Posted in Chapter, FF, Romance, Sad

FF Chapter : The Accident Brought You To Me [Chapt. 2]

Jung Je Hwan’s present

“The Accident Brought You To Me [Chapter 2]”

Cast By : Jung Yun Ra, Lee Hyuk Jae, and other cast

Genre : Romance, Sad

Rating : PG 15

Length : Chapter

***

Bagi ku pernikahan itu sesuatu yang suci dan dilandasi dengan sebuah cinta bukan dengan sebuah keterpaksaan. -Jung Yun Ra-

Sekarang, melihat mu tersenyum merupakan hal yang cukup untuk ku. -Lee Hyuk Jae-

***

-PREVIOUS CHAPTER-

“Kau harus menikahinya, kau harus bertanggung sepenuhnya dengan diri Yun Ra sekarang. Kau yang membuat Yun Ra seperti ini.” Kata Tuan Lee dengan tegas.

                “Tapi appa—“

                “Tak perlu seperti ituTuan Lee. Tak perlu sampai menikahi diri Yun Ra.” Kata Tuan Jung.

                “Tuan Jung, bagaimanapun juga, dialah yang menyebabkan Yun Ra lumpuh. Biarkan anak ini mengerti artinya bertanggung jawab.” Kata Tuan Lee.

                “Aku setuju dengan usul Tuan Lee, kau harus menikahi adik ku, Hyuk-ah. Kau harus bertanggung jawab penuh terhadap diri Yun Ra, sekerang maupun masa yang akan datang.” Kata Yun Ho. Dia sempat mendapat sikutan dari appanya. Dan saat itu, Yun Ho membawa appanya untuk bicara empat mata dengannya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi terlihat itu pembicaraan yang serius.

 

“Haruskah aku menikahi gadis yang bahkan tak kucintai?” Katanya rindik dengan memandang langit biru di atas sana.

***

-CHAPTER 2 BEGIN-

Sore itu, seperti sore-sore sebelumnya, Hyuk Jae sudah berada di kamar inap seorang gadis yang berjasa besar menolong dirinya. Sebenarnya ia sedikit enggan menjenguk ‘calon istrinya’ itu. Tapi, paksaan dari kedua orang tua Hyuk Jae membuat ia terpaksa datang ke tempat ini. Kata mereka, Hyuk Jae harus mulai lebih perhatian dengan gadis yang akan menjadi istri Hyuk Jae setelah gadis itu keluar dari rumah sakit itu. Terlebih lagi, sudah tiga hari Hyuk Jae tak datang menjenguk Yun Ra.

Dan di kamar inap ini, terlihat seorang gadis yang sedang duduk di sebuah kursi roda sambil mengamati pemandangan di luar sana dengan mata kosongnya. Bahkan, orang tua gadis itu yang sedari tadi mengamati putrinya itu, hanya memandang dengan penuh keprihatinan. Lelaki itu hanya dapat tersenyum kecut melihat kondisi gadis itu. Ia yakin, gadis itu sudah mendengar perihal pernikahan mereka dari kedua orang tuanya. Dan pasti itu semakin membuatnya semakin terpuruk seperti ini.

Anyeong, ahjumma, ahjussi... emm Yun Ra-ya.” Sapanya berusaha sebisa mungkin ramah. Tuan dan Ny. Jung menoleh ke arah Hyuk Jae tapi tidak dengan gadis itu.

Eoh? Hyuk-ah, kau di sini?” Sapa Tuan Jung melihat kedatangan Hyuk Jae di kamar itu. Entahlah, ekspresi Tuan Jung saat ini menunjukan kesedihan. Tapi di sisi lain tergurat kelegaan melihat Hyuk Jae datang. Mungkin, lelaki itu bisa membuat Yun Ra kembali bangkit kembali. Apalagi setelah mendengar penuturna Yun Ho kemarin.

Ne, ahjussi.” Katanya berusaha tersenyum.

“Ah yeobo, sepertinya ada sesuatu yang perlu ku ambil di rumah.” Kata Ny. Jung yang menyadari kekakuan di antara mereka.

