Posted in Angst, FF, Sad, Twoshoot

FF Twoshoot : The Choice of Life [Chap. 2]

Author : JungJeHwan

Title : The Choice of Life

Genre : Angst, Sad, Tragic

Rating : Think by yourself

Length : Twoshoot

Cast :

Nam Ryu Hwa

Kim Ki Bum

Nam Seo Jin

Other cast

Desclamaire : Anyeong!! Saya kembali dengan membawa FF tapi dengan cast utamanya Kim Ki Bum. Hayoo, siapa yang ga kangen sama si cold prince ini sih? Nah, berhubung, saya lagi mood buat FF dan juga bertepatan saya merindukan sosok Kim Ki Bum berdiri ditengah-tengah keluarga besar Super Junior dan ELF, jadi saya buatin FF ini special buat dia #ciyaahh #Abaikan. Dan ini adalah FF bergenre Angst dan Sad pertama saya. Maaf, jika tak mendapat feel kedua genre dari itu ataupun ceritanya melenceng dari genrenya. Saya baru belajar, oke. Okelah cekidot!! Sorry for typos if were presents and HAPPY READING!! :D

Recommended song : T-ARA feat Davichi – We Were In Love   ;   Cakra Khan – Harus terpisah

Chap 1 : Here

***

Inilah kehidupan ku. Kehidupan yang serba berkecukupan tapi selalu membuat ku merasakan sakit. Dan rasa sakit itu kini bertambah dengan harus merelakan lelaki itu pergi dari sisi ku selamanya. Kembali mengalah dengan dirinya. Haruskah aku pergi untuk mengurangi rasa sakit ini? Inilah kehidupan ku pada akhirrnya dan ini juga pilihan ku.

-Nam Ryu Hwa- 

***

Preview Previous Chapter

                “Eonni, tenang dulu, sementara aku mencari high heels ku, biarkan Jae Ra yang mengiringinya untuk mu. Dia juga tak kalah jago dari ku, eon.”

                “Tapi—“

                “Ku mohon, eon. Dia juga hebat. Iyakan, Jae Ra?” Kata ku sambil melirik Jae Ra sekilas, memberikan kepadanya kode.

                “Ne, eon. Aku juga bisa bermain piano. Biarkan dia mencari high heelsnya dulu.” Kata Jae Ra berusaha meyakinkan eonni ku.

                “Baiklah.” Kata eonni pada akhirnya. Eomma juga sepertinya tidak keberatan dengan keputusan kami. Dia bahkan terlihat biasa saja. 

***

-CHAPTER 2 BEGIN-

                Ku langkahkan kaki ku memasuki gereja ini melalui pintu samping. Aku yakin acara upacara pemberkatanya sudah selesai. Jadi aku tak perlu repot-repor merasakan sakit melihat Ki Bum oppa berciuman dengan eonni ku.

Yes, i do.” Sayup-sayup ku dengar suara eonni ku mengucapkan kata-kata itu. DEG. The ceremony is still not ever yet. Batin ku. Haruskah aku melihatnya? Tanpa ku pedulikan tentang fakta itu, ku hampiri Jae Ra yang kini duduk di depan sebuah piano klasik sambil tetap memainkanya. Ditolehkanya sejenak kepalanya kepada ku.

“Kau, kurang lama sedikit lagi, Hwa-ya.” Katanya dengan raut wajah khawatir. Aku tetap melangkah dan melangkah.

“Silahkan kepada pengantin pria, mencium istri anda. Karena sekarang anda sah dimata agama dan hukum terhadap nona Nam Seo Jin.” Kata pendeta itu. Mata ku mulai memanas lagi, tapi, tetap ku langkahkan menuju piano yang kini tetap dimainkan Jae Ra. Aku duduk disebelahnya, berusaha memulai kolaborasi ku dengan Jae Ra. Aku sama sekalitak melihat ke arah altar karena aku takut, pertahanan ku akan jebol melihat adegan menyakitkan itu.

“Tenang, tenangkan diri mu, Hwa-ya.” Katanya menyemangati ku. Tetap ku mainkan piano ini sambil mendengar riuh tepuk tangan para tamu undangan setelah mungkin Ki Bum oppa yang mencium eonni. Resmilah sudah kedua insan Tuhan itu. Aku hanya bisa berpasrah sambil berusaha menguatkan diri ku, karena ini sangat menyakitkan.

***

                Tibalah waktu resepsi. Resepsi pernikahan mereka bertemakan Garden Party. Kini Seo Jin eonni sudah berganti gaun dengan sebuah gaun yang lebih sederhana dari yang ia kenakan saat upacara pemberkatan. Walaupun lebih sederhana, tetap tak mengurangu kadar keeleganan dari gaun itu sendiri maupun kecantikan dari orang yang memakainya. Dan aku tetap menggunakan gaun yang tadi ku gunakan. Tapi kini aku mengenakan sebuah mahkota yang terbuat dari rangkaian bunga mawar putih, bunga kesukaan ku. Tadi sempat aku menolak, tapi lagi-lagi aku tak dapat menolak untuk yang kali ini. Entah kenapa itu. Mungkin menyenangkan hati eonni ku yang sudah resmi melepas masa lajangnya bukanlah hal buruk.

