Seo Rin tak henti-hentinya berusaha memukul siapa pun yang sekarang tengah menguasai tubuhnya dan membekap mulutnya. Tubuh mungilnya tak bisa melawat tubuh yang lebih besar dari dirinya itu. Dia kelelahan karena terus mencoba melepaskan dirinya sampai-sampai dia hanya pasrah terhadap apa yang akan orang jahat itu lakukan.

Sampai akhirnya orang itu melepaskan bekapan tangannya dan dia melempar jatuh Seo Rin di atas reremputan taman. Seo Rin masih berusaha menormalkan deru nafasnya ketika orang yang tadi membawa paksa tubuh Seo Rin membuka topi hitam yang menutupi wajahnya. Dia juga membuka kaca mata hitam yang sedari tadi digunakannya.

“Kau tak merindukan ku, Jang Seo Rin-sshi?” Sapa orang itu kepada Seo Rin yang berada di atas tanah. Seketika mendengar suara orang itu, Seo Rin langsung memalingkan perhatiannya kepada orang yang berdiri di hadapannya itu.

“KAU? Apa yang kau lakukan kepada ku tadi?” Bentak Seo Rin kepada sesosok yang kini tengah menyunggingkan senyum separo bibirnya itu. Dia gugup sekaligus takut dengan orang yang kini berjongkok di hadapannya. Seo Rin memundurkan badannya takut-takut. Tapi orang itu terus bergerak maju ke arahnya.

“Ayolah, Seo Rin-sshi, aku tak mungkin menyakiti mu, kenapa kau ketakutan seperti ini, hemm?” Kata orang itu mengejek mengetahui Seo Rin yang ketakutan dengan kehadirannya yang begitu mendadak.

“Apa yang ingin kau lakukan, hah?” Seo Rin semakin ketakutan ketika dia tahu, dia tak bisa bergerak lagi. Badannya terhalang oleh kursi taman yang ada di belakangnya.

“Aku cuma ingin meminta sebuah, emm, bagaimana aku harus mengucapkannya ya, yah seperti kau tahu, aku meminta pertanggung jawaban mu.” Kata orang itu yang kini tangannya sudah mulai bertengger di sekitar wajah cantik Seo Rin.

“Apa, huh? Semua sudah selesai tiga tahun lalu. Aku dan diri mu sudah tak ada hubungan apa-apa lagi.” Kata Seo Rin geram karena orang yang dihadapannya itu terus berlaku tidak menyenangkan terhadap dirinya.

“Tapi, aku melupakan satu hal saat itu. Dan aku ingin mengambilnya saat ini, Seo Rin-sshi. Bolehkah?” Kata orang itu lagi-lagi dengan senyuman menghina miliknya.

“Aku sudah memberikan apa yang keluarga mu minta. Apa lagi yang kurang, hah?” Seo Rin menepis tangan orang itu dengan kasar. Dia berusaha bangkit ketika tangannya di cekal oleh orang itu. Dan dia di hempaskan kembali ke tanah, yang menyebabkan keseimbangannya hilang, hingga akhirnya Seo Rin terbentur dengan kursi taman yang berada di belakangnya itu.

Seo Rin merasakan pening yang teramat sesaat setelah kepalanya terbentur. Ia mencium bau anyir. Ia rasanya ingin pingsan, tapi dia sedapat mungkin harus tetap terjaga mengingat seseorang dari masa lalunya itu berusaha meminta sesuatu untuk pertanggung jawaban yang sesungguhnya Seo Rin sendiri tak tahu.

“Kau pintar juga, Seo Rin-sshi. Kan dengan begini kondisi mu yang seperti ini aku kan bisa dengan mengambil hal itu dari mu.” Ujar orang itu penuh kemenangan mengetahui kondisi Seo Rin yang tak berdaya ini. Seo Rin hanya bisa pasrah lagi-lagi dengan kondisi tak berdayanya ini. Dia rela terhadap apapun yang akan dilakukan orang ini terhadap dirinya.

“Gadis baik, mungkin lebih baik ku lakukan sekarang melihat kondisi mu yang seperti ini. Oh ya, jangan lupa sampaikan salam ku untuk kakak ku di atas sana jika aku dan kedua orang tua ku sangat merindukannya. Ya-ya, kau pasti bingung akan apa yang ku lakukan kan? Aku akan membawa mu bertemu dengan kakak ku yang sekarang di atas sana. Kau tak perlu takut. Ini memang menyakitkan pada awalnya, tapi ketika kau pergi semuanya tak akan ada rasa sakit lagi.” Kini orang yang mukanya sudah menggelap karena dendam itu, memasangkan kedua tangannya di sekitar leher Seo Rin. Seo Rin yang tahu apa yang akan dilakukan orang itu, berusaha menghalau tangan orang itu dengan tenaganya yang tersisa.

“Aku mohon, lepaskan aku. Aku—aku akan melakukan dan memberikan apapun yang kau minta tapi mohon jangan bunuh aku.” Kata Seo Rin penuh harap sambil terus menghalau tangan orang itu di lehernya. Dia sudah tak kuat menahan rasa pusing yang sedari tadi mendera kepalanya. Dia juga takut dengan apa yang akan dilakukan adik dari seseorang di masa lalunya itu.

“Heh? Aku tak mau apa-apa lagi dari mu. Aku Cuma ingin membawa mu keluar dari dunia fana ini, Seo Rin-sshi.” Ketika orang itu selesai mengucapkan ucapannya, dia langsung mecekik leher Seo Rin. Seo Rin hanya berusaha melepaskan tangan orang itu dengan sekuat tenaga. Dan dengan sekuat tenaga berusaha mengeluarkan suaranya yang tertahan karena pita suaranya yang ada di dalam tenggorokkannya mendapat himpitan yang sangat keras dari tangan orang itu.

