Posted in Chapter, FF, Romance, Sad

FF Chapter : The Accident Brought You To Me [Chapt. 1]

Jung Je Hwan’s present

“The Accident Brought You To Me [Chapter 1]”

Cast By : Jung Yun Ra, Lee Hyuk Jae, and other cast

Genre : Romance, Sad

Rating : PG 15

Length : Chapter

***

 Bagi ku pernikahan itu sesuatu yang suci dan dilandasi dengan sebuah cinta bukan dengan sebuah keterpaksaan. -Jung Yun Ra-

Sekarang, melihat mu tersenyum merupakan hal yang cukup untuk ku. -Lee Hyuk Jae-

***

-Jung Yun Ra POV-

Aku hendak beranjak dari taman ini. Hari sudah menunjukan waktu sore hari, dan itu tak baik untuk gadis seperti ku. Apalagi di saat musim dingin seperti ini, akan rentan terkena penyakit jika aku terus berkeliaran sampai malam apalagi hanya berbalut mantel tipis selutut dengan sneakers tanpa sarung tangan, syall, maupun penghangat lainnya. Dan menurut perkiraan cuaca, malam ini suhu akan menjadi lebih dingin dari biasanya dan diharapkan untuk tidak berkeliaran rumah tanpa penghangat lengkap. Yah, contohnya seperti diri ku sekarang ini.

Oh ya kenalkan, nama ku Jung Yun Ra. Gadis berusia 22 tahun yang baru saja lulus dan menyandang gelar sarjana di Seoul University. Sekarang, aku bekerja, ah bukan bekerja melainkan membantu mengurus perusahaan milik appa ku yang berada di Seoul ini. Yah, sekedar cari pengalaman kerja. Aku anak kedua dari eomma dan appa ku. Dan mempunyai seorang kakak laki-laki yang sekarang masih bersekolah di Jepang, Jung Yun Ho.

Selangkah sebelum aku menyeberang jalan, ku lihat seorang lelaki yang tengah asyik mendengarkan musik dengan headphone yang bertengger di kepala, berjalan, menyeberang jalan tanpa perlu repot-repot melihat sekitarnya. Dan sedetik setelah lelaki yang sedang ku perhatikan itu berada tak jauh dari tempat ku berdiri atau lebih tepatnya berada tepat ditengah jalan, bisa ku pastikan bahwa lelaki itu adalah Lee Hyuk Jae, teman ku sewaktu aku berada di High School. Sebelum sempat aku meneriaki namanya, klakson truk yang entah kenapa saat itu tengah melintas, bergema keras di telinga ku. Dan truk itu, sialnya melintasi jalan tempat Hyuk Jae menyeberang. Dan bisa ku lihat dia, tak ada respon sedikit pun dengan klakson truk itu. Secara refleks aku meneriaki namanya. Tapi ia masih juga bergeming dengan masih santai menyeberang jalan di depan ku itu. Sepersekian detik setelah itu, aku langsung berlari menerjang tubuhnya untuk menyelamatkan dirinya.

Dia berhasil sampai diseberang jalan sebelum truk itu sempat menabrak tubuhnya, tapi itu tak berfungsi untuk ku. Belum sempat aku berlari ke seberang jalan, truk itu berhasil menghempaskan tubuh ku. Aku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa lagi, selain berpasrah kepada Tuhan. Sambil terus berdoa kepada Tuhan apa yang akan terjadi kepada ku, ku rasakan kepala ku membentur sesuatu yang keras tapi aku tak merasakan rasa sakit. Bau darah juga menyeruak di sekeliling ku. Dan yang terakhir sebelum aku menutup mata ku yang terasa berat, ku lihat Hyuk Jae menghampiri ku dan meneriaki untuk bertahan barang hanya semenit. Tapi, rasa kantuk yang teramat menyerang ku. Aku menutup mata ku dan tak tahu apa yang terjadi pada ku selanjutnya.

***

-Author POV-

Suasana di depan ruang operasi itu sungguh menegangkan. Terlihat derai air mata yang tak bisa berhenti keluar dari wanita paruh baya itu. Rasa kwahatir tergambar jelas di wajah wanita itu. Dan di sampingnya duduk pria paruh baya yang sedari tadi berusaha menenangkan istrinya tersebut. Dan di saat bersamaan datang seorang lelaki muda berperawakan gagah dengan langkah tergesa.

