Posted in FF, Oneshoot, Romance

FF : IN THE END I SAID “SARANGHAE”

 Author : JungJeHwan

Title       : In The End I Said, “Saranghae.”

Genre   : Romance

Cast       :

Shin Jae In (OC)

Cho Kyu Hyun

Song Joong Ki

And others cast.

NB : Semua yang terjadi di sini adalah murni dari otak author. Dan lagi, kalau ada sedikit adegan yadong mohon dimaafkan ya. Happy reading ^^

***

                Seorang yoeja yang tahun ini berusia 23 tahun terduduk lesu di sebuah taman. Berulang kali yoeja itu mengusap air mata yang sedari tadi belum juga mengering. Shin Jae In, begitulah banyak orang memanggilnya. Putri keluarga Shin yang terkenal sebagai pembisnis besar Korea. Dia putri satu-satunya keluarga Shin dan sebagai pewaris tunggal perusahaan appanya.

Selain itu, Jae In juga terkenal sebagai pianist yang bakat juga keahliannya sudah diakui oleh kancah internasional. Bukan hanya itu, selama sekolah dahulu Jae In di kenal sebagai murid berprestasi yang sering menjuarai olimpiade-olimpiade yang diselenggarakan Negara nya bahkan dia sempat menjadi juara 2 olimpiade tingkat dunia yang diadakan di Prancis 5 tahun lalu atau saat dia tepat berusia 18 tahun.

Malang, mungkin semua kelebihan yang dimilikinya berbanding terbalik dengan kisah asmaranya. Sudah hampir satu tahun ini Jae In berstatus janda. Jae In menikah di usia mudanya dengan seorang pria entertainer, Song Joong Ki.

***

FLASHBACK

                “Oppa, aku hamil dan kau harus bertanggung jawab dengan bayi yang ada di kandungan ku ini.” Kata seorang yoeja. Aku hanya mendengarkan percakapan suami ku dengan yoeja itu di balik pintu apartment. Kami baru menikah sekitar lima bulan yang lalu dan tiba-tiba saja datang yoeja yang aku tak tahu siapa dirinya.

                “YAKK!! Kau tak lihat aku sudah punya istri dan mana mungkin kau bisa mengandung anak ku, kapan kita melakukannya??” Jawab Joong Ko oppa dengan tegas.

                “Malam itu, tiga bulan yang lalu, kau datang ke club dan meminta ku untuk bermain malam itu dan saat itu kau lupa menggunakan pengaman. Ini anak mu oppa.” Yoeja itu mulai menangis dan aku hanya bisa diam terpaku mendengar pengakuan yoeja itu.

                Tiga bulan lalu?? Bukankah itu dua bulan setelah aku menikah dengan Joong Ki oppa dan… Air mata mulai keluar dari mata ku, dada ku merasakan sesak.

                “Oke, kau mau aku bertanggung jawab seperti apa??” Kata Joong Ki oppa yang mulai melunak.

                “Ijinkan aku tinggal di rumah mu sampai aku melahirkan. Aku sudah tak punya rumah lagi oppa, aku di usir karena aku ketahuan hamil di luar nikah.” Kata yoeja itu.

                “Baiklah Min-ah.” Kata Joong Ki oppa. Aku hendak melangkah pergi dan..

                “Jae-ah, sejak kapan?? Kau ada di situ?? Kau.. Aish..” Kata Ki oppa dengan frustasi lalu mendekat ke arah ku.

                “YA!! Let me go.” Kata ku dingin dengan masih terisak dan masuk ke dalam kamar ku.

                “Jae-ah, dengarkan oppa. Oppa bisa menjelaskan semuanya. Jebal, chagi.” Aku langsung memasukkan semua pakaian ku dan beberapa barang ku yang ada di kamar ini ke dalam koper ku.

                “Besok kau harus menandatangi surat cerai kita. Aku tak mau tahu, besok tanda tangan mu harus sudah ada. Tunggu pengacara ku besok pagi dan berikan tanda tangan itu.” Kata ku sinis masih dengan air mata yang mengalir.

                “Tapi apa salah ku sampai kau menceraikan ku.” Kata Ki oppa terputus.

                “Neo Paboya!! Kau tak tahu kesalahan mu, huh?? Lihat wanita itu, wanita yang telah kau hamili. Dia lebih membutuhkan mu dari pada aku. Dan lagi, kau telah berkhianat di belakang ku.” Kata ku setengah berteriak.

                “Tapi, tolong beri aku kesempatan sekali lagi, chagi.” Kata nya memohon.

                “Tak bisa, oppa. Dan aku tunggu tanda tangan mu besok. Aku tak butuh waktu lama sebelum aku kembali ke Prancis. Anyeonghigyeseyo, Song Joong Ki-sshi.” Kata ku sapratis lalu meninggalkan Joong Ki oppa dan wanita itu.

***

-Author POV-

Yoeboseyo, eomma.” Sapa Jae In dalam telepon. Seketika setelah ia mengecek ID Calling yang ternyata eommanya yang paling ia sayangi

“…”

“Ah, aku di taman, waeyo?

“…”

“Baiklah. Aku pulang sekarang.” Kata nya lalu mengakhiri pembicaraan singkat nya dengan eommanya.

Dihembuskan dengan kasar nafasnya. Setelah itu ia menhapus air matanya secara kasar. Ia bernajak dari taman itu dan menuju tempat di mana mobilnya diparkirkan.

***

                “Waeyo eomma?” Kata Jae In sesampainya dia di rumah orang tua nya yang terletak di kawasan perumahan elite kota Seoul.

Come here, chagiya.” Kata eomma Jae In dengan berumbar senyum manis yang selalu bisa membuat Jae In merasa nyaman.

Oh God, your daughter is so beautiful.” Kata seorang wanita paruh baya yang duduk tepat di depan kedua orang tua Jae In.

Chagiya, ini Tuan Cho dan ini istrinya, pemilik Cho’s company yang terkenal itu, kau tahu?” Kata Tuan Shin, appa Jae In. Jae In hanya berdiri tak jauh dari tempat mereka duduk di ruang tamu keluarga Shin.

Ne, lalu?” Kata Jae In yang bingung dengan semua ini.

“Nanti appa jelaskan, appa tahu kau pasti bingung dengan ini semua. Cha, ganti baju mu, lalu turun kembali ke sini.” Tanpa perlu mengulang perkataan Tuan Shin lagi, Jae In menuju kamar nya yang terletak di lantai dua.