“Ah geure? Baiklah kita ambil sekarang. Hyuk-ah, kau tidak keberatan kan jika kami tinggal sebentarkan?” Tanya Tuan Jung yang mengetahui maksud istrinya itu. Sebelum sepenuhnya beranjak dari kamar itu, Tuan Jung membisikan sebuah kata kepada Hyuk Jae, mungkin saja bunyinya ‘Tolong hibur Yun Ra. Kami sedih melihat dia seperti ini’.

“Emm, ne.” Katanya. Setelah itu, tinggallah dua anak manusia yang tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Bahkan ruangan yang cukup luas itu menjadi lebih sepi daripada tadi. Hyuk Jae yang merasa tak nyaman dengan keadaan seperti itu, berinisiatif untuk memecah keheningan di antara mereka.

“Ra-ya, bagaimana keadaan mu?” Kata Hyuk Jae berusaha seramah mungkin.

“Kau tak perlu bersikap ramah kepada ku. Aku tahu kau juga enggan dengan pernikahan kita. Kau seharusnya menolak permintaan appa mu sendiri itu. Kau pantas mendapatkan gadis yang lebih baik daripada ku. Aku ini cacat, jadi apa pantas aku bersanding seorang Direktur seperti mu?” Kata Yun Ra dengan dinginnya.

“Tapi Ra-ya, aku—“

“Tak apa, memang Tuhan yang sudah menakdirkan ku seperti ini. Kau tak perlu merasa bersalah bahkan merasa kasihan terhadap ku. Aku hidup bukan hanya sekedar untuk dikasihani. Jika kau menerima pernikahan itu karena merasa bersalah bahkan merasa kasihan kepada ku, lebih baik kau batalkan saja.” Lanjut Yun Ra. Hyuk Jae nampak gelagapan di situ. Tapi secara cepat ia bisa menutupinya.

“Aku menikahi mu bukan karena aku merasa kasihan terhadapmu. Tak terbesit rasa itu sedikitpun dibenak ku.” Kata Hyuk Jae dengan tegas. Ia kini berdiri di hadapan Yun Ra. Yun Ra sama sekali tak melihat ke arah Hyuk Jae yang sekarang ini berada di hadapannya. “Jung Yun Ra, tatap aku ketika aku berbicara.” Ujar Hyuk Jae tegas sambil mendongakan kepala Yun Ra.

“Kau tak mengerti bagaimana serba salahnya posisi ku sekarang ini. Di sisi lain aku enggan untuk menikahi mu. Tapi di sisi lain, aku merasa berhutang budi kepada mu.” Kini Hyuk Jae berlutut dihadapan Yun Ra sambil memegang kedua tangan Yun Ra. “Aku bahkan tak bisa untuk membatalkan pernikahan ini. Kedua orang tua ku, kedua orang tua mu, bahkan noona ku dan juga oppa mu setuju dengan pernikahan ini. Bagaimana aku bisa membatalkan pernikahan ini? Sedangkan mereka tampak bahagia. Mereka sudah terlanjur menaruh harapannya. Dan di pundak ku sudah ada harapan mereka untuk ku bahkan untuk mu, harapan mereka untuk kita.” Lanjut Hyuk Jae dengan wajah frustasinya.

“Aku tak bisa mengecewakan kedua orang tua ku, terlebih lagi noona ku. Aku ingin membuktikan kepadanya bahwa aku ini lelaki yang bisa dibanggakan dan tak pernah mengecewakan.” Kata Hyuk Jae dengan lemah. Tak bisa dipungkiri lagi, berbagai alasan membuat Hyuk Jae semakin tak bisa mundur dari pernikahannya dengan gadis yang ada di hadapannya itu. Dan gadis di hadapannya hanya bisa memandang tak percaya ke arah lelaki itu.

