Posted in FF, Friendship, Oneshoot, Romance

FF : When Hate Become Love [Oneshoot]

 Author : JungJeHwan

Title : When Hate Become Love (Min Jung POV)

Genre : Romance, Family, Friendship, Comedy (Gagal)

Cast :

Kim Min Jung

Lee Dong Hae

Kim Jong In

And another cast

Desclamaire: All cast in here are belong their self except OC. OC is belong Author. Thanks to readers’ yang mau baca ff gaje bin gila ini. Author pingin nulis tapi kehabisan akal. Jadilah ff ini. FF yang gaje. Maaf kalo alurnya kecepetan dan maaf kalau garing, soalnya ini langsung buat tanpa pikir panjang. Dan lagi, setelah vakum beberapa lama, gara-gara banyak hal, mungkin tulisan Author yang kali ini kurang memuaskan. Sekali lagi, mianhae #bow. Dan FF ini adalah murni BUATAN AUTHOR TANPA PENJIMPLAK ATAU MEMPLAGIAT FF MANAPUN. So, hargain ya. No BASH🙂 Happy reading all and sorry for typos if were present ^^

***

                Aish menyebalkan. Selalu saja begitu. Kenapa sih, semua mahasiswi di universitas ini suka sekali dengan namja yang bernama Lee Dong Hae itu?? Apa sih keren nya Lee Dong Hae?? Toh dia hanya manusia biasa?? Dan lagi, dia namja songong nan sombong yang pernah ku temui seumur hidup ku. Dan, oh… tingkahnya itu tak lebih baik dari musuh ku saat aku duduk di High School, Lee Seung Ja.

Dan lagi, dialah namja yang ketika aku masih tinggal di Mokpo dan duduk dibangku Elementary School dengan sengaja menendang ku yang menyebabkan ku jatuh dan membuat ku patah tulang lengan. Dan dia dengan sekenaknya, setelah ia terkenal sekarang melupakan hal itu dan juga sama sekali tak mengingat ku sebagai korban kejahilannya semasa kecil dulu.

Ayolah, kenapa juga yoeja-yoeja itu sampai tergila-gila. Iya, dia salah satu member hallyu wave saat ini. Tapi, tak usah senorak itu kali. Dan ayolah, aku tak membenci fansgirl-nya aku hanya tak suka dengan keberadaannya dan juga fansgirl-nya yang terkadang menyebabkan kegaduhan yang luar biasa.

Dasar menyebalkan, lihat lutut dan siku ku berdarah gara-gara didorong oleh segerombolan fansgirl Lee Dong Hae yang sangat fanatik itu. Dan sekarang aku sedang tersungkur di atas tanah dengan meratapi kesialan ku hari ini. Bagi ku, berada disatu tempat yang sama dengan namja songong itu merupakan bencana besar untuk ku. Karena bagi ku, di mana ada dia, berarti disitu ada fansgirl-nya itu. Mungkin, tanpa fansgirl-nya pun aku juga akan mengalami kesialan.

Oh ya, kenalkan nama ku Kim Min Jung, aku mahasiswi semester lima di Seoul University jurusan design and art management. Dan sialnya, aku satu fakultas dengannya. Hanya saja, dia adalah sunbaenim ku. Dan pernah sekali waktu, dia pernah menjadi asisten dosen untuk kelas ku. Dasar menyebalkan. Oh lupakan itu. Dan oh, aku mempunyai seorang namdoengseng, Kim Jong In atau biasa dipanggil Kai. Tapi aku biasa memangilnya Jongie—itu panggilan kesayangan. Kedua orang tua ku tinggal di China. Mereka bekerja meneruskan cabang perusahaan milik mendiang haraboeji ku dan juga menjaga halmoeni ku. Tapi, mereka akan balik ke Korea enam bulan sekali. Dan, kalian tahu aku sekarang tinggal berdua dengan Kai di rumah milik orang tua ku ini.

“Agasshi, gwaenchana??” Tanya seorang namja yang berhasil membuyarkan lamunan ku. Aku pun menoleh dan mendapati seorang Lee Dong Hae dengan senyum yang bisa membuat seluruh yoeja di kampus ini meleleh selain aku. Ingat dan garis bawahin, SELAIN AKU.

“Gwaenchana.” Aku pun berdiri dan menepis tangan Lee Dong Hae yang berada di pundak ku. Dengan tergesa aku pun meninggalkan Lee Dong Hae dengan tatapan bingungnya. Apa peduli ku?? Gara-gara dia dan juga fansgirl-nya aku terjatuh dan menjadi seperti ini.

“Huh, dasar yoeja aneh yang tak tahu berterima kasih. Tak tahu apa, aku ini member terganteng se-Super Junior. Dasar yoeja aneh.” Dengusnya dengan pelan. Walaupun begitu, masih terdengar dengan jelas di telinga ku.

“Aku mendengarnya, tuan.” Ku hentikan langkah ku lalu membalikkan badan ku, sambil menunjukkan wajah ku sedatar mungkin. Dia hanya melongos pergi begitu saja. Aku pun melanjutkan berjalan dengan sedikit tertatih karena perihnya luka di lutut ku.

***

                “Yakk!! Kenapa lutut dan siku mu??” Tanya Hyun Ra sesampainya aku di kelas. Oh ya, kenalkan dia Park Hyun Ra, sepupu Lee Dong Hae. Awalnya aku tak tahu, tapi setahun yang lalu dia memberitahu ku.

“Aku?? Kau masih tanya aku kenapa?? Seharusnya kau bisa menebaknya, Ra-ya sayang.” Kata ku ketus dengan nada dibuat-buat manis. “Itu, gara-gara sepupu mu itu.” Lanjut ku. Dan dia, dengan muka innocent-nya hanya ber-oh ria. Cih, tak beda jauh dengan sepupunya.

“Oh, kalau gitu, kaja, aku obatin luka itu.” Katanya. Aku bergeming dari tempat ku. “Yakk!! Ppali, nanti luka mu itu infeksi, pabo.” Katanya seraya menarik tangan ku.

“YAKK!! Pelan-pelan, pabo. Kaki ku perih.” Teriak ku.

“Ne, arraseo.” Katanya sambil tersenyum tanpa dosa.

***

                “Nuna, kenapa tangan dan kaki mu.” Tanya Kai setibanya di rumah.

“Kau bisa membayangkan, aku tadi ditabrak segerombolan fansgirl Lee Dong Hae dan hasilnya. Look at this. Memang benar, seharusnya aku tak dekat-dekat dengan orang sepertinya” Kata ku lalu menunjuk bagian luka ku.

“Lee Dong Hae?? Super Junior??” Tanya nya polos.

“Ya iyalah, memangnya siapa lagi?? Dia kan yang selama ini ku ceritakan pada mu, Jongie sayang.” Kata ku sambil mengacak rambutnya gemas.

“Oh. Oh ya nuna, aku lolos audisi SMent. Dan, kau bisa membayangkan nuna, minggu depan aku sudah menjadi trainee di sana.” Katanya sambil tersenyum senang lalu menghambur ke pelukan ku.

“Huwaa, Jinja??” Kai hanya mengangguk senang. “Cukhaeyo, Jongie sayang. Kau sudah memberitahu eomma dan appa??” Tanya ku.

“Ne, mereka kan sekarang di Seoul.” Katanya.

“Hah, jinja. Eoddie??” Tanya ku.

“Jungie sayang.” Kata seseorang di belakang Kai.

“Eomma~~ Appa~~” Aku melepaskan pelukanku dengan Jongie dan berlari lalu memeluk eomma dan appa bergantian. “Neomu neomu neomu neomu bogoshipo, eomma, appa. Bagaimana kondisi halmoeni di sana??” Tanya ku.

“Dia baik, sayang. Omona, look at to your knee and arm. Waeyo??” Tanya eomma ku lembut.

“Aniyo, gwaenchanayo. Tadi aku secara tak sengaja ditabrak segerombolan fansgirl Lee Dong Hae.” Kata ku.

“Emm. Appo??” Tanya eomma ku. Aku hanya menggeleng.

“Eomma, di sini berapa lama??” Tanya ku.

“Mungkin satu bulan ke depan, sayang.” Kata eomma sambil tetap tersenyum. Dan JEDYARR, seperti tersambar petir, aku baru sadar akan apa yang dibicarakan Kai kepada ku beberapa saat yang lalu. SMent?? Bukankah, itu tempat Lee Dong Hae bernaung??

“YAK!! Jongie-ah, kau trainee di SMent??” Tanya ku untuk memastikan. Kali aja waktu Kai memberitahu ku, telinga ku bermasalah atau aku salah dengar.

“Ne, waeyo nuna??” Tanya Kai dengan muka innocent milik nya.

“Ani, berjuanglah.” Kata ku.

“Ne, aku pasti akan berjuang nuna.” Katanya sambil mengecup pipi kanan ku. Eomma dan appa hanya tersenyum senang melihat anak-anaknya akur.