***

-Jae In POV-

Aku langsung menuju ke ruang tamu setelai mengganti pakaian ku. Dari tempat ku sekarang berdiri, tangga rumah ku, aku bisa melihat seorang namja yang tadi tak ada yang duduk di sebelah Cho ahjumma, isti Cho ahjussi pemilik Cho’s company. Biar ku tebak dia pasti anak laki-laki mereka yang kata teman ku adalah salah satu ciptaan Tuhan yang paling sempurna tapi memiliki sifat yang jauh terbalik dengan ketampanan raga yang diberikan Tuhan. Tapi, aku tak tahu pasti seperti apa Tuan muda Cho itu sendiri.

“Ayo, Jae-ah, mereka menunggu mu.” Kata eomma setelah menyadari keberadaan ku. Aku hanya bisa menurut lalu turun di mana mereka semua berkumpul. Aku pun duduk di antara eomma dan appa ku

“Jae In, ini anak Tuan Cho, Cho Kyu Hyun, calon suami mu.” Kata-kata appa yang berhasil membuat ku tersedak dengan minuman yang baru saja ku tegak.

MWO!! Calon suami? Maksud appa?” Kata ku dengan penekanan di setiap kata. Apa aku tak salah dengar? Calon suami? Ku perhatikan namja yang duduk diseberang appa dengan seksama. Aku akan menikah dengannya? Yang benar saja. Bahkan sedari tadi ku perhatikan ia sama sekali tak berpaling dari benda kecil yang ku yakini adalah PSP.

“Kalian berdua akan di jodohkan dan bulan depan kalian akan menikah.” Sahut Cho ahjussi.

“EH? Bulan depan? Nikah? Dijodihkan?” Kata ku yang masih mencerna ucapan mereka yang sungguh membuat kepala ku bekerja dua kali dari  biasanya.

“Hey, aku kira kau yoeja pintar dan katanya dulu mendapatkan peringkat dua di olimpiade dunia. Cih, mikir gitu aja susah. Pabo.” Sindir namja yang ku ketahui namanya Kyu Hyun.

“Hey namja aneh tutup mulut mu. Siapa kau? Barani-berani nya mengatai ku. Eomma, appa, kalian bercanda kan? Masa sih kalian mau menikahkan ku dengan namja aneh dan kekanakan itu.” Tunjuk ku kepada namja yang masih saja bergulat dengan PSPnya. Benar-benar tak pantas jika di umurnya yang sudah menginjak dewasa ini ia masih bermain dengan benda kekanakan yang seharusnya dimainkan oleh anak di bawah 15 tahun.

“Mungkin kau menganggap anak kami aneh dan kekanakan, tapi sejujurnya jika kau sudah mengenalnya dia tak seaneh dan sedingin ini kepada yoeja. Dia anak baik, Jae-ah.” Kata Cho ahjumma.

Aniyo, aku tak mau menikah dengan namja aneh itu.” Kata ku tegas dengan nada memohon ke kedua orang tua ku.

“Cih, mana mau aku menikah dengan mu. Dasar yoeja menyebalkan.” Kata namja itu yang sama sekali tak melihat orang yang sedang ia ajak berbicara dan dengan sekenaknya bermain dengan benda yang ia pegang sedari tadi. Sungguh tak punya sopan santu.

“Aku tak mau appa, eomma.” Kata ku dengan memelas, mengeluarkan jurus aegyo ku.

“Keputusan kami sudah bulat, Jae-ah. Kau dan Kyu Hyun akan menikah bulan depan tepat di hari ulang tahun mu.” Kata appa tegas.

“Tapi aku tak mencintainya, eomma.” Kata ku pada eomma ku.

“Cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu, Jae sayang. Percaya pada eomma dan appa. Ini adalah yang terbaik untuk kehidupan mu kelak.” Kata eomma ku yang dihadihai anggukan setuju appa ku dan juga Cho ahjumma dan ahjussi.

“An~~dwae.” Kata ku dengan frustasi.

***

                Hari ini aku sangat lesu, setelah meeting bersama partner kerja appa, yang tentunya menyita seluruh energi ku, aku harus pulang bersama namja menyebalkan dan kekanakan itu. Huh, menyebalkan. Kenapa juga aku ditakdirkan hidup seperti ini?

“YAKK!! Kau ini, aish, cepat dong.” Gerutu namja yang ada di dalam mobil itu.

“YAKK!! Kalau kau tak mau menjemput ku, pulang saja sana. Aku juga bisa pulang sendiri, bodoh.” Kata ku dengan nada malas.

“YAKK!! Kau ini, kita di suruh beli cincin, ayo cepat masuk. Aku malas mendengar ocehan appa ku, jadi cepat masuk, yoeja aneh.” kata nya.

Shikkero!! Cepat jalankan mobilnya.” Kata ku ogah-ogahan.

“Dasar yoeja aneh.” Kata nya berbisik yang masih terdengar jelas di telinga ku.

***

                Aku dan dia sudah sampai di sebuah toko perhiasan milik Kim ahjumma, eomma Kai, hobae ku sewaktu SD dan teman lama eomma ku.

“Jae-ah nuna, nuguya?” Bisik Kai kepada ku sambil melirik sekilah namja yang kini tengah berdiri di samping ku dengan pastinya sedang bergulat dengan PSPnya.

Igeo, gimana ya jelasinnya…” Kata-kata ku terputus ketika Kyu Hyun menyela nya dengan ketidak sopanannya “Kami berdua akan segera menikah, satu minggu lagi.” Kata Kyu Hyun to the point.

“Wah, cukhaeyo nuna, hyung. Aku di undangkan?” Tanya Kai dengan wajah polos miliknya.

“Ah, pastinya Kai-ya.” Kata ku.

“Jae-ah, kau pasti mau membeli cincin, tadi eomma mu menelepon ku. Ayo ikuti ahjumma.” Kata Kim ahjumma yang tiba-tiba muncul. Yang kemudian membawa ku menuju tempat etalase yang berada di sisi lain ruangan tempat. Sedangkan aku dan Kyu Hyun ikut mengekor di belakang.

“Silahkan dipilih.” Kata Kim ahjumma. Aku pun melihat-lihat etalase yang di dalamnya terdapat berbagai cincin yang menyilaukan mata.

“Kau mau yang mana?” Tanya ku pada namja yang masih berkutat dengan PSPnya lagi. “YA!! Tuan Cho, aku tanya sekali lagi, kau mau yang mana?” Kata ku sambil menaikkan satu oktaf suara ku.