“Hukk..Hukkk.. Leee…paaasss…” Dengan susah payah akhirnya Seo Rin bisa mengeluarkan kata-kata itu. Walaupun dia kini tersengal-sengal, kerana nafasnya yang mulai putus-putus. Tapi dengan tidak berperikemanusiaan, orang itu menambah tekanan dalam mecekik leher Seo Rin. Tangan Seo Rin lagi-lagi berusaha melepaskan cekikan orang itu. Sampai-sampai ketika dia berusaha melawan cekikan itu, kuku jari Seo Rin melukai kulit lehernya sendiri.

“Selamat tinggal, Jang Seo Rin.” Selesai kalimat itu diucapkan. Kuku jempol orang yang ada dihadapan Seo Rin itu, menekan bagian leher Seo Rin di mana terletak pembuluh nadi Seo Rin. Seo Rin benar-benar pasrah kali ini. Mungkin inilah cara dia menemui ajalnya, dibunuh oleh adik dari seseorang di masa lalunya. Seseorang yang dulunya pernah mengisi hari-hari Seo Rin. Tapi, kini adik dari seseorang di masa lalunya itu, berusaha untuk mengakhiri hidupnya.

“Akhhh…” Hanya teriakan panjang yang dapat Seo Rin keluarkan dari mulutnya. Tepat saat itu, ada orang yang datang berlari ke arah dua orang itu sambil berteriak.

“YAKK!! Apa yang kau lakukan!!” Mendengar teriakan orang yang berlari ke arahnya dan Seo Rin. Orang itu lantas meninggalkan Seo Rin yang sudah berada dalam keadaan sekarat. Dia memakai kembali kaca mata hitam dan topinya yang tadi sempat dia lepas, lalu berlari meninggalkan Seo Rin. Sedangkan Seo Rin dengan nafas tersengalnya hanya bisa menutup kedua kelopak matanya yang sudah memberat

***

                “JEON JUNG KOOK, KAU KABUR KEMANA LAGI, HUH?” Teriak seseorang yang berada di balik telepon yang berada di genggaman pria yang bernama Jeon Jung Kook itu. Pria itu sempat menjauhkan telepon genggamnya karena teriakan hyungnya itu.

“Aku hanya mencari udara segar, hyung. Kau tak perlu khawatir dan satu lagi aku tak sedang dalam mood baik untuk kabur sekarang, jadi aku tak mungkin kabur. Oke hyung, kkeutno.” Setelah itu Jung Kook langsung mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. Setelah itu, dia juga menonaktifkan ponselnya dan melepas baterainya.

Pria itu lalu melanjutkan acara untuk mencari udara segar yang sempat terganggu karena telepon dari hyungnya yang menurutnya tak penting itu. Ketika ia terus menyurusi taman yang setiap pulang kerja selalu dilaluinya itu, dia melihat sesuatu yang tak benar tak jauh dari tempatnya sekarang berdiri. Dia melihat dua orang dengan posisi mencurigakan. Yang satu berada di samping seorang gadis yang tengah terkapar di tanah dan meronta-ronta untuk melepaskan sesuatu di tubuhnya. Dia tak tahu apakah orang itu seorang pria atau wanita karena posisi orang itu yang sedang membelakanginya.

“Akhhh…” Teriakan lemah itu terdengar dari tempatnya berdiri, karena memang Jung Kook berdiri tak jauh dari tempat kedua manusia itu. Mengetahui gadis yang berada di bawah kungkungan orang yang membelakanginnya itu dalam bahaya, Jung Kook semata-mata langsung berlari ke arah dua manusia itu.

“YAKK!! Apa yang kau lakukan!!” Teriaknya dengan berlari menuju arah kedua manusia itu. Mendengar teriakan yang keluar dari mulutnya, orang yang berada di samping gadis itu lalu langsung menggunakan kaca mata dan topinya lalu bergegas berlari meninggalkan gadis itu. Mengetahui bahwa orang itu berlari meninggalkan korbannya yang sekarat, Jung Kook ingin menangkap orang itu tapi, setelah mengetahui bahwa korban orang itu tergeletak tak sadarkan diri, ia mengurungkan niatannya.

Ia lalu bersimpuh di samping Seo Rin yang sudah memejamkan matanya. “Agasshi ireonaseoyo.” Ujarnya Jung Kook khawatir melihat kondisi gadis yang kini berada di hadapannya. Bagaimana tidak? Gadis itu atau Seo Rin masih mengeluarkan darah dari kepalanya. Dia juga tampak memprihatinkan dengan nafasnya yang masih belum stabil ditambah luka akibat cekikan di lehernya yang juga mengeluarkan darah. Tapi, bersyukurnya adalah kuku orang tadi belum benar-benar merobek nadi Seo Rin, hal itu sudah dipastikan Jung Kook ketika dia ingin memeriksa denyut nadi Seo Rin.

Melihat bahwa Seo Rin tak merespon perkataaannya, Jung Kook dengan tergesa mengangkat tubuh tak berdaya Seo Rin ke arah mobilnya. Jung Kook lalu melajukan mobilnya ke arah rumah sakit terdekat, setelah memposisikan tubuh Seo Rin dibangku belakang mobilnya.

***

                Sesampainya di rumah sakit, Jung Kook langsung menyerahkan Seo Rin ke dokter dan perawat yang ada di sana. Seo Rin langsung mendapatkan perawatan intensif dari tim dokter. Sedangkan Jung Kook hanya menunggu di luar ruangan tempat Seo Rin mendapat perawatan.

“Tuan, maaf, kalau boleh tahu apa hubungan anda dengan pasien?” Seorang perawat menghampiri Jung Kook yang menyebabkan Jung Kook mendongakkan wajahnya mengamati seorang perawat dengan pakaian khasnya dengan nametag Shin Jae In itu.

