Posted in Family, FF, Oneshoot, Romance, Sad

FF : Cho’s Little Son [In The End I Said, “Saranghae” SEQUEL]

Author : JungJeHwan

Title : Cho’s Little Son

Genre   : Family, Sad, Romance

Cast :

Shin Jae In (OC)

Cho Kyu Hyun

Cho Hyun Jae (OC)

And other cast

Desclamaire : Semua yang terjadi di sini adalah murni dari otak author. Jika ada kesamaan cast dan nama tempat, itu merupakan ketidaksengajaan. Maaf jika gaje dan masih banyak typo. Ini sequel dari “In The End I Said, Saranghae” semoga tidak mengecewakan. Jangan lupa kasih comment. Happy reading ^^

In The End I Said “Saranghae” : Here 

***

                “Eomma, appa jahat. Dia tak mau meminjamkan ku PSP nya itu.” Teriak seorang bocah yang berusia 7 tahun. “Oppa, mengalahlah terhadap anak mu sendiri.” Kata sang istri yang tak lain dan tak bukan Jae In. Dan bocah itu Hyun Jae.

“Aish, bocah.” Gerutu Kyu Hyun lalu memberikan PSP nya kepada anak satu-satu nya itu. Karena kesal Kyu Hyun menyusul Jae In yang sedang memasak di dapur. “Kenapa kau selalu mendukung Hyunnie?? Menyebalkan.” Lagi-lagi Kyu Hyun menggerutu tak jelas sambil memandangi Jae In memasak.

“Kau ini, dia itu anak mu.” Kata Jae In yang menghentikan aktivitas memasaknya. CHU~~ tiba-tiba Kyu Hyun mencium bibir Jae In. Mereka berdua mulai terhanyut dalam ciuman itu sampai.. “Eomma, appa, apa yang kalian lakukan di sini??” Teriakan Hyun Jae menghentikan aktivitas orang tua nya itu.

“Aish, bocah ini mengganggu saja.” Runtuk Kyu Hyun.

“Salah siapa kalian ngelakuinnya di sini. Tak tau malu.” Kata Hyun Jae sambil nyengir lebar.

“Aish, siapa yang mengajarkan itu pada mu??” Kata Kyu Hyun geram sambil menggendong Hyun Jae.

“Hyukkie ahjussi.” Kata Hyun Jae.

“Hyun Jae sayang, jangan pernah kau dengarkan ahjussi mu yang satu itu. Itu membawa virus yang buruk untuk mu. Arraseo.” Cecar Kyu Hyun.

“Arraseo appa.” Hyun Jae tumbuh menjadi bocah kecil yang lucu juga tampan. Banyak orang yang menyukai Hyun Jae. Hyun Jae juga merupakan bocah yang menurut terhadap nasihat kedua orang tuanya.

“Hem, anak pintar.” Kyu Hyun menurunkan Hyun Jae dari gendongannya.

Ting.. Tong..

“Biar aku yang membukanya.” Kata Jae In. Jae In pun menuju pintu rumah lalu membukakan pintu tersebut.

“Oppa, apa yang kau lakukan di sini??” Muka Jae In berubah menjadi kesal mengetahui siapa yang datang.

“Yeobo, nuguya??” Teriak Kyu Hyun dari dalam rumah.

“Dengarkan aku. Sekali ini saja. Aku juga perlu bicara terhadap suami mu,” kata Joong Ki.

“Untuk apa lagi oppa??” Tanya Jae In geram.

***

-Kyu Hyun POV-

“Yoeba, nuguya??” Teriak ku dari dalam rumah. Tak ada jawaban. Aku pun segera menuju pintu dan mendapati namja itu lagi.

“Appa, siapa tamunya??” Tanya Hyunnie yang tiba-tiba ada di belakang ku.

“Kau tunggu di dalam. Arraseo.” Dengan polosnya Hyunnie kembali ke ruang keluarga dan memainkan PSP ku.

“Untuk apa lagi oppa??” Tanya Jae In yang terdengar geram.

“YA!! Untuk apa kau ke sini??” Tanya ku yang berusaha menahan emosi ku.

“Tolong dengarkan aku. Sekali ini saja.” Kata Joong Ki dengan wajah memelas.