“Aish, kau ini membuat ku kalah, pabo.” Gerutunya.

“Makanya, bantu aku memilih, pabo.” Kata ku dengan nada kesal. Bisa-bisa dia bermain di tempat seperti ini.

“Aduh-aduh, jangan bertengkar di sini.” Tegur Kim ahjumma. Aku hanya tersenyum malu. Kyu Hyun pun memasukkan PSP nya ke saku jas kantornya.

“Yang ini bagus.” Ujar Kyu Hyun sambil menunjuk sebuah cincin emas putih yang bertahtakan berlian. Sederhana tapi terlihat mewah.

“Pilihan yang tepat, Kyu Hyun-ssi.” Kata Kim ahjumma.

“Bagaimana, kau suka?” Tanya Kyu Hyun yang meminta pendapat ku. Aku hanya mengangguk menyetujui.

“Yang ini, ahjumma.” Kata Kyu Hyun.

“Baiklah.” Kata ahjumma.

***

                Setelah memilih cincin untuk pernikahan ku dengan namja yang sangat tidak aku harapkan itu, aku keluar toko perhiasan. Saat memandang keluar, aku mendapati seseoang yang sangat ku kenal. Joong Ki oppa. Mata kami bertemu pandang, tak berapa lama Ki oppa mendekat.

“Kau melihat apa sih, ayo jalan, pabo.” Kata-kata Kyu Hyun tak ku hiraukan. Lagi-lagi hati ku sakit dan mata ku memanas melihat namja itu.

“Kau melihat ap…” Kata-kata Kyu Hyun berhenti seketika saat Ki oppa berdiri dengan gagah di hadapan ku.

“Jae-ah, mianhae, bisakah kita seperti dulu lagi, aku mohon, Jae-ah.” Kata Ki oppa.

“Aku tak—bi—sa, oppa.” Kata ku. Air mata yang sedari tadi aku tahan akhirnya mengalir juga. Memori waktu berkelebat kembali di otak ku. Kenangan pahit itu muncul lagi. Aku langsung menggenggam tangan Kyu Hyun. Menariknya, meninggalkan tempat itu.

“Jae-ah, Jae-ah.” Teriak Ki oppa tetap memanggil ku.

***

                Aku menangis sejadi-jadinya di mobil Kyu Hyun. Ku telungkupkan wajah ku di kedua telapak tangan ku. Kyu Hyun menarik ku ke dalam dekapannya. Awalnya aku terkejut, tapi lama-kelamaan aku merasa hangat dan nyaman di dekapannya.

“Hey, kau tak perlu menangisi nya lagi. Bukankah waktu itu kau yang meminta cerai darinya, heum? Bukan kau yang salah, tapi namja itu.” Nada bicara Kyu Hyun berubah lembut. Kyu Hyun mengelus lembut kepala ku mencoba menenangkan ku.

“Dan, kau bisa menangis di bahu ki sampai kau puas. Tapi, kau harus berjanji kau tak boleh menangisi namja itu. Arraseo.” Kata Kyu Hyun sambil mendongakkan kepala ku. Menatap kedua mata ku yang dipenuhi air mata. Menghapus aliran air mata yang masih menggenang di kedua pipi ku.

Ne, arra.” Balas ku dengan suara serak dan kembali memeluknya erat. Menenggelamkan kepala ku dalam dada bidangnya.

***

-Author POV-

Hari pernikahan Jae In dan Kyu Hyun tiba. Gereja bernuansa klasik gaya Eropa yang akan menjadi saksi bisu mengikraran janji dua sejoli yang tak saling mengenal sudah dipersiapkan sedemikian rupa sehingga nampak megah dengan dekorasi-dekorasi yang melekat pada sekitar dinding ataupun kursi-kursi.

“Appa, I’m nervous.” Kata Jae In pada appanya sesaat sebelum acara pemberkatan dimulai.

Don’t worry. Appa di samping mu, arra.” Tuan Shin menenangkan anak tunggalnya itu dengan menglus lembut rambut panjang sepunggungnya itu. “Ayo turun, sudah banyak tamu yang menunggu.” Kata tuan Shin.

***

                “Yes, I do.” Semua tepuk tangan membahana ketika Jae In mengucapkan kata-kata itu. Setelah itu Kyu Hyun juga Jae In bertukar cincin dan saat-saat yang dinantikan para tamu undanganpun tiba. Tapi, inilah saat-saat yang ingin sekali Jae In hapus dalam acara prosesi pernikahan.

“Kepada mempelai pria, boleh mencium istri anda.” Kata sang pastor. Kyu Hyun mendekatkan dirinya kepada Jae In.

“Kyu, Andwae.” Bisik Jae In takut. CHU~~ ciuman hangat mendarat di kening Jae In. Jae In bernafas lega. Setidaknya Kyu Hyun tak mencium tepat pada bibir yoeja ini di depan para tamu undangan seperti yang ditakutkan Jae In selama ini.

“Aku tak akan mencium bibir mu, gadis bodoh.” Bisik Kyu Hyun lengkap dengan seringai yang bisa memabukkan setiap yoeja yang melihatnya.

“YAKK!! Awas kau.” Bisik Jae In kesal

“Siapa takut.” Kata Kyu Hyun seraya mengeluarkan smirk andalannya lagi.

***

-Kyu Hyun POV-

Aku sudah resmi menjadi suami dari Shin Jae In, yoeja aneh dan menyebalkan itu. Aku dan Jae In akan tinggal di rumah sederhana yang minimalis yang di hadiahkan orang tua kami untuk hadiah pernikahan kami berdua. Kami berdua? Hahaha, sedikit menggelikan menyebut Jae In dan diri ku dengan kata-kata barusan. Ah, badan ku terasa pegal dan remuk. Seharian berdiri di pelaminan menyalami tamu yang memberikan selamat kepada ku dan Jae In yang pastinya sangatlah banyak.

“Minggir, aku tidur di sini. Kau tidur di kamar sebelah saja.” Kata ku kepada Jae In yang sedang tiduran di kamar utama rumah ini. Tak ada jawaban. Aku mendekat lalu duduk di sebelahnya yang kosong.

“Jae In, kau dengar aku kan? Awas, aku mau tidur, kau tidur di kamar sebelah.” Lagi-lagi Jae In tak menghiraukan ku, tak menjawab kata-kata ku. Ada yang aneh. Tak biasanya yoeja menurut ku beringasan ini berlaku seperti saat ini. Biasanya dia selalu gemar mengomel tak jelas dan mengajak ku berperang dengan mulutnya yang tajam itu.