“Eomma, appa, Jongie sayang, aku naik dulu ya.” Kata ku. Mereka hanya mengangguk dan aku melangkahkan kaki ku menuju ke kamar ku.

***

                “Nuna, antarkan aku ke SM Building. Hari ini aku harus berlatih.” Rengeknya kepada ku. Sejak tadi siang ia terus-menerus merengek meminta ku mengantarkannya ke SM Bilding. Tak biasanya dia meminta ku ke SM Building. Biasanya sepulang sekolah ia akan langsung berlatih dan akan pulang agak larut.

“Ani. Kau tak lihat aku sedang sibuk, hem??” Kata ku.

“Ayolah nuna.” Rengeknya lagi.

“Sudahlah, Jungie-ah. Sebaiknya kau antarkan saja, Jongie. Kasihan dia.” Kata eomma ku menengahi. Aku hanya pasrah dan mengangguk. “Baiklah.” Sebenarnya aku paling malas ke tempat di mana ada seorang Lee Dong Hae. Karena bagi ku di mana ada Lee Dong Hae di situlah aku menimpa sebuah kesialan. Dan malangnya sekarang aku harus ke tempat di mana Lee Dong Hae bisa setiap saat ada. Huft, aku berharap kali ini tak ada di agensi. Semoga hari ini aku terhindar dari kemalangan.

“Gomawo nuna.” Katanya senang sambil mengecup pipi kiri ku. Mungkin kalau ini bukan perintah eomma dan bukan permintaan doengseng kesayangan ku. Aku tak bakalan sudi ke tempat itu.

***

                “Nuna, kau pulang saja. Aku bisa pulang sendiri nanti. Gomawo mau mengantarkan ku.” Katanya lalu beranjak keluar dari dalam mobil. Tapi sebelumnya mengecup pipi kanan ku sebagai terima kasih.

“Ne, hati-hati ya. Berjuanglah Jongie. Nuna ada di belakang mu.” Aku hanya bisa tersenyum sambil memberikan semangat kepada nya.

“Baiklah. Aku masuk dulu ya nuna. Anyeong.” Katanya sambil melambaikan tangannya. Aku pun langsung menstater mobil hendak meninggalkan tempat ini. Dan baru hendak keluar tiba-tiba…

BRUKKK… Omo mobil ku, siapa yang berani menabrak mobil ku ini. Dengan emosi yang memuncak aku turun dari mobil lalu menghampiri mobil yang menabrakku.

“YAK!! Tolong keluar dari mobil anda.” Kata ku tanpa basa-basi. Dan serasa tersambar petir. Seorang Lee Dong Hae turun dari mobilnya dengan nyengir kuda tak bersalah. “YAK!! Kenapa kau lagi Lee Dong Hae?? Berhenti membuat hidup ku sengsara.” Kata ku sambil mengacak rambut ku frustasi.

“Mianhae aku bisa bertanggung jawab.” Katanya sambil tetap nyengir kuda.

“Huft…” Aku hanya bisa menghembuskan nafas berusaha menenangkan diri ku.

“YAK!! Lee Dong Hae apa yang barusan kau… YAK!! Sudah ku bilang jangan menyetir. Lihat apa yang kau perbuat. Agasshi, gwaencaha?? Mana yang sakit?? Biar Dong Hae yang ganti rugi atas kerusakan mobil mu. Mianhae atas kecerobohan teman ku ini.” Kata seorang namja yang tak lain tak bukan adalah Lee Hyuk Jae atau lebih dikenal dengan Eun Hyuk yang tiba-tiba datang dari arah gedung SMent.

“Ani, gwaenchana.” Kata ku berusaha setenang mungkin.

“Aku bisa ganti rugi agasshi.” Katanya.

“Tak usah. Dan ku peringatkan jika kau tak bisa menyetir lebih baik tak udah menyetir dari pada kau membuat kerusuhan seperti ini.” Kata ku tegas lalu kembali ke mobil ku. Aku pun langsung melujukan mobil ku menuju bengkel. Aku harus segera mereparasi mobil ku.

***

                Hari ini dengan terpaksa aku ke kampus dengan jasa transportasi umum yang di sediakan. Pasalnya, mobil ku sampai sekarang belum selesai direparasi.

“Ya!! Tak biasanya kau berangkat ke kampus dengan bus. Ke mana mobil mu??” Tanya Hyun Ra.

“Ini gara-gara sepupu mu itu. Dia kemarin nambrak mobil ku dari belakang. Untung aku baik tak minta ganti rugi.” Kata ku ketus.

“Kok bisa?? Emangnya kau di mana kemarin??” Tanya nya ingin tahu.

“Jadi aku kemarin di SM Building.” Kata ku sambil membolak-balik buku di depan ku. “bener, deket-deket dengan nya hanya bisa membuat ku sial.” Dengus ku.

Hening … dan tiba-tiba BRAKKK… Ku dongakkan kepala ku dan ku lihat seorang berperawakan namja menggunakan masker, kaca mata, jaket dan juga topi. Aku bingung begitu pun Hyun Ra.

“Ra-ya, ini oppa.” Bisik namja itu yang masih dapat ku dengar.

“Oppa??” Hyun Ra yang tampak bingung langsung mendapatkan jitakan yang ku kira itu pasti sangat sakit.

“YAKK!! Aku Lee Dong Hae, oppa mu, bodoh.” Kata namja itu sekali lagi. Aku tersentak dan dengan muka marah juga dengan kekuatan siap untuk memarahinya habis-habisan, aku berdiri menghadap namja kurang ajar itu.

“YAKK!! Apa yang kau lakukan di sini, Dong Hae-sshi??” Tanya ku sepelan mungkin. Aku juga tak sebodoh dengan memarahinya sambil berteriak. Bukannya selesai masalahnya, tapi aku pasti akan mendapatkan masalah baru.

“Aku hanya mau meminta maaf kepada mu, apa itu salah, agasshi??” Kata nya tegas.

“Sudah lupakan.” Kata ku dengan wajah datar. Dia hanya diam mendengar penuturan ku. “YAKK!! Lalu apa ada urusan lainnya, Dong Hae-sshi?? Kenapa kau masih berdiri di sini layaknya orang dungu?? Dan, oh.. jika kau meminta ku memaafkan mu, aku sudah memaafkannya tapi kau harus segera menyingkir dan menjauh dari area ku.” Kata ku tajam.

“Ck, dasar yoeja aneh. Aku sudah berusaha minta maaf dengan baik-baik. Dasar tak tahu sopan santun.” Hardiknya.

“Lalu, itu ada hubungannya dengan mu, namja sialan.” Hardikku tak mau kalah.

“YAKK!! Kalian berdua jangan bertengkar didepan ku, aku tak membutuhkannya.” Kata Hyun Ra berusaha menenahi ku dan namja sialan itu.

“Aku juga tak mau berlama-lama di sini dengan yoeja aneh yang tak tahu sopan santun.” Kata namja itu sambil melotot ke arah ku. Tak ku pedulikan sama sekali tatapan itu. Cih~~ memangnya aku akan takut?? Tak akan.

“Cih~~ lebih baik kau segera pergi dari tempat ini.” Bentak ku. Dia lagi-lagi tak menghiraukan ku, lalu melongos ke arah pintu lalu pergi layaknya hantu.

***

                Aku sedang menikmati makan siang ku dengan tenang ketika ku lihat segerombolan yoeja, yang bisa ku tebak pasti itu fansgirl Lee Dong Hae. Lihat saja, mereka berteriak-teriak layaknya mereka hidup di hutan belantara dan tak pernah mengenal yang namanya sopan santun.

“DONG HAE OPPA NEOMU SARANGHAE!! JADILAH NAMJACHINGU KU!!!” Teriak salah satu dari mereka histeris. Aku hanya mendengus kesal karena mereka telah merusak mood makan siang ku.

“DONG HAE OPPA!!” Teriak mereka lagi. Berlama-lama di sini hanya membuat telinga ku rusak dan tuli. Hanya saja ketika aku hendak beranjak dari tempat ku, lengan ku ditarik seseorang yang tak lain tak bukan adalah Park Hyun Ra.

“YAKK!! Kau mau ke mana?? Aku kan baru saja akan duduk.” Katanya pada ku dengan nada sedikit meninggi.

“YAKK!! Tak usah berteriak seperti itu. Kau hanya menambah keadaan semakin tak baik dengan teriakan mu itu. Kau tak dengar di sini sangat gaduh dengan kedatangan oppa mu dan fansgirl-nya itu.” Tunjukku pada segerombolan yoeja yang di samping mereka adalah Dong Hae yang sedang tersenyum yang mereka bilang menawan tapi bagi ku, tidak.

“Haish, biarkan saja!!” Kata Hyun Ra keras kepala.

“Tapi, itu bisa membuat indra pendengaran ku rusak, pabo. Aku mau pergi, kalau kau tak mau, ya sudah. Bye.” Kata ku, lalu melenggang pergi meninggalkan Hyun Ra.