Dan tibalah saat di mana aku harus mempersembahkan lagu ku khusus untuk kedua mempelai yang sedang berbahagia.

“Emm, sebelumnya izinkan saya mengucapkan selamat kepada dua orang yang sangat berharga di hidup saya. Selamat kepada Kim Ki Bum oppa dan Nam Seo Jin, ah ani, maksud saya Kim Seo Jin eonni yang sedang berbahagia hari ini telah berhasil bersatu dihadapan Tuhan. Cukhaeyo, oppa, eonni. Hiduplah bahagia kalian. Kalian memang pasangan yang serasi.” Ujar ku seraya tersenyum lembut ke arah mereka berdua. Berusaha menyembunyikan rasa sakit yang saat ini ku rasakan. Melihat kakak ku menggandeng mesra lengan Ki Bum oppa. Dan tangan Ki Bum oppa yang melingkar manis di pinggang ramping kakak ku.

“Dan lagu ini, ku persembahkan kepada kalian.” Kata ku. Alunan musik mulai. Aku bernyanyi sedangkan Jae Ra mengiringi ku.

***

Sendiri …

Sendiri ku diam

Diam dan merenung, merenungkan jalan yang kan membawa ku pergi

Pergi tuk menjauh, menjauh dari mu

Dari mu yang mulai berhenti, berhenti mencoba

Mencoba bertahan

Bertahan untuk terus bersama ku

Ku berlari kau terdiam, ku menangis kau tersenyum

Ku berduka kau bahagia

Ku pergi kau kembali

Ku coba tuk meraih mimpi kau coba tuk hentikan mimpi

Memang kita tak kan menyatu

Bayangkan…

Bayangkan ku hilang, hilang tak kembali

Kembali tuk mempertanyakan lagi arti cinta

Cinta mu yang mungkin, mungkin tak berarti

Berarti tuk ku rindukan

Ku berlari kau terdiam, ku menangis kau tersenyum

Ku berduka kau bahagia

Ku pergi kau kembali

Ku coba tuk meraih mimpi kau coba tuk hentikan mimpi

Memang kita tak kan menyatu

Kini harusnya kita coba saling melupakan

Lupakan kita pernah bersama

Ku berlari kau terdiam

Ku menangis kau tersenyum

Ku berduka kau bahagia

Ku pergi kau kembali

Ku coba tuk meraih mimpi kau coba tuk hentikan mimpi

Memang kita tak kan menyatu

[CAKRA KHAN – HARUS TERPISAH]

***

                Ku nyanyikan lagi Indonesia milik Cakra Khan yang mewakili perasaan ku. Biarlah mereka tersenyum karena mereka tak mengetahui makna sebenarnya dari lagu yang ku nyanyikan ini. Tapi, biarlah diri ku tetap berekspresi dengan mengungkapkan rasa yang ku rasa saat ini.

“Gamsahamnida.” Ujar ku ketika aku menyelesaikan untaian nada nan indah yang menyalurkan semua perasaan ku saat ini.

***

                Sehari setelah acara melelahkan itu selesai, aku dan Jae Ra berpamitan untuk segera pulang ke apartment. Bukan karena apa, aku hanya ingin segera menyelesaikan skripsi ku yang sempat tertunda dan tentunya menamatkan kuliah ku di KyungHee. Dan yang pastinya segera merefreshkan pikiran ku yang akan awut-awutan semenjak pernikahan gila itu.

Dan aku harus segera enyah dari rumah ini karena aku tak mau mendengar hal yang seharusnya tak ku dengar seperti tadi malam. Ya, tadi malam aku mendengar suara erangan dan juga desahan yang keluar dari mulut kedua insan yang sedang memadu kasih di tempat tidur. Dan itu membuat ku jijik dan yang pastinya sakit hati. Sebenarnya kamar ku dan Seo Jin eonni yang bersebelahan sudah di bangun sedemikian rupa yang dibuat kedap suara. Tapi entah kenapa aku masih saja mendengar suara menjijikan itu.

Mengingat apa yang kudengar tadi malam sungguh membuat ku muak dan tak nafsu makan. Kini mereka berdua benar sudah saling memiliki satu sama lain. Dan aku tak berhak untuk menggangu kehidupan baru mereka. Bukankah ini yang aku inginkan? Seharusnya aku senang karena Ki Bum oppa benar-benar menepati janjinya kepada ku.

***

                Hari ini hari kelulusan ku. Aku harus berpuas hati karena usaha ku selama ini akhirnya terbayar. Aku lulus menjadi yang termuda, tercepat dan pastinya cum load. Dan Jae Ra ia hanya memandang iri ke arah ku. Ia cum load tapi bukan yang tercepat dan bukan yang termuda.