Aku melihat wajahnya. Cantik, dia yoeja yang cantik sebenarnya. Hanya saja sifatnya yang membuat ku kesal terhadap yoeja ini. Ku perhatikan terus wajahnya. Tak sengaja aku melihat buliran air mata meluncur dari kedua matanya yang indah. Tubuhnya bergetar, menahan isakannya.

Aku menggoyang-goyangkan badannya. Tapi tanganya menghempaskan tangan ku secara kasar.

“Jae In, buka mata mu.” Kata ku panik. Jae In membuka matanya, lalu menghambur ke pelukan ku. Pasti ada masalah. Batin ku.

Wae?” Tanya ku berusaha menenangkannya.

Aniyo.” Kata nya serak khas orang yang menangis. Ku eratkan pelukan ku ke arahnya. Membiarkan dirinya semakin tenggelam dalam pelukan ku. Merasakan deru nafasnya yang sedikit tak beraturan. Mendengar detakan jantungnya dapat ku rasakan. Dan entah kenapa itu membuat ku detak jantung ku berdetak tak beraturan.

“Kau, sudah ku bilang jangan pernah menangisi namja itu lagi. Waktu itu sudah cukup, Jae-ah. Tak ada gunanya kau menangisinya lagi. Aku suami mu sekarang.” Kata ku. Aku tersentak ketika aku mengucapka kata ‘suami mu.’ Tapi apa peduli ku sekarang? Yang paling penting hanya menenangkan dirinya karena aku tak tega melihat yoeja yang menangis apalagi itu karena seorang namja brengsek seperti mantan suaminya dulu.

“Aku capek Kyu, bantu aku melupakannya.” Katanya tulus. Hati ku tersentuh. Hati ku bergetar seketika setelah ia mengucapkan kata-kata tersebut. Sejujurnya, aku juga sedang belajar mencintainya. Entahlah, apakah ini hanya sekedar rasa kasihan ku atau bukan. Biarkan waktu yang menjawab semua yang ku rasakan.

“Baiklah, tapi jangan pernah kau menangis karena namja itu. Arra.” Kata ku. Dia hanya mengangguk kecil dalam pelukan ku. Refleks, bibir ku membentuk lengkungan simetris, sebuah senyuman.

“Tidurlah. Dan maaf baru mengucapkan sekarang. Saeng-il cukhae Shin Jae In, ah maksud ku Cho Jae In.” Kata ku lalu melepaskan pelukan ku. Menatap dalam pada kedua manik matanya. Ku gerakkan tangan ku menuju kedua pipinya. Menghapus sisa-sisa aliran air matanya.

Ne gomawo dan kau.. Kau akan tidur di mana?” Tunjuknya pada ku.

“Kalau memang kau masih belum mau tidur bersama ku, aku akan tidur di kamar sebelah.” Kata ku dengan tulus.

Aniyo, kau tidur di sini saja, Kyu.” Kata nya. Tanpa di minta oleh nya aku naik ke ranjang dan tidur di sebelahnya. Secara naluri, tangan ku bergerak menuju pinggangnya, memeluknya dari belakang.

“Biarkan seperti ini.” Bisik ku. Ia hanya mengerang sambil mengangguk patuh.“Jaljayo.”

***

                “Kyu bangun, kau harus ke kantor. Ppaliwa, ireona.” Kata Jae In tepat di sebelah ku.

“Lima menit lagi.” Pinta ku dengan malasnya.

“Tak bisa, ayo bangun. Kau ada meeting hari ini, jam delapan. Ini sudah jam setengah delapan.”

MWO!! Aigoo..” Aku langsung bergegas menuju kamar mandi tanpa mendengar cekikikan darinya.

***

-Jae In POV-

“Kyu, ini sarapan mu.” Kata ku pada Kyu Hyun yang baru saja turun dari tangga “Kok, kau tak segera siap-siap, bukannya ada meeting?” Tanya ku mengetahui Kyu Hyun hanya memakai kaos rumah yang casual namun cool. Apa yang ku katakan?? Cool?? Ta—tapi dia memang… aishh lupakan.

“Klien meminta mundur. Huft~~” Kyu mengambil kursi dan memakan sarapannya. “Dan kau, kau tak ada kerja pagi ini?” Tanya nya balik setelah ia duduk manis di atas kursinya.

Aniyo, appa memberi ku cuti satu minggu.” Kata ku lalu duduk di depan Kyu. Kami makan dalam diam. Tak ada seorang pun yang memulai pembicaraan. Hanya terdengar detakan jarus jam yang memang terletak di dinding tak jauh dari meja makan dan juga dentingan sendok dan garpu kami.

“Jae-ah, mulai sekarang kau memanggil ku oppa. Arraseo.”

MWORAGO?? Mana bisa?” Kata ku sambil membelalakkan kedua mata ku.

“Turutin saja, kau mau melupakan namja jelek itu kan? Lagian aku juga lebih tua dua tahun dari dirimu, Jae-ah.”

“Aish, arraseo op—pa.” kata ku aneh.

“Anak pintar.” Kata Kyu sambil terus memakan makanannya.

***

                Sudah hampir enam bulan pernikahan ku dengan namja aneh itu, siapa lagi kalau bukan Cho Kyu Hyun. Pernikahan ku ini juga datar-datar saja tak ada hal menarik di dalam nya. Terkadang kami sering cek-cok hanya karena masalah sepele. Yah, hitung-hitung menambah suasana rumah yang terlalu sepi karena sering ditinggal pemiliknya dan lagi Kyu Hyun yang sering lembur dan pulang malam akhir-akhir ini. Dan ya, aku sudah berhenti bekerja di perusahaan appa. Appalah yang meminta ku berhenti dengan alasan, supaya aku lebih memperhatikan ‘suami’ ku itu.

“Jae-ah, aku pergi dulu ya.” Kata Kyu Hyun kepada ku. Dia sudah rapi dengan kemeja warna putih yang dibalut dengan jas mahal miliknya itu. Bau parfume yang mungkin sudah menjadi sebuah hal yang sering ku cium menguar dari tubuh tegapnya.

“Ke mana?” Tanya ku yang kini tengah duduk di ruang keluarga sambil memperhatikan sebuah acara yang ditayangkan televisi ku.

“Ke kantor, appa menyuruh ku ke kantor.” Kata nya.

“Yasudah, sana.” Kata ku dengan nada mengusirnya.

“Aish, jaga rumah jangan sampai kemalingan. Jangan bersantai-santai terus. Bersihkan juga rumah ini. Arra.” Pesan Kyu Hyun kepada ku.