“YAKK!! NEO!! Tunggu aku!!” Teriak Hyun Ra sambil berusaha mengejar ku yang berjalan sudah cukup jauh. Ck, dasar. Dengus ku.

***

                Sudah hampir seminggu ini, kehidupan ku aman tentram tanpa gangguan juga teriakan memuakan fansgirl Lee Dong Hae. Aku sangat sangat bersyukur akan hal itu. Karena dengan demikian, hidup ku tak akan mengalami sebuah kesusahan bahkan kesialan.

BRAKKK…. Aku tersentak kaget. Baju yang ku pakai sudah basah kuyub dan err… berbau kopi susu. Dalam seketika aku merasakan panas dibagian yang tersiram kapo susu panas tersebut.

“YAKK!!! NEO!!!” Bentak ku sambil tanpa melihat kepada siapa orang yang ku hadapi. “Auch~~ Igeo appo.” Rintih ku tanpa ku sadari.

“Mian~~ Mianhae agasshi.” Kata orang—namja—tersebut. Aku berpaling ke arahnya. Aku tak dapat melihat mukanya secara langsung karena tertutupi masker dan kaca mata. Dan kalian tahu apa yang terjadi kepada ku selanjutnya?? Dia—namja itu—dengan sekenaknya menarik ku dan membawa ku lari entah ke mana. Aku sebenarnya memberontak, tapi entah kekuatan ku yang lemah atau kekuatannya memang lebih dibanding aku, aku hanya menurut dengan menahan rintihan ku.

Aku langsung dilemparnya masuk ke dalam mobil dan… dia langsung tancap gas entah ke mana. Aku siap mendebat siapapun namja dibalik masker dan kaca mata itu. Terserah mau itu aktor atau member boyband mana pun atau bahkan pangeran Korea sekalipun, aku tak peduli. “YAKK!! NEO!! Kau tak bisa dengan sekenaknya menarik ku seperti it—“ Aku berhenti berucap ketika ku ketahui namja dibalik masker itu. Dia Lee Dong Hae, namja menyebalkan pembawa sial untuk ku.

“YAKK!! NEO!! Berhenti berteriak atau kau dengan sangat terpaksa ku turunkan di sini.” Kata namja sialan itu. Aku pun meresapi kalimatnya dan teringat kata-kata seseorang.

“YAKK!! NEO!! Aku masih ingin hidup!! Turunkan aku segera!! Di sini!!” Teriak ku ketika aku teringat kalimat yang dilontarkan Eun Hyuk—ketika namja disebelah ku menabrak ku.

“YAKK!! NEO!! Aku bisa menyetir kali!! Kau jangan percaya omongan monyet itu.” Kata Dong Hae sambil melirik ku sinis.

“Ta—tapi—“

“Diam!! Atau kau benar-benar ku turunkan di sini. Kau tahu aku menarik mu bukan tanpa alasan tahu.” Hardik namja itu.

“Lalu kenapa kau menarik ku??” Tanya ku yang sebenarnya aku tak peduli apa pun itu alasannya.

“Kau tahu, aku menabrak mu itu karena aku dikejar-kejar fans-ku. Dan aku sengaja segera menarik mu karena ku tahu karena kau dengan sekenaknya pasti akan berdebat dengan ku dan membuat fans-ku kembali mengejar ku.” Tuturnya panjang lebar.

“Lalu, bagaimana dengan mobil ku, namja sinting??” Tanya ku.

“YAKK!! NEO!! Oh, aku akan meminta manager ku mengambilkannya untuk mu. Aku ini namja bertanggung jawab tahu.” Katanya sekenaknya.

“Cih~~” Cibir ku. Kami berdua diam dalam kebisuan. “Lalu kau akan membawa ku ke mana??” Tanya ku pada akhirnya.

“Aku?? Membawa mu?? Oh ya, aku lupa.” Katanya sambil menepuk jidatnya. “Aku akan membawa mu sementara ke dorm ku. Dan setelah itu terserah kau mau ngapain dan mau ke mana. Itu bukan tanggung jawab ku lagi. Dan lagi, kau bisa ganti baju di sana. Aku tahu, kau tak nyaman dengan baju yang sudah ku tumpahi kopi susu yang panas.” Katanya.

“Dengan?? Aku tak membawa ganti.” Kata ku.

“Kau bisa, memakai pakaian Sung Min hyung. Aku kira kau pantas menggunakan pakaiannya yang semuanya pink.” Katanya sambil terkikik geli.

Karena kelelahan mendebat namja menyebalkan di samping ku ini, aku tertidur dan terbangun ketika bahu ku terasa seperti digoyang-goyang oleh seseorang.

“YAKK!! Ireona!! Ppali.” Kata namja itu. “Dan, oh sebaiknya kau pakai ini kalau kau tak mau ketahuan wartawan.” Kata Dong Hae sambil memberi ku masker dan jaket yang ada di jok belakang mobilnya.

“Lalu kau??” Tanya ku dengan bodohnya.

“Aku?? Aku juga akan memakai ini. Aku juga tak mau ketahuan wartawan telah membawa yoeja aneh nan menyebalkan layaknya kau.” Katanya.

“YAKK!!!” Teriak ku. Aku mengikutinya dari belakang dengan, yah.. kau pasti tahu. Mendumel, bahkan mengomel tak jelas tentang namja yang selalu memberikan kesialan terhadap ku.

***

                Di sinilah aku sekarang. Berdiri dengan sangat canggung ditengah keluarga behagia Super Junior. Mereka menanyai ku—setelah aku menginjakkan kaki ku di dorm mereka—dengan sebuah pertanyaan bodoh ‘Apakah aku yoejachingu Lee Dong Hae—namja yang dengan sekenaknya telah membuat ku terdapar di sini??’ Dan, ayolah, berpikir tentang hal itu saja membuat ku mual dan tak nafsu makan.

“Sung Min hyung, berikan dia salah satu pakaian mu.” Kata Dong Hae kepada Sung Min oppa.

“Oh. Ayo—“ Dia melirik ku, berhenti berucap. “Kim Min Jung, Min Jung.” Kata ku setelah menyadari aku bahkan belum memperkenalkan diri ku.

“Ne, ayo Min Jung-a. Boleh aku memanggil mu begitu kan??” Tanya nya ramah. Aku hanya mengangguk sambil mengembangkan senyum ku. Tak ku sangka, ternyata lebih senang mengetahui member Super Junior lain dari pada namja itu—Lee Dong Hae.

Dan tentang pertayaan tadi, aku lebih memilih namja ini—Sung Min oppa—dari pada namja menyebalkan itu menjadi namjachingu ku. Sudah baik, ramah, imut lagi. Namja idaman semua kaum hawa.

“Emm, kau pakai ini ya, aku kira kau cukup dengan yang ini.” Katanya sambil memberi ku selembar pakaian.

“Ne, lagian oppa, badan ku juga tak gemuk-gemuk amat kali.” Kata ku sambil terkekeh pelan. Tuh kan, aku aja lebih cepat akrab dari pada dengan namja menyebalkan itu.

“Kaja, aku yakin kau sudah tak betah dengan pakaian mu ini.” Aku pun masuk ke kamarnya dan berganti pakaian. Bisa ku lihat sekilas, Sung Min oppa mengembangkan senyumannya.

***

                Aku keluar kamar setelah selesai ganti baju.

“Gamsahamnida.” Kata ku pada Sung Min oppa yang duduk tak jauh dari ku. Hening, semua kembali kekegiatan mereka masing-masing. Dan aku, kau tahu, aku masih menunggu kepastian tentang mobil ku. Kau bisa bayangkan, bagaimana aku bisa menuju rumah tanpa mobil?? Dan lagi, ke mana perginya namja itu?? Apa dia mau kabur setelah menelantarkan ku di sini?? Huh, dasar menyebalkan.

Aku masih bergulat dengan semua pertanyaan dan semua kemungkinan yang merasuki diri ku semenjak aku duduk di sini. Tiba-tiba ku dengar derap langkah yang menyebabkan ku mendongakkan kepala, mungkin saja dia sudah datang.

“Nuna?? Apa yang kau lakukan di sini??” Tanya orang itu, yang tak lain adalah namdoengseng ku sendiri—Kim Jong In.

“Seharusnya aku yang tanya apa yang kau lakukan di sini, Jongie-ah??” Tanya ku balik. Member Super Junior yang berada di ruangan itu hanya menatap ku dan Kai bergantian dengan tatapan ingin tahu.

“Aku, aku sebenarnya mau berlatih dengan Eun Hyuk dan Shin Dong hyung. Tapi mereka ada schedule dan mereka menyuruh ku menunggu di dorm mereka.” Kata Kai.

“YA!! Kai-a, jadi Min Jung ini nuna mu??” Tanya Sung Min oppa. Kai hanya mengangguk. “Kebetulan yang tak sengaja.” Gumamnya.