***

-Jung Yun Ra POV-

“Aku tak bisa mengecewakan kedua orang tua ku, terlebih lagi noona ku. Aku ingin membuktikan kepadanya bahwa aku ini lelaki yang bisa dibanggakan dan tak pernah mengecewakan.” Aku tak percaya dengan perkataan yang baru saja ia lontarkan. Dia berbeda dengan dirinya yang dulu. Dirinya yang dulu adalah seorang yang dingin yang tak akan pernah repot-repot memikirkan perasaan orang lain. Bahkan dirinya yang dulu, seorang yang acuh yang tak peduli dengan kondisi sekitarnya. Dirinya yang dulu bisa dibilang termasuk jajaran siswa yang banyak digilai atau lebih tepatnya jajaran orang-orang yang dapat dengan mudah menerbangkan dan menghempaskan hati seorang gadis. Dan sekarang, aku terperanjat mendengar penuturannya yang memikirkan perasaan orang tuanya dan juga kakak perempuan yang kutahui tinggal jauh dari dirinya.

Belum sempat aku memprotes pernyataannya itu, dia sudah menyela ku. “Aku tahu kau tak mempunyai perasaan apapun terhadap ku. Begitupun aku, tapi aku, aku akan mencobanya.” Katanya sendu. Tapi, kau salah Hyuk-ah, siapa yang bilang aku tak mempunyai perasaan apapun terhadap mu, aku bahkan masih menyimpannya sampai sekarang ini. Perasaan itu masih tersimpan dengan rapi di hati ku.

Ya, aku jatuh ke dalam pesona seorang Lee Hyuk Jae. Seorang dengan kesempurnaan rupa. Seorang yang dengan mudah mendapatkan hati gadis yang dia inginkan. Seorang dengan sebutan playboy, saat kami duduk di SMA. Seorang yang termasuk kelompok murid yang bisa dibilang bad student tapi mempunyai IQ di atas rata-rata umumnya. Dan aku jatuh ke dalam pesonanya, jauh sebelum peristiwa ini terjadi. Aku jatuh ke dalam pesona seorang casanova seperti Hyuk Jae saat aku pertama kali mengenal dirinya yang kebetulan menjadi classmate ku. Bahkan walaupun saat itu aku tak sekelas dengannya, aku dengan mudah mengetahuinya. Karena, yah, selain kesempurnaan rupanya itu, dia juga merupakan kapten tim bakset sekolah ku dulu. Yang selalu menjadi sorotan saat tim basket sekolah kami bertanding. Jadi bisa dengan mudah dikatakan, dia itu termasuk murid populer dengan segala yang dia miliki.

“Bagaimana mungkin, Hyuk-ah?” Kata ku. Walau bagaimanapun, dia pastinya tak menyukai ku. Karena ku yakin, dia pasti terpaksa menyetujui rencana pernikahan ini.

“Ra-ya, aku berada di posisi yang sangat sulit. Hanya itu satu-satunya cara. Aku mohon, setujuilah pernikahan kita ini.” Katanya masih dengan menggenggam tangan ku. Aku masih bergeming, tak tahu apa yang harus apa aku sekarang ini.

“Sekali ini saja aku meminta pertolongan dari mu. Sekali ini, biarkan aku membalas kebaikan mu ini. Sekali ini saja, Ra-ya.” Katanya masih keukeuh.

“Baiklah, Hyuk-ah. Tapi aku harap ini bukanlah sebuah permainan. Karena bagi ku sebuah pernikahan adalah acara suci di mata Tuhan yang tak ingin ku permainkan.” Kata ku mengalah pada akhirnya. Aku tak tahu, rencana apa lagi yang Tuhan lukiskan untuk ku. Baru saja aku mengetahui bahwa aku lumpuh. Dan sehari setelahnya, aku diberi tahu bahwa orang yang sudah ku selamatkan jiwanya atau lebih tepatnya keluarganya meminta ku untuk menikah dengan dirinya.

***

               Sudah dua minggu lebih aku menetap di rumah sakit ini. Jujur, aku bosan. Apalagi dengan kondisi ku yang seperti ini. Dan hari ini, dokter yang selalu merawat ku mombolehkan diri ku pulang. Akhirnya, hari yang ku tunggu datang. Tapi, dengan kepulangan ku ke rumah, berarti pernikahan ku sudah berada di depan mata. Karena menurut kesepakatan keluarga dan pastinya aku dan Hyuk Jae, pernikahan kami akan dilangsungkan satu bulan setelah aku keluar dari rumah sakit.