“Kau fikir, aku tak becus apa cuma jaga rumah. Dan lagi, aku bukan pembantu mu, Tuan Cho Kyu Hyun yang terhormat. Cih. Sana pergi, aboenim pasti sudah menunggu mu lama. Kata ku pedas. Kyu Hyun tak membalas. Ia pun bergegas pergi meninggalkan rumah.

“Hati-hati, oppa.” Kata ku. Dia berhenti lalu berbalik sambil mengangguk ke arah ku. Dapat ku lihat dari ekor matanya ia tersenyum tipis ke arah ku sebelum berbalik.

***

­-Author POV-

Seperginya Kyu Hyun ke kantor, Jae In menghabiskan harinya dengan menonton televisi yang pastinya dengan sudah menyelesaikan tugasnya sebagai istri dan ibu rumah tangga dengan bersih-bersih. Tiba-tiba di tengah asik nya menonton televisi, datanglah seorang tamu.

Ne, tunggu sebentar.” Jae In pun langsung membuka pintu tanpa melihat siapa yang datang terlebih dahulu lewat intercome yang terpasang di rumahnya itu.

Oppa..” Jae In terkejut melihat siapa yang ada di depan pintu rumah nya. “Kenapa oppa ke sini?” Kata Jae In tergagap. Ia tak menyangka orang yang paling ia hindari sekarang tengah berdiri dengan angkuhnya di depan rumahnya dan juga suaminya.

“Aku hanya main ke rumah mu, Jae-ah. Apa itu tak boleh?” Kata orang itu sembari memamerkan senyum khasnya yang aneh, mengandung suatu makna yang terselubung.

“Tapi, apa kata orang jika melihat kau dan aku di rumah ini. Ingat oppa, aku sudah memiliki suami.” Kata Jae In dengan datar.

“Tapi kau tak mencintai suami mu kan? Kembalilah kepada oppa. Oppa mohon.” Kata Ki yang dengan tanpa sopan santunnya langsung masuk tanpa di persilahkan oleh Jae In.

Oppa, tapi aku sudah bersuami, aku tak bisa.” Kata Jae In, “Lagi pula, eomma dan appa ku tak merestui hubungan kita dulu. Kalau aku tak dipaksa menikah lari dengan mu, aku tak akan emnikah dengan mu dulu. Dan satu lagi, aku bahagia dengan suami ku sekarang.” Lanjut Jae In pedas.

“Jae-ah sayang..” Dengan muka dan tatapan yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata, Ki mulai mendekat kepada Jae In. Dan Jae In mundur karena takut dengan tampang Ki yang berubah derastis. “Kembalilah pada ku, Jae sayang.” Kata Ki yang berhasil membuat Jae In merinding.

Oppa, aku mohon keluar dari rumah ku segera.” Kata Jae In dengan gemetar. Rasa takut menyelubunginya saat ini.

Ani, sebelum kau melakukannya bersama oppa. Kau belum pernah melakukannya bersama oppa, dan sekarang kau harus melakukannya bersama ku, Jae sayang.” Kata Ki yang semakin mendekatkan dirinya ke arah Jae In yang bergerak ketakutan.

“Oppa, tap… mmhhmmmm…” Ki mengunci bibir Jae In dengan ciumannya. Mencium Jae In dengan kasar dan sarat akan nafsu bukan sebuah ciuman yang dulu pernah Jae Ini rasakan yang sarat akan rasa takut kehilangan dan cinta. Jae In sama sekali tak membalas ciuman. Tangan kecilnya memukul-mukul dada Joong Ki supaya Joong Ki mau melepaskan ciumannya. Tak berdaya. Itulah Jae In sekarang.

Tangannya satu yang yang tak digunakan untuk memukul dada Ki digunakan untuk mencari iPhone yang ada di kantongnya. Dapat. Dengan cepat Jae In memencet speed dial dengan keadaan yang sangat tak memungkinkan. Dia hanya berharap Tuhan akan mendengarnya kali ini dengan menghubungkan sambungan telepon itu kepada siapapun yang berhasil Jae In telepon. Seseorang yang bisa menelongnya. Dan ia sangat berharap kalau orang tersebut adalah suaminya sendiri, Cho Kyu Hyun.

“YAKK!! Balas aku, Jae In. Kau ini, aish.” Ki menjambak rambut Jae In dan PLAAKK. Dia juga menampar pipi Jae In dengan teganya yang berhasil membuat sebuah luka memar dipipi mulus Jae In.

Oppa, Kyu oppa tolong aku. Siapapun tolong aku. Aku mohon. Hiks.. Hiks..” Rintih Jae In. Dia merasa sambungan telepon sudah tersambung.

“Bodoh, suami mu itu tak ada di sini. Dan di sini tak ada siapa-siapa selain dirimu dan aku. Kau harus melayani ku. Tapi tunggu.” Ki meninggalkan sejenak Jae In dengan menali ke dua tangannya. Ki mencari silet atau pisau atau apapun itu yang mungkin bisa melukai Jae In. Hanya itulah yang ada di pikiran picik seorang Song Joong Ki, seorang entertainer terkenal yang dibutakan oleh cinta. Setelah mendapatkan benda yang diinginkannya, Ki menyayat muka Jae In dengan teganya.

Oppa, aku mohon lepaskan aku. Auch, appo..” rintih Jae In lagi. Dan lagi-lagi Jae In hanya dapat mengeluarkan air matanya.

“Begini rasanya jika kau berani menolak ku. Lakukan dengan ku.” Gertak Ki.

Ani, aku tak mau melakukan dengan orang kasar dan brengsek seperti mu. LEPASKAN AKU, NAMJA BEJAT.” Teriak Jae In dengan beruraian air mata. Karena kesal Ki menyayatkan lagi bagian tubuh Jae In, ia pun menampar pipi juga menjambak rambut indah Jae In. Tubuh Jae In melemah. Ia pun pingsan karena siksaan dari Ki.

“Dengan begini aku lebih mudah melakukannya.” Kata Ki tersenyum senang.

***

                Di sisi lain, di sebuah ruangan besar seorang Presiden Direktur terjadi sebuah pembicaraan hangat tentang rencana yang akan dibuat oleh perusahaan itu untuk melebarkan sayap bisnis ke daratan Amerika. Dan seketika itu juga. Drrrttt…. drrrrttttt… iPhone Kyu Hyun bergetar di tengah pembicaraannya dengan appanya. Kyu Hyun segera mengambil iPhone dan melihat ID calling nya. Jae In. Ada apa? Tak biasanya ia menelepon pada jam-jam kerja. Batin Kyu Hyun. Kyu Hyun segera mengangkat telepon dari nya.

