Posted in brothership, Family, Friendship, Mini FF

Mini FF : I Must Leave Now! [Special Yesung Enlisment]

Author : JungJeHwan

Title : I Must Leave Now!!

Genre : Family, Brothership, Frendship

Cast :

Kim Jong Woon

All Super Junior member

You

Desclamaire : Anyeong!! Sungguh, saya tak kuat buat nulis mini FF ini, saya sungguh berat melepas kepergian seorang Kim Jong Woon. Okelah, let’s cekidot!! Happy reading!!😀

Recommended Sound : Chantal Kreviazuk – Leaving On A Jet Plane (Ost Armageddon)

***

Aku hanya pergi sebentar, tak akan lama. Aku berjanji. Jangan pernah lupakan diri ku ini. -Kim Jong Woon-

***

-Kim Jong Woon POV-

Besok, waktu ku benar-benar akan habis. Aku harus pergi menunaikan tugas ku yang sempat tertunda demi negara ku ini. Pergi meninggalkan segala gemerlap dunia hiburan Korea. Aku akan menjadi public service selama 23 bulan ke depan dengan terlebih dahulu menjalani pelatihan militer selama sebulan di Jeonju. Haruskah aku bersedih? Ku pikir tak perlu. Bukankah semua setiap lelaki Korea akan mengalami fase yang ku alami ini. Seperti Kang In yang sudah menunaikan tugasnya dengan baik. Seperti Hee Chul hyung yang sekarang sedang menjalankan kewajibannya dan juga sebetar lagi akan kembali. Seperti Lee Teuk hyung juga.

Sempat terbesit rasa khawatir di dalam batin ku ini. Kekhawatiran yang sungguh tak ada alasannya. Tapi, berkat dukungan semua doengseng ku dan juga Lee Teuk hyung, aku sama sekali tak merasakan hal itu lagi. Sekarang atau besok ketika aku benar-benar pergi, aku tak perlu lagi merasakan rasa kekhawatiran ku ini.

Kalian pasti mendengar pernyataan salah seorang staff management tempat ku bernaung, tentang kepergian ku yang tak akan didampingi Super Junior. Dan itu benar. Aku ingin pergi dengan sangat tenang. Aku sama sekali tak mau mereka berada di sana saat akan melepas ku. Aku tak apa jika aku tak dilepas secara formal seperti hyung-hyung ku terdahulu. Karena ku tahu, saat-saat seperti itu hanya akan membuat ku terasa sulit untuk melepas mereka semua dan tentunya kalian. Kalian masih ingat ketika kita melepas Lee Teuk hyung? Aku merasakannya waktu itu. Rasa tak ingin melepasnya. Aku berusaha mati-matian menahan semua emosi ku untuk menangis. Dan kini, aku tak mau semua doengseng ku merasakan apa yang ku rasakan waktu itu. Biarlah aku yang merasakannya sendiri. Aku tak mau terlihat tak berdaya di hadapan mereka, kalau sampai aku menangis di depan mereka semua. Aku tak mau.

Siang ini, aku akan mendaftarkan diri ku. Aku akan didampingi manager pribadi ku, manager Super Junior, dan eomma ku. Dan lagi-lagi, aku melarang salah seorang doengseng ku tuk mendampingi ku mendaftarkan diri ku. Walaupun kalian tahu, sejak beberapa hari terakhir ini, mereka selalu merengek meminta ku untuk mengantar ku sampai ke camp pelatihan atau mendampingi ku mendaftarkan diri.

***

                Jam menunjukan pukul 07.15 PM, aku dan seluruh doengseng ku, termasuk Kim Ki Bum yang belakangan ini disibukan dengan dramanya, kini tengah duduk manis di bangku masing-masing di ruang makan. Hening. Tak seperti biasanya. Kami menyantap makanan kami dengan keadaan diam. Tak seorangpun mengeluarkan suatu candaan. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring porselin di hadapan masing-masing.

“Wokkie-ah…” Panggil ku di sendokan terakhir ku.

“Ne hyung, waeyo?” Katanya sambil mendongakan wajahnya yang terlihat sendu.

“Kau yang akan menggantikan posisi ku di K.R.Y.” Kata ku.

“Tapi, hyung…”

“Tak ada tapi-tapian, aku ingin kau yang menggantikan ku, arrachi.” Kata ku memutuskan.

“Ne, arrayo.” Katanya pada akhirnya.

Kami semua telah menyelesaikan makan malam yang bisa ku bilang sedikit mencekam dengan diamnya semua doengseng ku. Kami semua lalu mengahabiskan waktu yang tersisa ini, duduk bersantai di ruang tengah.