Aku merasa senang dengan pernikahan itu. Tapi, di sisi lain, memikirkan perasaan Hyuk Jae kepada ku, yang hanya sebatas teman dan hanya sebatas balas budi, membuat ku sedih. Aku tak pantas bersedih harusnya. Harusnya aku cukup senang karena Hyuk Jae mau menikahi ku dengan kondisi ku yang serba kekurangan ini.

Tapi yang membuat ku heran adalah lagak dan sikap Hyuk Jae kepada ku yang perlahan namun pasti berubah. Ya, dia setiap hari meluangkan waktunya untuk menjenguk ku. Bahkan intensitanya semakin banyak. Jika waktu makan siang, ia menyempatkan dirinya ke rumah sakit, untuk mengajak ku makan siang. Dan dia bersikap lebih manis kepada ku. Memperlakukan ku dengan baik. Keluarga ku tentunya senang karena Hyuk Jae memperlakukan ku selayaknya tak pernah ada masalah di antara kami, selayaknya kami ini adalah sepasang kekasih yang sebentar lagi menikah. Dan pastinya, keluarga Hyuk Jae yang tersenyum bangga dengan sikap gentle putranya itu.

“Ra-ya, kau sudah siap untuk pulang?” Tanya Yun Ho oppa dengan senyum senang yang menghiasi wajah tampannya itu.

Ne, aku sudah merindukan segala sesuatu yang ada di rumah.” Kata ku senang.

Aigoo, mana bocah itu? Calon istrinya akan segera keluar rumah sakit, dia malah tak datang.” Kata eommonim. Ya, aku diminta beliau untuk memanggil dirinya dan juga Tuan Lee, layaknya aku memanggil eomma dan appa ku.

Gwaenchana, eommonim, mungkin Hyuk Jae sedang sibuk mengurusi pekerjaannya.” Kata ku tenang. Dan di saat bersamaan terbukalah pintu kamar inap ku. Masuklah seorang lelaki dengan kemeja birunya yang lengannya sengaja ditekuk sampai siku.

Mianhae.” Katanya sambil mendekat ke arah ku. Aku hanya tersenyum menanggapinya.

Aigoo, kalian ini membuat ku iri. Andaikan Yuki ada di sini.” Kata Yun Ho dengan wajah sok memelas miliknya. Aku tahu, dia pasti dengan rese’ sedang menggoda ku. Oh ya, Yuki eonni adalah yoejachingu oppa ku yang kini tinggal di Jepang. Dia dan Yun Ho oppa bertemu saat kuliah di Jepang sana.

“YAKK!! OPPA!!” Kata ku sambil ku pukul pelan lengan miliknya itu.

“Sudah-sudah, kalian ini. Kaja. Yun Ra pasti ingin segera menghirup udara kebebasan dari rumah sakit ini, kan?” Kata appa.

Ne, kaja.” Kata ku. Bisa ku pastikan Yun Ho oppa berjalan di samping kursi roda ku dengan membawa koper yang berisi perlengkapan ku dan Hyuk Jae yang mendorong kursi roda ku pelan. Terkadang, tangannya, mengusap lembut rambut ku. Aku nyaman dengan perlakukannya yang seperti ini. Dan ku harap, ku harap aku bisa merasakan ini untuk selamanya. Ku harap ia akan melakukan ini dengan lebih tulus nanti ketika kami sudah menikah.

***

                Kini, kami sudah tiba di rumah keluarga ku. Teman-teman ku menganggap rumah ku ini layaknya sebuah istana. Berlebihan memang, tapi bagaimana lagi, kata mereka rumah ku ini sangatlah luas dan megah apalagi dekorasinya yang bergaya layaknya bangunan Eropa klasik menambah kesan mewah di sana. Saat kami sampai di rumah ini, kami disambut oleh maid-maid yang berkerja di sini yang sudah ku anggap keluarga ku sendiri. Mereka menyambut ku dengan senyuman hangat milik mereka. Merekalah, yang membantu mengurus rumah yang besar ini. Ah, aku beruntung mempunyai keluarga yang menyayangi ku dan juga para maid yang selalu menyediakan apapun yang ku butuhkan.