Eomma, appa, bagaimana keadaan Ra-ya?” Tanya nya setibanya tepat di depan kedua orang tuanya itu.

“Berdoalah, Yun. Adik mu akan baik-baik saja.” Kata lelaki paruh baya yang merupakan ayah dari seorang yang disebut Yun itu. Lelaki itu, Jung Yun Ho, yang seketika langsung terbang ke Korea setelah mendengar kabar bahwa adik kesayangannya mengalami kecelakaan di tanah kelahirannya ini. Lelaki itu mengambil tempat di samping ayahnya sambil merundukan wajahnya. Dia berdoa, memanjatkan doa kepada Tuhan agar adiknya diberi kekuatan.

Tak jauh dari keluarga yang sedang berduka karena salah satu anggota keluarganya tertimpa kemalangan itu, duduk seorang lelaki yang tadi membawa Jung Yun Ra ke rumah sakit itu. Dia merasa bersalah sebab dialah yang menyebabkan Jung Yun Ra yang merupakan temannya selama di SMA itu mengalami hal mengerikan ini. Bisa dilihat beberapa bagian dari tubuh lelaki itu mengalami luka ringan, tapi baginya, lukanya itu tak sebanding dengan apa yang harus Yun Ra rasakan saat ini. Yun Ra harus melewati masa-masa antara hidup dan matinya di dalam ruangan itu.

Ia beranjak dari tempat duduknya. Mencoba menghampiri keluarga Yun Ra yang sedang berduka itu. Dan di saat yang bersamaan kedua orang tua Hyuk Jae datang dengan tergopoh-gopoh.

“Hyuk-ah, kau tak apa-apa kan? Mana yang sakit?” Kata Ny. Lee dengan gurat cemas.

Aniyo eomma, aku baik-baik saja, hanya saja gadis yang menolong ku-lah yang menjadi korbannya.” Kata Hyuk Jae. Ny. dan Tuan Lee langsung menuju kearah orang tua Yun Ra.

Anyeonghaseyo.” Ucapan Tuan Lee memecah keheningan di antara keluarga Jung itu. “Kami turut bersedih atas apa yang menimpa anak anda, tuan. Dan maafkanlah anak kami yang menyebabkan anak anda menjadi seperti ini.” Sesal appa Hyuk Jae.

“Ah, aniyo. Tak perlu merasa seperti itu. Ini juga merupakan kecelakaan.” Kata Tuan Jung.

“Biarkan nanti kami yang akan menanggung semua biaya pengobatan dan juga perawatan putri anda. Kami akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap putri anda. Ini kesalahan putra kami.” Ujar Tuan Lee bersungguh-sungguh.

Aniyo, tak perlu seperti itu. Lagian putra anda juga mengalami luka-luka.” Sergah Ny. Jung yang berusaha tabah atas apa yang menimpa anaknya.

Ahjumma, ahjussi, tolonglah, saya merasa tak enak hati. Yun Ra lah yang menyelamatkan nyawa saya dan harus mengorbankan nyawanya sendiri. Saya merasa berhutang budi terhadap dia.” Kata Hyuk Jae yang memohon. Hyuk Jae bukanlah tipe lelaki yang bisa memohon seperti ini, tapi entah kenapa sekarang ia berlutut di hadapan kedua orang tua Yun Ra. Terlebih lagi, selama mereka berdua berada di sekolah menengah atas, mereka tak pernah bisa akur satu sama lain. Rasa bersalah yang menggerogoti dirinyalah yang menyebabkan ia seperti ini.

Aigoo, tak perlu seperti ini, nak. Baiklah, kami menerima ganti rugi dari kalian.” Kata Tuan Jung sambil membangunkan Hyuk Jae yang berlutut sambil memohon kepadanya tadi.

Tepat setelah itu, dokter yang menangani Yun Ra keluar dari ruang operasi.

“Bagaimana kondisi putri kami, dok?” Tanya Ny. Jung.

“Operasinya berjalan lancar. Semua perkembangan kita lihat kedepannya. Untuk saat ini biarkan putri anda beristirahat terlebih dahulu. Baru setelah di pindah ke ruang inap biasa, kalian bisa menjenguknya.” Kata dokter itu dengan bijak. Dari nametag yang dikenakan dokter itu, tertulis nama Kim Jong Woon.