“YAKK!! Yoeja aneh, ini kunci mobil mu. Mobil mu sekarang sudah ada di basement.” Aku sudah hapal suara yang satu ini. Siapa lagi kalau bukan Dong Hae si namja pembawa sial.

“Aishh!! Ne arraseo!! Dan sekali lagi, jangan memanggil ku sembarangan, namja sialan.” Kata ku ketus dan merebut kunci mobil ku dari tangannya.

“YAKK!! Harusnya yang berbicara seperti itu aku.” Katanya tak kalah ketus.

“Lalu aku peduli?? Oh ya, oppadeul aku pulang dulu dan kau, Jongie-ah hati-hati jika kau pulang malam lagi.” Kata ku berpamitan ke Sung Min oppa, Kyu Hyun—yang sedang meringkuk di pojok ruangan sambil memegang benda keramatnya, dan Ryeo Wook.

“Ne, hati-hati di jalan, Min Jung-a.” Kata Ryeo Wook dengan tak lupa mengembangkan senyuman ramah miliknya. Aku hanya mengangguk.

“Nuna, hati-hati.” Kata Kai. Aku mengelus rambutnya lembut lalu membungkuk memberikan hormat kepada oppadeul yang ada di sana, yah kecuali namja menyebalkan itu.

“Cih~~ Sok baik.” Aku masih bisa mendengar ketika namja itu mendengus jijik melihat perlakuan lembut ku terhadap Kai. Aku pun hanya bisa memandangnya menantang.

***

                Ini sudah dua minggu semenjak pertemuan ku dengannya terakhir kali. Yah, namun tak bisa ku pungkiri kadang aku masih mendengar teriakan yoejadeul di kampus ini memanggil namanya. Tapi, mungkin keberuntungan berada di tangan ku. Aku masih bisa berjauhan sebelum mereka membuat ku kehilangan mood ku.

Aku masuk ke kampus seperti biasa dan samar-samar ku dengar teriakan fans Lee Dong Hae ketika aku menginjakkan kaki ku di pelataran kampus. Dan dosa apa aku hari ini?? Tadi saat kelas Nam seongsangnim aku ketahuan ketiduran dan, kau tahu, aku disuruh oleh beliau mengerjakan soal essay darinya yang jumlahnya, 50. Dan besok, semua jawaban dari semua soal itu harus ada di atas meja kerjanya. Kalau tidak, hukuman ku akan bertambah menjadi 2 bahkan 3 kali lipat. Mengerikan!!

Oleh karena itu, hari ini aku masih mendekam di perpustakaan untuk mengerjakan semua soal ini. Dan kalian tahu, soal ini adalah materi kuliah ku saat aku tertidur tadi dan aku, aku sama sekali tak mengerti. Menyebalkan!! It is driving me crazy!!

***

                Aku lelah. Ku putuskan untuk beristirahat sejenak. Mungkin dengan menutup mata ku, fikiran ku yang tadinya keruh menjadi lebih fresh. Dan aku dengan cepat bisa pulang keperaduan ku. Oh, i miss my bed.

“YAKK!! Yoeja aneh!! Apa yang kau lakukan di sini.” Samar-samar aku mendengar celotehan seorang namja.

“YAKK!! Kau mengganggu ku.” Aku menipis tangannya yang menggoyang-goyangkan badan ku. Aku pun kembali ke alam bawah sadar ku.

“Haishh, yoeja ini. YAKK!! Kau ingin bermalam di sini?? Ini sudah petang, pabo.”

“YAKK!! Kau mengganggu—ommo, nega eoddie??” Tanya ku setelah tersentak dari alam bawah sadar ku.

“YAKK!! Haishh, neo jinja paboya!! Kau di perpustakaan dan sebentar lagi petugas perpustakaan akan kemari mengunci perpustakaan ini.” Katanya menjelaskan. Dan kau tahu, namja ini adalah Lee Dong Hae.

“Lalu, sekarang jam berapa??” Tanya ku. Aku pun mencari keberadaan jam dinding di perpustakaan ini. Shit!! Mana jamnya?? Umpat ku.

“Sekarang jam lima, eh ani setengah enam sore. Kau mau menginap di sini??” Tanyanya sekenaknya.

“Ani, keundae, bagaimana tugas ku??” Lirih ku.

“Tugas mwo??” Tanya nya sambil memperhatikanku.

“Aniya…” Aku pun mendapatkan sebuah ide yang menurut ku tak merugikan ku. Menurut mahasiswa kampus ini, namja di depan ku ini juga tak bodoh-bodoh amat. Malah cenderung pintar. “Emm, keundae, maukah kau membantu ku mengerjakan ini??” Aku menunjuk tumpukan soal dihadapan ku.

“Aniyo. Aku banyak kerjaan. Dan lagi, kenapa aku harus membantu mu, yoeja sinting??” Katanya sarkatis.

Oh, come on, God. It can make me crazy.” Kata ku frustasi sambil mengacak rambut sebahu ku acak.

“Eumm… Emang kau mampu membayarku berapa jika aku membantu mu??” Katanya menantang.

“Aku…” Brengsek, namja itu ternyata juga licik. Nan eottokhe?? Bagaimana tugas ku?? Aku yakin, aku tak akan mampu mengumpulkannya besok jika tanpa.. ehemm bantuannya. Aku sudah sangat lelah hari ini, belum lagi ditambah mengerjakan soal yang aku sama sekali tak ku ketahui. Mood ku benar-benar jelek hari ini.

“Kau tak beranikan?? Aku pulang dulu, ya. Dan jangan lupa selesaikan soal-soal itu. Aku yakin itu pasti dari Nam seongsangnim. Dan Anyeong…” Ia melambai tangan sambil tak lupa menyeringai senang dan bergegas meninggalkan ku.

“Andwae!! Tidak, changkaman.” Teriak ku. Dia terdiam lalu berbalik menghadap ku.

“Apa lagi??” Tanya nya.

“Aku… Aku akan melakukan apa pun yang kau minta. Tapi, ku mohon, bantu aku.” Akhirnya dengan mempertaruhkan harga diri dan juga mengesampingkan gengsi ku. Aku yakin, dia pasti sedang bersorak kegirangan.

“Eumm, bagaimana ya??” Katanya yang membuat ku mulai muak. Tapi, sabar Mun Jung-a, kau pasti bisa menghadapi makhluk satu ini. Batin ku.

“Oh, come on, i need your help. I promise i will do anything what you want.” Kata ku dengan memelas.

Eumm, okay, but keep your promise to me.” Seringai itu muncul lagi. Dan aku hanya dapat mengangguk pasrah dan berdoa supaya dia tak minta macam-macam dari ku.

***

                Di sinilah aku sekarang, terperangkap dalam sebuah lubang buaya. Kenapa?? Kalian tahu, aku sedang di apartment Lee Dong Hae. Dia ternyata melebihi menyebalkan dari yang ku kira, dan aku tak tahu kata apa yang harus ku ungkapkan untuknya. Dia dengan sekenaknya membawa ku ke sini dengan alasan konyolnya “Karena aku yang berkuasa sakarang. Kalau toh kau tak mau itu juga keuntungan ku, aku tak mengajari mu. Itu mudahkan??” Sial, dengan kata-kata terkutuk itu aku akhirnya sampai di sini.

“Lebih baik kita makan dulu.” Katanya dengan sekenaknya. Aku masih bergeming dari tempat ku tak sesenti pun aku bergerak. “YAKK!!  Kenapa diam saja, ayo makan. Aku tak mau dituduh tak memberi makan anak orang.” Lanjutnya. Aku bangun dengan pastinya mengumpat namja songong itu.

***

                Sial, pasti aku tahu kalau dia bakalan menyuruh ku untuk memasak. Aku sempat mendebat dan mengelak aku tak bisa memasak. Tapi dia bicara pernah sekali dia memakan masakan ku yang ku peruntukan untuk makan siang Kai.

“Ah ppaliwa!!” Serunya. Aku hanya bisa mendengus kesal sambil memotong wortel dihapadapan ku.

“ARGHHH!!!” Pekik ku. Gara-gara dia tangan ku terisis. Dasar namja sialan. Aku langsung mengemut tangan ku dan menghisap darah. Tapi baru saja aku memasukkan jari ku, ada tangan yang tangan yang memegangi tangan ku lalu menghisap jari ku yang terluka itu.

Aku terhenyak setelah menyadari bahwa orang itu adalah Lee Dong Hae. Aku hanya bisa memandanginya ketika menghisap jari ku. Dilihat dari sudut pandang ini, ternyata namja ini tampan sangat tampan malah. Ha?? Apa yang baru saja aku ucapkan?? Tamp—ah lupakan itu.

“Kau ini hati-hati kenapa?? Lihat jari mu.” Katanya dengan nada marah dan juga, ku dengar  terselip nada cemas. Mendengar namja ini berkata seperti itu membuat degup jantung ku tak beraturan dan juga membuat pipi ku memanas. Dan aku yakin pipi ku sekarang ini sudah memerah bak tomat. Oh ayolah, ada apa dengan mu nona Kim??

