Posted in Mini FF, Romance

Mini FF : Waiting For The Best New Year [Special Sungmin Birthday]

Tittle : Waiting for : The Best New Year

Author : Nanda Hardienningrum (JungJeHwan)

Main cast :

Lee Sung Min

Cha Eun Young

Genre : Romance

Rating : PG 15

Word amount : 2.328

***

Tahun baru ini terasa lebih hangat dari tahun baru yang lalu. Bahkan tak sedikitpun ku rasakan dinginnya angin malam yang berhembus melewati sela pakaian yang ku kenakan ini. Akankah kau muncul tahun ini? Sudah tiga tahun, tapi kau tak juga muncul. Sejujurnya, aku lelah, aku lelah menunggu sebuah ketidakpastian yang kau buat. -Cha Eun Young-

***

                Hembusan berembun nafas ku senantiasa menemani ku dalam penantian ku ini. Hari ini, tepat tanggal 31 Desember 2013, hari penghujung tahun 2013 dan hari yang setiap tahun selalu ku nantikan sejak tiga tahun lalu. Tiga tahun lalu, sama seperti tahun ini, aku duduk di bangku di pinggir Sungai Han ini bersama ratusan bahkan ribuan orang yang menantikan perayaan pergantian tahun. Di kursi yang sedang ku duduki ini, datang seorang lelaki, lima menit sebelum lonceng tanda tahun baru di dentangkan. Lelaki asing yang bahkan tak ku kenal siapa dia. Dan aku masih ingat betul apa yang lelaki itu lakukan terhadap ku.

Saat itu, tepat semenit sebelum dentang lonceng tahun baru dibunyikan, lelaki itu menarik ku ke dalam pelukan hangatnya. Aku merasa marah dan kesal terhadap lelaki asing ini. Aku dan dia sama sekali tak kenal bahkan baru kali itu kami bertemu, tapi dia dengan kurang ajarnya, menarik ku ke dalam pelukanya. Aku menghardiknya dan mengumpat kepada laki-laki kurang ajar itu. Tapi, hanya jawaban lirih yang ku dapat darinya.

“Tunggu aku tahun depan, tepat seperti hari ini dan kau akan tahu siapa aku ini. Kalau tahun depan aku tak juga datang, tunggu aku satu tahun lagi dan begitu seterusnya.” Lelaki asing itu melepaskan pelukannya dari tubuh ku. Di mengucapkan serentetan kata-kata tersebut sambil memandang jauh tepat di manik mata ku. Aku membeku karena suhu yang begitu rendah juga tatapan sayu milik lelaki asing itu.

Entah aku ini bodoh atau apa, aku mengangguk tanda setuju dengan pernyataan atau lebih tepatnya perintah dari lelaki asing itu. Sedangkan lelaki asing itu, hanya dapat menyunggingkan senyum simpul miliknya, yang membuat ku semakin membeku. Senyuman itu sangat menawan. Batin ku.

Lelaki asing itu mengenggam tangan ku yang saat itu tak berbalut sarung tangan, sambil menantikan lonceng tahun baru. Aku bisa merasakan perasaan yang tersalut lewat genggaman yang menurut ku sangat posesif itu. Lelaki itu—lekaki itu berusaha untuk melindungi ku. Kami berdua tenggelam dalam pemikiran kami masing-masing. Aku tak tahu apa yang dia pikirkan sampai melakukan tindakan yang menurut ku bodoh kepada seorang gadis yang baru saja ia temui. Dan aku, merasa bingung, kenapa dia melakukan ini kepada ku. Dan siapa gerangan lelaki yang masih setia menggenggam tangan ku ini. Apakah kami pernah bertemu sebelumnya? Tapi, aku yakin benar, sangat yakin, aku dan lelaki yang duduk di samping ku ini baru bertemu saat ini, saat menantikan pergantian tahun.

Aku masih tenggelam dalam segala kebingungan yang disebabkan lelaki asing itu, sampai-sampai aku melewatkan penghitungan mundur untuk menyambut tahun baru. Dan baru setelah dentangan lonceng yang disusul oleh letusan kembang api yang cahayanya menyinari segala penjuru sungai Han ini, aku tersadar dari lamunan ku. Dan ketika ku dongakan wajah ku, ku dapati lelaki asing itu berdiri di depan ku sambil lagi-lagi menyunggingkan senyum manisnya itu.

“Aku pergi, sayang. Ingat janji mu kepada ku untuk menunggu ku kembali di hari di mana kita bertemu ini.” Kata lelaki itu. Dan entah kenapa jantung ku dengan bodohnya bertalu lebih cepat dari normalnya mendengar panggilan sayang untuk ku. Aku hanya bisa menundukan kepala ku, entah karena malu atau apa. Hanya saya, lelaki asing itu, mengangkat wajah ku untuk bisa menatapnya lagi. Dan aku bisa melihat matanya lagi, tapi dengan sorot yang berbeda dari tadi. Tatapan itu, kenapa begitu menyedihkan? Hati ku mencelos melihat sorot matanya yang menampakan kesedihan itu. Hati ku sakit untuk sesuatu yang tak ku ketahui sebabnya.