“Syukurlah.” Kata Ny. Jung dan lain. Mereka tampak lebih rileks dari beberapa menit yang lalu. Setelah itu Tuan dan Ny. Lee berpamitan pulang untuk mengurus suatu hal. Saat Hyuk Jae yang juga ingin menyusul kedua orang tua yang juga pulang, ada tangan yang menahan langkah Hyuk Jae.

“Kaukah yang bernama Lee Hyuk Jae?” Tanya Yun Ho yang menahan tangan Hyuk Jae.

Ne hyung, waeyo?” Tanya Hyuk Jae.

“Ah aniyo, lekaslah pulang dan istirahatlah. Kau terlihat lelah.” Kata Yun Ho sambil menepuk punggung Hyuk Jae, bersahabat.

Ne hyung, gomawo. Sampaikan salam ku untuk Yun Ra kalau dia sudah siuman. Aku akan datang menjenguk nanti atau besok.” Ujar Hyuk Jae yang dihadiahi anggukan dari Yun Ho juga senyum simpulnya.

***

                Lima hari berlalu, Yun Ra sudah siuman sejak empat hari yang lalu, tapi kondisinya masih sangat lemah. Selang infus masih tertancap di tangannya. Tapi, ia sudah bisa diajak berkomunikasi oleh keluarganya maupun keluarga Hyuk Jae yang datang menjenguk. Dan tentunya Hyuk Jae setiap hari selalu datang menjenguk teman lamanya itu.

Dan hari ini seperti biasa, Hyuk Jae datang untuk menjenguk Yun Ra. Di kamar inap Yun Ra, ia melihat Yun Ho kakak kandung Yun Ra sedang menungguinya. Sedangkan saat itu, kedua orang tuanya sedang tak ada di kamar inap Yun Ra.

Hyung, kau istirahatlah, biarkan aku yang menjaga Yun Ra.” Kata Hyuk Jae setibanya ia di kamar inap Yun Ra. Ia baru saja datang dari kantornya, setelah rapat seharian dengan kolega bisnis perusahaan appanya. Ya, Hyuk Jae merupakan Direktur di perusahaan keluarga Lee. Di umurnya yang masih 22 tahun, menduduki kursi Direktur merupakan suatu kebanggaan tersendiri untuknya. Tentu saja posisi dirinya yang sebagai Direktur itu, bukan semata-mata karena appanya yang merupakan Presdir di perusahaan itu, tapi memang kemampuan dan prestasi yang Hyuk Jae gapai.

“Emm, aku akan keluar sebentar, Hyuk-ah.” Kata Yun Ho kepada Hyuk Jae, “Ra-ya, oppa keluar sebentar, ne?” Yun Ho mendekati Yun Ra sambil mengelus lembut rambut adik tercintanya itu.

Ne, oppa.” Kata Yun Ra lemah.

Kini di kamar inap itu tinggal mereka berdua, Hyuk Jae dan Yun Ra. Tak ada satupun di antara mereka yang berinsiatif untuk mengisi kekosongan tersebut. Sampai pada akhirnya, Hyuk Jae lah yang mengalah dengan memulai membuka percakapan.

“Bagaimana keadaanmu?” Tanyanya basa-basi.

“Yah, seperti yang bisa kau lihat ini, Hyuk.” Kata Yun Ra sambil bersandar di tempat tidurnya.

“Kau mau berjalan-jalan sebentar keluar? Aku kira kau sudah bosan mendekam selama lima hari di kamar ini.” Tawar Hyuk Jae.

“Tapi— Ah, baiklah. Tapi kau harus minta izin Yun Ho oppa dulu, aku takut Yun Ho tak mengijinkan aku keluar kamar ini. Kau tahu, dia sangat over protecting kalau berhubungan dengan ku.” Cecar Yun Ra.

“Baiklah. Tapi, kau beruntung mempunyai kakak seperti Yun Ho hyung, dia terlihat sangat menyayangi mu.” Kata Hyuk Jae.

“Bukankah kau juga mempunyai seorang noona?”