“Hyung . . . Ye Sung hyung . . .” Terdengar oleh ku Kyu Hyun memanggil ku dengan nada ragu.

“Ne, waeyo?” Jawab ku, mencoba setenang mungkin. Entah kenapa, hati ku kembali bergemuruh. Waktu ku dengan mereka kini tinggal beberapa jam lagi. Aku tak ingin menyia-nyiakan waktu yang tersisa ini.

“Ehm itu . . . itu . . . maksud ku, kau benar-benar tak mau kita antar sampai camp mu besok?” Katanya dengan ragu.

“Tak perlu, camp ku itu cukup jauh. Aku tak mau kalian kecapaian hanya karena mengantar ku. Aku bisa sendiri.” Kata ku. Tiba-tiba ku rasakan seseorang memeluk ku erat. Kini ia menangis di pelukan ku. Aku hanya membalas pelukannya sambil menenangkannya.

“Hyung, aku benar-benar. . . hiks . . . hiks . . . tak bisa melepas mu.” Kata Eun Hyuk yang kini berada di pelukan ku.

“Sudahlah, Hyuk-ah, bukankah sebentar lagi, Hee Chul hyung akan pulang, heum? Kau tak perlu bersedih seperti ini. Aku hanya pergi sebentar, tak akan lama. Aku berjanji. Jangan lupakan diri ku ini. ” Kata ku mencoba menenangkan dirinya. Padahal diri ku sendiri berusaha mati-matian untuk tak menangis di hadapan para doengseng ku.

“Kang In-ah, ku titipkan semua doengseng ku kepada mu. Aku yakin kau bisa menjaga mereka semua. Kini kau yang tertua. Jagalah ke sepuluh adik-adik kita.” Titah ku sambil memeluk Kang In.

“Ne hyung, akan ku jalankan perintah mu.” Katanya sambil menangis di pundak ku.

“Dan kalian, jangan terlalu menyusahkan Kang In, ne. Kalian harus saling bahu-membahu satu sama lain. Aku tahu, kalian kini sudah dewasa. Tanpa ku dan juga Lee Teuk hyung, kalian harus tetap bersatu. Ingat ELF kita, ne.” Kata ku. Mata ku mulai berkaca-kaca. Tapi, lagi-lagi aku berusaha menjaga agar air mata ku tak jatuh. Dapat ku lihat, ke sepuluh doengseng ku sudah menitikkan air matanya.

“Ne.” Kata mereka kompak dengan mata memerah.

“Uljimayo. Aku tak mau melihat kalian manangis. Kalian laki-laki. Tak sepatutnya kalian manangis. Hapus air mata kalian sekarang juga.” Titah ku sambil mencoba menenangkan hati ku. Mereka menuruti perintah ku tuk menghapus air mata mereka. Tapi, lagi-lagi air mata mereka itu tak kunjung berhenti. Aku mendekati mereka satu-satu. Memeluk mereka, menghapus air mata mereka. Menenangkan mereka. Sungguh, berada di posisi seperti ini hanya membuat ku ingin menangis. Tapi, bisa apa aku sekarang? Aku tak mau membuat doengseng ku menangis lebih banyak lagi.

“Sudah, lebih baik kalian sekarang pergi tidur. Ini sudah terlalu larut.” Ujar ku. Jam kini menunjukan tepat pukul 10.45 PM. Ku rasa waktu terlalu cepat berjalan. Aku kadang berharap, waktu kan berhenti berputar dan membawa ku kembali ke masa-masa kebersamaan Super Junior. Saat-saat itu adalah saat-saat yang paling ku rindukan dan saat-saat perpisahan seperti ini adalah yang paling ku benci. Tapi, biarlah waktu yang kan mengatur segalanya. Ini tak akan lama. Batin ku.

***

                Hari menjadi semakin larut. Aku kini tengah termenung duduk sambil menikmati angin malam di lantai teratas apartment dorm ku. Ku hirup udara ini. Tapi, entah kenapa hanya sesak yang ku dapatkan. Sejujurnya, aku sedikit tak rela meninggalkan mereka. Semua doengseng ku tersayang. Walaupun mereka sering membuat ulah kepada ku, tetap saja, meninggalkan mereka menjadikan ku sesak seperti ini. Terlebih lagi, mereka, para fans ku. Mereka yang selalu setia mendukung ku di setiap kondisi ku. Aku tak rela.

Ku rasakan cairan hangat yang sedari tadi ku tahan, sekarang mengalir dengan lancarnya tanpa ku perintahkan. Biarlah seperti ini. Biarlah aku menangis untuk kali ini saja. Ini sangat menyakitkan. Meninggalkan mereka semua membuat ku lemah seperti ini. Aku akan merindukan semuanya.