Lelaki itu membungkukkan badannya ke arah ku. Hembusan nafasnya bahkan bisa ku rasakan karena jaraknya dan diri ku tak sampai 5 senti. Dan, sepersekian detik setelah itu, bisa ku rasakan benda tak bertulang itu, menempel sempurna di bibir ku. Ciuman pertama ku. Tapi, aku tak merasa kesal karena lelaki asing itu, lagi-lagi dengan tak tahu sopan santun, bertindak di luar batas kesopanan dengan mencium ku, mengambil ciuman pertama ku. Malah, yang ku rasakan saat lelaki itu mencium ku adalah perasaan hangat dan nyaman.

Lelaki itu mengangkat bibirnya yang sedari tadi bertengger di atas bibir ku. Melepas dengan perlahan ciuman yang membuat ku merasakan nyaman. Entah terhipnotis atau bagaimana, wajah ku ikut mendongak mengikuti pergerakan kecil yang dia buat. Dia menegakkan badannya sambil lagi-lagi tersenyum kepada ku. Tangannya yang sedari tadi menggengam hangat tangan ku, mulai terlepas saat ia membalikkan tubuhnya. Aku berdiri. Tangan ku, berusaha kuat untuk menjaga agar genggaman hangat itu tak terlepas. Tapi, semua hanyalah sebuah kesia-siaan belaka. Dengan perlahan, lelaki itu bergerak menjauh dari diri ku yang menyebabkan genggamannya ikut terlepas.

Kajima.” Bisik ku lemah. Aku merasakan sakit saat punggung lelaki yang bahkan tak ku ketahui namanya itu, bergerak lalu hilang di tengah-tengah lautan manusia yang hiruk pikuk merayakan tahun baru. Hati ini sakit, bahkan air mata ku perlahan mulai turun dengan perlahan.

Tes… Tes.. Tes.. Lagi-lagi aku menangis mengingat kejadian tiga tahun lalu. Saat-saat di mana lelaki itu pergi meninggalkan ku di tengah segala kebingungan ku. Aku tahu, aku ini gadis bodoh yang mau menunggu seseorang yang bahkan tak dikenalnya. Tapi, perasaan ku tak bisa berbohong. Setiap tanggal 31, aku selalu saja merasa, aku tak perlu datang ke tempat ini. Tapi, seperti sebuah sihir, kaki ku melangkah menuju tempat ini dan menunggu lelaki asing itu.

Sudah tiga tahun, dan bayang-bayang kejadian itu masih sangat kuat terekam di ingatan ku. Bahkan wajah manis lelaki itu tak pernah bisa terhapus dari ingatan ku. Dan setiap kali aku mengingat wajah lelaki itu, jantung ku seperti bekerja di luar batas kenormalan. Bahkan, hati ku menghangat hanya dengan mengingat senyum manis itu. Apakah aku jatuh cinta pada lelaki asing itu? Tak bisa ku pungkiri, walaupun otak ku selalu berbantah mengatakan tak mencintainya. Tapi, hati ku, dengan kekurang ajaranya, memberitahu ku, bahwa aku ini sebenarnya mencintai lelaki yang bahkan namapun tak tahu.

Ku tengok jam tangan yang bertengger di pergelangan tangan kiri ku. Jam tangan biru, yang tiga tahun menjadi saksi bisu pertemuan ku dengan lelaki misterius itu. Lima menit lagi akan didentangkan lonceng tanda pergantian tahun. “Akankah kau datang tahun ini? Aku lelah menunggu mu.” Gumam ku lirih pada diri sendiri sehingga orang yang berada di sekeliling ku tak mungkin mendengarnya.

“Aku datang tahun ini. Maaf membuat mu menunggu lama.” Kata seorang lelaki yang kini berdiri di hadapan ku. Aku menatapnya. Lelaki ini. Wajah itu. Bahkan senyuman yang ia berikan kepada ku. Sama persis dengan yang tiga tahun lalu ku lihat. Akankan ini dia?

“Hei, ini aku. Kau tak ingat aku, lelaki tiga tahun lalu?” Kata lelaki itu sambil menggoyangkan tangannya di depan wajah ku. Menyadarkan ku dari lamunan ku. Refleks, aku berdiri, menghadap lelaki yang berada di depan ku ini. Ku pegang ujung kemeja merah yang ia kenakan. Ini nyata.