“Emm, ya, tapi noona ku sekarang tinggal di Amerika bersama suaminya.” Kata Hyuk Jae yang hanya dihadiahi anggukan kecil oleh Yun Ra. “Jadi bagaimana, kau ingin menikmati udara sore?” Tanya Hyuk Jae.

“Ahh, baiklah.” Kata Yun Ra. Tapi sebelumnya Hyuk Jae menelepon Yun Ho meminta ijin untuk membawa adiknya jalan-jalan di sekitar rumah sakit. Setelah mendapat ijin dari Yun Ho, barulah ia mengajak Yun Ra jalan-jalan disekitar rumah sakit dengan menggunakan kursi roda, mengingat kondisi Yun Ra.

***

-Lee Hyuk Jae POV-

“Hyuk-ah, bolehkah aku turun dari kursi roda ini?” Pinta Yun Ra sesampainya kami di taman rumah sakit ini.

Ne? Andwae.” Kata ku tegas. Bukan karena apa, tapi kondisinya itulah yang membuat ku tak membolehkan di turun dari kursi rodanya.

“Oh, ayolah, aku akan baik-baik saja. Percayalah.” Katanya memohon. Tapi aku tetap pada pendirian ku, tak membolehkannya turun dari kursi roda. Sifatnya tak pernah berubah semenjak aku mengenalnya di high school, dia selalu kekeuh mempertahankan apa yang dia inginkan. “Ayolah, sekali ini saja.” Lanjutnya lagi tak kenal putus asa. Dengan terpaksa aku membolehkannya.

Gomawoyo.” Katanya sambil tersenyum. Ku bantu ia berdiri dari kursi rodanya. Sekarang, Yun Ra sudah berdiri dengan tegap tapi masih dengan bantuan ku untuk berdiri. Setelah ia merasa dirinya bisa untuk berdiri, dia meminta ku untuk melepaskannya. Satu det—belum sampai satu detik dia sudah jatuh tersungkur dihadapan ku. Dengan panik, ku bantu dia untuk kembali duduk ke kursi rodanya. Tapi, “aku ingin berdiri lebih lama lagi.” Katanya.

“Kau belum kuat, Ra-ya. Aku tak mau, sampai sesatu yang buruk menimpa mu lagi.” Kata ku dengan nada cemas. Tentulah, akulah yang menyebabkan ia menjadi sekarang ini. Menyebabkan ia menjalani perawatan intensif selama dua puluh empat jam dan berhari-hari di rumah sakit ini.

“Sekali lagi, aku mohon.” Pintanya lagi, yang membuat ku tak tahan.

Lagi, ku bantu ia untuk berdiri dari kursi rodanya. Masih dengan aku memapahnya, dia berdiri tegap. Sedikit lebih lama, aku memeganginya untuk berdiri. Yun Ra meminta ku untuk melepaskan pegangan ku. Belum, satu langkah aku melangkah menjauh darinya, ku dengar suara gedebuk keras lagi. Dan bisa ku lihat, Yun Ra kembali jatuh tersungkur ke tanah.

“Ada apa dengan kaki ku ini?” Katanya lirih yang masih dapat ku dengar.

“Sudah ku bilang, kau masih terlalu lemah hanya untuk sekedar berdiri, Ra-ya.” Kata ku sambil mengangkatnya untuk kembali ke kursi rodanya.

“Bukan, bukan karena itu. Aku merasa sudah lebih baik. Bahkan untuk sekedar berdiri saja, aku seharusnya sanggup. Tapi, aku merasakan, kaki ku terlalu lemah untuk menopang tubuh ku.” Bantahnya.

“Sudahlah. Ayo kita kembali ke kamar mu.” Kata ku berusaha mendorong kursi rodanya. Aku bisa melihat raut mukanya menjadi sendu. Hampir saja, cairan bening itu turun membasahi kedua pipinya.

“Jangan, aku mohon jangan. Aku ingin berdiri lagi. Cuma lima detik. Aku mohon, Hyuk-ah.” Katanya sambil memegang telapak tangan kanan ku penuh harap. Aku hanya bisa menghembuskan nafas ku. “Baiklah.” Kata ku pada akhirnya.