“YAKK!! Berhenti menunjukan wajah mu itu, Ra-ya.” Kata ku sambil tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi merajuknya saat ini.

“Aish, kau sudah menyaingi ku, nona Nam.” Katanya sambil memalingkan wajahnya.

Ahjumma, ahjussi, lihatlah kelakukan anak kalian itu.” Ejek ku sambil berlari ke arah kedua orang tua Jae Ra.

“YAKK!! Berhenti kau Nam Ryu Hwa. Tahu rasa kau nanti.” Katanya seraya berlari menuju arah ku dan kedua orang tua Jae Ra.

Aigoo, kalian ini sudah dewasa, sudah lulus sebagai serjana seni tapi kelakuan kalian sangat kekanak-kanakan.” Kata Choi ahjussi. Aku kembali tertawa melihat Jae Ra yang semakin kesal dan kembali merajuk karena kata-kata appanya itu. Yah, walaupun ku tahu, itu hanya candaan beliau saja.

“Nam Ryu Hwa.” Deg. Suara itu. Itu seperti suara appa ku. Dan ku tolehkan wajah ku ke belakangan ketika ku dapati eomma dan appa ku datang ke lokasi wisuda ku ini, walaupun sudah selesai sekitar setengah jam yang lalu. Mereka mengenakan pakaian formal.

Ap—pa, eom—ma.” Kata ku tergagap. Aku memang sudah pindah dari apartment ku itu dan tinggal di sebuah flat kecil dengan uang hasil bekerja ku di cafe. Dan aku sama sekali tak memberitahu perihal kepindahan ku ini kepada mereka. Dan sekarang, tanpa ku undang mereka datang ke acara ku ini.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” Tanya ku dengan muka datar. Keceriaan ku bersama keluarga Choi seketika hilang ketika mereka muncul dihadapan ku.

“Apa tak boleh seorang orang tua menghadiri hari wisuda anaknya sendiri, heum?” Kata appa ku dengan nada suara yang lembut. Aku tak salah dengarkan ini? Kenapa ia berubah menjadi lembut seperti itu. Biasanya ia akan berbicara dengan ku dengan nada kasar atau nada datar.

“Kalian masih menganggap ku anak?” Kata ku dengan nada yang lagi-lagi datar.

Mworago? Jelas, kita masih menganggap mu anak, Hwa-ya.” Kata eomma.

“Terserah apa kata kalian.” Kata ku lalu membuang muka ku dari arah mereka. Aku hendak melangkahkan kaki ku menjauhi mereka, ketika tangan eomma memegang pergelangan tangan ku.

“Kita bicarakan ini di rumah, Hwa-ya. Sudah saatnya kita bicara.” Katanya. Aku sama sekali tak menghiraukan ucapan eomma ku, aku ingin pergi dari tempat itu sekarang juga setelah mengetahui Jae Ra melangkah menjauh dari arah ku. Dari bibirnya dapat ku terbaca sebuah kalimat “Selesaikan sekarang juga. Ini saatnya, Hwa-ya. Hwaiting.” Ya mungkin seperti itu.

“Apa yang perlu kita bicarakan? Bukankah semuanya sudah jelas.” Kata ku dengan tegas tanpa membalik badan ku.

Eomma mohon, Hwa-ya. Kita bicarakan ini di rumah.” Kata eomma ku dengan menarik lengan ku. Dan aku, karena aku sedang malas berdebat dengan siapapun itu, aku hanya menuruti perkataan mereka.

“Baiklah, tapi lepaskan tangan eomma.” Kata ku. Perlahan tapi pasti eomma melepaskan genggaman tangannya. Aku hanya mengikuti mereka dari arah belakang.

***

                Aku langsung mendudukan badan ku di ruang tengah. Dan tak berapa lama setelah itu muncul sepasang suami istri yang baru tiga bulan ini menikah. Dan setelah itu, Im ahjumma, pembantu rumah tangga keluarga ku muncul sambil membawa nampan berisikan minuman.

“Apa yang ingin kalian bicarakan pada ku?” Tanya ku to the point tanpa takut apapun. Sekarang aku sudah lebih kebal. Ku ambil minuman yang disediakan untuk ku. Ku minum sedikit, mengecap rasa orange juice itu sembari menunggu salah seorang mereka membuka mulut. “Ayolah, jangan membuang waktu ku lebih banyak lagi. Aku masih banyak urusan setelah ini.” Ujar ku ketika tak ada satupun mereka membuka mulut.

“Apa yang kau inginkan, Hwa-ya? Kami akan menurutinya.” Kata appa pada akhirnya.

Naega? Yang ku inginkan?” Tanya ku mengulang pertanyaan appa pada awalnya.

Ne, apa yang kau inginkan? Menjadi seorang penyanyi terkenal? Menjadi seorang musisi?” Kata appa. Setelah mengerti ke arah mana appa ku berbicara, ku tatap sengit Ki Bum oppa yang ada di hadapan ku.