“Mianhae.” Ucap ku lirih. Entah dorongan dari mana aku bisa mengucapkan kata itu walaupun dengan lirih. Ku lihat dari ekor mata ku di menempelkan plester ke jari ku itu.

“Sudah, biar aku saja yang melanjutkannya. Kau duduk di sana.” Perintahnya. Aku hanya menunduk dan berjalan menuju meja bar Lee Dong Hae.

***

                Aku dan dia makan dengan suasana canggung karena, mungkin karena kejadian jari ku teriris tadi. Aku melahap bibimbap buatan ku yang dilanjutkan dirinya. Tak ku sangka dia bisa membuatnya. Yah, aku akui semua orang pasti bisa membuat makanan seperti ini. Tapi, aku hanya kagum saja, entah kenapa.

“Eumm, nama mu??” Tanyanya berusaha memecahkan keheningan.

“Kim Min Jung.” Jawab ku dengan tanpa repot-repot mendongakkan wajah ku padanya.

“Kau, katanya apa yang akan kau tanyakan.” Kata namja itu. Aku masih segan untuk mendongakkan wajah ku. “Dan lagi, jika aku sedang bicara tolong tatap lawan bicara mu. Aku merasa terhina dengan sikap mu itu.” Lanjutnya dengan penuh sarkatisme.

“Mianhae.” Kata ku lalu mengambil tumpukan soal tadi. “Ini, aku hanya minta bantuan mu untuk mengerjakan soal ini” Tutur ku panjang lebar.

“Eumm baiklah, tapi selesaikan dulu makanan mu.” Perintahnya.

***

                “Ck-Ck, ke mana saja kau selama ini, sampai kau tak bisa mengerjakan soal semudah ini.” Ejeknya.

“YAKK!! Ini materi ku tadi siang. Hanya saja aku ketiduran dan—pantaslah aku tak mengetahuinya.” Kata ku ketus.

“Ck, kau memang yoeja bodoh yang pernah ku temui.”

“YAKK!! Jangan mengejek ku terus. Cepat selesaikan soal ini dan aku bisa pulang. Badan ku sudah remuk.” Keluh ku.

“Hemm, arraseo.” Katanya lagi.

Dia terus mengoceh layaknya Nam seongsangnim. Lama-kelamaan membuat ku mengantuk dan kalian tahu, ocehannya seperti lagu meninabobokkan bayi. Tuhan, aku benar-benar tak kuat. Keluh ku. Akhirnya, dengan tak ku pedulikan apakah dia masih tetap mengoceh atau tidak, aku sudah kembali ke alam bawah sadar ku menjemput mimpi indah-indah ku.

***

                Aku terbangun, sinar mentari pagi menembus tirai kamar k—Wait, kamar ku?? Sejak kapan aku mempunyai foto namja sialan itu. Dan, foto itu terpajang dengan sangat besar di atas bed ini. Ku perhatikan sekali lagi kamar ini. Pandangan ku tertuju pada sesosok manusia yang sepertinya ku kenal. Lee Dong Hae, tak salah lagi sesosok manusia itu adalah dirinya.

Tapi kenapa—Wait, oh aku baru ingat kenapa aku bisa terbaring di bed king size milik namja itu. Terakhir kali, aku masih mendengar dengan baik, namja itu menerangkan tentang mata kuliah ku kemarin. Dan… dan yah, aku tertidur saking aku tak kuat. Dan sekarang jam—aku mencari jam yang ada di kamar ini—jam 07.30. MWOO!! 07.30. Aku ada kuliah jam 08.30. Dan mata kuliah kali ini akan diisi Nam seongsangnim lagi. Eottokhe?? Kalau telat, bisa-bisa Nam seongsangnim menambahi hukaman ku lagi.

Segera ku putuskan menuju kamar mandi Dong Hae. Dan, aku baru ingat aku tak membawa baju. Kemarin saja, aku tak mandi. Aduh, apa aku harus pulang dulu baru ke kampus?? Mana mungkin, aku tak akan punya waktu untuk itu. Atau aku pinjam salah satu kemeja milik Lee Dong Hae saja?? Tapi—ah itu urusan nanti, yang terpenting aku mandi dulu.

***

                Akhirnya aku memilih meminjam salah satu kemeja Lee Dong Hae tanpa sepengetahuannya. Bukannya aku bermaksud untuk mencuri, hanya saja, aku tak tega membangunkan Lee Dong Hae yang sedang tertidur lelap. Aku yakin, dia pasti sangatlah lelah, mengingat dirinya adalah bintang hallyu wave. Dan kalian tahu, kemeja ini kebesaran untuk badan ku yang ramping, walaupun ini adalah yang terkecil di lemarinya.

Aku pun memutar otak, agar menampilan ku saat di kampus tidak terlalu mempermalukan. Ku putuskan untuk mencari gunting dan untungnya aku tak perlu repot-repot lagi untuk menemukannya. Di atas meja samping tempat tidurnya, di situlah aku menemukan gunting tersebut. Aku pun menggunting celana jeans panjang ku. Ku gunting celana jeans ini menjadi pendek di atas lutut. Aku pun memakainya dan hasilnya, yup tak terlalu buruk untuk di pandang orang lain.

Segera ku benahi barang-barang ku dan ku dapati tumpukan soal kemarin. Ku lihat sekilas, sudah selesai semua. Tak bisa ku tahan lengkungan senyum yang tiba-tiba tersungging di bibir mungil ku. Baik juga namja ini. Batin ku. Aku juga menemukan sebuah note kecil yang ia tempelkan di halaman paling depan.

Saat aku menerangkan semua tentang materi itu kau malah sekenaknya tertidur dengan pulas dan maaf tak membangunkan mu, aku tak tega. Dan ini, semua soal mu sudah ke selesaikan. Dan itu berarti bayaran ku dua kali lipat, ne?? Dan kau harus menepati janji mu kepada ku. Jaljayo.            ~Lee Dong Hae~

Aisshh~~ baru beberapa menit aku memujinya baik dan ini, dia malah meminta bayaran dua kali lipat. Sialan. Tapi aku iba terhadapnya karena dari tadi aku perhatikan dia meringkuk kedinginan. Pasalnya, dia semalam pasti tak menggunakan selimut untuk melindungi dirinya. Aku pun menyelimuti nya.

Aku segera bergegas menuju kampus dengan sebelumnya ku tinggali note dan memasakkan sarapan untuknya. Yah, hitung-hitung sebagai balas jasa ku sebelum dia meminta ku dengan hal yang aneh-aneh.

***

                Aku haruslah bersyukur kehadirat Tuhan. Mengapa?? Kau tahu, sampai saat ini, detik ini, aku dan dia belum bertemu lagi. Ini sudah tiga hari sejak hari itu. Dan aku sangat sangat sangat senang akan hal itu. Dan itu berarti, dia belum bisa menjadikan ku budak sementara.

“YAKK!! NEO!! Kau mau mengingkari janji mu kepada ku??” Mampus, aku mengenal suara ini. Ini suara Lee Dong Hae. Oh Tuhan baru beberapa detik yang lalu aku bersyukur atas nikmat yang Kau berikan. Tapi kenapa Kau malah mendatangkan namja itu kepada ku ya Tuhan?? Apa salah dan dosa ku?? Apa dosa yang telah ku perbuat sangatlah besar??

“YAKK!! NEO!! Aku berbicara dengan mu. Aku sudah mengatakan kalau aku tak mau orang aku ajak bicara tak menatap lawan bicaranya, kan??” Katanya pada ku. Dan sejak kapan dia sudah duduk di samping ku.

“Mianhae. Lalu apa mau mu?? Dan ingat aku tak pernah mengingkari janji ku.” Kata ku sinis.

“Lalu, kenapa hari itu kau langsung pergi dari rumah ku dan belakangan ini kau tak terlihat di kampus??” Tanyanya.

“YAKK!! Bukankah pagi itu aku sudah memberi mu note kalau aku ada kuliah pagi dan itu Nam seongsangnim?? Dan belakangan ini aku selalu di kampus, tahu.” Jawab ku.

“Oh, kalau begitu, tepati janji mu. Dan kau sudah membaca note itu kan. Dua kali lipat. Dan aku putuskan bahwa kau akan menjadi budak ku selama sebulan.” Katanya.

“MWORAGO!! SEBULAN!! KAU GILA ATAU APA?? WAKTU ITU KAN AKU CUMA MENANYAKAN 50 SOAL!!” Bentak ku karena aku kaget. Gila aja sebulan.

“Katanya kau akan menepati janji mu. Eumm, kalau kau tak mau sebulan berarti dua bulan, kau mau??” Penawaran macam apa ini?? Sebenarnya yang di sini gila dan aneh itu aku atau dia sih??

“AISHH~~ ne arraseo. Tapi hanya SEBULAN dan tak lebih.” Kata ku sambil menekankan kata-kata sebulan.