Lagi, seperti tadi, pertama-tama aku membantunya untuk turun dari kursi rodanya. Dan setelahnya, dia meminta ku untuk menghitung sampai lima detik. Aku menjauh dari tubuhnya, tapi belum ku lepas tangan ku, yang menjadi alat untuk menopangnya, lepas dari tubuhnya. Baru setelah ku kira nyaman dengan posisi berdirinya, ku lepas secara perlahan tangan ku. Dan sepersekian detik, setelah semua tangan ku jauh dari jangkauannya, dia jatuh kembali tersungkur ke tanah.

“Aku bisa merasakannya. Bahkan, kaki ku sangat sulit untuk digerakkan.” Serunya lirih sambil meneteskan air matanya itu. “Apakah aku tak bisa berjalan lagi setelah ini? Kaki ini, entah kenapa terlalu lemah hanya untuk menopang tubuh ku. Bahkan aku tak bisa merasakan kekuatan kaki ku sendiri. Ada apa ini, Hyuk-ah?” Tangisnya sambil memukul-mukul lengan ku yang mencoba menenangkannya.

“Kaki mu baik-baik saja, Ra-ya.” Kata ku mencoba menguatkannya. Rasa khawatir dan cemas menghantui ku. Bagaimana jika ucapan Yun Ra benar-benar terjadi? Bagaimana jika dia tak bisa berjalan seperti yang ia takutkan?

“Hiks… Hiks… Hiks… Hyuk-ah, eottokheyo? Bagaimana jika feeling ku benar? Bagaimana kalau benar-benar tak bisa berjalan setelah ini, Hyuk-ah?” Katanya terisak. Aku langsung membopongnya dan menduduk Yun Ra kembali ke kursi rodanya. Segera ku dorong kursi rodanya itu memasuki kamar rawat Yun Ra. Di sana, ku baringkan ia di ranjang. Dia terlihat kelelahan menangis. Tapi, isakan-isakan kecil masih keluar dari bibirnya itu. Aku merasa sangat bersalah dengan kondisinya sekarang ini.

“Yun Ra, tenanglah, kau pasti baik-baik saja. Itu hanya perasaan mu saja, Ra-ya. Jadi kau tak perlu khawatir, arra?” Kata ku sambil berusaha mengeluarkan senyuman ku. Tak lama berselang, dokter yang bisa memeriksa keadaan Yun Ra datang. Setalahnya, aku tak tahu apa yang terjadi, karena dokter itu entah kenapa meminta ku untuk keluar. Biasanya, walaupun ada keluarga Yun Ra bahkan keluarga ku sekalipun, pemeriksaan tetap dilaksanakan di depan kami. Tapi, entah kenapa sore ini lain. Yah, aku hanya bisa menduga-duga apa yang dokter dan para suster itu lakukan di dalam sana.

Mungkin saja, suster yang tadi melihat Yun Ra menangis lalu menanyakan kondisinya itu, memberitahukan kondisi Yun Ra yang terakhir. Jadi, mungkin saja, dokter dan para suster itu sedang melakukan pemeriksaan intensif terhadap diri Yun Ra. Ah tapi—molla!! Molla!! Aku tak mengerti urusan kedokteran seperti ini.

***

-Author POV-

Di ruangan yang serba putih itu, terlihat seorang gadis yang sedang terbaring. Pandangannya menatap kosong ke arah langit-langit. Penjelasan yang baru saja ia terima dari kakak kesayangannya itu serasa menghempaskannya ke suatu tempat antah berantah. Pikirannya sekarang kosong dan ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang ini. Bahkan ia kini merasa seperti mengalami mimpi buruk. Ini tak mungkin.  Batinnya. Gadis itu kembali mengeluarkan buliran bening dari kedua kelopak matanya.

“Ra-ya, oppa juga tak tahu apa yang harus oppa lakukan sekarang ini. Tapi, seburuk apapun kondisi mu, oppa akan selalu menyayangi mu, menyayangi adik kecil oppa. Maaf, Ra-ya, ini bukan kehendak oppa, bahkan eomma dan appa. Tuhanlah yang sudah menggariskan begini—“

                “Oppa, sebenarnya ada apa dengan ku. Jangan berbelit-belit seperti ini.” Raut kekesalan tampak dari gadis itu. Yun Ho duduk di samping ranjang Yun Ra lalu memeluk adiknya itu. “Kau—kau, benturan keras di tulang punggung mu akibat kecelakaan itu.. Huft~~ benturan itu menyebabkan salah satu syaraf gerak mu mengalami gangguan. Dan—dan kau, dokter berkata pada oppa, kau akan mengalami kelumpuhan.” Katanya sambil terus memeluk tubuh adiknya yang shock itu.