“Jangan bilang, kau yang memberitahu mereka, Ki Bum-ssi.” Kata ku langsung menunjuk ke arah Ki Bum oppa yang kebetulan duduknya berseberangan dengan ku.

“Maksud mu, Hwa-ya?” Tanya Seo Jin eonni dengan wajah penasaranya.

“Jangan bilang kau yang mengadukan apa yang ku curhatkan kepada mu saat KITA BERPACARAN dulu, Ki Bum-ssi.” Kata ku yang mulai emosi karena Ki Bum tak menjawab ku sama sekali. Dan lagi, tadi ku tekankan kata KITA BERPACARAN, supaya eonni ku juga mengetahui latar belakang suaminya itu.

Ani, siapa yang mengatakan itu, hah?” Katanya tak kalah sengit.

MWORAGO!! Kalian sempat berpacaran? Berapa lama?” Tanya eonni ku dengan nada tak percaya yang dibuat-buatnya. Cih~~ sebenarnya aku sudah tahu ini semua masuk dalam akal-akalan eonni ku, untuk merebut kembali sesuatu yang ku miliki. Aku mendengarnya langsung lewat Jae Ra. Ia merasa iri karena aku bisa mendapatkan cinta pertamanya. Cih~~ yang benar saja.

“Selama tiga tahun setengah sebelum kau datang dan merebut dirinya dari ku.” Kata ku dengan nada sinis. Dapat ku lihat kakak ‘kesayangan’ ku itu menundukan wajahnya. Aku yang merasa sudah tepat waktunya, ku ungkapkan semuanya di sini, sebelum aku benar-benar pergi menghilang dari keluarga ini.

“Apa kau belum puas mengambil semua yang ku miliki selama ini, eon? Ku ikhlaskan semua benda dan semua bentuk kasih sayang eomma dan appa kepada mu. Aku ikhlas, aku rela mengalah untuk mu, karena yang ku tahu ketika eomma dan appa tak bisa mengabulkan keinginan ku dengan sigap kau mau menolong ku dan akhirnya dengan sekejap mata, aku bisa memperoleh hal yang ku inginkan.” Ku hela nafas sejenak sebelum kemudian melanjutkan kata-kata ku.

“Begitu juga saat aku harus memasuki KyungHee dengan senang hati kau membantu ku memasuki. Hal itu yang menjadi pertimbangan ku kenapa aku mengikhlaskan semuanya untuk kebahagian mu. Semata-mata hanya untuk kebahagian mu. Dan ini, apakah aku harus merelakan Ki Bum oppa kepada mu? Jujur eonni, aku sakit saat pertama kali mendengar kabar konyol itu. Waktu itu belum genap seminggu aku putus dari Ki Bum oppa. Eonni, aku masih merasakan sakit saat itu. Luka ku belum sembuh dengan sempurna. Dan ditambah kabar gila itu, luka yang berada di hati ku yang belum sempat tertutup dengan rapat hanya dapat menganga dengan lebih lebarnya. Tubuh ku kaku, degup jantung ku berdetak tak beraturan seperti hendak ingin copot dari tempat seharusnya, nafas ku tak beraturan. Disaat seperti itu aku hanya ingin segera mati, segera enyah dari kehidupan yang semakin lama, semakin membuat ku gila dan sakit.” Kata ku berapi-api. Cengkraman ku terhadap gelas yang belum sempat ku taruh kembali ke meja, semakin keras. Dan, satu detik, dua detik.. PRANGG!! Gelas itu pecah di tangan ku, gelas yang menjadi hasil dari luapan emosi ku yang menggebu. Seketika darah mulai bercucuran dari tangan ku. Tapi ini sungguh tak sakit, tapi dada ku yang merasakan rasa sakit itu.

Dengan sigap eomma yang duduk tak jauh dari ku, menghampiri ku dan berusaha mengobati ku. Tapi aku tak perlu itu. Dengan kasarnya ku tepis tangan eomma yang berusaha membantu ku. Eomma saat itu sungguh sangat shock dengan kelakukan ku. Ia yang sejak aku mengungkapkan yang sebenarnya, menangis, kini tangisanya bertambah memilukan. Tapi, dengan segera ku tutup kedua telinga ku. Berusaha tak mendengar tangisan eomma dan juga… eonni ku.

“Ini tak sesakit yang kalian bayangkan. Bahkan rasa sakit ditangan ku tak mampu menandingi rasa sakit di hati ku. Kau tahu, oppa, saat kita berdua melakukan fitting untuk gaun pengantin eonni dan kau fitting tuxedo mu, sungguh saat ku lihat kau dengan gagahnya memakai tuxedo itu, aku terpesona. Aku kembali terperangkap dalam pesona seorang Kim Ki Bum. Sungguh, saat itu ingin rasanya aku berlari ke arah mu dan memeluk mu, mengatakan bahwa diri mu sangat tampan dengan balutan jas formal itu. Tapi, kembali aku harus menguasai hasrat itu. Aku sadar akan diri ku yang bukan siapa-siapa mu lagi. Dan kau, oppa, kau dengan seenaknya berjalan ke arah ku, memuji diri ku cantik, sedangkan saat itu aku mati-matian menahan hasrat itu. Itu sungguh menyakitkan, oppa.” Darah sudah mulai mengotori keramik putih rumah ku. Tapi, tetap tak ku pedulikan. Aku ingin masalah yang mengganjal hati ku ini segera berakhir. Aku tak mau pergi dengan meninggalkan sebuah beban di Korea.