“Ra-ya, kamar mu di mana, heum?” Katanya lembut yang membuyarkan lamunan ku.

“EH? Kamar ku ada di lantai dua, Hyuk-ah.” Kata ku gugup. Kenapa aku jadi gugup seperti ini? Ada yang salah dengan ku? Tapi wajahnya yang hanya berjarak lima senti yang menyebabkan aku bisa merasakan deru nafasnya itu, membuat pipi ku bersemu merah. Aku harap ia tak melihatnya.

“Ku gendong.” Katanya yang kini sudah berjongkok di hadapan kursi roda ku.

Ne? Tapi aku berat Hyuk-ah.” Kata ku.

“Cepat naik punggung ku.” Katanya sekali lagi. Aku masih saja bergeming di tempat ku, tak tahu apa yang harus ku lakukan. Tapi akhirnya, ku kalungkan tangan ku di lehernya. Dan secara perlahan ia menggendong ku menuju kamar ku. Dan dari jarak yang lebih intim dari yang tadi, aku bisa mencium wangi maskulin tubuhnya menguar. Dan itu membuat jantung ku berdetak lebih keras. Ku harap ia tak bisa merasakannya

“Hyuk-ah, aku berat ya?”

Ani, sayang.” What? Dia barusan ngomong apa? Sayang? Ya Tuhan apalagi ini. Hyuk Jae, jika kau terus membuat jantung ku bekerja tak normal seperti ini, sebaiknya segera kau panggilkan aku dokter ahli jantung. “Aku merasakannya. Jantung mu. Detakannya bahkan sama dengan detakan jantung ku.” Saat ia mengucapkan kata-kata yang membuat ku benar-benar tambah speachless, aku sudah sampai kamar ku yang sangat ku rindukan ini.

Dia menurunkan aku di pinggiran ranjang king size ku. Kemudian ia berjongkok di depan ku. Mengamati wajah ku beberapa saat yang membuat wajah ku tambah bersemu merah. Aku yakin, sekarang ini, wajah ku sudah benar-benar seperti kepiting rebus.

“Wajah mu tambah cantik jika kau malu seperti ini.” Katanya sambil mengusap kedua pipi ku yang sedang bersemu. Hyuk-ah, berhenti membuat ku serangan jantung.

“Aku ingin belajar mencintai mu. Maukah kau mengajari ku cara mencintai lagi? Aku bahkan tak pernah merasakan rasa seperti ini sebelumnya. Terakhir kali—ah, bahkan untuk yang pertamapun aku tak pernah. Karena, aku hanya mempermainkan perasaan mereka. Maukah kau?” Jadi ini maksud dia apa? Ya Tuhan, kemana otak ku yang bisa dibilang cemerlang itu? Kenapa saat dia berujar seperi ini, aku sama sekali tak bisa berfikir.

“Hyuk-ah, maksud mu apa?” Kata ku pada akhirnya. Daripada aku salah mengartikan.

“Aku ingin kita bisa menjadi lebih dekat lagi dari sebelumnya. Aku ingin saat kita menikah nanti, aku sudah mempunyai rasa itu. Rasa yang mendasari pernikahan sakral di hadapan Tuhan itu.” Katanya. Aku bimbang. Tapi, aku melihat ketulusan terpancar di kedua bola mata kecoklatan miliknya, yang membuat ku jatuh ke dalam pesonanya.

Ne.” Kata ku pada akhirnya.

