Posted in Angst, FF, Sad, Twoshoot

FF Twoshoot : The Choice of Life [Chap. 1]

Author : JungJeHwan

Title : The Choice of Life

Genre : Angst, Sad, Tragic

Rating : Think by yourself

Length : Twoshoot

Cast :

Nam Ryu Hwa

Kim Ki Bum

Nam Seo Jin

Other cast

Desclamaire : Anyeong!! Saya kembali dengan membawa FF tapi dengan cast utamanya Kim Ki Bum. Hayoo, siapa yang ga kangen sama si cold prince ini sih? Nah, berhubung, saya lagi mood buat FF dan juga bertepatan saya merindukan sosok Kim Ki Bum berdiri ditengah-tengah keluarga besar Super Junior dan ELF, jadi saya buatin FF ini special buat dia #ciyaahh #Abaikan. Dan ini adalah FF bergenre Angst dan Sad pertama saya. Maaf, jika tak mendapat feel kedua genre dari itu ataupun ceritanya melenceng dari genrenya. Saya baru belajar, oke. Okelah cekidot!! Sorry for typos if were presents and HAPPY READING!!😀

Recommended song : T-ARA feat Davichi – We Were In Love   ;   Cakra Khan – Harus terpisah  

***

Inilah kehidupan ku. Kehidupan yang serba berkecukupan tapi selalu membuat ku merasakan sakit. Dan rasa sakit itu kini bertambah dengan harus merelakan lelaki itu pergi dari sisi ku selamanya. Kembali mengalah dengan dirinya. Haruskah aku pergi untuk mengurangi rasa sakit ini? Inilah kehidupan ku pada akhirrnya dan ini juga pilihan ku.

-Nam Ryu Hwa- 

***

-Nam Ryu Hwa POV-

Terlahir di keluarga berada bukanlah hal yang segala-galanya bagi ku. Aku bahkan berharap lahir di keluarga yang sederhana tapi berkecukupan. Entah itu berkecukupan dalam hal materi dan juga berkecupan dalam hal kasih sayang. Aku bahkan iri dengan Choi Jae Ra, dia terlahir di keluarga sederhana yang harmonis dan pastinya penuh kasih sayang. Walaupun hidup dengan keadaan yang pas-pasan tak membuat dirinya kekurangan banyak kasih sayang. Malah ia berlebih kasih sayang. Dan aku, kalian bisa melihat sendiri kehidupan ku yang miris.

Kedua orang tua yang tinggal di Amerika hanya karena mementingkan bisnis mereka. Aku tinggal berdua dengan kakak perempuan ku di Korea, tanah kelahiran ku. Tapi kami tinggal di rumah yang berbeda. Aku tinggal di apartment yang dekat dengan kampus ku, KyungHee University. Sedangkan kakak ku tinggal di rumah keluarga di kawasan elite Gangnam. Seharusnya aku bersyukur dengan kondisi keluarga ku yang bisa dibilang berada. Tapi, entah kenapa timbul rasa tidak senang mengingat hal itu. Aku kekurangan kasih sayang dari kedua orang tua ku semenjak aku kecil.

Oh ya, perkenalkan nama ku Ryu Hwa, Nam Ryu Hwa. Aku mahasiswa semester akhir di Music And Art Faculty di KyungHee University seperti yang ku katakan tadi. Selain sebagai seorang mahasiswa, aku juga seorang panyanyi. Tapi, aku bukanlah seorang penyanyi prefesional yang sudah Go International ataupun penyanyi ngetop Nasional. Aku hanyalah seorang penyanyi cafe. Ya, aku hanya ingin menyalurkan bakat menyanyi ku. Tapi, aku berharap suatu hari nanti aku bisa menjadi seorang penyanyi prefesional. Selain itu, aku juga termasuk dalam club menari yang selalu pentas dimanapun kami mau. Aku senang dengan kehidupan ku yang bebas seperti ini. Tak seperti kehidupan ku yang dulu. Yang selalu dikekang.

Kedua orang tua ku tak menyukai bakat menyanyi dan juga menari ku. Setiap kali aku ketahuan mengikuti ekstrakulikuler yang berbau dengan kedua hal tersebut atau yang berbau dengan seni, dengan tegas mereka akan memaksa ku keluar. Mereka menginginkan ku menjadi penerus bisnis mereka nanti. Tapi, peraturan itu tak berlaku bagi kakak perempuan ku, Nam Seo Jin. Dia dengan bebas bisa memilih kegiatan apa saja yang menurutnya ia senangi. Dan aku harus memendam rasa iri ku terhadap kakak ku itu. Dia bahkan lebih diberi kasih sayang daripada diri ku. Tapi, semenjak aku kuliah dan tinggal terpisah dari mereka, hidup ku menjadi lebih bebas. Dan aku merasa lebih hidup dari pada saat aku duduk di bangku sekolah dasar, menengah pertama dan menengah akhir. Aku harus memendam rasa tertarik ku terhadap bidang seni dan yang berbau dengan itu.

Tapi, kenapa aku bisa bersekolah di Fakultas Musik dan Seni? Waktu itu aku berencana bunuh diri kalau mereka tak mengabulkan permintaan ku yang ini. Aku menangis dan memohon kepada mereka berdua, bahkan aku sampai harus berlutut. Dan mereka sama sekali dengan tegasnya tetap menolaknya dan memaksa ku menyelesaikan sekolah ku di Amerika yang pastinya akan masuk Fakultas Bisnis. Aku yang saat itu sudah menyiapkan semuanya, termasuk pisau yang akan ku gunakan apabila permintaan ku tak dikabulkan. Dan tepat saat aku mengancam akan memotong sendiri urat nadi ku, datanglah kakak ku. Dia meminta orang tua ku mengabulkan permintaan ku. Dan apa, setelah kakak ku mengucapkan permohonanan itu. Tak lama kemudian kedua orang tua ku mengizinkan ku dengan syarat aku akan tetap melanjutkan bisnis kedua orang tua ku. Kejam, memang. Tapi itulah kehidupan ku. Dan lagi-lagi, saat itu, saat kakak ku mengucapkan permohonan, orang tua ku lagi-lagi mengabulkannya dan membuat ku bertambah iri.