“Emm, saya, saya pacarnya, sus.” Kata Jung Kook dengan cepat. Ia juga tak tahu apa hubungannya dengan gadis yang berada di dalam ruangan perawatan itu. Bahkan nama pun ia juga tak tahu, ia hanya menemukannya akan dibunuh oleh seseorang.

“Ini tuan, barang-barang nona yang berada di saku bajunya.” Perawat itu memberikan ponsel dan juga beberapa lembar uang serta tanda pengenal karyawan.

“Terima kasih.” Kata Jung Kook sambil menerima barang-barang gadis yang diselamatkannya itu. Jang Seo Rin. Tak sengaja matanya membaca nama yang ada dalam kartu tanda pengenal karyawan itu. Ahh, jadi namanya Jang Seo Rin. Batin Jung Kook setelah mengetahui nama gadis itu.

“Sama-sama tuan, tapi tuan harus mengurus administrasi gadis itu dulu. Mari saya antar ke ruang administrasi.” Kata perawat itu ramah.

“Baiklah.” Jung Kook hanya menurut dan mengikuti langkah kaki perawat itu.

***

                Kini kondisi Seo Rin lebih membaik, dia dipindahkan ke kamar rawat inap biasa. Luka yang ada di kepalanya sudah dijahit dan dibalut rapi oleh para dokter yang merawatnya. Lehernya diberi penyangga leher oleh dokter dengan sebelumnya luka-luka akibat cakaran perlawanan Seo Rin maupun luka dari tangan orang  yang menyelakai Seo Rin diobati. Sedangkan Jung Kook, dia kini terduduk di samping ranjang Seo Rin. Memperhatikan napas teratur dari gadis yang tadi ditolongnya. Ia juga tak berminat untuk meninggalkan gadis asing itu, takut-takut jika terbangun.

Tadi setelah menyelesaikan masalah administrasi, ia berinisiatif untuk menghubungi keluarga Seo Rin takut-takut keluarga gadis itu nanti khawatir karena sampai larut malam seperti ini belum kembali ke rumah. Dengan bermodal dengan ponsel dan nomor yang ada di dalamnya, Jung Kook menghubungi ibu Seo Rin. Ketika dirinya bisa terhubung dengan ibu Seo Rin, Jung Kook sebisa mungkin memberitahu orang tua Seo Rin dengan sejelas-jelasnya, takut-takut jika ibu Seo Rin salah tangkap dan menjadi panik.

“Maaf apa benar ini dengan ibu Jang Seo Rin?” Tanya Jung Kook seketika ia bisa terhubung dengan Nyonya Jang.

Ne, benar ini dengan ibunya. Tapi maaf ini siapa ya? Kenapa anda menggunakan ponsel putri saya?”

“Maaf ahjumma, saya Jung Kook, saya—saya pacar Seo Rin, ahjumma.” Lagi-lagi mulut Jung Kook berbohong mengatakan jika dirinya adalah kekasih dari Seo Rin. Entahlah, hal itu terjadi spontan dan Jung Kook tak bisa untuk menghentikan kerja dari mulutnya sendiri yang dapat dikatakan kurang bisa diandalkan itu. Tapi ia juga merasa dengan mengatakan kalau dirinya adalah kekasih Seo Rin membuat semuanya akan baik-baik saja.

“Ohh, terus ada apa nak Jung Kook menelepon ahjumma?” Bisa didengar oleh Jung Kook suara ibu Seo Rin yang ketika dia belum mengenal dirinya panik, sekarang menjadi lebih tenang yah mungkin menurut Jung Kook karena dia mengenalkan sebagai kekasih Seo Rin.

“Begini ahjumma, tadi Seo Rin sepulang bekerja diserang oleh orang yang tak dikenal dan sekarang dia sedang berada di rumah sakit. Tapi ahjumma jangan panik dulu, kondisinya baik-baik saja. Seo Rin Cuma butuh istirahat yang cukup. Dan  sekarang dia tertidur di kamar inapnya.” Kata Jung Kook menjelaskan dengan sejelas-jelasnya.

“Hah? Tapi Seo Rin benar-benar dalam keadaan baik-baik saja kan?” Walaupun Jung Kook sudah menjelaskannya dengan tenang dan jelas, tak menutup kemungkinan kondisi seorang ibu yang mengetahui anaknya diserang tak menjadi panik.

“Seo Rin baik-baik saja, ahjumma. Saya bisa memastikan itu.” Kata Jung Kook lagi.

“Luka-luka Seo Rin bagaimana? Apa ahjumma perlu ke Korea saat ini?” Kata ibu Seo Rin masih dengan nada panik dan khawatir.

“Luka-luka Seo Rin tak terlalu parah ahjumma dan dia juga sudah mendapatkan perawatan yang sebaik-baiknya dari dokter. Jadi ahjumma tak perlu pulang ke Korea.” Walaupun Jung Kook agak bingung dengan pernyataan ibu Seo Rin tentang pulang ke Korea. Jung Kook pikir, memangnya kemana orang tua Seo Rin sekarang? Tapi sebisa mungkin Jung Kook berlaku kalau dia sudah mengetahui seluk beluk kehidupan Seo Rin.

“Baiklah kalau begitu, kalau ada apa-apa tentang Seo Rin segera kabari ahjumma ya, nak Jung Kook.” Ujar Nyonya Jang.

Ne ahjumma.” Ujar Jung Kook balik sambil menghembuskan nafas lega. Paling tidak dia sudah menunaikan tugasnya untuk memberitahu keluarga Seo Rin tentang kondisi Seo Rin meski lagi-lagi dengan sedikit kebohongan di awalnya.