Gomawo.” Ia memeluk ku. Pelukan ini hangat, aku menyukainya. Dia melepaskan pelukannya. Menatap ku untuk beberapa saat. Dan tak ada angin, tak ada hujan, ia memajukan wajahnya dengan memejamkan kedua kelopak matanya, yang membuat ku terhipnotis mengikuti gerak-geriknya. Ia memiringkan wajahnya sebelum benda lembut dan hangat itu mendarat di permukaan bibir ku. My first kiss. Pertamanya ia hanya menempelkan bibirnya, tapi seterusnya dia melumat lembut bibir ku. Tak ada kesan menuntut di dalamnya. Karena dia berusaha menyalurkan apa yang ia ingin sampaikan kepada ku. Dan aku bisa menangkap apa yang ingin ia sampaikan. Perasaan yang ingin melindungi, perasaan bersalah, perasaan yang membuat hati ku menghangat, perasaan yang mungkin saja disebut cinta. Ciuman ini terhenti karena terinterupsi oleh seseorang.

“EHEM!! Aigoo-aigoo. Anak muda zaman sekarang memang selalu tak sabaran. Tunggulah sampai kalian menikah.” Kata orang itu yang ternyata adalah Yun Ho oppa.

“Kalian ingin sekali memberi ku keponakan, eoh?” Godanya lagi. Sungguh wajah ku pasti sangatlah merah.

“Itu ide yang tak buruk, hyung.” Sambung Hyuk Jae yang membuat wajah ku tambah memanas.

“YAKK!! Berhenti menggoda ku. Kau, oppa, pergi dari kamar ku!! Atau ada suatu barang yang akan melayang ke wajah tampan mu itu. Dan kau, Hyuk Jae, sekali lagi kau menggoda ku, aku tidak segan-segan membatalkan pernikahan kita.” Kata ku marah.

Aigoo, uri doengseng sangat mengerikan. Oke-oke, nikmati waktu kalian berdua. Hyuk Jae, semoga berhasil, jangan sampai kalah dengan bocah itu. Kalau perlu serang dia sekarang.” Kata Yun Ho oppa dengan wink yang ia layangkan ke arah kami berdua sebelum ia pergi bergegas menjauh dari kamar ku. Karena aku yakin, kalau ia masih di sini, wajah tampannya pasti akan lecet-lecet dengan barang yang akan ku lemparkan ke arahnya.

MWOYA!!” Kata ku sengit ke arah Hyuk Jae.

Aigoo, chagi, wajah mu sangat menggemaskan jika marah seperti ini.” Katanya sambil terkekeh pelan. Aku tak menanggapi perkataannya. Tapi sedetik setelah itu aku sudah berada di pelukan seorang Hyuk Jae. “Jangan marah.” Bisiknya. Aku hanya bisa mengeratkan pelukan ku ke arahnya.

***

-Lee Hyuk Jae POV-

Aigoo, chagi, wajah mu sangat menggemaskan jika marah seperti ini.” Kata ku sambil terkekeh. Melihatnya marah entah kenapa membuat wajahnya bertambah cantik apalagi ditambah dengan rona merah di kedua pipinya. Dia tak menanggapi ucapan ku, yang ku tahu dia sedang kesal sekarang ini. Aku pun langsung menariknya ke dalam pelukan ku. “Jangan marah.” Bisik ku. Bisa ku rasakan ia semakin mengeratkan pelukannya ke arah ku.

Aku akan mencoba menyayangi mu, Ra-ya. Mencoba menebus apa yang telah ku lakukan hingga membuat mu menjadi seperti ini. Melihat mu tersenyum itu sudah membuat ku merasa lebih lega. Tapi, melihat mu terpuruk dan menangis seperti beberapa hari yang lampau, membuat rasa bersalah ku menjadi sangat besar. Aku akan mencoba melindungi diri mu. Karena kau telah melindungi diri ku.

“Tidurlah. Besok aku akan mengajak mu ke suatu tempat.” Kata ku sambil melepas pelukan kami. Ku baring kan perlahan tubuhnya ke ranjang.

Eodiesseo?” Katanya sambil menatap ku.

“Rahasia.” Kata ku. Ku naikkan selimut sampai sebatas dadanya. Lalu ku kecup keningnya sambil berbisik, “jalja.” Bisa ku lihat senyum tersungging dari bibirnya. Ia kemudian mengatupkan matanya, terlelap.