“Ryu Hwa-ya, hari ini kau akan menyanyi lagi?” Tanya Jae Ra, teman sekaligus roomate ku selama aku tinggal di apartment ini. Akulah yang memintanya untuk tinggal di apartment ku ini. Bukan karena apa-apa. Hanya saja, aku akan sangat bosan dengan tinggal sendiri di apartment yang sangat luas ini.

Ne, waeyo?” Tanya ku sambil tetap mempersiapkan diri ku.

Igeo, tadi suruhan keluarga mu memberikan ku ini.” Katanya dengan ragu sambil menyodorkan kepada ku sebuah benda yang lebih bisa dibilang sebuah undangan pernikahan. Ketika aku menerimanya, mataku terbelalak kaget. Benar ini sebuah undangan pernikahan. Tapi, bukan undangan yang membuat ku kaget. Tapi, nama yang tercetak diundanganlah yang membuat ku kaget juga membuat detak jantung ku berdetak tak beraturan.

KIM KI BUM & NAM SEO JIN  

Demi apapun itu, aku tak percaya. Namja chingu ku akan menikah dengan kakak perempuan ku sendiri. Tapi aku ingat, aku tak pantas lagi menyebut Ki Bum oppa sebagai namja chingu ku, karena tepat tiga hari yang lalu ia meminta ku putus dengan alasan yang menurut ku ta masuk akal. “Ini demi kebaikan kita berdua, Hwa-ya. Terlebih ini untuk kebaikan dirimu. Tapi, ketika semuanya berakhir. Kita akan bersama lagi. Percayalah.” Begitulah jawabannya saat aku menanyakan alasannya mengapa ia meminta putus.

Aku sempat tak percaya jika Kim Ki Bum yang tercantum di undangan ini adalah Kim Ki Bum mantan pacar ku. Tapi, setelah ku lihat alamat dan juga nama kedua orang tuanya, membuat ku kembali harus menelan ludah ku dengan sangat berat. Benar, ini adalah Kim Ki Bum mantan pacar ku. Dan kepercayaan ku, dipertegas dengan foto pre wedding kakak ku dengan Ki Bum oppa. Ini benar-benar gila. Belum genap seminggu kami berdua putus. Dan aku harus dikejutkan dengan undangan sialan ini. Dan aku yakin ini pasti ulah kedua orang tua ku. Oh God, kegilaan apa lagi yang dibuat kedua orang tua ku terhadap ku?

Gwaenchana?” Tanya Jae Ra dengan khawatir kepada ku.

NanNan gwaenchanayo.” Kata ku dengan kesusahan mengatur degup jantung ku. Aku benar-benar tak percaya. Dan ini, ini sangat menyakitkan untuk ku.

“Aku tahu perasaan mu, Hwa-ya. Menangislah, kalau itu membuat mu menjadi lebih enakan.” Katanya sambil memeluk ku. Dan akhirnya, pertahanan ku jebol juga. Aku menangis terisak. Melampiaskan rasa sakit yang ku rasakan ini. Hati ku sakit. Belum hilang rasa sakit akibat diputuskan, ditambah dengan kabar bahwa kakak ku sendiri akan menikahi mantan pacar ku dalam waktu kurang lebih satu bulan nanti. Hal itu membuat ku, benar-benar ingin segera enyah dari muka bumi ini. Ini menyakitkan.

“Ra-ya, appo. Hiks hiks hiks. Di sini. Hiks. Di sini sangat sakit. Hiks hiks hiks.” Tangis ku. Jae Ra hanya mengelus-elus punggung ku. Menyalurkan sedikit kekuatan untuk ku sekarang. Bahkan setelah aku menerima undangan itu, aku tak mempedulikan kegiatan menyanyi ku di cafe.

“Aku ada di sini bersama mu, Hwa-ya. Kita teman. Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan.” Katanya berusaha menghibur ku. Aku kembali terisak. Merasahan perih di dada ku.

“Tapi. Hiks hiks hiks. Ini sangat menyakitkan. Hati ku perih. Hiks hiks hiks.” Aku hanya bisa menangis dan menangis. Aku merasakan lagi sakit yang tida hari lalu ku rasakan. Tapi, ini berbeda. Rasa sakitnya bahkan melebihi rasa sakit itu.

“Tenanglah. Tenangkanlah diri mu, eo? Hari ini kau tak usah menyanyi, biarkan aku yang menggantikan mu. Kau istirahatlah dan tenangkanlah hati dan juga pikiran mu. Semuanya akan baik-baik saja.” Kata Jae Ra sambil melepaskan pelukan ku. Aku hanya bisa mengangguk dan pasrah dengan ucapan Jae Ra. Karena saat ini otak ku benar-benar buntu. Aku tak bisa lagi berpikir dengan realistis dan normal lagi. Semua kegilaan ini membuatku benar-benar gila. Dan mungkin perlahan-lahan membuat ku akan segera enyah dari dunia yang fana ini.

***

                Dua hari semenjak kejadian itu, aku tak masuk kuliah, tak bekerja, dan tak mengikuti jadwal rutin di club. Dan hari ini, aku memutuskan untuk masuk. Aku akan melupakan semua keterpurukan ku selama dua hari ini. Aku tak mau terlihat lemah dihadapan siapapun. Aku tak ingin hanya gara-gara cinta hidup ku hancur, semua yang ku cita-citakan hilang. Aku akan membuktikan kepada siapa saja, terlebih keluarga ku, bahwa aku bukanlah seorang anak kecil yang selalu menurut terhadap omongan mereka. Aku akan membuktikan kepada kakak ku sendiri, kalau aku bukanlah adik kecilnya lagi, yang dengan mudahnya bisa mengalah terhadap semua keinginannya. Aku harus bangkit mulai hari ini.

“Hwa-ya, kau akan kuliah?” Tanya Jae Ra dengan wajah khawatir miliknya.

Ne, sudah saatnya aku bangkit, Ra-ya. Aku tak mau lagi terpuruk. Aku tak mau dipandang remeh oleh keluarga ku.” Kata ku dengan berapi-api.