***

                Keadaan rumah sakit di mana Seo Rin dirawat sudah mulai sepi. Mengingat sudah lewat tengah malam. Semua orang sudah menjemput alam mimpi masing-masing. Begitu juga Seo Rin. Obat tidur yang tadi mempengaruhi dirinya, sekarang sudah menghilang. Rasa sakit yang tadi tak begitu dirasakannya sekarang membuat dirinya merintih tertahan. Ia pun membuka matanya dan mengamati sekelilingnya. Ini bukan di rumah ku.Batinnya. Sekelebat bayangan di taman tadi, menghampiri Seo Rin yang menyebabkan Seo Rin menjadi lebih awas dengan tempat baru sekitarnya. Tapi rasa itu menghilang dengan ditemukannya selang infus yang menancap di tangan Seo Rin, ditambah bau obat-obatan yang mulai memasuki indra penciumannya. Ahh, aku di rumah sakit rupanya.

Tepat saat Seo Rin benar-benar dalam kesadaran, ia mencoba untuk bangun dari ranjangnya. Ia melihat sesosok yang tengah tertidur di sofa di samping ranjangnya. Posisinya, menurut Seo Rin, sangat-sangat tidak nyaman. Dia berpikir mungkin orang itu adalah teman sekantornya atau… tidak-tidak tak mungkin, orang yang tadi membuat ku hampir mati tak mungkin membawa ku ke rumah sakit. Dan setelah diamati lekat-lekat, orang yang tertidur dengan keadaan memprihatinkan itu, sangatlah asing untuknya. Walaupun begitu, Seo Rin seperti merasa pernah melihat wajah pria itu.

Seo Rin hendak memanggil pria yang tengah tertidur itu, namun belum sempat ia mengeluarkan suara dari mulutnya. Sekelebat ingatannya membuat Seo Rin tersadar, bukankah dia putra kedua keluarga Jeon yang kaya raya itu? Jangan bilang dia yang membawa ku ke sini. Tapi—tapi tak mungkin—bagaimana bisa? Batin Seo Rin.

Ya benar, Jeon Jung Kook atau pria yang Seo Rin lihat tertidur di dekat ranjang kamar inapnya itu, merupakan putra kedua keluarga Jeon. Keluarga Jeon merupakan satu dari tiga keluarga dengan kekayaan paling banyak se-Korea Selatan. Keluarga besar Jeon Jung Kook mempunyai perusahaan bisnis yang sekarang sudah mempunyai cabang-cabang di berbagai kota besar di Korea seperti Seoul dan Busan. Bukan hanya itu, menurut artikel yang tadi ia sunting, bisnis keluarga Jeon juga sudah mencapai tanah Amerika setelah memenangkan tender melawai Hyundai Department Store milik Choi Si Won.

***

-Jang Seo Rin POV-

Aku terbangun karena merasakan sakit di area kepala ku dan leher ku. Ku pikir, efek obat bius yang menguasai ku sudah hilang. Dan ketika aku membuka mata ku, hal pertama yang ku dapati adalah seorang lelaki asing tertidur dengan posisi tak nyaman di sofa kamar inap ini. Mungkin dia adalah seorang yang berbaik hati menolong ku ketika hampir meregang maut tadi. Aku mengamati lekat-lekat lelaki itu, siapa tahu dia bukan lelaki asing melainkan teman ku sekantor atau tetangga ku. Tapi, semakin aku memandangnya, semakin aku penasaran dengan sesosok yang tertidur pulas ini.

“Sepertinya aku pernah melihat lelaki ini di suatu tempat. Tapi di mana?” Lirih ku. Dan tiba-tiba sekelebat bayangan muncul. Chankam, bukankah di putra kedua keluarga Jeon yang kaya raya itu? Dan aku hanya berusaha memastikan lagi, sambil menatap lekat lelaki yang tertidur itu. Aku pun dengan perlahan bangkit dari ranjang, walaupun dengan rasa pening yang belum juga sirna dari kepala ku. Aku berjalan berlahan ke arah sofa tempat lelaki ini tertidur. Mengamatinya lebih dalam lagi.

Majayo! Dia memang putra kedua keluarga Jeon yang kaya raya itu. Lelaki ini benar-benar Jeon Jung Kook. Ahh, betapa beruntungnya aku bisa ditolong seseorang sepertinya. Batin ku senang.

Tiba-tiba tanpa disangka-sangka, Jeon Jung Kook membuka matanya saat aku masih mengamati wajahnya dari arah yang lumayan dekat. Refleks, aku pun mundur dan sialnya aku tersandung yang menyebabkan aku terjatuh di lantai rumah sakit yang sangat dingin ini. Sedang lelaki itu, dia juga dengan refleks bangkit dari tidurnya.

Agasshi, kau sudah siuman? Apa yang kau lakukan barusan?” Tanyanya penuh selidik.

“Aku—aku, aku hanya penasaran dengan diri mu, makanya aku menatap ku dengan intens speerti tadi. Arghh.” Bicara panjang lebar seperti ini dengan suara normal ku, membuat bagian leher ku menjadi sakit lagi.

Gwaenchanayo, Seo Rin-sshi?” Tanya lelaki itu menghampiri ku.

“Ahh, gwaenchanayo.” Sahut ku dengan suara lirih.

“Lebih baik kau tiduran dulu. Kau belum benar-benar pulih Seo Rin-sshi.” Dengan penuh perhatian, lelaki ini memapah ku menuju ke arah ranjang ku. Menidurkan ku dengan perlahan, takut-takut akan melukai ku lagi. Dan entah kenapa, mungkin karena rasa perhatiannya, jantung ku dengan sialnya berdetak di luar batas normalnya. Aisshh, ini memalukan. Jangan sampai dia mendengar detakan jantung ku ini.