“Dan saat dengan tiba-tiba kau cium bibir ku, itu menambah rasa sakit ku. Aku kelu, aku kaku waktu itu. Aku dengan bodohnya kembali terbuai dengan ciuman hangat mu. Dan saat aku kembali mengetahui fakta bahwa kau sekarang bukan milik ku, melainkan milik eonni ku, dengan segenap tenaga dan kemapuan ku, aku melepas ciuman hina itu. Aku tak mau melukai hati ku terlalu jauh. Aku juga tak mau melukai mu, eonni ketika kau mengetahui fakta ini.” Kata ku. Setitik air mata mengalir dengan kurang ajarnya. Segera ku hapus dengan kasar menggunakan tangan kiri yang tak berlumuran darah.

“Dan saat itu, aku pulang malam, bukan karena aku ikut latihan di club ku, bukan appa. Saat itu aku menenangkan diri ku di hadapan Tuhan. Meminta Tuhan untuk  memberikan ku sebuah jalan yang terbaik. Dan saat itu entah mendapat keberanian dari mana, aku sanggup menentukan yang terbaik di kehidupan ku kelak. Dan sejak saat itu aku mulai berusaha melepas Ki Bum oppa dengan lapang. Merelakan dirinya untuk mu, eonni.” Ku tatap kedua pasang suami istri didepan ku secara intens.

“Dan dihari pernikahan kalian, bukannya aku tak mau menghadirinya, tapi hati ku lah yang melarang ku untuk datang. Sudah cukup hati ku terlalu sakit dan terluka, aku juga tak mau membahayakan organ tubuh ku yang lain. Aku beralasan high heels ku tak ada. Tapi nyatanya high heels itu sudah ku sembunyikan di sebuah tempat. Dan ketika kau menyetujui agar aku digantikan Jae Ra, aku menuju tempat itu dan segera memakai high heels itu. Aku segera keluar menggunakan pintu belakang. Berharap jalan-jalan ku selama upacara pemberkatan kalian, membuat sedikit saja bagian hati ku yang sakit, sembuh. Karena mungkin, aku tak perlu melihat secara langsung janji yang kalian ucapkan di altar dan juga pastinya hal sangat membuat ku muak dan sakit, ciuman seteleh kalian resmi menjadi sepasang suami dan istri.”

“Tapi perkiraan ku salah. Ku pikir ketika aku sampai di gereja tempat kalian mengucapkan janji suci itu, acara sudah selesai. Tapi nyatanya, aku tiba ketika kau selesai mengucapkan ikrar mu, eonni. Tapi, aku tak mungkin keluar dari ruangan itu karena ku sudah melangkahkan kaki ku memasuki kaki ku ketika ku dengar sayup-sayup suara mu itu. Segera ku langkahkan kaki ku ketika sang pendeta mengucapkan kalimat yang bagi ku tabu. Saat kalian melakukan adegan yang tak ingin ku tonton, aku sudah sampai di depan piano ku, segera ku mainkan piano itu dengan tergesa untuk mengalihkan segalanya. Dan beruntung saat itu, Jae Ra ada di samping ku, mendampingi ku di saat-saat genting seperti itu. Kalau tidak, mungkin aku akan berlari ke altar dan akan mencium kau, oppa, di hadapan para tamu undangan tak peduli bagaimana jadinya pesta pernikahan kalian.” Kata ku yang mulai terisak sambil berusaha menahan senyuman ku.

“Dan sialnya, malam harinya aku harus mendengar erangan dan desahan menjijikan kalian berdua yang sedang memadu kasih. Aku kembali sakit dan terluka.” Isak ku.

Mianhae, jeongmal mianhae, eonni tak pernah tahu perasaan mu selama ini. Eonni merasa menjadi kakak yang paling tak berguna untuk mu. Maaf, karena eonni, kau harus merelakan segalanya. Eonni tahu apa yang kau rasakan, Hwa-ya. Itu pasti sangat sakit. Tapi, jika kau berbahagia dengan Ki Bum oppa, eonni akan dengan rela melepasnya untuk kebahagiaan mu. Eonni tahu, eonni egois. Eonni mengambil semua yang kau miliki. Eonni memang kakak yang jahat untuk mu, Hwa-ya. Sebelumnya memang eonni mengetahui kau sedang berpacaran dengan Ki Bum oppa. Tapi, setan yang ada pada diri eonni, meminta eonni untuk memisahkan kalian berdua dan berniat menjadikan Ki Bum oppa menjadi suami eonni. Eonni tahu, jika eonni yang memintanya langsung pasti tak akan mau. Jadi eonni meminta bantuan eomma dan appa. Dan akhirnya, mungkin inilah akhir yang eonni dapat.” Kata eonni ku dengan terisak.