Yoeboseyo?” Tak ada balasan dari Jae In. Kyu Hyun mengulang lagi. Sama. Ketika hendak mematikannya Kyu Hyun mendengar rintihan seorang.

“Oppa, Kyu oppa tolong aku. Siapapun tolong aku. Aku mohon. Hiks.. Hiks..” Jae In, kenapa dia? Batin Kyu Hyun dengan rasa panik yang mulai menjalar dihatinya.

“Bodoh, suami mu itu tak ada di sini. Dan di sini tak ada siapa-siapa selain dirimu dan aku. Kau harus melayani ku. Tapi tunggu.” Kyu Hyun segera mematikan sambungan telepon dan memasukkan iPhone nya ke dalam saku celananya.

Appa, aku harus pulang. Anyeong.” Kata Kyu Hyun yang langsung bergegas meninggalkan appa nya yang sedang membicarakan pembangunan perusahaan di Amerika.

Wae Kyu?” Tanya Tuan Cho bingung melipas putra bungsunya sekaligus butra semata wayangnya itu menampilkan wajah khawatir.

“Jae In dalam masalah, aku harus pulang, appa. Besok kita lanjutkan lagi.” Kata Kyu dengan tergesa.

“Baiklah. Jika ada apa-apa langsung hubungi appa.” Ujar Tuan Cho.

***

                Sesampainya di rumah, Kyu Hyun langsung memasukkan mobilnya ke garasi. Ceklek.. Kyu Hyun masuk dan di sana ia mendapati noda darah di dekat pintu utama.

“Jae-ah, eoddiga? Kau baik-baik saja, kan? Jae-ah?” Teriak Kyu Hyun ke segala penjuru ruangan. Karena bingung ia pun mengikuti arah darah itu dan mengikuti kata hatinya. Ia pun sampai, di depan kamarnya dan Jae In. Dia pun menempelkan telinganya mencoba memastikan apakah Jae In ada di kamar atau tidak, mengingat pintu kamarnya itu tertutup dan terkunci.

“Hentikan, ouch.. appo.. hiks.. hiks..” Kyu Hyun geram mendengarnya. Ia pun mendobrak pintu nya karena pintu kamar itu di kunci dari dalam. Tak peduli apakah pintu itu akan rusak nantinya atau bahkan badanya akan merasakan sakit akibat menubruk pintu yang terbuat dari bahan jati itu. Dia, Kyu Hyun, melihat Jae In di tampar dan hampir ditelanjangi oleh Ki.

“YAKK!! Kau, kau apakan istri ku, huh.” Kyu Hyun langsung melayangkan tinju nya ke Ki yang hampir memperkosa istrinya. BUGH.. satu tinjuan sudah melayang dengan mulus di tubuh Ki. BUGH.. satu lagi mengenai pipi kanan Ki. Sampai Ki tak mempunyai kekuatan untuk membalas nya. Darah segar juga mengalir indah di sudut bibir aktor tampan ini.

“Pergi kau dari sini.” Bentak Kyu Hyun. Ki langsung mengambil pakaiannya dan memakainya.

“Jae In, gwaenchana, heum? Bangun, Jae, jangan buat aku khawatir.” Kyu manarik selimut sampai sebatas dada guna menutupi tubuh Jae In yang sudah hampir naked.

“Kyu~~” Jae In membuka matanya, ia pun mengelus pipi Kyu lembut dan kemudian jatuh pingsan dalam pelukan hangat Kyu Hyun.

“Jae In. Aish.. Shit.” Umpat Kyu Hyun. Karena tak tega dengan luka yang menyayat hampir seluruh tubuh istrinya, Kyu segera memanggil dokter pribadinya.

***

                “Bagaimana kondisi istri saya, dok?” Tanya Kyu Hyun dengan nada cemas yang teramat.

“Luka nya lumayan banyak. Cuma luka ringan sebenarnya. Tapi tenang sudah saya memberi antiseptik. Dan luka yang yang lumayan parah sudah saya perban. Mungkin istri anda syok atas kejadian yang menimpanya.” Kata dokter itu lalu memberikan Kyu Hyun resep untuk Jae In.

Gamsahamnida, dok.” Kata Kyu Hyu sembari menerima resep.

“Baiklah saya pulang dulu. Jika ada apa-apa hubungi saya segera.” Kata dokter itu.

Ne.” Ia segera mengantar dokter pribadi keluarga Cho ini ke depan pelataran rumah minimalisnya tersebut.

***

                “Auch..” Rintihan Jae In membangunkan Kyu Hyun yang tadi memeluk tubuh mungilnya.”Hiks.. Hiks.. Kyu mianhae.” Kata Jae In yang mulai menangis. Ia kembali mengingat yang menimpanya siang tadi.

“Jae-ah, tenanglah, aku di sini, sayang. Everything is gonna be ok.” Kyu Hyun mengeratkan pelukannya dan membelai rambut Jae In. Mata Kyu Hyun memandang mata sayu milik Jae In dan seketika hatinya melengos sakit melihat kondisi istrinya sekarang. Luka-luka sayatan bekas tindakan bejat namja itu kini menghiasi seluruh tubuh istrinya dan juga wajah cantik Jae In.

“Keundae Kyu, i’m dirty. Dirty, Kyu.” Kata Jae In yang mulai mengeluarkan air matanya. Jae In berusaha melepaskan tangan Kyu Hyun dari tubuhnya.

“Shhttt, aku akan membersihkan mu.” Kata Kyu Hyun mantap sembari menatap kedua manik mata Jae In yang entah kenapa sudah mulai menjadi candu tersendiri untuk lelaki yang usianya kini genap 25 tahun.

“Tapi Kyu—“Jae In juga menatap kedua bola mata Kyu Hyun. Ia bisa melihat kesungguhan di mata Kyu Hyun. “Percaya pada ku, Jae-ah.” Kata Kyu Hyun lembut. Kyu Hyun mulai mencium bibir mungil Jae In. Awalnya Jae In tak membalas, tapi lama-kelamaan membalas bahkan mengalungkan kedua tangannya di leher Kyu. Dan entah siapa yang memulai, mereka saling meraba tubuh lawan jenis. Mereka berdua mulai terhanyut dalam permainan panjang mereka berdua malam ini.