Sudah sangat lama jantung ku tak berdetak sekeras ini semenjak kejadian tiga tahun lalu. Aku bahkan mulai saat itu mulai bersikap sedikit tertutup dari lingkungan ku. Melakukan pencegahan, takut-takut kejadian yang begitu menguras emosi itu, terulang lagi di kehidupan ku. Oke, lupakan kejadian memilukan itu.

Jeon Jung Kook pun lalu duduk di kursi di sebelah ranjang ku. “Oh ya, kita belum berkenalan secara resmi. Perkenalkan nama ku Jeon Jung Kook. Kau bisa memanggil ku Jung Kook.” Ujarnya sambil menjulurkan tangannya. Aku pun bangkit lagi dengan perlahan. Dengan keragu menjabat tangannya. Sebenarnya tanpa perkenalan seperti ini pun aku tahu siapa dirinya. Siapa sih yang tak mengenal anak kedua keluarga Jeon yang banyak orang di luaran sana membicarakan tentang kebaikan dan ketampanannya?

“Ah ne, nama ku Jang Seo Rin, seperti yang kau tahu. Kau pasti mengetahui nama ku dari kartu tanda pengenal ku.” Balas ku. Dan bisa ku lihat dia hanya tersenyum tipis menanggapi balasan ku.

“Jung Kook-sshi, jengmal gamsahamnida. Mungkin tanpa diri mu, aku sudah tak ada di dunia ini.” Kata ku, setelah beberapa menit keheningan melingkupi kami berdua.

Aniyeyo¸aku juga kebetulan lewat daerah itu.” Jawab Jung Kook dengan nada sopan miliknya. Persis seperti orang yang membicarakannya. Pantas saja jika banyak gadis yang mengharapkan dirinya menjadi pacar atau bahkan pendamping hidup. Dia memang calon suami idaman dengan segala sikap lembut dan perhatian miliknya. “Lebih baik kau segera tidur, Seo Rin-sshi. Agar proses penyembuhan mu lebih cepat.” Titah Jung Kook.

“Tapi, akan susah untuk ku tidur setelah ini. Aku pasti tadi sudah tidur sangat lama di bawah pengaruh obat bius.” Jawab ku. Inilah salah satu kelemahan ku, aku kadang-kadang terkena insomnia setelah ada sesuatu peristiwa yang menimpa ku ataupun karena beban pekerjaan yang ku pikul.

“Tapi, tetap saja. Lebih baik kau tidur lagi. Aku akan menemani mu di sini.” DEG. Entah kenapa kalimat sederhana yang dilontarkan Jung Kook, membuat jantung ku lagi-lagi berdetak tak karuan. Bahkan yang ini lebih parah dari yang tadi. Pipi ku mulai memanas entah karena apa.

Aniyeyo, aku terlalu banyak merepotkan mu hari ini, Jung Kook-sshi.” Balas ku singkat.

Cha, pokoknya kau harus kembali ke alam bawah sadar mu.” Dia pun dengan paksa benar-benar menidurkan ku. Hal itu tak pelak membuat mata ku dan mata seorang Jeon Jung Kook bertemu pandang. Kami berdua terdiam awkward. Setelah mendapatkan kesadarannya lagi, Jung Kook segera menjauh dari wajah ku yang kini ku yakini sekarang sudah memerah bak lobster rebus. Aishh, semoga dia tak melihat wajah ku ini.

“Maaf.” Lirihnya.

“Ah ne. Aku akan mencoba untuk tidur.Jawab ku.

Aku pun akhirnya hanya berusaha memenuhi perintah Jeon Jung Kook untuk kembali ke alam bawah sadar ku. Dengan perlahan, mulai ku pejamkan kedua mata ku.

Satu menit

Dua menit

Sepuluh menit.

Sial! Aku pasti terserang insomnia lagi. Sudah berulang kali aku mencoba untuk terpejam. Dan sudah berulang kali pula aku membuka mata ku. Bahkan aku juga sudah menghitung domba seperti yang diajarkan nenek ku saat aku masih kanak-kanak saat aku kesulitan untuk tidur. Tapi, hal itu juga tak kunjung membuat ku tertidur. Ini juga sudah kesekian kalinya aku membolak-balikkan tubuh ku. Tapi, tetap saja semua hal itu tak berguna untuk ku.

“Seo Rin-sshi, kau—benar-benar tak bisa tertidur lagi?” Tanya Jung Kook yang sedari tadi berada di kursi samping ranjang ku.

Ne, Jung Kook-sshi.” Jawab ku seadanya.

Setelah itu, kami mengobrol panjang lebar tentang berbagai hal. Sampai tak terasa jam rumah sakit sudah menunjukkan jam 3 pagi. Dan badan ku mulai kecapaian ditambah lagi rasa mengantuk yang mulai menyerang ku.

“Kau sudah mengantuk rupanya.” Kata Jung Kook dengan kekehan kecilnya.

“Ya sepertinya begitu.” Ujar ku dengan senyuman tipis ku. “Lebih baik kau juga tidur, bukannya besok kau juga harus pergi ke kantor?” Lanjut ku.

“Ah benar juga kata mu. Aku bahkan hampir melupakan kalau aku ini harus bekerja besok.” Katanya.

Aku pun mulai berbaring di ranjang ku. Dia juga terlihat mulai beranjak ke arah sofa tempatnya tadi tertidur. Sebenarnya aku merasa kasihan kepadanya karena dia harus tertidur dengan posisi yang sungguh tak nyaman seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, dia merupakan orang asing untuk ku walaupun aku tahu latar belakang keluarganya dari majalah maupun koran yang pernah ku baca. Jadi aku tak bisa melakukan apapun untuk bisa membuatnya nyaman. Lagian, tadi dia ku minta untuk pulang ke rumahnya. Hanya saja dengan cengengesan dia mengatakan dia malas untuk pulang ke rumah yang pastinya katanya akan banyak tugas kantor yang harus selesaikan besok pagi.