“Aku merindukan mu.” Ujar ku sambil ku peluk lelaki asing itu. Aku tahu, ini tindakan bodoh dan kurang ajar. Tapi naluri ku berkata aku harus memeluk lelaki di hadapan ku ini agar ia tak pergi lagi. Lelaki yang lebih tinggi 15 senti dari ku ini, membalas pelukan ku, sambil meletakan kepalanya di leher ku. Bahkan aku bisa merasakan nafas memburu miliknya.

“Kemana saja kau? Siapa kau sebenarnya yang telah membuat ku menunggu ku?” Kata ku dengan suara serak menahan tangisan ku. Tangisan bahagia karena akhirnya lelaki yang ku tunggu ini, berada di hadapan ku.

“Aku pergi untuk memastikan perasaan ku terhadap ku. Juga memastikan perasaan mu terhadap ku.” Katanya yang membuat ku bingung. Secara paksa, ku lepas pelukan itu sambil menatap kedua bola matanya yang entah kenapa sangat ku rindukan.

“Aku tahu kau pasti bingung. Cha, kita duduk.” Katanya sambil menarik ku duduk di bangku yang sebelumnya telah ku duduki.

“Oh ya, aku Lee Sung Min, namja yang tiga tahun lalu bertemu dengan seorang gadis yang terduduk di bangku ini, dan meminta gadis itu menunggunya sampai tahun depan. Tapi, ia tak kunjung datang.” Katanya sambil tersenyum hangat ke arah ku. Aku hendak menyuarakan siapa nama ku. Tapi, dia dengan cepat menyelanya. “Aku tahu nama mu. Kau Cha Eun Young kan?” Masih dalam keterkejutanku, tangannya mulai menggenggam tangan ku. Genggamannya, masih sama seperti terakhir kali aku bertemu dengannya, menggenggam ku dengan begitu posesif. Dan kepala ku, ia taruh di atas bahunya.

“Tiga tahun lalu, sama seperti tahun ini, aku datang ke tempat ini, ingin merayakan pergantian tahun sekaligus ulang tahun ku. Tapi, lima menit sebelum lonceng tahun baru berdentang, aku menemukan diri mu terduduk di sini. Dan ku pikir, dialah gadis yang akan menjadi takdir ku. Karena, di hari yang sama, satu tahun sebelumnya, aku berdoa di sini, meminta kepada Tuhan, untuk mengirimkan ku seorang gadis yang akan menjadi masa depan ku sebagai hadiah di hari ulang tahun ku. Tapi, hingga hari itu, hingga hembusan nafas ku yang akan mengantarkan ku menuju tahun baru, aku belum juga menemukan gadis itu. Aku merasa, Tuhan belum mengabulkan permohonan ku.” Di elus pelan rambut ku. Aku belum mengeluarkan suara ku sampai ia benar-benar selesai menjelaskan siapa dirinya itu.

“Hingga akhirnya, mata ku, membawa ku untuk melihat seorang gadis yang termenung di tempat ini. Aku mendekati mu waktu itu dan semuanya mengalir seperti yang kau ketahui.” Katanya. Jeda cukup lama antara kami.

“Tapi, kenapa kau menyuruh ku untuk menunggu? Kau tahu, aku seperti gadis bodoh yang setiap tahun baru duduk di sini sendiri, menanti tanpa kepastian akan kedatangan seorang yang asing.” Kata ku cepat. Kini, ia membawa ku ke dalam pelukan hangatnya sebelum ia melepaskannya sambil berkata, “lihat, kita hampir ketinggalan penghitungan waktu lagi.” Bisiknya. Aku terpana. Melihat sekeliling ku. Mereka semua, sudah bersiap untuk menghitung waktu mundur. Mereka semua termasuk aku dan Lee Sung Min, telah siap untuk meninggakan tahun 2013 dan menyambut tahun 2014 yang akan menyongsong di depan mata.

“TIGA!! DUA!! SATU!!” Teriak kami secara bersamaan. Dan setelahnya, lonceng tahun baru berdentang diikuti dengan bunyi letusan kembang api yang menyala di tengah-tengah kerumuan manusia ini. Aku tersenyum bahagia menyongsong 2014 yang berada di depan mata. Dan akhirnya, lelaki yang ku tunggu itu, menampakan batang hidungnya di depan ku.

Aku masih saja tersenyum menyaksikan kembang api itu dengan berdiri. Hingga tak sadar dua tangan kokoh memeluk pinggang ku dari belakang. Suatu hal sangat ku sukai.

“Aku tahu, kau menyukai sejenis back hug seperti ini.” Katanya sambil mengamati kembang api juga.

“Bagaimana kau tahu?” Tanya ku penasaran, menoleh ke arahnya yang sekarang sedang tersenyum penuh kebahagiaan.