“Baguslah. Aku akan mendukung mu dan selalu mendukung mu. Hwaiting!” Katanya sambil tersenyum. Aku hanya mengangguk dan ikut tersenyum. Beruntung aku memiliki teman seperti dirinya. Semenjak aku mengenal Jae Ra, aku bisa merasakan keharmonisan sebuah keluarga sederhana yang selama ini aku impi-impikan. Keluarga Choi juga menerima ku dengan apa adanya.

“Kau tak kuliah?” Tanya ku.

Ne, ini juga mau berangkat. Cha, kita berangkat bersama.” Katanya.

Ne, kaja.” Kata ku sambil tersenyum sumringah.

***

                “Hwa-ya.” Teriak seseorang memanggil ku. “YAKK!! NAM RYU HWA!!” Teriaknya lagi. Ku tolehkan kepala ku dan ku dapati kakak ku yang sedang berlari ke arah ku dengan menggandeng seorang lelaki. Dan aku mengenal lelaki yang sedang digandeng kakak ku itu. Ya, lelaki itu calon suami kakak ku. Ingat CALON SUAMI. Dan aku, aku sungguh tak rela dengan fakta yang baru saja ku ucapkan.

Eonni? Apa yang kau lakukan di kampus ku?” Tanya ku dengan suara yang agak kasar. Siapapun yang ada di posisi ku juga pasti akan melakukan hal yang sama, bukan? Dan itu yang aku lakukan sekarang. Sekali lagi, aku tak mau dipandang remeh oleh kakak ku.

“YAKK!! Ada apa dengan diri mu? Kenapa kau ketus sekali pagi ini? Kau tak suka eonni mu ini mengunjungi deongsengnya, heum?” Katanya dengan muka yang seperti dimanis-maniskan. Dulu, kalau kakak ku melakukan hal itu, aku akan tersenyum atau akan mengejeknya dengan nada bercanda. Tapi sekarang, aku sedikit muak dengan muka itu.

Aniyo, bukan begitu, hanya saja mood ku pagi ini agak sedikit jelek.” Ku lirik sedikit lelaki di samping kakak ku, yang tak lain tak bukan mantan ku dan calon kakak ku. Dia hanya membuang mukanya ke arah lain tak peduli dengan pembicaraan ini. “Eonni, nugunji?” Tanya ku berpura-pura tak tahu.

“Kau tak mengenalnya, Hwa-ya. Ah, bukankah kalian berada dalam satu kampus?” Kata kakak ku.

Ani, aku sama sekali tak mengenal namja di samping mu, eonni-ya. Ku pikir dia berada di fakultas yang berbeda dengan ku.” Kata ku. Dan memang benar, aku dan Ki Bum oppa berada di fakultas yang berbeda. Dia berada di Fakultas Kedokteran kampus ini.

“Ah, gereu, kenalkan, ini Kim Ki Bum calon suami ku. Kau sudah menerima undangannya kemarin kan?” Katanya. “Dan oppa, ini adik ku yang ku ceritakan, ini Nam Ryu Hwa.” Katanya sambil bergelayut manja di lengan Ki Bum oppa. Oksigen, aku butuh oksigen sekarang juga. Dan lagi, ke mana Jae Ra? Katanya hanya pergi ke kamar mandi, kenapa lama sekali? Aish, aku membutuhkan keberadaannya saat ini.

“Ah ne, Anyeong Ki Bum-ssi, naneun Nam Ryu Hwa imnida. Bangapseumnida.” Kata ku sambil membungkuk kan badan dan mengulurkan tangan ku.

Anyeong, Kim Ki Bum imnida.” Katanya singkat jelas padat sambil menjabat tangan ku dan lengkap dengan muka datarnya.

“Dan kedatangan ku kali ini, selain menjenguk keadaan adik kecil ku ini, eonni juga meminta kepada mu untuk kembali ke rumah seminggu sebelum pernikahan eonni. Kau bisa?” Tanya kakak ku.

“Emm, aku usahakan eonni. Eonni sendirikan tahu, tugas seorang mahasiswa tidaklah menentu. Apalagi, mahasiswa seni seperti ku ini. Akan ku usahakan, eonni.” Kata ku. “Emm, kalau begitu, aku harus bergegas sekarang, eonni. Kuliah ku di mulai seperempat jam lagi. Kau bisa mampir ke apartment ku nanti.”

“Ah begitukah? Baiklah, eonni juga harus mengurusi pernikahan eonni. Usahakan, ne? Eonni membutuhkan mu di tanggal-tanggal itu.” Ujarnya. “Kami pergi, Hwa-ya. Jaga diri mu baik-baik, ne? Anyeong.” Mereka berdua langsung berjalan meninggalkan diri ku yang sampai sekarang tak bisa menggerakkan seluruh badan ku. Entah kenapa, melihat kedua punggung itu menjauh, terlebih punggung lelaki itu, membuat ku sakit lagi.

“Hwa-ya, kau harus ingat janji mu. Kau harus berubah. Hwaiting!” Kata ku lirih menyemangati diri ku sendiri.

***

                “Ra-ya, eottokhe?” Tanya ku padanya. Sejak kemarin malam, Seo Jin eonni menelepon ku, menanyakan apakah aku akan segera pulang atau tidak. Aku bingung. Jujur, aku masih belum bisa melepas lelaki itu dengan segenap hati ku. Aku masih sangat mencintai dirinya.

“Aku juga bingung. Tapi, sebaiknya kau pulang besok.”

“Tapi, aku takut. Aku takut, aku akan kehilangan kewarasan ku saat bertemu dirinya lagi. Aku belum siap.” Kata ku.

“Hey, mana Nam Ryu Hwa yang selama ini ku kenal? Dan bukankah kau akan melupakan namja itu.” Ujarnya berusaha menyemangati ku.

“Tap—ah baiklah. Besok aku akan pulang, tapi kau harus ikut bersama ku.” Kata ku pada akhirnya.

“Tapi, apakah boleh?” Tanyanya sedikit ragu.

“Kau juga dapat undangan konyol itu kan? Jadi, tak ada masalah jika kau pergi besok bersama ku. Lagian kau juga teman ku, eonni ku pasti akan menerimanya.” Kata ku.

“Baiklah. Besok kita berangkat bersama.” Katanya akhirnya.