Mianhae, ini juga salah ku, Hwa-ya.” Kata Ki Bum oppa yang juga mulai terisak

“Tapi eonni, kau yang akan melepas Ki Bum oppa tak akan menyelesaikan masalah. Itu hanya akan menambah masalah baru. Dan aku bukanlah seorang jahat yang tega memisahkan anak dari bapaknya. Kalau hal itu terjadi, aku tak akan pernah memaafkan kalian dan juga pastinya diri ku sendiri. Karena dengan begitu secara tak langsung aku menjadi seorang penjahat. Aku tak mau apa yang ku alami selama hidup ku ini juga dirasakan oleh keponakan ku kelak.” Tutur ku. Dapat ku lihat wajah tercengan dari mereka. Ya, aku mengetahui kalau eonni ku ini sudah mengandung seorang bayi dan kandungannya sudah memasuki minggu ke lima. Jadi, mana mungkin aku akan tega memisahkan mereka.

“Kau—kau—“ Ki Bum oppa tergagap.

“Kau tak perlu tahu dari mana aku tahu. Asal kalian tahu saja, bukan hanya kalian yang memiliki mata-mata tapi aku juga mempunyainya.” Kata ku sinis.

“Ah ya, perlu kalian tahu, lagu yang ku nyanyikan di resepsi pernikahan kalian berdua bukanlah lagu kesenangan atau lagi cinta picisan tapi sebuah lagi patah hati. Aku menyanyikan lagu Indonesia milik Cakra Khan yang berjudul ‘HARUS TERPISAH’ yang berarti ‘MUST BE SEPARATE’ kalau kalian ingin tahu arti selengkapnya mengenai isi lagi itu, silangkah cari di internet.” Jelas ku.

“Waktu ku sudah habis, eomma, appa, eonni, oppa. Aku harus segera meninggalkan rumah ini dan mungkin juga kota ini. Terima kasih sudah memberi ku waktu untuk berbicara kepada kalian semua. Terima kasih sudah meluangkan waktu kalian yang padat.” Kata ku sambil tersenyum kecut.

“Ah, aku ingat! Oppa, aku ingin menyanyikan satu lagu terakhir ku untuk mu. Maukah kalian mendengarnya?” Tanya ku pada mereka semua yang ada di ruangan ini.

“Apapun yang akan kau lakukan akan kami dukung, Hwa-ya. Jangan tinggalkan rumah ini, eomma mohon.” Kata eomma ku dengan tetap beruraian air mata. Tak ku hiraukan kata-kata eomma barusan. Hanya ku balas dengan senyuman manis ku. Aku melangkahkan kaki ku menuju sebuah piano yang  memang sengaja di letakkan di ruangan ini. Ku mulai alunan piano ku dengan tangan yang terluka tadi.

***

We were in love

Please don’t make me cry

For me, it’s only you

When i close my eyes, i see you

When i block my ears, i hear you

Please don’t leave me

The person who became a light in my dark life, such a precious person

A day passes and another passes and long for you more

even as i sing this song

We were in love

Please don’t make me cry

For me, it’s only you

When i close my eyes, i see you

When i block my ears, i hear you

Please don’t leave me

You might comeback, because you might return,

Again today, i wait for you

You don’t know, you don’t know how much i’m hurting

Even as i sing this song

We were in love

Please don’t make me cry

For me, it’s only you

When i close my eyes, i see you

When i block my ears, i hear you

Please don’t leave me

[RAP] If i were to choose between you and the world

Even is everything is taken away from me, if it’s you, i’m okay

Day or night, i’m thirsty for love

My unseemly promise is to forget you makes me cry again, can you hear me?

The only thing i want from you is you

Without you, i can’t do anything

If you hear this song please come back, come back

The more i love, the gaunter i get

For me, it’s only you

We were in love

Please don’t make me cry

Please don’t leave me

[RAP] Yeah uh uh

In the end

You turn away and you keep me away

I threw away my pride and like a crazy person, i followed you

But my heart urged me on and told me

Not to lose you, who is the only one in this world

I pretended to smile, pretended to be fine

This is the last song i’m singing for you

Please don’t leave me

[Translate : T-ARA feat DAVICHI – WE WERE IN LOVE]

***

                Ku sudahi alunan piano ini. Air mata yang sedari tadi terus beruraian ketika aku menyanyikan lagu ini. Aku beranjak dari depan piano, menuju ke arahnya. Kini, aku telah tepat berdiri di hadapannya. Ku tahan nafas ku. Sungguh melihatnya menangis membuat ku juga tak kuasa menahan air mata ku. Tapi, untuk kali ini aku harus tahan. Perlahan tapi pasti ku dekatkan wajah ku, ku miringkan wajah ku ke arahnya.