“Baiklah, dan lebih baik aku memiliki nomor handphone mu supaya aku memudah kan untuk menghubungi mu.” Katanya sambil menyeringai senang. “Berikan handphone mu.” Serunya. Aku pun dengan terpaksa menyerahkan handphone ku padanya.

“Ini. Dan anyeong aku ada schedule setelah ini. Kalau aku telepon atau sms angkat atau balas. Kalau tidak, kau akan menjadi budak ku lebih lama. Arraseo.” Aku hanya mengangguk lemah dengan kesepakatan satu arah ini. Damn, ini hanya menguntungkan dirinya. Dan aku, sama sekali tak diuntungkan.

***

                “YAKK!! NEO!! Eoddiseoyo??” Katanya dalam sambungan telepon. Dasar tak tahu sopan santun. Baru saja aku mengangkat telepon darinya, tanpa salam atau basa-basi dia langsung nyerocos sambil teriak lagi.

“YAKK!! Santai kenapa?? Aku di rumah wae??” Kata ku malas-malasan.

“Datang ke apartment ku. Ku tunggu 30 menit dari sekarang. Kalau tidak, kau pasti tahu konsekuensinya.” Serunya semena-mena.

“NE ARRASEO!!” Bentakku lalu memutuskan sambungan telepon sepihak. Aku pun segera bergegas. Tak kupedulikan bagaimana penampilan ku sekarang. Aku langsung menyambar kemeja yang ada di gantungan lemari ku untuk menutupi tanktop yang sekarang ku kenakan dan tak lupa kunci mobil ku.

***

                “YAKK!! Apa yang kau inginkan??” Bentak ku sesaat setelah aku menginjakkan kaki ku di apartment-nya.

“WOI!! SLOW, Girl.” Katanya santai. Bagaimana bisa santai?? Saat perjalanan tadi aku harus menggadaikan keselamatan dan pastinya nyawa ku sendiri demi ke tempat ini.

“Lalu apa yang kau minta, huh??” Kata ku.

“Aku cuma ingin kau membuatkan ku, kimchi. Udara di luar pasti dinginkan?? Buatkan itu supaya aku tak kedinginan.” Katanya santai.

“MWO!! Kau meminta ku cepat-cepat ke sini hanya untuk itu. Harusnya kau bisa memasak sendiri atau paling tidak kau bisa pesan makanan kan?? Aigoo, lebih baik kau bunuh aku sekarang juga.” Dengus ku kesal.

“YAKK!! Kau mau lari dari tanggung jawab mu dengan meminta ku membunuh mu. Itu tak akan pernah terjadi, sampai kontrak mu dengan ku habis.” Balasnya sambil menyeringai senang.

“AH~~ SHIT!!” Umpat ku. Dapat ku lihat dari ekor mata ku ia hanya terkikik senang. Ah Damn!!

***

                Hari-hari ku setelah hari di mana aku diminta Lee Dong Hae untuk segera ke apartment nya serasa seperti hidup di neraka. Sekarang aku bak assistent pribadinya, yang disuruhnya untuk ini-itu. Atau mungkin lebih tepatnya adalah budak Lee Dong Hae. Bahkan sampai aku disuruhnya untuk menyiapkan breakfast, lunch and also his dinner. Dan dia, dengan tanpa mempunyai rasa kemanusiaan, dia tak pernah memberi ku waktu untuk beristirahat bahkan untuk mengambil nafas ku.

“Oh ayolah, Dong Hae-ya, biarkan aku beristirahat. Aku sungguh sangat lelah. Kau boleh menyuruh ku setelah aku beristirahat.” Pinta ku dengan memelas.

“Tapi, kau harus terlebih dahulu membuatku hangat. Aku sungguh sangat kedinginan.” Apa lagi ini?? Membuatnya hangat, bukankah di apartment-nya ini ada penghangat ruangan?? Dan lihatlah dirinya, sudah berlapis-lapis kain ada di dirinya. Iya, aku tahu sekarang dia sedang demam dan udara di luar sana sangatlah dingin, tapi aku harus bagaimana untuk membuatnya tak kedinginan??

“Oh, c’mon, kau sudah berlapis kain dan selimut tebal itu?? Masa sih kau masih kedinginan??” Tanya ku.

“Kali ini aku tak berbohong, sungguh aku kedinginan, Min Jung-a.” Katanya sambil tetap meringkuk di balik selimut tebal dan hangatnya dan menggigil kedinginan. Melihatnya seperti itu membuat ku tak tega. Aku pun berusaha menjadi cara agar dia bisa menjadi hangat.

Dan, seperti ada bola lampu yang tadinya redup menjadi nyala yang terang aku mendapatkan ide. Ide yang harus ku akui sangat gila yaitu, MEMELUKNYA. Bagaimana mungkin aku melakukannya?? Itu hal yang mustahil dan sangat memalukan kalau aku lakukan. Tapi, dengan cara apa lagi selain itu?? Menurut teman ku, menghangatkan tubuh seseorang dengan menyalurkan panas yang ada di tubuh kita. Dan itu berarti aku harus memeluknya

“Baiklah, tapi kau jangan terkejut atau apa. Aku akan melakukan sesuatu agar kau tak kedinginan.” Aku pun naik ke bed king size miliknya. Aku melihatnya mengerutkan dahi. Aku tidur seperti posisinya dan memposisikan tubuh ku senyaman mungkin. Aku pun, mendekat ke arahnya dan ku peluk dirinya.

“Cara ini yang bisa ku lakukan, menggunakan panas tubuh ku untuk menghangatkan mu.” Jelas ku sebelum ia menginterupsi apa yang aku lakukan. Ia hanya mengangguk pasrah. Aku mengeratkan pelukan ku pada tubuhnya. Dan ehemm, bisa ku katakan aku belum pernah senyaman ini berpelukan dengan orang selain keluarga ku. Dan pastinya di sini hangat.

“Eotte?? Kau tak lagi kedinginan??” Tanya ku.

“Aniyo, gomawo.” Katanya. Dan lagi-lagi aku tak bisa menahan senyuman ku. Entah kenapa dada ku berdegup kencang semenjak aku memeluknya. Dan bisa ku rasakan degupan itu juga berasal darinya. Ada apa ini?? Ada yang salah dengan ku dan dirinya??

Aku masih tetap bertahan pada posisi ini sampai ku kira Dong Hae nyaman dan tak lagi kedinginan. Aku berusaha melepaskan pelukan ku tapi sepertinya namja ini malah mengeratkan pelukan nya.

“Biarkan seperti ini. Ku mohon.” Katanya dengan lembut. Aku hanya bisa diam terpaku.

***

                Aku terbangun. Oh sial, ternyata aku tertidur. Ku perhatikan namja yang sampai sekarang ini berada dalam dekapan ku. Wajahnya sangat damai bak bayi mungil tak berdosa dan tak nampak sifat jahilnya yang selalu ia tampaknya pada ku, dan juga namja ini sangatlah tampan. Aishh~~ apa yang baru saja aku bicarakan?? Tapi memang, harus ku akui dia sangatlah tampan.

Tiba-tiba ku rasakan sebuah tangan mengelus lembut pipi ku. Dan ku dapati namja itu sedang mengelus lembut pipi ku. BLUSH. Tak bisa ku pungkiri, kedua pipi ku memanas dan bisa ku pastikan sudah memerah bak kepiting rebus. Ini kedua kalinya Dong Hae memperlakukan ku manisiawi setelah kejadian you-kow-what.

“Ada apa??” Tanya ku setenang mungkin berusaha menahan gejolak di hati ku. Sabar dan tenang nona Kim. Bisik ku pada hati nurani ku. Dia sama sekali tak menjawab dan tetap mengelus lembut pipi ku. Secara spontan dia menggapai dagu ku dan menarik nya agar mendongak menghadapnya. Aku yakin, pipi ku bertambah merah.

Dan, secara perlahan tapi pasti dia memajukan wajahnya ke arah ku. Aku yang linglung tak tahu apa yang harus aku lakukan. Dia berhenti ketika ku rasakan bibirnya menyentuh lembut bibir ku. Dia mencium ku, benar-benar mencium ku. Ciumannya tak menuntut. Dia hanya menyentuhkan bibirnya dan terkadang melumat lembut bibir ku tanpa ada tuntutan di cumannya. Eottokhe?? Haruskah aku membalasnya?? Aku ingin menolak tapi sebagian diri ku meminta ku untuk membalasnya.

Dia melepaskan tautan bibir ku dan bibirnya. Aku masih saja terpaku. Tak bisa bergerak ataupun berkata-kata. Seluruh sistem tubuh kumasih menegang akibat tindakan tiba-tiba darinya. Seharusnya aku marah. Tapi apa ini?? Aku malah tak bisa melakukan apa-apa?? Dan kenapa jantung ku malah berdegup semakin cepat?? Apa yang terjadi dengan ku??