***

                Matahari mulai menyusup ke celah-celah gorden di kamar itu. Kicauan merdu burung menambah riuhnya pagi yang sepi di dalam kamar kedua insan itu. Mereka berdua masih sama-sama terlelap dengan saling memeluk, memberikan sebuah kehangatan terhadap sesamanya. Dan samar-samar gadis itu mulai kembali dari alam bawah sadarnya. Ah dan bukankah diasudah  dia sudah bukan gadis lagi melainkan sudah menjadi seorang wanita sepenuhnya semenjak kejadian tadi malam? Ya, kini gadis itu sudah menjelma menjadi seorang wanita.

Wanita itu membuka kembali kedua kelopak mata indahnya berusaha menyesuaikan dengan kilauan sinar matahari yang masuk. Mengembalikan seluruh nyawanya yang belum terkumpul dengan benar.

“Auch..” Jae In merasakan sebuah tangan memeluk tubuhnya. Ia juga merasakan rasa sakit yang mulai menjalari tubuh munglnya itu. Ditengadahkan kepalanya, menghadap wajah seorang lelaki yang masih terlelap di alam mimpinya. Ia mengusap pelan dahi yang turun ke pipi lelaki yang memeluknya itu. Mengusapnya pelan. “Kyu bangun, sudah pagi.” Kata Jae In lemah.

“Sebentar lagi.” Kata Kyu yang masuk ke alam bawah sadarnya lagi.

“Tapi ini sakit Kyu, lepaskan tangan mu baru kau boleh tidur lagi.” Kata-kata Jae In membuat Kyu tersadar akan sesuatu. “Ah, paboya. Ne, mianhae. Cepat kau mandi lalu aku obatin luka mu.” Kata Kyu lembut.

Gomawo.” Jae In langsung masuk ke kamar mandi dengan senyuman yang entah kenapa merekah disela-sela rasa sakit yang menjalari tubuhnya terutama bagian bawah tubuh munglnya itu.

***

                “Mana lagi, di sini masih sakit?” Tanya Kyu sambil mengoleskan antiseptik ke luka Jae In. Jae In hanya mengangguk. Dia duduk di bawah kursi Jae In, sedangkan Jae In duduk di kursi meja bar yang sengaja disiapkan orang tua mereka di dekat dapur.

“Pelan-pelan, sakit.” Kata Jae In sambil mengaduh sakit.

Ting… Tong… Suara bel rumah mereka membuat Kyu menghentikan pekerjaan nya. “Tunggu sebentar, aku akan bukakan pintunya.” CHU~~ sebelum membukakan pintu, entah setan apa yang merasuki seorang namja yang terkenal akan keangkuhan juga kedinginan seperti Kyu Hyun, Kyu Hyun mencium bibir Jae In sekilas. Lalu tersenyum simpul kepada Jae In. Jae In yang terkejut hanya diam terpaku.

Eomma, appa, nuna, hyung, eommonim, aboenim, ada apa?” Tanya Kyu Hyun tanpa mempersilahkan terlebih dahulu masuk setelah ia membukakan pintu yang ternyata keluarganyalah yang bertama pagi-pagi seperti ini.

“Kau ini selalu saja, biarkan kami masuk dulu, baru kami menjelaskannya. Mana istri mu?” Tanya Cho Ah Ra—kakak Kyu Hyun—to the point.

“Mari masuk.” Kata Kyu Hyun pada akhirnya. Kyu Hyun menuntun mereka menuju ke arah Jae In duduk sekarang.

“Jae In, kau baik-baik saja kan?” Tanya Ah Ra yang menatap prihatin kepada adik iparnya.

Ne, eonnie. Nan gwaenchanayo.” Kata Jae In dengan senyuman hangatnya.

“YA Tuhan, ini semua luka akibat namja bejat itu? Lihat?” Kata Ah Ra yang mulai menyelidiki luka pada tubuh Jae In.

“YAKK!! YAKK!! Apa yang kau lakukan nuna? Nuna, itu sakit. Jangan coba-coba ya..” Kata Kyu Hyun yang menepis tangan Ah Ra dari wajah Jae In.

“Aish, bocah ini. Aku kan cuma mau melihatnya.” Kata Ah Ra yang membela diri.

“Sudahlah, kalian ini.” Lerai eomma Kyu Hyun.

Appa sudah menyuruh orang untuk menemukan namja itu, kau tak perlu takut lagi. Namja itu juga akan mendapatkan hukuman yang setimpal.” Kata tuan Shin yang langsung memeluk putri kesayangannya itu.

Ne appa, aku tahu akan hal itu.” Kata Jae In.

***

-Kyu Hyun POV-

“Kau sedang apa?” Tanya ku pada Jae In yang ku amati sedang asyik dengan dunianya sendiri.

“Aku, emm aku baru buat lirik lagu sama not.” Kata nya yang masih tak berpaling dari kertas di tangannya. Aku pun menidurkan diri ku di pangkuannya.

Oppa~~” Dia menghentikan aktivitasnya lalu menatap intens ke arah ku. Aku hanya mengerang kecil menanggapi Jae In. “Kau membuat ku tak bisa berkonsentrasi. Cepat menyingkir.” Kata nya tegas.

“Sudahlah, lagian aku juga tak mengganggu mu. Lanjutkan saja aktivitas mu.” Aku pun kembali terfokus ke benda kesayangan ku, PSP. “Aish, neo jinja.” Gerutunya. Aku hanya terkekeh kecil lalu bangkit dari pangkuannya.

“Kau ini, kau mau mendengarkan ku menyanyi, tidak?” Aku pun meletakkan PSP ku di meja tamu. Entah kenapa belakangan ini memandang wajah cantiknya lebih menyenangkan daripada memainkan benda yang sudah ku nobatkan menjadi kekasih ku itu, apalagi kalau bukan PSP.

“Emm, memang kau bisa nyanyi?” Tanyanya dengan nada meremehkan aku. Aku pun dengan sekilas mencium bibir mungil Jae In. “Neo!!” Jae In menutup wajah nya dengan kertas yang ia pegang. Aku pasti tahu, pasti kedua pipi itu sedang mengeluarkan semburat merah karena malu. Aish, kalau seperti ini membuat ku ingin mencubit pipinya itu. Tapi, ku urungkan niat ku mengingat luka yang ada di wajah cantiknya itu. Namja itu, aku akan membuat perhitungan dengannya setelah ini. Batin ku geram

“Itu balasan karena kau meragukan aku, Nyonya Cho.” Kata ku.