“Aku mencari tahu segala tentang mu, dalam tiga tahun ini sambil menetapkan perasaan ku pada mu. Aku juga selalu melihat gerak-gerik mu. Bahkan setiap tahun, setiap tahun baru aku juga datang ke tempat ini untuk merayakan tahun baru sekaligus ulang tahun ku.”

“Tapi, kenapa kau tak menghampiri ku?” Kata ku lirih. Sedikit kecewa bahwa ternyata lelaki yang ku tunggu ternyata berada dalam jangkauan ku.

“Aku terlalu takut untuk mengampiri mu. Aku terlalu takut, jika ternyata kau sudah merayakan tahun baru dengan seseorang yang berharga dengan mu.” Katanya lirih dengan nada sendu.

“Bagaimana aku bisa merayakan tahun baru dengan orang lain, sedangkan aku sendiri sudah terikat janji dengan seorang yang tak ku kenal untuk menunggu kedatanganya. Aku tak tahu kapan, tapi ini pasti, kau sudah menepati hati ku yang paling dalam. Jadi, bagaimana kau berpikiran bahwa aku akan kencan dengan lelaki lain sedangkan hati dan pikiran ku berpusat terhadap mu.” Kata ku. Ku beranikan untuk mengecup singkat pipi lelaki di belakang ku ini.

Aku berputar mengahadap ke arahnya. Mengamati setiap lekukan yang ada pada wajah manisnya itu. Tak pernah aku menemukan seorang lelaki tanpa celah sepertinya ini. “Lee Sung Min-ssi, kau begitu curang tahu segala sesuatu tentang ku, sedangkan aku? Baru saja aku tahu nama mu dan juga ulang tahun mu yang kebetulan hari ini.” Kata ku dengan nada pura-pura kesal.

Aigoo, kau menggemaskan. Kau ingin tahu banyak tentang ku. Tenang saja, beberapa bulan lagi, ketika semuanya sudah siap. Aku akan berkunjung ke rumah mu. Mengunjungi calon mertua ku. Dan setelah itu, kau akan tahu segala tentang ku.” Jawabnya usil.

Ne?” Kata ku tak paham. “Apa maksud mu mengunjungi calon mertua?”

“Dalam waktu kurang dari dua bulan, kau akan resmi mengubah mengubah marga di depan nama mu menjadi Lee.” Kata Lee Sung Min denga serius. Sedangkan aku, aku hanya dapat melongo mendengar pernyataannya itu.

“Cha Eun Young, mulai hari ini, tepat pada ulang tahun ku yang ke-28 tahun dan juga di awal tahun ini, aku Lee Sung Min, berjanji di hadapan Tuhan dan juga diri mu sendiri, akan menjadikan mu sebagai wanita masa depan ku. Menjadi kan diri mu sebagai prioritas utama ku. Menjadikan mu, ibu dari anak-anak ku kelak. Karena, hanya kau seorang yang mampu menembus hati ku. Karena, kau kado terindah yang Tuhan titipkan kepada ku.” Katanya sambil berlutut di hadapan ku. Lagi-lagi, air mata ku sukses meluncur di kedua pipi ku. Kaget, senang, dan haru bercampur jadi satu saat ini. Tuhan, apakah dia lelaki yang kau kirimkan untuk ku? Apakah dia lelaki yang akan menjadi masa depan ku?

“Sung Min-ssi, kau tak bercanda?” Kata ku di sela keterkejutan ku.

Aniya, chagi.” Ujarnya mantap. Sungguh, yang bisa ku lakukan sekarang hanya menatap kedua bola mata Sung Min yang menunjukan keseriusan tanpa ada kebohongan di dalamnya. Aku bahkan tak mampu untuk berkata lebih banyak lagi. Aku hanya bisa menganggukkan kepala ku tanda aku menerimanya menjadi seseorang yang akan menopang ku di masa depan.

Gomawo, Eun Young-ah, saranghae. Nan jeongmal saranghae.” Ia bangkit lalu membawa ku kembali ke dalam pelukannya.

Nado saranghae, oppa-ya.” Balas ku.

Aku tak pernah sekalipun merasa sebahagia ini dalam merayakan tahun baru. Dan tak pernah sekalipun, aku merasakan kehangatan dalam menyambut datangnya tahun yang baru. Karena setiap tahun baru, selalu ku lewati sendiri tanpa adanya seorang yang special berada di sekitar ku. Dan aku sangat bersyukur kepada Tuhan telah mengirimkan lelaki asing yang meminta ku menunggu setiap tahunnya di tempat yang pada akhirnya, menjadi tempat di mana ia melamar ku. Lee Sung Min, terima kasih telah datang di kehidupan ku, terima kasih telah membagi cinta mu untuk ku. Aku menyayangi mu.

-END-

Author:

Just an ordinary girl with an extraordinary. I'd rather die than live without any passions -JK-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s