“Gomawo telah menjaga ku dan—“ ia menggantungkan ucapannya. “Jadilah yoejachingu ku. Aku mohon.” Lanjutnya dengan bersungguh-sungguh. Aku hanya diam terpaku. Seorang Lee Dong Hae, aku ulangi, seorang LEE DONG HAE member Super Junior menembak ku. Menyatakan cintanya pada orang yang menyebutkan bahwa dia pembawa sial untuk dirinya dan itu lah aku.

“Aku bersungguh-sungguh, Min Jung-a.” Katanya sambil menatap lekat kedua mata ku. Dia memeluk ku lagi dan meletakkan kepala ku tepat di dada bidangnya. Dan lagi-lagi aku tak mempunyai reaksi apa pun kecuali mematung di pelukannya. Saat ini, sulit bagi ku untuk bernafas karena permintaannya barusan.

“Dengarkan jantung ku. Kau akan tahu perasaan ku saat bersama mu akhir-akhir ini.” Katanya sambil mengelus lembut rambut ku. Jantungnya berdegup sangat cepat seperti jantung ku. Akankah ia benar-benar mencintai ku??

Ku dongakkan kepala ku. Ku beranikan diri mencium bibirnya. CHU~~ ragu memang awalnya. Tapi setelah aku melihat sorot mata nya aku yakin dia benar-benar mencintai ku, ku perdalam ciuman ku. Dia membalasnya.

“Saranghae neomu saranghae.” Bisiknya tepat di telinga ku. Aku membeku. What should i do??

“Nado saranghae.” Kalimat itu langsung meluncur tanpa aku perintah. Tapi entah kenapa aku bahagia karena aku telah mengucapkan kalimat itu. Aku memang telah jatuh kepadanya. Fakta yang selalu aku coba hindari tapi nyata nya memang tak bisa. Aku telah bertekuk lutut kepadanya.

“Aku buatkan makanan untuk mu ya??” Bisik ku. Dia hanya menggeleng sambil tetap mengeratkan pelukannya. “Oh ayolah, kau butuh makan, kau butuh energi, kau sedang sakit, Hae-ya.” Lanjut ku.

“Ck, baiklah.” Katanya kesal. Aku pun bangun lalu menuju dapur nya membuatkan namjachingu ku —walaupun aku masih kelu dengan panggilan itu—itu sarapan.

***

                Aku di sini, berdiri dengan gugup di depan dorm Super Junior. Entah kenapa aku menjadi gugup. Aku memang pernah ke sini tapi ini lain. Dulu aku menyandang, yah bisa di bilang musuh Lee Dong Hae. Tapi sekarang aku ke sini dengan menyandang status yoejachingu Lee Dong Hae. Agak awkward. Dan sekarang Dong Hae ingin memperkenalkan ku kepada member lain sebagai yoejachingu nya.

“Oh ayolah, kau juga pernah ke sini kan?? Jangan gugup seperti itu.” Kata Dong Hae berusaha menghibur ku.

“Tapi dulu itu lain, Hae-ya. Kita dulu saling membenci tapi sekarang—“ Aku tak sanggup melanjutkan kalimat ku.

“Oh c’mon, tak ada yang salah dengan itu kan?? Hati manusia itu bisa berubah-ubah. Dan mungkin kita itu salah satu korban pepatah ‘Benci jadi cinta.’ Dan itu tak salah kan??” Ujar nya.

“Memang itu tak salah. Ta—pi—“ Kata ku.

“Shhhttt, believe in me, ne??” Kata nya. Aku hanya mengangguk. Dia pun mencium kening ku berusaha untuk menenangkan ku.

***

                “Aku datang.” Teriak Dong Hae sambil melangkah ringan memasuki ruang tamu dengan tanpa melepaskan genggaman tangan nya kepada ku.

“Hyung, kau datang tepat pada wakt—“ Sudah bisa ku tebak pasti reaksi mereka akan berlebihan. Lihatlah, wajah polos Ryeo Wook berubah mengangakan mulutnya. Dan oppadeul yang ada di ruangan ini menatap kami—aku dan Dong Hae—layaknya seorang penjahat. Dan, mungkin Tuhan memang sudah merencanakan ini, buktinya semua member Super Junior ada di ruangan ini tanpa terkecuali.

“Kau Min Jung kan?? Kim Min Jung?? Yoeja yang berselisih dengan uri Dong Hae?? Nuna Kim Jong In??” Tanya Eun Hyuk oppa memastikan.

“Ne.” Jawab ku canggung.

“Lalu—jangan-jangan kalian—kalian.” Tanya Hee Chul oppa penuh selidik. Dan aku baru menyadari bahwa Hee Chul oppa ada di sini, mengingat dia sekarang sedang menjalani wamil-nya.

“Aish, YAKK!! Hyung dan doengseng ku tersayang, ini aku perkenalkan yoejachingu ku. Kalian sudah tahu kan namanya??” Kata Dong Hae tanpa menggubris pandangan aneh dari member yang lain. Dan kalian tahu ekspresi ku, sudah seperti biasa wajah ku langsung memerah.

“HA??” Kata mereka serentak.

“Pantesan ikan amis itu belakangan ini suka senyam-senyum sendiri.” Celutuk sang maknae entah dari mana.

“YAKK!! Barusan kau bilang apa??” Kata Dong Hae dengan kesal.

“IKAN AMIS, Puas kau.” Kata Kyu Hyun.

“Aish, sudahlah Kyu. Kalau begitu, berhubung hari ini kita free dan kita kedapatan satu anggota keluarga baru, ayo kita rayakan dengan makan-makan.” Seru sang tetua, Lee Teuk oppa.

“Tapi, sebaiknya kita memanggil yoejachingu masing-masing. Kasihan kan Min Jung sendirian tanpa ada teman bicara.” Kata Shin Dong oppa antusias. Semua member mengangguk setuju.

“Tapi, bagaimana dengan ku?? Aku baru saja putus.” Celutuk Eun Hyuk oppa.

“Itu urusan mu, Hyuk.” Seru Kyu Hyun.

“YAKK!! Mana sopan santun mu, aku hyung mu. Dan lagian, memangnya kau punya yoeja, Kyu??” Sindir Eun Hyuk.

“YAKK!! Kalian berdua lebih baik pergi ke supermarket beli ini semua.” Titah Ryeo Wook sambil menyodorkan daftar belanjaan.

“Arraseo, tapi mana uangnya??” Kata Eun Hyuk oppa.

“Aish, kau memang makhluk sangat irit atau kebih tepatnya pelit.” Sindir Kyu Hyun.

“Diam atau PSP mu akan menjadi dua bagian.” Ancam Eun Hyuk.

Belum sempat Kyu Hyun menyahut, aku langsung cepat-cepat menyelanya, “Biarkan aku saja yang membelinya. Mana daftar belanjaannya??” Kata ku berbaik hati. Dari pada melihat kedua makhuk JONES (Read : Jomblo Ngenes) ini bertengkar , lebih baik aku saja yang pergi ke supermarket.

“Ah, baiklah, kau memang calon ipar yang baik.” Kata Ryeo Wook.

“Bolehkan aku menemaninya??” Celetuk Sung Min oppa.

“YAKK!! HYUNG, kau mau mati, huh. Dia yoejachingu ku, jangan macam-macam!! Dan mau kau ke manakan Sang Mi nuna??” Kata Dong Hae dan secara refleks menarik ku menuju pelukannya.

“Aish, aku hanya bercanda kali.” Dengus Sung Min oppa kesal.

“YAKK!! NEO!! Lepaskan aku.” Ujar ku sambil berusaha melepaskan pelukannya. “Aku berangkat ya, oppadeul. Anyeong.” Kata ku setelah berhasil melepaskan pelukan Dong Hae.

“Aku ikut.” Teriak Dong Hae sambil mengerjar ku.

***

                Untungnya supermarket tak terlalu jauh dari dorm Super Junior. Aku dan juga Dong Hae hanya perlu berjalan sambil menikmati dinginnya udara Seoul di sore hari. Dan bodohnya aku, aku lupa memakai sarung tangan ku. Dan aku berusaha mati-matian menahan suhu yang begitu dingin.

“Kau kedinginan??” Tanya nya perhatian ketika melihat ku yang berulang kali mengusap-usap tangan ku, berusaha meminimaliskan suhu. Aku mendongakkan wajah ku dan dari jarak sedekat ini aku bisa melihat wajahnya walaupun tertutupi alat penyamaran. Dan kini aku baru menyadari, ternyata yoeja itu mengagumi namja ku karena memang namja ini sangatlah tampan.

“Emmm, aku kedingingan.” Jawab ku. Ia melepas sarung tangan kanan nya. Aku sempat akan menginterupsinya tapi dengan cekatan ia memegang pergelangan tangan ku dan memasukan tangan ku ke kantongnya jaketnya. Aku bisa merasakan hangat walau hanya seperti ini.