Seminggu lagi, pernikahan itu akan dilangsungkan. Dan tadi siang, ah ani, sejak kemarin, kakak ‘kesayangan’ ku menelepon ku dan memberi tahu ku bahwa saat perhelatan akbarnya melepas masa lajang, aku didaulat menjadi pemeriah dengan menyumbangkan suara ku di acara resepsi nanti. Dan jika aku dapat memberikan yang terbaik hari itu, kedua orang tua ku tak akan lagi mengganggu impian ku dan memperbolehkan ku mencapainya. Tapi persetanan dengan impian ku, aku bahkan berharap di hari itu, aku hanya duduk di bangku paling belakang yang artinya aku tak perlu menyaksikan kemesraan mereka berdua. Atau bahkan pada saat resepsi, aku menghilang di kerumuan tamu undangan. Tapi, aish, aku malah harus mengisi acara laknat itu. Tapi aku akan menunjukan kalau aku bukanlah seorang anak kecil yang akan selalu patuh dan tunduk dengan perintah kepada perintah orang yang lebih tua dari ku.

***

                Sehari setelah aku tiba kembali di rumah ‘mewah’ keluarga ku ini, aku langsung di tugaskan untuk ikut mempersiapkan pernikahan kakak tunggal ku ini. Tadi pagi, saat aku masih bermalas-malas di kasur yang sangat ku rindukan, Jae Ra membangunkan ku, memberi tahu bahwa aku di panggil kedua orang tua ku dan pastinya kakak ‘kesayangan’ ku itu.

“Hwa-ya, hari ini kau mau kan membantu, eonni?” Kata Seo Jin eonni sesampainya aku di ruang keluarga. Di sana terlihat appa dan eomma, Jae Ra, dan Ki Bum oppa. Lengkap sudah.

Ne, apa yang harus ku bantu?” Kata ku dengan malasnya.

“Hari ini kau temani, Bumie oppa fitting gaun pengantin kami berdua. Eonni masih harus mengurusi masalah gedung dan segalanya bersama teman mu, Jae Ra. Dia kan pintar tentang design interior seperti yang kau ceritakan kepada eonni. Sedangkan eomma dan appa akan men-check cross semua persiapan, mulai dari konsumsi dan yang lainnya.” Jelas Seo Jin eonni. Apa aku tak salah dengar? Pergi berdua dengan Ki Bum oppa? Mau jadi apa nantinya aku?

“Tapi, eon, harusnya kau sendiri yang ikut fitting gaun pengantin mu. Biarkan aku dan Jae Ra yang mengurusi masalah gedungnya.” Kata ku berusaha menolak. Yang benar saja, pergi berdua dengan Ki Bum oppa. Ingat BERDUA, hanya BERDUA.

“Ayolah, ini sudah eonni rencanakan jauh-jauh hari. Lagian, badan mu dan badan eonni tak jauh beda. Ayolah, saengi.” Kata Seo Jin eonni memohon.

“Turuti saja, kata kakak mu, Hwa-ya. Kau ini hanya diminta begitu saja tak mau.” Kata appa dengan tegasnya. Tuh kan, mereka sudah mulai membela kakak ‘kesayangan’ ku ini.

“Baiklah.” Jawab ku dengan nada kesal bercampur ketus. Malas berdebat dengan kedua orang tua ku. Bukannya aku tak mempunyai rasa hormat dan tata krama, hanya saja jika sudah menyangkut urusan kakak ku itu, mereka akan membela Seo Jin eonni dengan mati-mati. Dan akan menjadi perdebatan panjang yang pada akhirnya nanti yang hanya bisa ku lakukan hanyalah mengalah dan mematuhi.

***

                Sampailai aku di sini, sebuah boutique terkenal di Seoul. Kami ‘berdua’ di sambut dengan sangat ramah oleh karyawan boutique yang baru-baru ini ku ketahui pemiliknya adalah teman ku sewaktu aku duduk di sekolah menengah pertama, Jung Ji Min.

“Oh, Ki Bum-ssi, ke mana calon istri anda?” Tanya Ji Min ketika kami memasuki ruangan kerjanya.

“Ah, igeo, dia sedang mengurusi gedung pernikahan.” Kata Ki Bum oppa dengan senyumannya.

“Ah, jadi begitu, lalu ini siapa? Dan sebentar, sepertinya aku mengenal anda, nona.” Kata Ji Min sambil berpikir. Aigoo, masa dia melupakan ku sebagai teman sebangkunya.

“Ini calon adik ipar ku.” Kata Ki Bum oppa dengan sangat singkat jelas padat dan juga sedikit melukai hati ku. Oke, jaga emosi mu, Nam Ryu Hwa.

Aigoo, nona Jung yang terhormat, kau lupa dengan diri ku ini, heum?” Kata ku dengan nada mengejek dicampur nada kesal.

“Kau… Kau mirip dengan teman ku Nam Ryu Hwa. Kau Ryu Hwa.” Katanya dengan nada terkejut setelah mengetahui siapa diri ku ini.

Aniyo, aku kembaran Nam Ryu Hwa. Ya iyalah, aku Nam Ryu Hwa, lalu siapa lagi, Ji Min-ah.” Kata ku.

Omo, benarkah itu diri mu? Aku sangat merindukan mu, Hwa-ya.” Katanya lalu beranjak dari kursinya lalu memeluk ku dengan sangat erat. “Tak ku sangka bisa bertemu dengan mu lagi, Hwa-ya. Dunia ini sungguh sempit.” Ujarnya sambil melepas pelukannya.

“Aku juga tak menyangka, Min-ah. Dunia ini sangatlah sempit.” Ujar ku sambil tersenyum hangat ke arahnya. Dan dunia ini terlalu sempit, sampai-sampai calon suami kakak ku adalah mantan pacar ku sendiri yang baru saja putus. Lanjut ku dalam hati.

“Kalau begitu, mari kita mulai fitting gaun dan tuxedo yang kau pesan dulu, Ki Bum-ssi.” Katanya kembali profesional. “Sebenarnya masih banyak yang ingin ku tanyakan pada mu, Hwa-ya. Yah, berhubung kau adik dari konsumen ku jadi harus ku tahan niatan itu.” Katanya sambil mendengus kesal. Ki Bum oppa telah perjalan beberapa langkah di depan ku dan Ji Min.