CUP. Ini gila, tapi akal sehat ku sedang tak berfungsi sekarang ini. Yang aku inginkan saat ini hanyalah dirinya. Mengharapkan dirinya memang tak akan bisa ku lakukan. Tapi, melakukan hal ini untuk terakhir kalinya mungkin masih bisa ku lakukan. Ku kalungkan tangan ku di lehernya. Tak peduli letak kakak ku yang sedang berdiri tepat di samping ku.

Mulai ku kulum perlahan bibir tebalnya. Menyalurkan kepadanya betapa aku tak ingin kehilangannya. Menyalurkan segenap rasa cinta ku kepadanya, untuk terakhir kali. Ya, terakhir kali sebelum aku benar-benar pergi dari dirinya. Ku tekankan kepalanya semakin memperdalam ciuman ku. Ia sama sekali tak membalas. Namun, tetap ku kulum bibirnya sampai ia membalas ciuman ku. Ketika ia juga memperdalam ciumannya kearah ku, ku dorong kuat tubuhnya hingga ia terjungakal ke sofa.

Cha, urusan ku di sini sudah selesai. Semoga kalian bisa hidup berbahagia. Dan eonni, jika kau berpikir untuk melepaskan, Ki Bum oppa aku tak akan segan-segan membenci mu seumur hidup. Jagalah, calon anak kalian berdua. Aku ikhlas.” Kata ku sambil tersenyum. Bisa ku lihat eonni yang semakin terisak.

Aegi-ya, ini imo mu, jaga eomma mu, ne? Dan jika eomma dan appa mu berpisah, lebih baik kau hidup bersama imo, arrayo? Cha, hiduplah yang baik, baby’s Kim. Imo sangat menyayangi mu walaupun kau belum ada di muka bumi ini. Imo pergi, ne? Jaga diri mu baik-baik, aegi-ya. Anyeong.” Ku elus pelan perut rata eonni ku, menyapa calon keponakan ku. Aku tak yakin, saat ia lahir aku akan berada di sekitarnya. Aku akan berada jauh dari keponakan ku ini. Jadi, lebih baik ku sempatkan menyapa keponakan ku ini sebelum terlambat.

“Hwa-ya, jangan pergi. Eonni mohon.” Kata eonni ku.

Kajimarayo. Kau bilang jika kau pergi bukankah akan menambah masalah? Jebal, jangan pergi.” Kata Ki Bum oppa. Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum tulus ke arah mereka berdua.

Eomma, appa, eonni, oppa, aku pergi, ne? Jaga diri kalian. Hiduplah berbahagia tanpa ku. Tapi percayalah, aku masih menyayangi kalian.” Ku langkahkan kaki ku keluar dari rumah ini.

“Nam Ryu Hwa, jika kau selangkah lagi, melangkah kaki mu dari rumah ini, kau tak akan ku izinkan memakai marga ku di dalam nama mu.” Kata appa dengan suara seraknya.

Tanpa berbalik aku berkata, “Jika itu membuat appa bahagia, akan ku lakukan. Aku pergi.” Ku lambaikan tangan ku yang terluka di atas kepala ku. Memberikan salam perpisahan kepada mereka semua. “Dan satu lagi, saat aku benar-benar menginjakkan kaki ku di luar rumah ini, aku akan menjadi seorang Ryu Hwa yang baru. Bukan lagi seorang Ryu Hwa yang sekarang.”

“Hwa-ya, maafkan eomma, kajima, Hwa-ya.” Isak eomma ku. Aku hanya terus melangkah. Selamat tinggal. Aku akan kembali setelah menata kembali hati ku yang remuk ini. Aku berjanji. Batin ku.

***

                “Hiduplah berbahagia di Indonesia, Hwa-ya. Aku berjanji jika aku mempunyai waktu luang, aku akan menjenguk mu di sana.” Kata Jae Ra terisak sambil memeluk ku. Aku sedang berada di Icheon International Airport, sebentar lagi pesawat yang akan membawa ku keluar Korea akan tiba. Aku memang sudah menyiapkan hal ini jauh-jauh hari. Dan dengan pertolongan Jae Ra, terlebih keluarga Choi aku bisa mendapatkan tempat untuk sementara waktu hidup di Indonesia. Aku akan tinggal bersama kakak tertua Jae Ra, Choi Si Won.

Uljimayo, ne? Kau sangat jelek menangis seperti itu.” Kata ku sambil melepas pelukan kami. Dapat ku lihat matanya yang memerah karena menangis.

“Untuk para penumpang tujuan Jakarta, Indonesia diharapkan segera memasuki ruang keberangkatan. Atas perhatiannya kami ucapkan banyak terima kasih.” Seperti itulah isi pengumuman yang ku dengar.

“Ra-ya, Choi ahjumma, Choi ahjussi, aku pergi dulu. Jaga kesehatan kalian. Aku pasti sangat merindukan kalian.” Ku peluk satu-persatu dari mereka. “Aku pergi.” Ku geret koper ku bersamaan dengan langkah kaki ku. Goodbye Seoul, GoodBye Korea, I’ll miss you, all ‘bout you, and the people that still life here.