                “Ah, oppa, jangan membuat lelucon seperti ini. Ini sama sekali tak lucu.” Kata Yun Ra mencoba tertawa yang entah kenapa dia sendiri malah mengeluarkan air matanya.

                “Oppa tahu, ini sangat berat untuk mu. Tapi, tenanglah, ini bukanlah kelumpuhan permanent. Jika kau mau mengikuti terapi, cepat atau lambat kau bisa kembali berjalan lagi, Ra-ya.”

Yun Ra kembali mengingat percakapan singkatnya dengan oppanya itu. Kondisi ini sangat berat untuknya. Dia ingin marah, dia ingin menyalahkan seseorang yang menyebabkan ia menjadi seperti ini. Tapi, kepada siapa dia marah? Siapa yang harus disalahkan? Lelaki dingin itu, lelaki dingin yang Yun Ra tolong? Bahkan Yun Ra tak bisa menyalahkan lelaki itu, entah kenapa. Atau Tuhankah yang ia salahkan? Tidak mungkin. Tuhan terlalu baik kepadanya. Memberinya kekuatan untuk melawan masa koma itu sudah membuat Yun Ra merasa berhutang kepada Tuhannya. Yun Ra tahu, ia tak bisa marah bahkan menyalahkan seseorang. Karena Yun Ra paham inilah takdir yang dilukiskan Tuhannya kepadanya.

“Tuhan, rencana apa yang ada dibalik semua yang harus ku alami ini?” Katanya lirih entah kepada siapa. Air matanya kembali jatuh, sebelum ia kembali menghapusnya. Di dalam hatinya, dia percaya akan ada sesuatu yang indah nantinya. Ia hanya berharap, Tuhan mau memberinya kekuatan lebih untuk menghadapi kondisinya sekarang ini.

Di sisi lain, berjalan dengan lunglai seorang lelaki yang terkenal dingin. Lelaki dengan kesempurnaan rupa yang Tuhan berikan kepadanya. Tubuh atlestis dengan wajah tampan. Rahang kokohnya yang membuat karakter dinginnya semakin menguar, serta mata kecoklatan yang selalu membuat siapa saja menatapnya langsung menggilainya terutama kaum hawa. Bibir merah nan tebal miliknya itu, menambah kesan sexy disamping tampan. Dan yang terakhir, rambut kecoklatannya yang setiap hari ia biarkan berantakan, menambah kesan maskulin terhadap dirinya. Sungguh, dialah lelaki yang menjadi idaman para kaum hawa dengan segala kesempurnaan rupa dan juga kekayaan yang ia miliki.

Mata kecoklatan lelaki itu, entah kenapa hanya dapat menatap kosong jalanan yang ada di depannya itu. Perkataan kedua orang tuanya, orang tua gadis itu dan juga lelaki itu terus mengiang di kedua telinganya, selayaknya mereka masih berbicara disekelilingnya.

“Hyuk, kau harus bertanggung jawab dengan kondisi adik ku. Kau lihat Yun Ra di dalam sana? Dia seperti kehilangan semangat hidupnya.” Kata Yun Ho dengan berapi-api.

                “…”

                “Aku tak menyalahkan mu, Hyuk. Hanya saja—hanya saja, melihat adik ku satu-satunya seperti sekarang ini membuat ku merasa sakit. Tak pernah wajah putus asa seperti itu tergambar di wajah manis adik ku. Tak pernah sekalipun, Hyuk.” Kata Yun Ho dengan putus asa.

                “Sudahlah Yun, ini semua bukan salah Hyuk Jae sepenuhnya. Tuhanlah yang sudah menggariskan ini untuk keluarga kita dan juga keluarga Tuan Lee.” Kata Tuan Jung penuh bijaksana.