“Kapan-kapan kan juga bisa, Min-ah.” Kata ku sambil terkekeh. Sifatnya semenjak dulu tak pernah berubah sedikit pun. Banyak bicara.

Cha, berhubung calon pengantin wanitanya tak ada, jadi kau yang harus mencobanya, Hwa-ya. Badan mu dan badan kakak mu tak beda jauh.” Kata Ji Min sambil menggiring ku masuk ke sebuah ruang dibalik tirai untuk di dandani dan pastinya mencoba gaun pengantin kakak ku. Sedangkan Ki Bum oppa masuk ke ruangan dibalik tirai di sebelai tirai ku untuk mencoba tuxedo nya. Aku meringis menahan sakit lagi. Entah kenapa memikirkan, bukan aku yang akan mengenakan gaun indah ini di pernikahan nanti bersama Ki Bum oppa melainkan kakak ku, membuat ku sakit lagi.

***

                Kini aku tengah mengenakan gaun lengkap dengan tudungnya. Dan sekarang aku sedang di make up. Yah, walaupun hanya make up natural. Aku tahu, gaun ini sangatlah mahal dan pastinya hanya ada satu di Korea maupun di dunia. Lihat saja. Gaun dengan ekor sepanjang kurang lebih dua meter ini terbuat dari kain sutra alami yang halus yang bisa di rasakan siapa saja yang memakai gaun megah ini. Dan pada bagian atas di buat seperti kemben yang sangat pas. Dan pada bagian dadanya bertabur banyak berlian murni, terlihat jelas saat aku mengamatinya. Dan pada bagian punggung, dibiarkan terbuka setengah, sehingga memperlihatkan punggung putih polos ku. Di tambah tudung kepala yang menjuntai jatuh di punggung ku, sehingga sedikit menutupi punggung polos ku. Tudung ini terbuat dari benang surai yang sangat halus seratnya, sehingga tak akan melukai siapapun yang akan memakainya. Dan di kepala ku, terdapat sebuah mahkota kecil nan indah yang terbuat dari emas putih murni yang memperindah siapapun yang memakainya. Oh ya, tak lupa sarung tangan sebatas siku yang sangat pas dan cocok dengan gaun ini. Perfect. Siapapun yang melihat gaun ini akan menggumamkan kata-kata itu. Dan satu lagi, high heels yang kini ku kenakan sungguh sangat menawan. Putih ditabur dengan berlian murni yang terlihat berkilau.

Aku sudah selesai dimake up. Aku berpaling menuju cermin besar yang sengaja di tempatkan di ruangan itu. Ku lihat pantulan diri ku sendiri. Sungguh, ini seperti bukan diri ku. Aku terlihat sangat cantik dan juga sangat mempesona dicermin itu. Rumbut ku yang sengaja digelung menambah kesan mempesona kepada ku. Aku bahkan tak sanggup berkata-kata dengan diri ku sekarang. Sungguh sangat berbeda.

Yeppo, neomu yeppo, Hwa-ya. Pasti orang yang menjadi pacar mu akan menjadi orang yang paling beruntung bisa memiliki orang yang sangat cantik dan menawan seperti diri mu.” Puji Ji Min kepada ku. Sedangkan aku hanya tersenyum miris mendengar penuturan teman ku ini.

Ne, dan sayangnya tak ada orang yang tertarik kepada ku. Baru saja aku putus dengan namja ku.” Kata ku dengan tersenyum miris.

“Hanya namja tolol yang akan memutuskan mu, Hwa-ya. Percayalah kau pasti akan menemukan yang terbaik dari pada namja mu yang dulu itu.” Katanya sambil menyemangati ku. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.

Dan tak lama setelah perbincangan singkat dengan Ji Min, tirai dibuka. Dan dari tempat ku berdiri sekarang, bisa ku lihat seorang namja yang dengan gagah dan tampannya berdiri sembari mengenakan sebuah tuxedo warna hitam yang serasi dengan gaun yang sekarang ini ku kenakan. Aku kembali menelan ludah dengan sangat berat. Dia benar-benar terlihat tampan menggunakan tuxedo yang sayangnya akan ia kenakan bukan saat pesta pernikahan ku dengan dirinya. Melainkan dirinya dengan kakak kandung ku sendiri.

Dapat ku lihat jelas diwajahnya, ia seperti tak percaya dengan dandananku yang sekarang. Aku tak mau kepedean, tapi ia sangat terpukau dengan semua yang melekat pada diri ku saat ini. Dan, ia kini bergerak maju, melangkah menuju tempat ku berada. Aku tak tahu apa maksudnya kali ini. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Dan akhirnya kini ia tiba tepat dihadapan ku.

Yeppo.” Gumamnya. Walaupun begitu aku masih dapat mendengar jelas. Tanganya terangkat dan ia berhenti tepat berhenti di kedua pipi ku. Mengelus pelan pipi sebelah kanan ku. Dan aku? Aku dengan bodohnya hanya terpukau kaku dengan perlakukan yang ia lakukan. Ia mendekatkan wajahnya ke arah ku. Jarak wajah ku dengannya tinggal dua senti. Dapat ku rasakan hembusan nafasnya. Ia memiringkan wajahnya dan CUP. Bibir tebalnya berhasil mendarat tepat di bibir ku. Ku rasakan ia mulai melumat bibir ku. Dan aku lagi-lagi tak dapat melakukan apapun. Hanya diam kaku dengan apa yang ia lakukan. Ini gila. Ini tak bisa dibiarkan. Dia calon suami kakak ku. Aku tak boleh melakukan hal ini. Dan setelah kesadaran ku pulih, dengan segenap tenaga ku, ku dorong tubuhnya hingga ia terjengkang ke belakang dan setelah itu PLAKK.

“Kurang ajar kau. Aku calon adik ipar mu. Tak seharusnya kau melakukan hal itu kepada ku. Aku bukan kakak ku, sadarlah Ki Bum-ssi.” Kata ku dengan terisak. Aku merasakan sakit saat diperlakukan layaknya akulah calon pengantinya tapi nyatanya bukan aku. Aku merasakan sakit ketika ia pasti mengira ku adalah kakak ku.