***

EPILOG

-Author POV-

Terlihat seorang gadis berjalan masuk ke dalam sebuah perusahaan megah nan elite di kawasan perkantoran ini. Ia mendekat mendekati resepsionis yang kebetulan terletak di depan pintu yang ia lewati tadi.

“Maaf nona, ada yang bisa saya bantu?” Tanya sang resepsionis tersebut dengan tersenyum hangat.

“Ne, bolehkah saya bertemu dengan Tuan Nam?” Tanya gadis itu dengan mantap.

“Maaf, apakah nona sudah membuat janji dengan beliau?”

“Tapi ini sangat penting, nona. Ini menyangkut tentang anak bungsunya. Saya mohon, tak akan lama, saya berjanji.” Kata gadis itu dengan memelas.

“Tap—i—“

“Ku mohon, bantulah aku, ini berkaitan dengan teman ku, putri bungsu Tuan Nam.” Kata gadis itu dengan wajah memelas.

“Tapi tetap saja tak bisa jika anda tak membuat janji terlebih dahulu dengan Tuan Nam. Beliau sangat sibuk sekarang, jadi sekali lagi, maaf.” Kata resepsionis yang diketahui namanya Kang Min Hyuk itu.

“Aisshh, apakah begini kehidupan orang kaya. Bertamu saja susahnya minta ampun. Dasar menyebalkan.” Umpat gadis itu dengan rindik. “Baiklah, tapi saya bisakah saya meninggalkan pesan?” Kata gadis itu pada akhirnya.

“Baiklah. Silahkan anda tuliskan pesan anda di sini.” Kata sang resepsionis sambil memberikan secarik kertas lengkap beserta dengan pulpennya. Gadis itu dengan sukarela menerima kertas dan pulpen yang diberikan kepadanya. Ia lalu memulai menulis deret demi deret kalimat pesan.

Maaf, Tuan Nam, jika surat ini mengganggu anda. Tapi, sungguh ini berkaitan dengan teman saya, putri bungsu anda, Nam Ryu Hwa.

                Sudah sangat lama saya ingin menyampaikan ini, Tuan, tapi Ryu Hwa melarang saya. Dan ini batasnya kesabaran saya atas apa yang dihadapi Ryu Hwa sekarang ini. Tolong, dengan sangat bicarakan lagi dengan Ryu Hwa dan keluarga anda. Ryu Hwa sangat tersiksa dan sangat tertekan dengan apa yang anda lakukan terhadapnya. Ia membutuhkan kasih sayang, Tuan. Ia juga ingin seperti kakaknya, Tuan, yang penuh kasih sayang dari anda dan Nyonya. Ia sering kali menangis ketika ia menceritakan semuanya terhadap saya. Terkadang, di tengah malam ia menangis sesenggukan karena beban yang selama 18 tahun ia terima. Ia ingin seperti, Nam Seo Jin, yang anda beri kebebasan untuk menentukan jati dirinya. Ia ingin menjadi seorang musisi terkenal bukan sebagai pembisnis seperti yang anda tekankan terhadanya.

                Maaf, mungkin saya terlalu mencampuri urusan keluarga kalian. Tapi ini demi kebaikan kita semua, terlebih kebaikan Ryu Hwa sendiri. Tolong, sebelum terlambat, sebelum ia benar-benar pergi dari kota ini atau bahkan dari negara ini, selesaikan ini semua, bicarakan secara baik-baik dengan Ryu Hwa. Jangan terlalu mengekang hidup Ryu Hwa lagi, biarkan dia mengekspresikan dirinya. Selama ini dia sudah sangat terluka.

                Mungkin itu yang bisa saya sampaikan dan oh, tolong datang ke wisuda sarjana Ryu Hwa besok. Dia sangat mendambakan kehadiran dari kedua orang tuanya.

                CHOI JAE RA

                Ia pun memberikan surat itu kepada sang resepsionis kembali. Dan setelah resepsionis tersebut menerima pesan darinya dan sudah memastikan bahwa orang yang dituju akan membacanya, ia segera pergi meninggalkan tempat megah itu.

-THE END-

Akhirnya FF abal bin gaje ini jadi juga. Huaa~~ pasti tak memuaskan dan pastinya feelnya ga dapet, iyakan? #NangisDipojokan. Ya sudah, sekian dari saya, Author akan kembali dengan karya yang lain. Anyoeng!!

Author:

Just an ordinary girl with an extraordinary. I'd rather die than live without any passions -JK-

6 thoughts on “FF Twoshoot : The Choice of Life [Chap. 2]

  1. cha~
    saudara gue yang paling cetarrrr~~~
    FF kok sad sich? sejujurnya banget gue nggak suka ama yang namaya sad ending or tragic.
    Dapet feel nya~~~~
    and, do you know me? ^.~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s