Mata ku masih terpejam, ketika ku rasakan seseorang menarik ujung kemeja yang ku kenakan. Refleks, aku pun menghapus kasar air mata yang sedari keluar dengan sangat kurang ajarnya. Terlihat dari sudut mata ku, seorang anak kecil yang usianya bisa ku perkirakan sekitar tujuh tahun. Dia asik menarik-narik ujung kemeja ku.

“Hey, adik kecil, apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini? Mana orang tua mu, heum?” Ku gendong tubuh mungilnya hingga kini ia duduk di sebelah ku.

“Ahjussi, aku hanya ingin memberikan ini.” Katanya sambil menyodorkan kepada ku sepucuk surat yang sangat rapi terbungkus sebuah amplop.

“Ini dari siapa?” Tanya ku. Tapi, anak kecil yang tak ku ketahui namanya itu, malah loncat dari kursi ku lalu berlari menjauh dari arah ku.

“ITU DARI NOONA YANG SANGAT MENYUKAIMU, AHJUSSI!!” Teriaknya setelah berlari agak jauh dari tempat ku kini duduk. Namun begitu, aku masih bisa mendengar suara manisnya itu. Segera setelah tubuh mungil anak kecil itu menghilang, aku membuka surat yang diberikan anak kecil tadi. Aku mulai membaca, deret demi deret tulisan yang ada di kertas itu.

***

Anyeong ^^

Hi, oppa, bagaimana kabar mu sekarang? Aku harap kau selalu dalam keadaan yang sehat. Kau pasti bertanya siapa diri ku ini. Kau tak perlu tahu siapa diri ku ini sebenarnya. Yang pastinya aku adalah seorang ELF. Hehe. . .

Kau tahu oppa, aku senang sekali melihat mu kemarin di Mouse Rabbit. Hal itu sedikit mengobati rasa sakit ku, mengingat kau akan segera wamil. Oppa, aku harap kau selalu menjaga kesehatan mu di sana. Aku tak mau kau sakit. Dan aku mau, setelah kau selesai melakukan kewajiban mu tuk negara, aku melihat mu bertambah gemuk. Bukan malah bertambah kurus. Makan yang banyak, ne?

Oppa, entah kenapa saat menuliskan surat ini untuk mu, rasanya dada ku sangat sesak. Berulang kali aku memukul dada ku sendiri guna mengurangi rasa sesak ini. Dan kau tahu oppa, saat aku menulis surat ini, jam yang bertengger manis di kamar ku menunjukan pukul 01.10 dini hari. Kenapa aku memilih menulis surat ini daripada pergi tidur? Aku tak ingin terlihat menangis di hadapan keluarga ku tanpa sebab. Dan lagi, aku benar-benar menyukai saat-saat hening seperti ini. Aku menjadi lebih leluasa tuk mengungkapkan apa yang ada di fikiran ku seperti saat ini. Oh ya, perlu kau tahu, oppa, aku sama sekali belum pernah sekalipun mengirimkan surat untuk Super Junior. Tapi, entah mendapat keberanian dari mana aku berani menuliskan ini dan mengirimkan ini kepada mu.

Oppa, maaf jika kertas yang ku pergunakan menulis ini, kertas yang kau anggap kumal. Tapi sungguh, tadi saat awal aku menuliskan ini, kertasnya masih baik-baik saja tanpa suatu coretanpun. Tapi entah kenapa semakin ke sini, kertasnya menjadi kumal dengan tetesan air mata ku yang bercampur dengan tetesan darah berasal dari bibir ku yang dengan kurang ajarnya keluar tanpa ku perintah. Dan lagi, maaf kalau tulisan ku menjadi sangat buruk untuk kau baca. Aku tak sanggup untuk tak menangis oppa.  Tapi, aku janji saat kau pergi, aku tak akan menangis lagi. Seperti apa yang kau ucapkan. Akan ku pergunakan tangisan ini tuk menyambut mu dua tahun lagi. Hehe . . .

Oppa, mungkin hanya itu yang bisa ku ucapkan padamu. Ingat, jaga selalu kesehatan mu, ne? See You 2 years later with your new performence. Don’t worry, all of ELF especially CLOUDS and me, will wait you cameback again. HWAITING!!😀

Tertulis

 

Your Fan

PS : Ye Sung-ie oppa, aku yakin kau pasti bisa!! Uljimayo!! Hwaiting!!