“Cepat katakan, lalu pergi.” Kata ku dengan nada sinis. Joong Ki mengeluarkan sebuah benda yang bentuknya seperti undangan pernikahan. Lalu tangannya menyodorkan undangan itu ke arah ku.

“Tolong datang ke pernikahan ku dan tunangan ku bulan depan.” Katanya tulus.

“HE??” Jawab kami—aku dan Jae In—berbarengan.

“Aku harap kalian datang. Maaf dulu mengganggu pernikahan kalian, aku sungguh tak bermaksud, sekali lagi mianhae.” Kata nya sambil mengajak ku bersalaman. Aku pun mengulurkan tangan ku dan menyambut salaman dari nya.

“Ne, gwaenchana, kami juga sudah berusaha melupakannya.” Kata Jae In lembut.

“Ne, gomawo.”

BRAKKK.. Aku dan Jae In berpandangan lalu… “Hyunnie, waeyo??” Kata kami berbarengan dan langsung berlari kearah  nya.

“KYA!! Igeo mwoya??” Aku tersentak melihat PSP ku yang sudah tak berbentuk. Sudah terbelah menjadi dua dan layarnya pecah tak beraturan. “Apa yang kau lakukan dengan PSP tak bersalah ini, Hyunnie??” Tanya ku.

“Aku kalah terus.” Katanya sekenaknya.

“YA!! Tapi tak perlu membanting nya Hyunnie. Ini PSP limited edition. Aish neo jinja.” Ujar ku frustasi. PSP limited edition ini adalah pemberian Jae In saat ulang tahun pernikahan kami tahun lalu.

“Sudahlah, dia tak sengaja yoebo.” Jae In berusaha meredam emosi ku.

“Mianhae appa. Aku tak sengaja.” Perkataan Hyun Jae meluluhkan hati ku yang tersulut emosi. Harusnya aku tak bersikap seperti ini hanya karena PSP. Aish, bodohnya diri ku.

“Ne, tapi kau tak akan mengulanginya lagi. Arra.” Kata ku seraya mengecup pipi kanannya.

“Ne, aku janji.” Kata Hyunnie dengan mata berbinar. Mata itu persis seperti mata eomma nya.

“Kalian tak apa kan??” Tanya Joong Ki yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah ku “Maaf aku lancang memasuki rumah kalian.” Lanjutnya.

“Ani, gwaenchana hyung.” Kata ku.

“Ini, anak kalian??” Tanya Joong Ki sambil mendekati ku yang sedang menggendong Hyunnie.

“Ne, aku anak Cho Kyu Hyun dan Cho Jae In, anyeong Cho Hyun Jae imnida.” Begitulah cara Hyunnie memperkenalkan dirinya kepada orang lain.

“Kyeopta.” Puji Joong Ki hyung.

“Dia, Joong Ki ahjussi, teman eomma dan appa.” Jelas Jae In.

“Anyeong, ahjussi.” Katanya memberikan salam.

“Oppa mau minum apa??” Tanya Jae In.

“Ani, aku juga hanya sebentar di sini. Aku harus menyiapkan pernikahan ku. Anyeong.” Kata Joong Ki Berpamitan.

***

-Hyun Jae POV-

“Hyunnie, jangan nakal. Eomma dan appa hanya pergi sebentar . Arra.” Kata eomma ku dengan bijak. Pagi ini aku dititipkan ke rumah ahjumma dan ahjussi ku karena eomma dan appa ku menghadiri pernikahannya Joong Ki ahjussi. Sebenarnya aku diajak ke pernikahan itu, tapi aku menolak karena pasti acara seperti itu-itu saja.

“Ne eomma, ne appa. Di sinikan ada Jun Ho hyung, Min Ra nuna, Hyukkie ahjussi dan Ah Ra ahjumma.” Ujar ku dengar mata berbinar.

“Hyung, nuna, tolong jaga Hyunnie.” Kata appa ku.

“Baiklah tuan Cho.” Kata Ah Ra ahjumma.

“Baiklah sayang, appa dan eomma pergi dulu ya.” Kata appa ku lalu mengecup pipi kanan ku dan eomma ku mengecup pipi kiri ku.

“Ayo masuk Hyunnie.” Ajak Jun Ho hyung.

***

                “Min Ra, Jun Ho, Hyunnie, makan dulu. Mainnya dilanjutkan nanti saja.” Teriak Ah Ra ahjumma dari dapur.