“Mi—Mianhae… Aku sungguh tak—“ Sebelum selesai ia mengucapkan kelanjutan kalimatnya ketika tirai mulai tertutup. Ji Min menarik ku ke dalam pelukannya karena ia tahu bahwa aku pasti sangatlah terpukul dengan kejadian barusan.

“Sudahlah, tenangkan dirimu. Ki Bum-ssi pasti tak sengaja melakukan hal itu. Ia pasti sangat terpukau dengan kecantikan alami mu sampai tak mengetahui bahwa kau bukanlah kakak mu.” Katanya sambil menepuk-nepuk punggung polos ku. Ia segera menyuruh karyawanya untuk segera melepas segala pernak-pernik yang ada di tubuh ku.

***

                Kini aku tengah berada di mobil Ki Bum oppa, perjalanan menuju rumah. Semenjak kejadian tadi keadaan yang tadinya sudah sangat canggung bertambah semakin canggung dan kaku. Ia sibuk mengemudikan mobilnya sedangkan aku tengah tenggelam dengan pemandangan kota Seoul. Sedari tadi aku terus-menerus melihat ke arah luar mobil, melihat jalanan kota Seoul yang tak pernah sepi.

“Arggghhh.” Ku dengar ia mengerang pelan sambil memukul keras stir mobilnya yang sama sekali tak ku pedulikan. Ia kemudian menepikan mobilnya. Dan dengan tanpa sepengetahuan ku, ia langsung menarik ku masuk menuju pelukan hangatnya.

“YAKK!! Apa yang kau lakukan, Ki Bum-ssi. Lepaskan aku.” Bentak ku dengan sangat keras. Ku pukuli juga dada bidangnya. Perlakukanya yang seperti ini hanya akan menambah luka yang sudah menganga dengan lebar dihati ku.

“Aku tahu, kau pasti tak rela dengan pernikahan ini, begitupun aku. Aku juga tak rela dengan pernikahan ini, Hwa-ya. Aku juga marasakan sakit seperti yang kau rasakan.” Ia mulai bercerita. Dan pukulan juga berontakan ku di dadanya berkurang. Aku mulai mendengar penuturannya.

“Tapi, apa yang bisa ku lakukan? Dia sangat menginginkan diri ku, dia sangat mencintai ku. Aku tak mungkin tega melihat teman dan sahabat kecil ku terluka dengan menolaknya. Tapi, aku juga tak mau membuat adiknya sekaligus yoeja ku sakit. Tapi, bisa apa aku? Ketika ancaman itu dilontarkan, aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku tak mau impian yoeja ku pupus hanya karena aku harus menolak kakaknya.” Katanya. Hati ku mencelos. Air mata ku meluncur dengan derasnya tanpa menunggu perintah ku.

Mianhae, tapi kita bisa mengulang dari awal. Kita akan pergi dari tempat terkutuk ini dan hidup berdua bersama mu dengan tanpa mengorbankan impian mu, Hwa-ya.” Katanya sambil terus mengusap rambut sepunggung ku. Ku lepas secara paksa pelukanya.

“Kau gila? Bahkan hal itu sama sekali tak menyelesaikan masalah, Ki Bum-ssi.” Tukas ku dengan mata berkaca-kaca.

“Tapi, aku ingin hidup berdua dengan mu. Menempuh kehidupan yang sempurna bersama diri mu. Hanya berdua dengan mu dan tak akan ada yang akan menganggunya. Aku mohon.” Katanya yang juga mengeluarkan air matanya.

“Tapi, kau sudah melangkah terlalu jauh, oppa. Kau hanya akan melukai hati kakak ku, jika kau melakukan hal bodoh itu.” Kata ku dengan air mata yang tak kunjung mengering.

“Persetanan dengan dirinya. Aku sama sekali tak mencintainya. Aku hanya mencintai dirimu, Hwa-ya.” Katanya dengan air mata.

“Sudah ku bilang, itu hanya akan memperkeruh masalah, oppa. Kau tak bisa dengan sekenaknya lari dari masalah. Kau akan melukai dua hati wanita sekaligus. Kau akan melukai ku, kerana sikap pengecut mu dan sikap mu yang membuat kakak ku terluka. Dan yang pasti, kau akan melukai hati Seo Jin eonni yang tulus mencintai mu, oppa.” Kata ku.

“Tapi bagaimana dengan diri mu? Jangan hanya pikirkan perasaan orang lain, pikirkan juga perasaan mu. Aku tahu semua sikap kasar keluarga mu terhadap diri mu. Aku ingin kau membuktikan pada mareka, bahwa kau bisa memiliki apa yang seharusnya kau miliki.” Kata Ki Bum oppa dengan nada marah.

“Tapi, bukan begini caranya, oppa.” Kata ku yang tambah terisak.

“Lalu dengan cara apa, Hwa-ya? Hati ku di sini juga sakit melihat mu seperti ini. Melihat mu, lagi-lagi harus mengalah dengan kakak mu itu. Harusnya ia yang harus mengalah.” Ujar Ki Bum oppa dengan berapi-api.

“Dengan cara kau menikahi dirinya, menikahi kakak ku. Itu yang akan membuktikan pada mereka bahwa aku tak selemah seperti yang mereka kira.” Kata ku.

“Kau bodoh atau bagaimana? Mana bisa dengan cara sekonyol itu. Itu hanya akan membuktikan bahwa kakak mu lah yang selamanya berkuasa sedangkan diri mu akan selamanya mengalah dan menyerahkan segala yang kau punya kepada dirinya.” Kata Ki Bum oppa.

“Nikahi dia, oppa. Ku mohon jika benar-benar mencintai ku.” Kata ku pada akhirnya.

“Kau sungguh keras kepala, Hwa-ya. Jika ku bilang tidak yang tidak.” Katanya tetap pada pendirianya.

“Nikahi dia dan lupakan diri ku.” Ucap ku final. Terdengar sangat menyakitkan, tapi aku harus mengucapkan kalimat itu.