***

                Lagi-lagi aku kembali menitikan air mata ku. Sungguh, sekarang aku hanya seperti seorang namja lemah yang menangis tanpa sebab. Benar kata mu, nona, aku pasti bisa. Terima kasih kepada mu datang memberikan sepucuk surat ini untuk ku di saat seperti ini. Siapapun kau, sampai bertemu dua tahun lagi, nona, aku akan kembali dengan badan gemuk, seperti yang kau tulis tadi. Anyeong. Batin ku.

Entah mendapat kekuatan dari mana, hati ku menjadi lega seperti ini. Aku berdiri, hendak meninggalkan tempat ini. Aku harus bersiap untuk besok. I must leave, now!!

***

EPILOG

-You POV-

Kini aku berdiri tak jauh dari dorm lantai 11 Super Junior. Entah kenapa, feeling ku mengatakan Ye Sung oppa akan keluar dari pintu itu sebentar lagi. Aku sudah berdiri di sini sejak jam 07.00 PM dan sekarang sudah jam ku sudah menunjukan waktu 11.00 PM. Jujur, aku sangat lelah berdiri sambil sesekali mengamati pintu itu. Tapi, demi Ye Sung oppa, aku harus kuat. Hwaiting.

Dan benar, tak lama setelah itu. Ye Sung oppa keluar dengan pakaian penyamarannya. Lengkap. Dia menengok ke sekeliling. Di rasa aman, Ye Sung oppa kemudian melangkahkan kakinya. Aku hanya dapat mengikutinya dengan tentunya menjaga jarak, agar tak ketahuan.

Kini, sampailah aku di atap dorm mereka. Ku lihat Ye Sung oppa, mendudukan badannya disebuah kursi yang letaknya sangat jauh dari tempat ku sekarang berdiri. Tapi, aku dapat melihat Ye Sung oppa memandangi langit malam Seoul. Dia kemudian membuka seluruh alat menyamarannya. Masker, dan kaca mata hitamnya. Tinggal di kepalanya sebuah topi untuk menutupi kepalanya yang tanpa rambut. Dia memejamkan matanya. Dan tak lama setelah itu, dapat ku lihat aliran air mengalir di kedua pipi mulusnya. Aku sungguh tak kuat melihatnya seperti ini. Akupun masuk sejenak ke dalam gedung. Hendak mencari sebuah kamar mandi. Aku tak mungkin memberikan surat ini dengan bercucuran air mata dihadapannya. Hal itu tentu akan memperkeruh keadaan hatinya. Dan aku tak mau itu terjadi.

Saat aku selesai dengan urusan ku, yaitu menetralkan emosi ku dan tentunya menghapus air mata ku yang juga ikut terjatuh melihat Ye Sung oppa menangis, aku melihat seorang anak kecil sedang berlari hendak masuk ke dalam flatnya. Ku hampiri dirinya.

“Heum, jogiyo, adik kecil, kau mau tidak memberikan ini kepada namja yang ada di luar sana?” Kata ku sambil menunjuk Ye Sung oppa yang tetap duduk ditempatnya tadi.

“Ehm, ne.” Katanya langsung tanpa berpikir dua kali.

“Gomawo, noona janji akan membelikan mu ice cream besok.” Kata ku. “Tapi, saat namja itu menanyakan siapa yang memberikan ini, kau bilang saja, ini dari seorang yang sangat menyukainya.” Lanjut ku.

“Baiklah.” Kemudian dia berlari ke arah Ye Sung oppa. Dapat ku lihat dari sini, namja kecil itu menari-narik ujung kemeja yang dipakai Ye Sung oppa. Dan setelah berhasil mendapatkan perhatiannya, namja kecil itu memberikan surat ku. Lalu, tak lama setelah itu namja kecil itu berlari ke arah ku yang berada di dalam gedung sambil berteriak.

“ITU DARI NOONA YANG SANGAT MENYUKAIMU, AHJUSSI!!” Teriaknya. Aku hanya tersenyum melihat kerjanya berhasil. Dengan meminta bantuan namja kecil ini, Ye Sung oppa tak perlu repot-repot melihat wajah ku.

Dan setelah mengucapkan terima kasih kepada namja kecil itu dan mengantarnya pulang ke flatnya. Akupun berpamitan dengan eomma sang namja kecil lalu pulang. Semoga kau membacanya, oppa. Batin ku dengan terus melangkah menuju parkiran.

-THE END-

Huuaaa~~ Author nulis ini sambil bercucuran air mata. Sungguh, sebenarnya aku tak rela membiarkan Ye Sung oppa wamil. Tapi, apa mau dikata, itu sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai warga Korea yang baik dan sudah menjadi keputusannya. Aku, sebagai fansnya hanya bisa mendukungnya. See You oppa~~ #nangisdipojokan.

Author:

Just an ordinary girl with an extraordinary. I'd rather die than live without any passions -JK-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s