***

                Ku langkahkan kaki ku menuruni tangga rumah ‘calon istri’ ku ini. Saat, aku menapakan kaki ku di anak tangga terakhir, ku dapati kakak tertua Yun Ra sedang berdiri tak jauh dari tempat ku sambil melambaikan tangannya ke arah ku. Secara refleks, aku segera berjalan ke arahnya.

Eoh hyung, waeyo?” Tanya ku.

“Ku tantang kau ngegame.” Katanya sambil mengeluarkan smirk andalanya yang bisa membuat gadis diluaran sana akan bertekuk lutut. Tapi smirknya itu masih belum bisa menandingi smirk andalan seorang Lee Hyuk Jae. Dan ya, satu lagi, dia tadi menantang ku untuk main game? Oh come on, jangan pandang remeh Lee Hyuk Jae. Yah walaupun, aku akan selalu kalah jika harus tanding dengan setan kecil itu, Cho Kyu Hyun, hobae ku di SMA dan semasa kuliah.

“Oh, geure.” Kata ku menyetujuinya. Kami lalu berjalan ke arah ruang santai di mana di sana terletak seperangkat Play Station keluaran terbaru. “Kau ternyata suka game juga, hyung.” Ledek ku ke arahnya. Dan ia hanya menanggapi dengan senyum miringnya.

Kaja.” Katanya. Kami memulai game ini dengan sangat serius. Akan ku buktikan bahwa seorang Lee Hyuk Jae tak akan pernah bisa terkalahkan kecuali dengan setan kecil itu.

“Hyuk-ah, kau menyayangi adik ku?” Katanya saat kami sedang serius-seriusnya. Dan itu membuat ku seketika mem-pause game yang sedang kami mainkan.

Ne?” Kata ku pura-pura tak mendengar.

Resume lagi gamenya baru kau ku beritahu.” Katanya. Aku lalu mematuhi perkataannya untuk me-resume game yang kami mainkan.

Jujur aku juga bingung dengan perasaan ku sendiri. Kalau menyayangi, iya. Tapi ini bukan menyayangi dalam artian namja dan yoeja. Aku menyayangi dirinya karena dia teman ku. Karena dia yang berbaik hati telah menolong ku. Tapi mengingat tindakan spontan ku saat di kamarnya tadi, menyiumnya, membuat ku kembali bertanya. Apakah hanya sekedar teman? Ah, mollaseo.

“Kau tahu, Hyuk-ah, adik ku itu adalah seorang yang sangat berarti dalam hidup ku selain eomma dan appa ku dan juga yoejachingu ku sendiri. Kau tahu, saat dia lahir, saat pertama kali aku melihatnya, melihat wajah polos tanpa dosanya, saat itulah aku berikrar kepada Tuhan, aku akan menjaganya, melindunginya dari apapun, dan aku akan menjadi seorang kakak yang baik untuknya. Dan saat ini, aku duduk dengan calon suami adik ku.” Jeda panjang di dalam perkataan Yun Ho hyung.

“Aku bahagia, karena itu membuktikan adik ku sudah menjadi dewasa karena ia sanggup melangkah ke jenjang yang sangat bersejarah dalam hidupnya, pernikahan. Tapi, di sisi lain aku juga merasa khawatir dengan Yun Ra. Karena aku masih berpikir dia adalah gadis ingusan yang selalu bermanja-manja dengan ku.” Katanya sambil terkekeh pelan.

“Hyuk-ah, berjanjilah satu hal kepada ku. Jaga dan sayangilah adik ku itu.” Katanya sambil mem-pause game. Bisa ku dengar dia mengela nafasnya, “aku tahu, sulit untuk mu untuk menerima adik ku itu sebagai calon istri mu. Tapi, cobalah, Hyuk-ah. Cobalah untuk mencintai adik ku secara perlahan. Karena aku percaya kepada mu, kau bisa membahagiakan adik ku.” Lanjutnya sambil meremas kuat kedua pundak ku.