Dua menit aku berbaring dengan memejamkan mata ku, aku pun mulai terlelap kembali ke alam bawah sadar ku.

***

-Author POV-

Sudah hampir tiga hari Seo Rin bed rest di rumah sakit tempatnya di rawat itu. Dan selama itu pula, Jung Kook, entah pagi atau malam selalu berusaha untuk menjenguk Seo Rin. Seo Rin sudah meminta Jung Kook untuk tak menjenguknya, hanya saja Jung Kook sangat keras kepala. Ia merasa tak enak hati kepada Jung Kook. Maklumlah, dialah orang pertama yang menolongnya. Dia juga yang menemani Seo Rin selama di rumah sakit. Sebenarnya, sahabat akrabnya Nam Ryu Hwa selalu datang membawakan barang-barang yang dibutuhkannya. Hanya saja, Ryu Hwa tak bisa selalu berada di dekatnya. Team leader mereka pasti akan mengamuk hebat jika dua karyawab hebatnya tak bisa hadir. Maka dari itu, Ryu Hwa tetap harus bekerja.

“Seo-ah, kau tahu semenjak kau mendekam di tempat ini. Ketua tim kita semakin menggila kepada ku. Dia memberikan tugas mu kepada ku.” Keluh Ryu Hwa saat ia datang membawa makanan yang Seo Rin inginkan.

“Kau tahu sendiri kan bagaimana sifatnya yang moody itu? Sudahlah, untuk kali ini saja bantu aku untuk menyelesaikan tugas ku.” Jawab Seo Rin senang. Yah, di satu sisi dia bersyukur berada di rumah sakit ini. Dia tak perlu menahan kesabarannya berhadapan dengan Kim Hee Chul dan juga tugas yang diberikan kepadanya.

“Iya, kau enak Cuma tiduran di rumah sakit ini tanpa melakukan apapun. Di tambah lagi, ternyata orang yang menolong mu dan juga menunggui ketika aku tak ada adalah putra bungsu keluarga Jeon.”

“Enak sih enak. Tapi, aku menjadi tak enak hati kepadanya. Dia sudah terlalu baik kepada ku. Bahkan aku dan dia bisa bertemu karena tragedi itu.” Desah Seo Rin. “Kau tahu, rasanya aku sudah berhutang budi terlalu banyak kepadanya.”

“Sudahlah, dinikmati saja. Mumpung hal ini jarang terjadi kepada mu. Eh, siapa tahu kau memang berjodoh dengannya. Hahaha.” Ujar Ryu Hwa dengan senangnya.

“Hush… Aku dan dirinya terlalu banyak berbedaan. Aku juga sadar untuk bermimpi seperti itu, Hwa-ya.”

“Aku juga cuma bercanda doang lagi. Jangan kau masukkan ke pikiran mu. Tapi tetap saja hal itu bisa terjadi. Kau tahu, aku juga tak menyangka bisa dekat dengan Si Won oppa yang jelas-jelas di antara kami terjadi perbedaan yang sangat banyak. Tapi nyatanya, kami berdua juga tetap baik-baik saja sampai sekarang. Yah, aku sih hanya ingin menyampaikan itu. Kau juga pasti merasakannya kan?” Tanya Ryu Hwa.

“Merasakan apa maksud mu, Hwa-ya?” Jawab Seo Rin pura-pura tak tahu. Sebenarnya ia tahu apa yang sedang dibicarakan sahabatnya itu. Hanya saja ia berusaha untuk menampik kemungkinan yang bisa saja memang akan terjadi seperti yang dibicarakan oleh Ryu Hwa.

“Kau tahu apa maksud ku, sayang.” Kata Ryu Hwa.

Tepat saat Seo RIn akan menjawab perkataan Ryu Hwa, pintu ruang rawat Seo Rin terbuka. Dari balik pintu itu menampakkan sesosok pria berpostur tinggi dan tegap. Dia dengan pembawaan yang sarat akan aura memasuki kamar rawat Seo Rin dengan langkah yang mantap.

“Seo-ah, bagaimana keadaan mu? Maaf aku baru bisa menjenguk mu sekarang.” Ujar Choi Si Won, lelaki yang baru saja memasuki kamar rawat Seo Rin.

“Ha-ha, aku tak mengharapkan banyak dari mu Tuan Choi. Aku tahu, sebagai pewaris Hyundai Corp kau pasti sangatlah sibuk.” Ujar Seo Rin dengan gaya bercandanya.  “Dan aku yakin seratus persen bahwa kau datang ke sini sebenarnya bukan untuk menjenguk ku, melainkan untuk menjemput kekasih mu itu, iya kan?” Lanjut Seo Rin.

“YAKK!! Aku ke sini juga untuk menjenguk mu, babo.” Dengus Choi Si Won sebal. Bagaimana mungkin sahabat masa kecilnya itu berpikiran bahwa dia hanya menjenguk kekasihnya yang notabennya juga sahabat Seo Rin di tempat kerja.

“Oke-oke, Tuan Choi. Aku menerima niat baik mu untuk menjenguk ku. Yah, walaupun aku tahu niat mu menjenguk ku hanya seperkian persen dibandingkan dengan niat mu menjempur Ryu Hwa.” Lagi dan lagi Seo Rin belum puas untuk menggoda sahabatnya itu.

“YAKK!! JANG SEO RIN!!”

“Sudahlah kalian ini seperti anak kecil saja. Kau juga oppa, sahabat mu ini sedang sakit tapi kau baru bisa datang menjenguknya sekarang. Padahal aku sudah memberitahu mu sejak tiga hari yang lalu. Kau juga, Seo Rin, aku juga tak tahu jika dia akan menjemput ku hari ini. Jadi jangan salah paham.” Lerai Ryu Hwa yang tahan dengan kelakuan sahabat dan juga kekasihnya itu.