“Nanti eomma.” Balas Jun Ho hyung dan Min Ra nuna dengan kompak. “Iya ahjumma, nanti saja.” Aku pun menimpali perkataan kedua kakak-beradik itu.

“Aish.” Gerutu Ah Ra ahjumma dan Cekklekk, PS yang sedang asik ku main kan dengan Jun Ho hyung mati. “Kalian makan.. sekarang. Dan kau Min Ra tutup buku mu lalu makan.” Perintah Ah Ra ahjumma dengan tegas.

“Baiklah.” Kata kami dengan muka pasrah. Kami bertiga langsung duduk di kursi meja makan. Ahjumma dan ahjussi pun duduk di hadapan kami lalu mengambilkan kami makanan.

“Igeo mwoya??” Teriak ku panik melihat benda berwarna hijau di piring ku. Aku bergidik ngeri dengan benda menjijikan itu.

“Ini sayur, Hyunnie.” Kata Ah Ra ahjumma.

“Aku tak mau makan sayur.” Kata ku menolak.

“Aish, bocah ini memang keturunan setan itu.” Gerutu Ah Ra ahjumma. Aku dan appa ku sama-sama tak menyukai sayur. Kami selalu menolak jika eomma memasakkan kami sayur yang menjijikan itu. Sampai-sampai eomma kewalahan dengan sifat kami berdua.

“Hyunnie, kau harus makan sayur.” Nasihat Hyukkie ahjussi.

“Aniyo, benda itu menjijikan apalagi rasanya.” Kata ku bergidik ngeri.

“Ya sudah, cepat makan.” Kata ahjumma sambil mengganti menu di piring ku.

“Gomawo, ahjumma.” Kata ku dengan nyengir lega karena tak jadi memakan benda menjijikan itu.

***

                Setelah makan siang, aku dan Jun Ho hyung tak melanjutkan permainan PS kami karena tak diijinkan main itu setelah makan. Aish, menyebalkan. Akhirnya aku dan keluarga ahjumma ku menonton berita yang menurut ku membosakan.

“…dan kali ini berita kecelakaan di sekitar Daegu satu jam yang lalu. Kabarnya mobil yang ditumpangi sepasang suami istri ini tertabrak truk yang pengemudinya sedang mabuk. Dan sekarang kondisi kedua suami istri itu terluka dengan cukup parah.” Kata sanga reporter yang melaporkan langsung dari tempat kejadian.

Aku tersentak mengenali mobil dan plat nomor nya. Dan itu adalah tas eomma ku yang tadi digunakannya untuk menghadiri pernikahan Joong Ki ahjussi.

“Ahjumma, ahjussi, bukankah itu mobil appa ku ya??” Tanya ku kepada bibi dan paman ku itu.

“Nado molla, Hyunnie.” Kata Ah Ra ahjumma yang juga mengamati mobil dan plat nomornya.

Telah diidentifikasi nama kedua suami itu itu adalah Cho Kyu Hyun dan Cho Jae In dan pengendara truk itu No Sin Hwan.” Kata sang reporter.         Aku masih tak percaya dengan nama yang disebutkan sang reporter tadi. Cekleekk. Televisi yang tadi ku tonton bersama keluarga Ah Ra ahjumma dimatikan.

“Kringgg… Kringgg…” Telepon rumah pun berdering dan dengan sigap Hyukkie ahjussi mengangkat nya.

“Ne, ini dengan kerabat Cho Kyu Hyun, waeyo??” Tanya Hyukkie ahjussi dengan sopan. “Ne, gomawo atas kabarnya.” Kata Hyukkie ahjussi lalu menutup telepon rumahnya.

“Ada yang perlu kita bicarakan.” Aku melihat wajah Hyukkie ahjussi berubah menjadi tegang lalu membawa Ah Ra ahjumma ke lantai atas. Aku masih kepikiran dengan kecelakaan itu, kalau itu beneran eomma dan appa ku bagaimana?? Aish.

***

-Author POV-

“Kyu Hyun dan Jae In kecelakaan. Kondisinya parah dan sekarang mereka berdua sudah berada di Seoul hospital.” Kata Hyuk kepada Ah Ra.

“MWO?? Kau tak bercanda kan, oppa??” Tanya Ah Ra memastikan.