                “Andai kau lebih berhati-hati menyebrang, adik ku tak mungkin seperti sekarang ini. Andaikan kau bisa menjaga diri mu sendiri.” Kata Yun Ho sambil mengepalkan kedua tangannya berusaha menahan amarahnya. Hyuk Jae sama sekali tak bergeming dari tempatnya, bahkan dirinya tak bisa untuk menimpali perkataan Yun Ho. Dia memang berada di pihak yang salah.

                “Cukup Yun Ho!! Tak seharusnya kau menyalahkan Hyuk Jae seperti ini. Dia sudah bertanggung jawab dengan apa yang menimpa Yun Ra. Dia juga sudah berbaik hati meluangkan waktunya yang sibuk untuk merawat Yun Ra.” Kata Ny. Jung.

                “Tapi eomma, dia yang menyebabkanYun Ra lumpuh. Dia yang sudah menghancurkan masa depan Yun Ra. Yun Ra selalu bercerita kepada ku, ingin membangun sendiri perusahaannya. Dia ingin membantu orang-orang yang tak mampu di luaran sana dengan perusahaannya, dengan jerih payahnya sendiri. Tapi sekarang, dia menyerah dengan masa depannya sendiri dengan kondisi yang lumpuh seperti sekarang ini.” Kata Yun Ho.

                “Hyuk Jae akan bertanggung jawab sepenuhnya dengan diri Yun Ra, sekarang atau yang akan depan. Hyuk Jae yang membuat Yun Ra seperti ini, jadi dialah yang harus bertanggung jawab atas apa yang diri Yun Ra sepenuhnya.” Kata Tuan Lee yang saat itu berniat menjenguk Yun Ra dengan Ny. Lee, yang malah mendengar perseteruan di depan ruang inap Yun Ra.

                “Tuan Lee.”

                “Appa.”

                “Kau harus menikahinya, kau harus bertanggung sepenuhnya dengan diri Yun Ra sekarang. Kau yang membuat Yun Ra seperti ini.” Kata Tuan Lee dengan tegas.

                “Tapi appa—“

                “Tak perlu seperti ituTuan Lee. Tak perlu sampai menikahi diri Yun Ra.” Kata Tuan Jung.

                “Tuan Jung, bagaimanapun juga, dialah yang menyebabkan Yun Ra lumpuh. Biarkan anak ini mengerti artinya bertanggung jawab.” Kata Tuan Lee.

                “Aku setuju dengan usul Tuan Lee, kau harus menikahi adik ku, Hyuk-ah. Kau harus bertanggung jawab penuh terhadap diri Yun Ra, sekerang maupun masa yang akan datang.” Kata Yun Ho. Dia sempat mendapat sikutan dari appanya. Dan saat itu, Yun Ho membawa appanya untuk bicara empat mata dengannya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi terlihat itu pembicaraan yang serius.

                Dan setelah mereka kembali, Tuan Jung menerima usulan Tuan Lee untuk menikahkan Hyuk Jae dengan putrinya untuk bertanggung jawab. Ny. Jung yang tadinya juga enggan untuk menikahkan Hyuk Jae dan Yun Ra akhirnya bisa menerima dengan alasan yang diutarakan Yun Ho. Ny. Jung enggan kalau hanya alasan bertanggung jawab atas diri Yun Ra

Bahkan adu mulut yang berada di rumah sakit tadi, hanya bisa disetujui dengan terpaksa oleh Hyuk Jae. Karena dia tahu dan menyadari, dirinya berada dalam pihak yang salah. Pihak yang harus bertanggung jawab kepada orang yang telah menyelamatkan nyawanya.

“Haruskah aku menikahi gadis yang bahkan tak kucintai?” Katanya rindik dengan memandang langit biru di atas sana.

-To Be Continued-

 

Setelah sekian lama aku hiatus dari pembuatan fanfiction akhirnya bisa menyelesaikan satu chapter FF yang menurut ku sangat jauh dari kata sempurna dan bagus. Aku nggak tahu harus ngomong apa. Mungkin setelah sekitar setahun nggak ngeluarin FF dan pastinya nulis FF, mungkin tulisan ini bahkan lebih parah dari beberapa FF yang udah aku publish di blog ini T.T Huhuhu. Dan semoga aja kalian menikmati karya abal-abal dari author yang semi-hiatus ini.

Author:

Just an ordinary girl with an extraordinary. I'd rather die than live without any passions -JK-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s