Saat itu juga, pintu kamar rawat Seo Rin terbuka, menampakkan Jung Kook dengan kemeja yang sudah digelung sampai siku dengan menenteng jas kantornya. Tebakan orang-orang di kamar itu sama hanya dengan menyaksikan tampilan berantakan Jung Kook. Dia pasti kelelahan setelah menyelesaikan pekerjaannya.

Hyung? Si Won hyung? Kau, sedang apa kau di sini?” Tanya Jung Kook sesaat setelah melihat keberadaan Si Won di antara mereka.

“Aku hanya menjenguk teman ku, wae? Semestinya yang harus bertanya aku, kau sedang apa di kamar sahabat ku? Apa kau salah kamar? Ku pikir kalian berdua belum pernah saling mengenal.” Jawab Si Won.

“Aku yang menolongnya tempo hari, hyung.” Ujar Jung Kook. Ia pun langsung duduk di sofa kursi tempat dia biasanya bermalam.

“Oh jadi begitu rupanya. Seo-ah, sepertinya aku harus kembali ke kantor. Hwa-ya, mau ku antar ke kantor mu? Ku pikir jam makan siang sudah selesai, aku takut team leader mu yang antik itu akan melakukan hal yang tidak-tidak saat mengetahui kau masih juga tak berada di kantor.” Ujar Si Won.

“Ahh, benar juga. Aku harus kembali ke kantor sekarang sebelum nenek lampir Kim Hee Chul itu menambah pekerjaan ku hari ini. Aku pergi dulu ya, Seo Rin-ah, Jung Kook-sshi. Jaga diri mu baik-baik. Kalau kau membutuhkan ku atau Si Won oppa segera telepon kami berdua.” Kata Ryu Hwa.

“Siap bos. Hati-hati di jalan. YAKK!! Tuan Choi, awas kalau kau berani macam-macam dan tak segera mengantarkan sahabat ku ke kantor kau akan menerima akibatnya setelah aku sembuh.” Ujar Seo Rin. Si Won yang kelewat kesal dengan perkataan Seo Rin barusan, akan mlancarkan aksinya untuk menjitak Seo Rin. Hanya saja niat itu terurungkan setelah ia mendapatkan death glare dari kekasihnya.

“Cepat sembuh, babo.” Ujar Si Won lagi sambil memeluk sahabatnya itu. “Siap, Tuan Choi.” Balas Seo Rin. Ryu Hwa juga memeluk Seo Rin dan segera melenggang meninggalkan kamar rawat Seo Rin mengikuti langkah tegap kekasihnya.

Di kamar itu pun tinggalah Seo Rin dan Jung Kook. “Bagaimana keadaan mu? Lebih baik?” Jung Kook mulai membuka pembicaraannya. Dia pun pindah posisi, duduk di samping ranjang Seo Rin.

“Kau bisa lihat, perban di kepala ku sudah dibuka. Oh ya, kau bertemu dokter tadi? Jadi, kapan aku bisa pulang?” Tanya Seo Rin.

“Yah, melihat kondisi mu yang sangat sehat seperti ini, kata dokter kau bisa pulang besok siang.” Ujar Jung Kook yang disambut dengan sorakan senang dari Seo Rin.

“Kau tahu aku sangat-sangat bosan berada di sini. Apalagi saat kau bekerja dan Ryu Hwa pun juga bekerja. Aku merasa seperti seonggok manusia yang tak berguna yang hanya bisa makan-tidur-makan-tidur.” Ujar Seo Rin yang mengundang tawa Jung Kook.

“Keluar dari rumah sakit ini, pasti berat ku pasti bertambah. Huh, aku harus melakukan diet ketat setelah ini.” Dengus Seo Rin.

“Hahaha. Kau tak perlu melakukan itu, Seo Rin-sshi. Tak ada perubahan yang berarti dari mu. Lihatlah, pipi mu juga tak bertambah chubby seperti kebanyakan orang yang bertambah berat badannya.” Ujar Jung Kook yang dengar refleks mengelus pipi Seo Rin. Mencoba meyakinkan Seo Rin bahwa dia tak menjadi segendut yang dia bayangkan sehingga memerlukan diet ketat.

DEG. Lagi-lagi, ada satu pihak yang merasakan ketidaknormalan ketika tindakan refleks itu di lakukan. Dan entah kenapa pipi Seo Rin juga mulai berubah warna. Dia juga merasakan hawa panas mulai mendera tubuhnya.

“Ha-ha, begitukah?” Kata Seo Rin kikuk.

“Hem, geurom.” Lagi dan lagi, Jung Kook melakukan tindakan di luar kesadarannya saat membalas perkataan Seo Rin. Kali ini, karena gemas melihat pipi Seo Rin memerah, Jung Kook malah mengacak lembut rambut Seo Rin. Detakan jantung Seo Rin, yang sejak tadi sudah bermasalah menjadi semakin bermasalah dengan tindakan Jung Kook ini.

Tepat sebelum Seo Rin sempat menginterupsi perbuatan Jung Kook, sebuah panggilan masuk ke dalam HP lelaki di hadapannya itu. “Ah chankamanyo.” Jung Kook membuka HP nya dan melihat ID caller-nya. Dan ternyata hyungnyalah yang meneleponnya. Sedangkan Seo Rin hanya bisa bernapas lega. Dengan begitu skinship, dia menyebut tindakan tak terduka Jung Kook dengan skinship, bisa dihentikan. Kesehatan jantung Seo Rin pun bisa terjaga.