“Lain kali, jangan pernah lupa memakai sarung tangan saat keluar ruangan atau rumah, saat ini udara sangat dingin, aku tak mau kau sakit. Arrachi??” Katanya sambil memasangkan sarung tangan nya ke tangan kanan ku yang tak ada di sakunya.

“Emmm, arrasoe.” Kami kembali melanjutkan perjalanan kami dalam kebisuan yang hening.

***

                Hari ini adalah hari yang sangat mengesankan untuk ku. Pasalnya aku bisa diterima menjadi salah satu anggota keluarga baru Super Junior, mengingat aku adalah yoejachingu Dong Hae. Dan tadi aku sempat berkenalan dengan yoejachingu oppadeul. Yah, walaupun tak semua member mempunyai yoejachingu seperti Eun Hyuk oppa, Lee Teuk oppa, dan Kyu Hyun.

“Jungie-a, kau sendirian lagi?? Kai eoddiga??” Tanya Dong Hae sesampainya di rumah ku.

“Dia masih sibuk berlatih. Dan mungkin malam ini dia tak akan pulang. Mengingat beberapa bulan lagi dia dan teman-temannya melakukan debut.” Jelas ku.

“Kalau begitu, malam ini aku menginap di rumah mu lagi ya??” Pintanya.

“Emm, memang nya besok kau tak ada schedule??” Tanya ku sembari mengahampirinya yang sedari tadi asik duduk di bangku ruang makan.

“Ada, tapi siang. Tak apalah kalau malam ini aku ada di rumah mu.”

“Emm, arraseo. Sebaiknya kita tidur, aku besok ada kuliah pagi.” Kata ku.

“Baiklah, Jungie sayang.” Katanya yang yang berhasil membuat pipi ku memerah.

***

                Dasar kekanakan. Harusnya Minggu ini aku bisa beristirahat, tapi Dong Hae dengan sekenaknya meminta ku ke apartment-nya. Katanya dia ingin aku membantunya membersihkan apartment-nya yang bisa dibilang sangat kumuh. Oh, ayolah tindakan apa lagi yang akan dia lakukan. Harusnya kan dia bisa membersihkannya sendiri tanpa perlu mengganggu jadwal sleeping beauty ku.

“Oh ayolah, chagi. Kau tak mau namja mu yang tampan ini kecapaian dan tak tampan lagi kan. Kau hanya membantu ku membersihkan apartment ini dan tak lebih.” Katanya sambil memeluk dari belakang.

“Tapi harusnya kau bisa melakukannya sendiri, kau merusak jadwal sleeping beauty ku.” Dengus ku kesal.

“Iya aku tahu, aku minta maaf. Kau bisa meminta ku melakukan apa aja, asalkan kau membantu ku membersihkan apartment ini. Aku janji.” Katanya sambil mengeluarkan puppy eyes. Dan aku dengan sangat terpaksa menuruti nya.

“Baiklah, tapi apapun yang aku minta.” Ulang ku. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum.

“OPPA~~ AHJUMMA MENITIPKAN IN—Apa yang kalian lakukan?? YAKK!! Kenapa Min Jung ada di sini?? Jangan-jangan??” Kata Hyun Ra yang tiba-tiba datang dihadapan ku dan Dong Hae membuat ku refleks melepaskan pelukan Dong Hae. Aku dan Dong Hae memang belum memberi tahu Hyun Ra maupun Kai tentang hubungan ku dan Dong Hae mengingat waktu yang tidak memungkinkan.

“Bukankah kalian berdua saling bermusuhan kenapa—jangan-jangan benar dugaan ku, kalian—“ Kata Hyun Ra yang tak sanggup melanjutkan omongannya.

“Jangan-jangan apa, Hyun Ra, doengseng ku sayang??” Tanya Dong Hae kepada sepupunya yang juga sahabat ku ini.

“Kalian pacaran ya??” Kata Hyun Ra berusaha menggoda ku dan juga Dong Hae.

“Yup.” Dan seketika Dong Hae mendekatkan wajahnya ke arah ku. Memberi ku ciuman kilatnya dan itu langsung membuat pipi ku merona merah.

“Wooaa~~ Kapan kalian jadian?? Dan kenapa kalian tak memberitahu ku?? Sudah berapa lama kalian pacaran??” Hyun Ra langsung menyerang kami berdua dengan berbagai pertanyaan.

“YAKK!! YAKK!! Satu-satu jika kau mau tanya, jangan seperti kereta begitu donk.” Sengak ku.

“Hehehe~~ aku kan terlalu bahagia mendengar kalian jadian dan lagi mengingat kalian dulu musuh.” Kata Hyun Ra sambil cengar-cengir. “Lalu, apa yang kalian tunggu?? Ayo cepat jawab pertanyaan ku tadi.” Lanjutnya. Dan tiba-tiba aku mendepatkan sebuah ide.

“Eumm, kau ingin jawaban kami??” Tanya ku.

“Ne~~ ayo cepat katakan.” Katanya memaksa.

“Tapi, aku punya syarat untuk mu.” Kata ku.

“MWO!! Ah ppali, katakanlah.” Mohon Hyun Ra.

Belum sempat aku menjawab, Dong Hae lengkap dengan seringainya mendahului ku, “Bantu aku dan Min Jung membersihkan apartment ku, kalau kau mau jawaban dari kami.” Kata Dong Hae. Woa~~ ternyata Dong Hae tahu pikiran ku.

“MWOO!! ANIYO!! Aku tak mau membersihkan apartment mu, karena ku yakin pasti itu akan menguras semua tenaga dan juga kekuatan ku.” Tolaknya.

“Ya sudah kalau kau tak mau, kami juga tak akan menjawab pertanyaan mu tadi.” Kata ku dan dihadiahi anggukan antusias dari Dong Hae.

“Ne, arraseo.” Katanya dengan terpaksa.

***

                “Hae-ya, kau mengingat dulu sewaktu SD, kau pernah menjahili teman mu dan menyebabkan teman mu itu patah tulang. Kau ingat dengan korbannya??”Tanya ku, entah kenapa aku menanyakan itu. Aku hanya ingin tahu apakah dia ingat atau tidak dengan korbannya yang tak lain dan tak bukan adalah aku.

“Emmm, bagaimana ya, aku mengingatnya tidak ya?? Dan kau tahu dari siapa??” Tanya nya balik dengan nada bercanda.

“YAKK!! Aku serius.” Kata ku kesal.

“Ne.. Ne.. Ne.. Arraseo.” Kata nya sambil menyeringai. Entah kenapa dia menyeringai seperti itu, tapi itu bertanda tidaklah baik.

“Ah, ppaliwa!!” Sentak ku karena Dong Hae sedari tadi terus menyeringai tanpa menjawab pertanyaan ku dan itu membuat ku kesal setengah mati. Dan dalam hitungan detik, aku sudah berada di pelukannya. Sambil tetap memeluk ku, dia membisikkan sebuah kata-kata yang membuat ku bersemu merah, “Aku tak akan pernah melupakan korban itu, sayang. Dan itu berarti, sejak awal kita bertemu waktu kuliah, aku mengingat mu seperti kau mengingat ku sebagai orang jahil yang pernah mematahkan tangan mu.”

Aku hanya diam terpaku di pelukan namja ini. “Sudah puas kau?? Aku tak akan melupakan mu, chagi.” Katanya sambil mendongakkan kepala ku dan mencium bibir ku. Mencium ku seperti biasa. Tak menuntut tak ada nafsu dan hanya ada kasih dan cinta di dalamnya dan terkadang dilumatnya kecil bibir ku. Aku hanya menikmati tiap-tiap sentuhan di bibir ku.

“YAKK!! NUNA Dan—KAU!! APA YANG KAU LAKUK—Dong Hae Hyung??” Teriak Kai yang berhasil membuat ku dan Dong Hae melepaskan ciuman kami. Dan kalian tahu, sungguh-sungguh malu kepergok berciuman dengan doengseng ku sendiri. Dan—OH MY GOD!! Lupakan fakta tentang kepergok berciuman oleh adik sendiri!! Bukan hanya Kai yang melihat namun juga, member EXO—Kai dkk sudah melakukan debut sebulan lalu—yang tak tahu kenapa bisa di sini.

“Ehh, Kai, kk—kau sudah pulang emm dan kenapa mereka ke sini??” Tanya ku tergagap.

“Mereka hanya ingin main ke rumah ini, nuna. Dan, bisakah kau jelaskan kejadian tadi sebelum aku adukan ke eomma dan appa??” Kata Kai dengan nada ancaman.

“Ne, nuna akan jelaskan.” Kata ku.

-THE END-

Eotteo?? Gaje ya?? Wajar kali?? Gantung?? Sengaja dibuat gantung gara-gara udah ga kepikiran lagi. So, maafin aja. Thanks for visiting ^^

Author:

Just an ordinary girl with an extraordinary. I'd rather die than live without any passions -JK-

One thought on “FF : When Hate Become Love [Oneshoot]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s