“Aniyo, yoebo. Terus kita harus ngomong apa kepada Hyunnie??” Tanya Hyuk dan bersamaan dengan itu air mata Ah Ra melesat dari pelupuk mata nya.

“Kau sudah memberitahu eomma dan appa juga orang tua Jae In??” Tanya Ah Ra dengan sesenggukan.

“Kata mereka, mereka sudah memberitahu orang tua Jae In dan aboenim juga eommonim.” Kata Hyuk lalu memeluk Jae In supaya tangis nya semakin tak menjadi. “Kita harus ke sana, yoebo.” Bisik Hyuk.

“Tapi bagaimana dengan Hyunnie??” Tanya Ah Ra sambil memandang Hyuk.

“Kita beritahu saja, mereka kan orang tua Hyunnie, walau bagaimana pun itu.” Kata Hyuk mencoba untuk tenang.

“Baiklah.” Kata Ah Ra sambil membersihkan sisa air matanya.

***

                “Hyunnie, ahjussi mau mengatakan sesuatu kepada mu.” Kata Hyuk dan lagi-lagi ia mencoba tenang.

“Apa?? Bicara saja.” Kata Hyun Jae yang sudah asik bermain dengan PSP Kyu Hyun. Ah Ra pun mendekat dan memeluk Hyun Jae. Hyun Jae yang kager pun menghentikan permainannya.

“Ada apa, ahjumma??” Tanya Hyun Jae sambil memerhatikan wajah ahjumma nya.

“Orang tua mu kecelakaan Hyunnie.” Kata Ah Ra dengan cepat.

“MWO!! Tak mungkin, kalian bercanda, iya kan??” Ujar Hyun Jae dengan tak percaya.

“Ani Hyunnie. Sebaiknya kita segera ke rumah sakit.” Kata Hyuk dengan menggendong Hyun Jae. “Kalian tak usah ikut.” Kata Hyuk pada kedua anaknya.

“Baiklah appa, eomma.” Kata mereka berdua kompak.

***

                Sudah hampir sebulan Kyu Hyun dan Jae In tak sadarkan diri dari koma. Mereka berdua terkena benturan keras di kepala. Tangan dan kaki Jae In patah. Sedangkan tulang punggung Kyu Hyun mengalami cedera.

Selama itu juga Hyun Jae selalu menemani kedua orang tua nya di rumah sakit. Separuh waktu nya habiskan di rumah sakit menunggui orang tuanya itu. Terkadang ia juga bercerita tentang kehidupannya yang hampa tanpa orang tua nya di sisi Hyun Jae.

Sedangkan haraboeji dan halmoeni Hyun Jae berulang kali meminta Hyun Jae untuk istirahat dan kembali ke rumah. Tapi Hyun Jae tak akan pulang jika tak ada hal mendesak, seperti berangkat ke sekolah dan mengambil peralatan kebutuhannya.

“Appa ireona. Aku kesepian di sini. Hyunnie janji tak akan nakal lagi, akan menuruti perkataan appa tapi Hyunnie mohon bangun appa. Hyunnie benci keadaan seperti ini.” Hyun Jae lagi-lagi terisak di samping tubuh appa nya.

Tak disadari Hyun Jae haraboeji dan halmoeni juga ahjumma dan ahjussi nya melihat dari luar kaca ICU—tempat Kyu Hyun dan Jae In dirawat. Mereka semua menangis melihat cucu dan keponakan mereka seperti itu.

Hyun Jae bangkit dari duduknya lalu berpindah ke tempat Jae In berbaring.

“Eomma iroena. Eomma tahu, Hyun Jae kemarin mendapatkan nilai matematika yang paling tinggi diantara teman taman Hyunnie. Hyunnie juga bisa seperti appa yang nilainya sempurna. Eomma ayo bangun, katanya dulu, kalo Hyunnie bisa mempunyai nilai yang bagus eomma mau mengajak Hyunnie ke Eropa.” Kata-kata Hyunnie berhenti ketika dirasakannya seseorang yang memeluk tubuh mungilnya.

“Hyunnie, pulang dulu ya. Biarkan ahjumma dan ahjussi yang menunggui orang tua mu.” Kata Ah Ra yang berusaha menahan tangisannya. Hyun Jae lagi-agi hanya menggeleng lemah.