“Baiklah, jika itu mau mu. Aku akan menikahinya.” Katanya dengan nada yang terdengar sangat marah. Aku hanya tersenyum miris dengan kalimat yang baru saja ia ucapkan. Sakit rasanya. Tapi, apa mau dikata inilah yang ku inginkan. Walaupun aku harus mengalah dengan kakak ku untuk yang kesekian kalinya.

Ne, oppa, gomawo telah menuruti ucapan ku. Bahagiakan kakak ku. Bangunlah sebuah keluarga kecil yang harmonis dengan anak-anak kalian kelak. Aku akan turut bahagia jika mendengar hal itu. Dan mungkin, setelah ini aku akan melupakan mu. Melupakan mu sebagai mantan ku dan aku akan mengisinya dengan sebuah ingatan bahwa kau adalah seorang kakak ipar ku yang selalu mengayomi keluarga kecilnya. Anyeong, Kim Ki Bum oppa, aku harus pergi.” Setelah mengucapkan serentetan kalimat yang membuat ku sendiri sakit, aku lantas keluar dari mobilnya. Meninggalkan dirinya yang juga terisak menangis dengan luapan emosinya yang menggebu.

Ku langkahkan kaki ku berlawanan arah dengan arah mobilnya. Aku tetap berjalan dengan beruraian air mata. Tak peduli lagi dengan kata orang yang mengatai ku gila. Aku tak peduli. Ku tengokan wajah ku arah mobilnya. Ku lihat mobil itu mulai pergi. Aku hanya tersenyum miris. Inilah yang ku inginkan. Jadi, aku harus menerimanya dengan berlapang dada.

***

                Hari tengah berganti menjadi malam. Tapi tak ku pedulikan dengan itu. Dinginnya semilir angin malam tak ku hiraukan, aku tetap melangkah dikegelapan malam yang ditemani sang rembulan yang bersinar sangat terang malam hari ini. Berbeda dengan suasanan hati ku yang mendung.

Tibalah aku di sini, sebuah gereja. Aku tak tahu kenapa aku melangkah menuju gereja ini. Tapi, ku yakin Tuhan yang membimbing ku menuju gereja ini. Aku benar-benar membutuhkan seseorang yang tepat untuk mendengarkan keluhan ku. Dan, Tuhanlah yang pantas untuk itu. Aku ingin berdoa dihadirat-Nya. Menyampaikan keluh kesah ku selama ini. Perlahan tapi pasti ku langkahkan kaki ku memasuki tempat suci ini. Ku dudukan badan ku yang entah kenapa menjadi sangat lemah ini di salah satu bangku yang tersedia.

Mulai ku pejamkan kedua mata ku yang tetap memerah karena tangisan ku tadi. Ku telungkupkan kedua tangan ku tepat di depan dada ku.

“Tuhan, jika memang ini yang kau takdirkan kepada ku, aku akan menerimanya dengan hati lapang ku. Tapi, Tuhan, kenapa rasanya sakit seperti ini? Aku masih belum siap melepas namja itu dari sisi ku. Aku masih belum rela jika ia akan menjadi suami dari kakak ku, Tuhan.” Ucap ku lirih. Entah kenapa air mata yang tadi sempat mengering kini mulai mengalir lagi.

“Tuhan, lapangkanlah hati ku untuk menerima suratan takdir Mu. Berilah aku sedikit petunjuk Mu untuk menghadapi kehidupan ini, Tuhan. Tuhan, ku pasrahkan dan ku serahkan diri ku pada Mu, Tuhan. Karena ku tahu, Kaulah yang mengetahuai segala keluh kesah, hambaMu yang hina seperti ku ini, Tuhan. Tuhan, kuatkanlah diri ku ini. Jangan biarkan air mata ku ini mengotori hari suci kedua insan yang memang telah menjadi jodoh di suratan Mu. Biarkan mereka bahagia. Aku rela, aku rela melepas Ki Bum oppa, demi kakak ku sendiri, Tuhan. Jadikanlah mereka sepasang suami-istri yang saling mencintai, saling mengayomi, saling melindungi satu sama lain dan dapat melahirkan keturunan mereka.” Ku remas dada ku. Menetralisir rasa sakit yang entah kenapa malah bertambah sakit.

“Tuhan, hanya itu yang dapat ku ungkapkan. Aku percaya kepada semua kuasa Mu. Dan aku akan menerimanya dengan lapang. Amien.” Ku akhiri doa ku dengan mengusap kedua pipi ku. Mengahapus jejak air mata yang kembali mengalir. Aku mulai beranjak dari tempat ku. Ku langkahkan kaki ku keluar dari gereja ini. Setelah mengungkap kepada Nya, hati ku menjadi sedikit ringan.

***

                Ku langkahkan kaki ku perlahan memasuki rumah megah ini. Aku sungguh malas memasuki rumah ini. Rumah yang tak pernah membawa kenangan baik selama 18 tahun aku hidup di dunia yang fana ini. Rumah yang selalu memberi ku sebuah luka hati. Aku yakin, penampilan ku saat ini sungguh seperti tuna wisma di luaran sana. Rambut yang tak tersisir dengan rapi alias acak-acakan. Muka dengan bekas air mata yang sungguh semrawut. Pakaian yang seharian ini ku pakai berkeliling kota Seoul tampak lusuh dan tak pantas lagi disebut sebagai pakaian.

“YAKK!! Dari mana saja kau nona NAM RYU HWA yang terhormat!!” Kata eomma ku dengan nada tingginya.

“Aku tak dari mana-mana, eomma-ya.” Kata ku dengan nada malas. Karena jujur, aku malas beradapan dengan kedua orang tua ku sekarang ini.

“Cihh~~ kalau kau tak ke mana-mana lalu kenapa kau pulang selarut ini, HAH? Kau pasti bertemu dengan teman-teman berandalan mu, yang kerjaannya nari tak jelas di pinggir jalan, iya kan?” Kata appa ku.

Ani dan jangan pernah bawa mereka di masalah ini. Mereka sama sekali tak salah apapun.” Kata ku yang mulai menaikan satu oktaf suara ku.

“Sudah mulai kurang ajar kau, nona muda?” Sindir appa ku.