Waeyo hyung? Aku sekarang berada di mana? Aku sedang menjaga teman ku. Waeyo? Eh? Oke-oke. Tak usah berteriak seperti itupun aku mendengarnya.” Secara sepihak, karena kesal, Jung Kook mematikan teleponnya. Hyungnya mengingatkan Jung Kook untuk menghadiri rapat menggantikan dirinya yang sekarang berada di Busan untuk urusan bisnis.

“Seo Rin-sshi, aku harus kembali ke kantor. Ada hal yang harus aku kerjakan. Kau tak apakan jika, kau sendirian di sini?” Tanya Jung Kook.

Ne, Jung Kook-sshi, nan gwaenchanayo.” Balas Seo Rin. Setelah itu, Jung Kook pun keluar dari kamar rawat Seo Rin dan segera bergegas menuju kantor tempatnya bekerja.

“Huh! Jantung ku. Apa sih sebenarnya motivasi dia melakukan skinship seperti tadi. Dia seharusnya tahu bahwa kesahatan jantung ku bisa terancam jika dia terus melakukan hal tak terduga seperti tadi.” Dengus Seo Rin. Walaupun begitu, senyuman tipis Seo Rin terbentuk di bibir merah cherrynya. Sepertinya, apa yang dikatakan Ryu Hwa tak sepenuhnya salah. Mungkin dia mulai merasakan hal itu.

***

                Hari ini, seperti kata dokter kemarin, Seo Rin sudah diperbolehkan pulang. Tapi penyangga lehernya masih belum boleh di buka sampai seminggu kemudian. Dia juga dipesan agar tidak melakukan kegiatan yang membuat dirinya terlalu kecapaian. Dia disarankan untuk memperbanyak istirahat. Karena menurut pengakuan dokter, ada beberapa bagian vital di leher Seo Rin yang terlalu mendapatkan shock akibat cekikan orang itu.

“Kau dengar, Seo-ah, kau harus banyak beristirahat.” Titah Ryu Hwa.

“Ya-ya. Lagian, aku juga masih mau memanfaatkan cuti yang diberikan team leader kita itu. Jarang-jarang dia memberi ku cuti yang lumayan seperti kali ini.” Kata Seo Rin menerawang.

“Iya sih kau cuti. Tapi semua pekerjaan mu tetap berjalan dan aku yang menjadi imbasnya.” Kesal Ryu Hwa saat mengingat semenjak Seo Rin sakit, dirinyalah yang mengerjakan semua pekerjaan Seo Rin, yang menyebabkan pekerjaannya menjadi double.

“Aku janji akan membayarnya suatu saat nanti.” Kekeh Seo Rin.

“Sudah-sudah. Kalian ini. Lebih baik kau segera berkemas, Seo-ah.” Ujar Si Won yang kali ini menyempatkan waktunya untuk membantu Seo Rin berberes untuk pulang.

“Emmm, Jung Kook-sshi, terima kasih untuk semua ini. Aku merasa berhutang budi kepada mu. Aku janji, jika suatu saat aku akan membayarnya.” Kata Seo Rin dengan senyuman yang terlukis di bibir merah cherrynya itu.

“Tak usah begitu. Aku menolong mu tanpa pamrih, Seo Rin-sshi. Ini juga termasuk tugas kita sebagai manusia untuk saling tolong-menolong.” Kata Jung Kook.

Seo Rin pun selesai berbenah dengan bantuan kedua sahabatnya dan juga Jeon Jung Kook. Dia pun sudah siap meninggalkan rumah sakit tempatnya selama empat hari di rawat. Dia meninggalkan kamar rawatnya menuju ke parkiran tempat mobil Si Won diparkirkan.

***

                “Sekali lagi, aku sangat berterima kasih, Jung Kook-sshi.” Ujar Seo Rin saat dia akan menaiki mobil Si Won. Mungkin, ini akan menjadi pertemuan terakhir mereka. Mengingat setelah ini, dia akan kembali menjadi seorang Seo Rin dengan segala kesibukkannya sebagai editor. Dan Jung Kook juga akan menjadi Eksekutif Manager di kantor tempatnya bekerja. Hal itu tak ayal, akan menyulitkan mereka bertemu kembali di masa depan.

Ne. Semoga kita bertemu kembali setelah ini.” Ujar Jung Kook. Lelaki itu baru saja mengutarakan harapan yang Seo Rin juga pikirkan, walaupun kemungkinan mereka bertemu dengan lelaki itu pasti akan sulit mulai saat itu.

“Jung Kook-ah, hati-hati dalam perjalanan. Hyung, kanda.” Ujar Si Won yang mulai melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah sakit. Di saat bersamaan juga, Jung Kook juga mulai melajukan mobilnya, berbelok ke jalanan kota Seoul yang ramai seperti biasanya.

Aku tak tahu setelah ini kita mempunyai kesempatan untuk saling bertemu lagi atau tidak. Tapi, aku sangat bahagia bisa mengenal mu walau hanya sebentar. Batin Jang Seo Rin.

***

                Anyeong, long time noooo seeee, babe. Sudah beberapa bulan semenjak post-an terakhir ku. Dan aku mohon maaf sebesar-besarnya atas hal itu. Apa daya, kegiatan yang ruwet yang author hadapi sebelum US, UN, SNMPTN dan semuanya membuat author tak mempunyai waktu walau hanya menengok blog kesayangan author ini. Yah, pokoknya, author selaku admin di sini minta maaf banget, kalau jarang update. Dan untuk FF perdana author setelah hiatus beberapa saat. Maaf, maaf yang sebesar-besarnya belum bisa memenuhi kriteria bacaan yang layak dibaca. Author merasa kehilangan kemampuan walau hanya sekedar menuliskan apa yang author pikirkan. Pokoknya sekali lagi, author mohon maaf#bow. Sebelumnya thanks for reading

Author:

Just an ordinary girl with an extraordinary. I'd rather die than live without any passions -JK-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s