“Kau kan besok ke sekolah. Pulang dulu ya, biar besok kau mendapatkan nilai bagus lagi. Kau ingin eomma dan appa mu bangun kan besok. Ayo pulang dulu.” Bujuk Ah Ra. Hati Hyun Jae pun luluh, akhirnya Hyun Jae mau pulang.

***

-Kyu Hyun POV-

“Sayang, appa di sini. Kau tak kesepian, sayang. Appa selalu bersama mu.” Kata ku. Aku melihat Hyun Jae menangis dan bercerita disamping tubuh ku dan Jae In. Aku sedih setiap melihatnya seperti itu. Aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk mengembalikan raga ku ini ke tubuh ku.

***

-Hyun Jae POV-

Selalu saja, setelah pulang sekolah aku tak langsung pulang ke rumah seperti kebiasaan anak-anak lain. Sepulang sekolah aku langsung menuju rumah sakit, tempat eomma dan appa ku dirawat. Aku selalu menunggu mereka sambil bermain PSP dan juga mengerjakan tugas dari seongsangnim ku. Rumah sakit ini begaikan rumah kedua ku.

“Appa, eomma, Hyunnie datang.” Sapa ku ketika memasuki ruang ICU. “Appa, eomma, kenapa kalian tak juga siuman.” Aku pun menatap sedih keadaan kedua orang tua ku ini. Selang oksigen dan benda medis lain yang tak ku mengerti menjadi santapan ku setiap hari.

“Kalian tahu, tadi saat pelajaran olah raga, aku terjatuh dan membuat tangan dan kaki ku lecet-lecet. Itu sangat sakit, harusnya kan kalian melihat dan mengobati kaki juga tangan ku ini, kenapa kalian masih saja tidur.” Pandangan ku menjadi buram dan sedetik kemudian cairan bening itu kembali membasahi pipi chubby ku.

“Dan, ini undangan untuk kalian. Kalian harus membaca karena aku menjadi murid teladan walaupun umur ku masih kecil. Kalian bangga kan??” Tanya ku. Aku mengerti sekarang aku mengalami masa pendewasaan yang lebih cepat dari anak-anak yang lain, walaupun aku masih berusia tujuh tahun.

“Dan, appa harusnya bangga terhadap ku karena aku mengalahkan appa. Lihat saja semua level permainan di PSP ini sudah ku babat habis.” Kata ku mencoba menghibur diri.

“Eomma, tadi aku dapat teman baru. Dia pindahan dari Indonesia, nama nya Rehan Iskandar. Kata Rehan Indonesia itu luas dan kata nya juga pulau di sana sangat banyak mencapai 17 ribu. Aku tak bisa membayangkan seberapa luasnya Indonesia.” Cerita ku.

“Dan, Rehan juga berkata alam Indonesia sangat bagus. Dan ini, ini namanya batik eomma dari Solo. Eomma tahu batik merupakan kebanggaan dari Indonesia. Bagus ya, kalian coba lihat ini dibuat dengan tangan manusia yang sangat trampil. Hebat ya. Aku juga ingin membuat batik.” Cecar ku panjang lebar.

“Oh ya, ini nama nya wayang. Wayang kulit dari Jawa Tengah. Kata Rehan ini dibuat dari kulit sapi. Aku bingung, kenapa bisa ya?? Ini bagus banget. Kalo tak salah namanya Puntadewa yang katanya adalah kakak dari Pandhawa Lima. Nah, aku tadi juga minta Rehan untuk memberiku adik-adik dari Puntadewa.” Lanjut ku sambil memainkan wayang Puntadewa.

“Hyunnie.” Sapa seseorang yang sudah ku hafal suaranya.

“Min Ra nuna, Jun Ho hyung, ngapain kalian ke sini??” Tanya ku pada kedua sepupu ku ini.

“Wah, ini bagus banget. Kok, aku tak pernah melihatnya di Korea??” Kata Jun Ho hyung.

“Makanya baca buku donk. Ini namanya wayang, iya kan Hyunnie??” Kata Min Ra meminta pendapatku. Aku hanya bisa mengangguk tanda setuju.

“Oh, apa itu wayang??” Tanya Jun Ho hyung.