“Aku tak peduli, appa.” Sepersekian detik setelah aku mengucapkan kata-kata menantang di hadapan appa ku. Dapat ku rasakan tangan kokohnya menampar keras pipi kanan ku. Dan aku yakin setelah ini pasti akan ada berkas merah di pipi ku ini. Dapat ku lihat dari ekor mata ku, seluruh orang di ruang ini, eomma, Seo Jin eonni, Ki Bum oppa, dan Jae Ra tercengang dengan perbuatan appa ku. Tak pernah appa ku bertindak sejauh ini sebelumnya kepada ku. Dan aku tak peduli. Aku sudah siap dengan apapun yang akan appa ku lakukan, termasuk hal sehina itu yang seharusnya tak perlu dilakukan orang terhormat seperti appa ku.

“Kembali ke kamar mu dan renungkan apa yang kau lakukan hari ini dan apa yang kau ucapkan hari ini.” Seru appa ku. Tak perlu diminta pun aku juga akan pergi meninggalkan tempat laknat ini.

***

                Inilah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh kakak tertua ku. Dan hari yang paling ku benci seumur hidup ku. Tapi, untuk hari ini aku akan mengeluarkan senyuman palsu ku yang manis seakan tak terjadi apa-apa. Bahkan semenjak targedi tamparan appa pada malam hari, pagi harinya aku tetap beraktivitas seperti biasa seperti tak pernah terjadi apa-apa.

Waktu itu aku dan Jae Ra yang tak dibutuhkan untuk persiapan pernikahan hanya berada di ruang dance yang ku minta sebelum aku masuk kuliah dengan pastinya bantuan Seo Jin eonni. Sepanjang hari aku berlatih dan berlatih. Mulai dari olah vocal sampai mencoba berbagai jenis gerakan baru dan mencoba berbagai jenis harmoni baru dengan piano. Semua itu ku lakukan hanya semata-mata untuk menghilangkan rasa sakit dan mengalihkan perhatian ku terhadap persiapan pernikahan yang semakin hari, semakin matang.

Dan kini waktu terkutuk itu datang. Seo Jin eonni kini mengenakan gaun yang sebelumnya pernah ku coba. Dia terlihat lebih menawan dengan gaun itu. Jauh lebih menawan dari ku. Dia cantik, sangat cantik. Pasangan serasi. Batin ku sedih.

Selagi ia memakai gaun pengantinya itu, hari ini memakai gaun putih gading sebatas paha yang memang sudah di design khusus untuk ku. Bagian pinggang dengan untaian payet dengan sedikit pita kecil dan bagian dada dengan taburan sedikit berlian kecil. Berbentuk kemben seperti milik Seo Jin eonni tapi pundak ku bagian atas di tutup dengan sebuah pakaian kecil seperti jaket. Aku mengenakan pita putih yang serasi dengan gaun ku yang berfungsi sebagai bandana untuk mengatur letak rambut lurus panjang ku. Kini aku sedang di make up, dan aku meminta di make up dengan natural.

Cha, Jin-ah, lihatlah diri mu, nak. Kau sungguh manawan dengan gaun itu. Kalian pasti akan menjadi pasangan yang paling serasi mungkin mengalahkan Romeo dan Juliet.” Sayup-sayup ku dengar pujian eomma kepada kakak ku itu. Tak ku pedulikan pujian itu. Untuk apa aku merasa iri, memang kenyataanya seperti itu, kakak ku memang lebih mempesona dari pada diri ku.

“Ah, eomma bisa saja. Eomma, aku gugup.” Kata Seo Jin eonni dengan manjanya.

“Ayolah, anak eomma yang paling cantik ini tak perlu merasakan hal memalukan itu. Kau pasti bisa, Jin-ah.” Kata eomma ku.

“Tenangkan diri mu, Hwa-ya. Kau juga terlihat cantik gaun itu. Walaupun sederhana tapi itu pas dengan karekter mu.” Kata Jae Ra dengan sangat rindik.

Gomawo.” Kata ku.

Cha, appa sudah menunggu mu di bawah. Kita akan memulai pemberkatanya setengah jam lagi.” Kata eomma ku.

“Sebentar eomma, aku harus berbicara dengan, Ryu Hwa dulu.” Kata Seo Jin eonni melangkah menuju arah ku dengan bantuan pembawa ekor, karena gaun itu sungguh berat. “Kau sudah siap, Hwa-ya?” Tanya eonni ku yang melangkah menuju arah ku.

“Ne, eonni, tapi high heels ku tak ada.” Kata ku. Aku memang sudah menyiapkan ini sebelumnya. Menyembunyikan high heels kesayangan ku sebagai alasan.

“Lalu? Kau bisa pakai high heels yang lain. Kau punya banyak kan?” Tanya eonni ku dengan wajah cemasnya. Aku sedikit tak tega jika harus menggagalkan pernikahan ini, jadi aku terpaksa melakukan hal ini. Pura-pura menghilangkan high heels kesayangan ku.

“Tapi, itu sudah ku persiapkan sejak dulu, eon. Lagian, hanya high heels itu yang cocok dengan gaun yang ku pakai hari ini.” Kata ku memelas.

“Aish, lalu bagaimana?” Tanya eonni yang mulai cemas. “Aku mau kau mengiringi ku ketika aku masuk ke gereja dan saat upacara nanti. Aku ingin kau mengiringi ku dengan alunan merdu piano dari mu.” Lanjut eonni.

Eonni, tenang dulu, sementara aku mencari high heels ku, biarkan Jae Ra yang mengiringinya untuk mu. Dia juga tak kalah jago dari ku, eon.”

“Tapi—“

“Ku mohon, eon. Dia juga hebat. Iyakan, Jae Ra?” Kata ku smabil melirik Jae Ra sekilas, memberikan kepadanya kode.

Ne, eon. Aku juga bisa bermain piano. Biarkan dia mencari high heelsnya dulu.” Kata Jae Ra berusaha meyakinkan eonni ku.

“Baiklah.” Kata eonni pada akhirnya. Eomma juga sepertinya tidak keberatan dengan keputusan kami. Dia bahkan terlihat biasa saja.

-To Be Continue-

Author:

Just an ordinary girl with an extraordinary. I'd rather die than live without any passions -JK-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s