“Adik ku pernah bercerita, saat ia di SMA, dia menyukai sesorang namja yang sekelas dengannya.  Saat ku beri saran untuk menembaknya, dia menolak. Katanya begini, ‘oppa-ya, aku tak pantas dengannya. Kau tahu oppa, dia adalah satu-satunya namja yang membuat ku seperti ini’ dia mengatakan itu dengan berbinar dan dengan tersenyum senang. Aku juga tersenyum melihat adik ku seperti itu. Awalnya ia tak pernah mau ngaku siapa namja yang bisa merebut hati seorang Yun Ra yang terkenal tak peduli dengan namja. Sampai suatu hari, aku masih ingat benar hari itu, dia memberitahu siapa sebenarnya namja itu tepat di saat salju pertama.” Aku menahan nafas ku untuk sesuatu yang entah kenapa membuat berdegup.

Namja itu adalah kau. Tapi di saat bersamaan, air matanya turun. Aku bingung kenapa ia menangis. Lalu ia mulai bercerita lagi, ‘oppa, apakah aku salah menyukai namja seperti Lee Hyuk Jae? Kau tahu oppa, banyak yoeja yang lebih baik dan lebih cantik dari ku, berada dalam jangkauan seorang Lee Hyuk Jae. Bahkan tak pernah sekali pun, ia menengok ke arah ku. Aku seperti terabaikan, oppa, dengan perasaan ku sendiri. Perasaan ini, haruskah ku hapus, oppa?’ katanya sambil sesenggukan. Tapi saat itu juga dia menambahkan, bahwa kau pria yang baik, tampan tanpa celah, dan masih banyak kebaikan yang Yun Ra ceritakan tentang mu kepada ku.”

Saat ini, aku benar-benar menahan nafas ku. Aku tercekat. Serasa berat untuk hanya untuk sekedar menghirup udara yang berada di sekeliling ku. Bahkan sekarang, jantung ku, jantung ku bekerja dua kali lebih keras dari biasanya. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Apakah aku harus senang atau tidak. Tapi rasanya, di perutku banyak kupu-kupu yang bertebangan.

“…” Aku benar-benar tak tahu harus menimpali apa.

“Kau tahu, Hyuk-ah, saat ia sadar dari tidurnya, pertama kali yang ia tanyakan adalah keadaan mu. Dia benar-benar khawatir pada keadaan mu padahal kau tahu sendiri kondisinya. Dan aku tahu, bahwa adik ku masih menyimpan rasa itu di dalam hatinya. Bahkan ku pikir, dia merasa beruntung akhirnya dipertemukan dengan mu walaupun dengan keadaan yang buruk sekalipun.”

“Aku tak punya hak untuk memaksa mu mencintai adik ku. Tapi, ku mohon, sekalipun itu sangat sulit untuk mu, berusahalah untuk mencintai adik ku. Berusahalah menjadikan adik ku sebagai proiritas pertama mu.” Katanya. Aku termenung, tak tahu apa yang harus ku lakukan. Sejujurnya, aku juga sedang mencoba. Karena ku pikir, tidaklah baik sebuah pernikahan tanpa di dasari sebuah perasaan yang saling memiliki satu sama lain. Maka dari itu, aku mencoba untuk mencintai Yun Ra, begitu pun yang ku pinta kepadanya tadi.

“Pikirkanlah baik-baik ucapakan ku ini.” Kata Yun Ho hyung sebelum ia beranjak dari tempatnya, meninggalkan ku sendirian di ruang santai ini.

“Aku akan mencoba mencintai mu, Jung Yun Ra.” Tetap ku pada akhirnya. Perkataan dan juga penjelasan yang Yun Ho hyung berikan kepada ku, membukakan sedikit pintu hati ku untuk membiarkan seorang Jung Yun Ra masuk secara perlahan. “Aku akan mencoba mencintai mu seperti kau mencintai ku.” Aku kembali menetapkan hati ku.

-To Be Continued-

Author:

Just an ordinary girl with an extraordinary. I'd rather die than live without any passions -JK-

One thought on “FF Chapter : The Accident Brought You To Me [Chapt. 2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s