“Aish.” Gerutu Min Ra. “Wah ini yeppoda, ini batik ya??” Tanya Min Ra nuna.

“Ne.” Kata ku sambil mencoba untuk tersenyum.

***

                Hari ini seperti hari-hari biasanya, aku menunggu Hyukkie ahjussi untuk menjemput ku. Tapi ini, sudah hampir setengah jam aku menunggu nya tapi dia tak juga datang.

“Hyun Jae, kau belum di jemput??” Tanya Rehan yang menepuk bahu ku. Aku hanya bisa menggeleng. Bisa ku lihat di sana, orang tua nya menjemput Reha. “Oh ya, kenalkan ini mama dan ini papa aku.” Kata Rehan.

“Anyeong, Cho Hyun Jae imnida, anak Cho Kyu Hyun dan Cho Jae In.” Kata ku sambil membungkukkan badan ku.

“Lalu kau dijemput jam berapa??” Tanya Rehan.

“Mollayo??” Kata ku.

“Ayo, ahjumma dan ahjussi anter.” Kata orang tua Rehan.

“Tak usah, nanti merepotkan.” Kata ku berusaha menolak.

“Memangnya kau dijemput siapa??” Tanya Rehan.

“Itu ahjussi ku.” Kata ku.

“Mungkin ahjussi mu itu sibuk jadi tak bisa menjemput mu. Coba kau telepon ahjussi mu.” Saran Rehan.

“Baiklah.” Aku pun mengeluarkan iPhone milik appa ku lalu ku lihat di sana ada pesan dari Hyukkie ahjussi. Hyunnie, ahjussi akan telat menjemput mu. Mianhae. Itulah isinya. Aku pun segera membalas jika aku sudah pulang diantar mama dan papa Rehan.

“Bagaimana??” Tanya Rehan.

“Ahjussi ku akan telat.” Kata ku.

“Kau ikut kita saja. Di mana rumah mu??” Tanya mama Rehan.

“Baiklah ahjumma. Jeongmal gamsahamnida.” Kata ku sambil membungkuk.

***

                Mungkin mereka bingung kenapa aku minta diantar di sini. Aku pun menjelaskan kalau orang tua ku sakit dan dirawat di sini.

“Eomma, appa, Hyunnie datang. Oh ya, ini teman Hyunnie yang tempo dulu Hyunnie kenalkan ke kalian, Rehan. Dan di samping Rehan, mereka itu orang tua Rehan.” Kata ku.

“Eomma, appa, kalau kalian sembuh Hyunnie ingin ke Indonesia. Eomma, appa, mau kan?? Soal liburan ke Eropa, kapan-kapan saja.” Kata ku lagi.

“Eomma, appa, kalian ingat tidak ini hari apa?? Ini hari Hyunnie lahir di dunia ini tujuh tahun lalu. Hyunnie jadi ingat cerita appa ketika eomma hampir meninggal gara-gara Hyunnie. Mianhae, eomma. Harusnya kalian mengucapkan selamat ulang tahun dan memberi Hyunnie hadiah seperti anak-anak lain.” Ucap ku. Aku berusaha menahan tangisan ku supaya aku tak menangis dihadapan mereka. Ini tepat dua bulan mereka dirawat dan mereka tak juga menunjukkan kemajuan yang pesat.

“Eomma, appa, aku harap di ulang tahun ku kali ini, kalian bisa sembuh dan bangun. Itu saja, aku tak ingin minta hadiah yang lain. Aku Cuma ingin itu eomma, appa.” Pertahanan ku mulai runtuh, aku pun menangis.

“Eomma, tadi aku dapat dinilai A saat pelajaran seni musik. Aku bisa bernyanyi dan memainkan piano seperti eomma dan appa. Kata Kim seongsangnim, guru seni musik ku, suara ku bagus dan aku bisa bermain dengan sangat bagus. Hebat kan, Hyunnie??” Cecar ku.

“Sudahlah, Hyunnie, uljimma.” Kata Rehan. Selang seperkian detik, aku merasakan hangatnya pelukan.

“Eomma, aku merindukan pelukan dari mu, eomma, cepat bangunlah. Appa, aku juga sangat merindukan gendongan dari mu, appa juga kecupan di pipi. Ppali ireona.” Isak ku. Aku bisa merasakan tangan mama Rehan membelai lembut rambut ku.

“Ahjumma yakin, Tuhan mengabulkan doa mu, Hyun Jae. Eomma dan appa mu pasti sangat bangga mempunyai anak seperti mu, Hyun Jae.” Kata mama Rehan.

“Benar, Hyun Jae.” Kata Rehan.

***

                “Hyunnie, kau harus pulang.” Bujuk haraboeji ku.

“Aniyo, haraboeji.” Tolak ku.

Saat aku hendak beranjak ke kamar mandi, aku melihat tangan eomma ku bergerak. “Haraboeji, lihat, eomma. Aish.” Aku bingung mau mengucapkan apa. Tapi langsung aku berteriak memanggil dokter dan memencet tombol darurat yang ada di atas ranjang eomma ku.

“Penantian kita datang, Hyunnie.” Haraboeji dan halmoeni memeluk erat tubuh ku. Aku hanya bisa menangis melihat itu. Dokter pun meminta kami menunggu di luar ruangan.

***

                “Keajaiban datang, selamat nyonya Cho akhirnya siuman dan tuan Cho mengalami lonjakan yang sangat dahsyat. Detak jantungnya mulai menormal.” Kata sang dokter.

“Boleh saya menemui eomma saya??” Tanya ku langsung.

“Silahkan. Jika ada apa-apa langsung hubungi tim dokter.” Aku langsung masuk ke kamar eomma dan memeluk tubuh eomma yang masih lemah. “Eomma, bogoshippoyo.” Bisik ku sambil menangis sesenggukan.

“Nado chagiya. Kau hebat, Tuhan telah mengabulkan doa mu dan eomma sudah bangun.” Bisik Eomma ku lembut tepat di telinga ku.

***

-Author POV-

Jae In sudah dipindahkan di kamar rawat. Dan itu membuat Hyun Jae harus mondar-mandir dari ruang ICU ke kamar rawat Jae In.

“Sudahlah chagi, eomma yakin appa mu akan baik-baik saja.” Jae In yang melihat itu makin lama makin tak tega dengan anak semata wayang nya.

“Aniyo, eomma. Eomma, kapan appa akan terbangun, Hyunnie sangat merindukan appa, eomma.” Hati Jae In semakin tertohok sedih mendengar pengakuan putra nya itu. Bukan hanya sang putra dia sendiri juga sangat merindukan suami nya, Kyu Hyun.

“Kita berdoa saja, Hyunnie. Tuhan pasti medengarkan doa kita.” Kata Jae In berusaha untuk tegar.

***

                Pagi itu, sebuah keajaiban datang. Jae In yang sedang tertidur di samping tubuh suami nya merasakan sebuah belaian lembut yang sangat ia kenal dan sangan dirindukannya. Perlahan-lahan Jae In membuka mata nya, dan dia menemukan seorarng Cho Kyu Hyun yang sudah siuman.

“Oppa~~” Merasa tak percaya, Jae In mengerjapkan kedua mata nya. Karena dorongan hati, Jae In segera memeluk tubuh Kyu Hyun. “Bogoshippo, oppa.” Katanya lirih.

***

-Hyun Jae POV-

Eomma dan appa ku sudah diperbolehkan pulang setelah menjalani berbagai pengobatan di rumah sakit. Aku senang, teramat senang malah. Akhirnya doa ku selama ini dikabulkan oleh Tuhan.

“Hyunnie sayang kalian berdua.” Kata ku seraya memeluk kedua orang tua ku berbarengan.

“Appa dan eomma juga sangat menyayangi Hyunnie.” Eomma memberiku kisseu di pipi kanan ku sedangkan appa ku disebelah kiri ku.

“Jangan pernah tinggalkan Hyunnie sendiri. Hyunnie takut sendiri.” Bisik ku. Dapat ku lihat kedua orang tua ku tersenyum dan mengangguk.

-THE END-

Akhirnya sequel nya “In The I Said, Saranghae.” Selesai juga. Gimana?? Bosenin?? Atau apa?? Yang udah baca jangan lupa tinggalin comment supaya bisa membangun author. Gamsahamnida….😉

Author:

Just an ordinary girl with an extraordinary. I'd rather die than live without any passions -JK-

13 thoughts on “FF : Cho’s Little Son [In The End I Said, “Saranghae” SEQUEL]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s