“Lalu? Coba buktikan.” Aku pun berjalan ke arah piano yang ada di sebelah tempat duduk Jae In. Aku mulai menekan tuts-tuts piano tersebut menjadikannya sebuah nada yang indah. Mengalunkan sebuah lagu yang mulai ku nyanyikan bait demi baitnya.

“Severely, I guess I loved you too severely
I don’t even breath and I look around for you
I don’t know when I’ll be able to stop
Severely, I guess I loved you too severely
I think letting you go is more severe than dying”  (Severely – F.T Island)

Ku nyanyikan refferen Severely milik F.T Island. Sesekali ku lirik Jae In yang sedari aku memulai lagu berdiri di samping ku. Ia terlihat seperti err.. aku tak sombong atau apa ya, dia terlihat menganggumi cara ku bermain piano dan bernyanyi. “Bagaimana? Kau masih meragukan kemampuan bernyanyi ku Nyonya Cho?” Tanya ku dengan menampilkan smirk evil andalan milik ku.

“Emm, begitulah.” Katanya. Aku pun menariknya ke dalam dekapan ku lalu membisikkan sebuah kata, “Kau ini, tinggal jujur apa susahnya sih?”

“Baiklah baiklah, kau, suara mu sangat bagus tuan Cho. Dan kau tak lagi diragukan dalam hal bernyanyi tapi kau masih belum seberapa jika bermain piano.” Bisiknya tepat di telinga ku sambil mengecup pipi ku mesra. “Dan, lepaskan tangan mu, ini menyiksaku tuan Cho. Lihat, luka ku belum sepenuh nya mengering Tuan Cho.” Lanjut nya dengan seringai kemenangan di bibir nya. Bukan seorang bernama Cho Kyu Hyun yang dengan mudahnya menyerah. Aku masih ingin memeluknya seperti saat ini.

“Oh, kalau piano memang kau jagonya, Nyonya Cho. Dan jika aku tak mau melepaskan kau mau apakan aku, huh?” Balas ku.

“Emm, kau, nanti malam jangan tidur bersama ku.” Ancam nya.

Seriously Ms. Cho?” Tanya ku.

“N—e.” Kata nya ragu-ragu. Aku meragukannya Ms Cho. Batin ku senang. Aku tak yakin ia akan bisa tidur dengan lelap malam ini tanpa ku di sisinya.

“Baiklah, itu kemauan mu, Jae-ah.” Kata ku yang tak kunjung melepaskan pelukan ku. “Tuan Cho, lepaskan. Sakit, bodoh.” Kata nya sambil meringis kesakitan. Aku juga belum mau melepaskan pelukannya. Aku masih saja asik menciumi aroma tubuh yoeja yang kini berada di pelukan ku. Dan kini aku menyadari, betapa berharga nya yoeja ini. Yeoja yang mungkin menjadi sebuah candu baru bagi ku.

“Tuan Cho, kau mendengarkan ku, kan? Lepaskan tangan mu, aku mohon.” Katanya yang pada akhirnya memohon kepada ku.

“Kalau aku melepaskan, kau mau berjanji akan satu hal?” Tanya ku sambil lagi-lagi mencium aroma tubuhnya yang sangat ku sukai ini. Aroma bayi.

“Ne, i promise. Tapi cepat lepaskan pelukan mu, Tuan Cho.” Katanya.

“Berjanjilah tetap di sisi ku, Jae-ah. Walaupun kau belum mencintai ku.” Kata ku dan melepas pelukan ku. “Ne, i promise, Mr. Cho.” Kata nya dan lagi-lagi menghadiahi ku sebuah kecupan di pipi ku.

***

-Jae In POV-

Sial, Kyu Hyun menepati perkataan ku tadi siang. Malam ini, ia benar-benar tidur di kamar sebelah. “Aish, Jae In paboya.” Runtuk ku. Aku masih terjaga walaupun jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. MWO!! Sebelas malam. Aish, jinja!!

Entah sihir apa yang dimiliki namja setan itu, hingga aku tak bisa tertidur tanpa nya. Apa aku harus ke kamar sebelah dan tidur di sampingnya? Andwae!! Nanti namja setan itu mengira ku, aku membutuhkannya. Tak bisa!! Walau sejujurnya aku benar-benar membutuhkannya saat ini.

“Huh, sepertinya untuk kali ini aku harus mengenyampingkan semua gengsi yang ku miliku. Ayo Shin Jae In, eh maksudnya Cho Jae In, kau pasti bisa. Hwaiting!!” Aku menguatkan diri ku. Aku pun bangkit dari tidur ku dan bergegas ke kamar sebelah.

“Hufftt.” Ku hela nafas ku sebelum membuka pintu kamar. CEKLLEKK, kau berhasil Jae In, kau pasti bisa. Aku kembali menguatkan diri ku. Setelah menutup pintu kamar, aku berjalan menuju arah ranjangnya.

Oppa~~.” Aku pun berbaring di samping tubuhnya. Ku hirup aroma tubuhnya. Ajaib, setelah mencium aroma tubuh setan itu, aku mulai merasakan kantuk mulai menyerang ku.

Jaljayo, oppa.” Ku sempatkan mencium keningnya sebelum tidur. Aku pun membenarkan posisi ku lalu beringsut ke arah Kyu Hyun.

***

-Kyu Hyun POV-

Aku hampir terlelap sebelum ku dengar suaru derap langkah menuju kamar ku. Aku pun kembali terjaga dan CEKLEKK, aku buru-buru menutup mata ku. Ku dengar derap langkah itu menuju ranjang ku. Ranjang yang tadinya tenang, kini sedikit bergoyang dan aku dapat merasakan aroma tubuh yang sangat ku kenal, Jae In.

Oppa~~” Ku dengar suara itu, Jae In. Emm, rupanya dia juga tak bisa tidur tanpa ku. Baiklah Nyonya Cho, kau memang membutuhkan ku. Kata ku berbangga hati.

Jaljayo.” Aku pun merasakan kening ku dicium. Jae In membenarkan posisi tidurnya yang beringsut ke arah ku. “Nado, Nyonya Cho.” Ku balas kecupan di kening ku tadi. Ku lingkarkan tangan ku dan menariknya supaya dia lebih dekat dengan ku.

***

                Sinar matahari yang menembus tirai jendela berhasil membuat ku terbangun dari tidur ku yang nyenyak. Aku terbangun dan mendapati wajah polos seorang yoeja. “Good morning, Ms. Cho.” Bisik ku tepat di telinga nya. Aku pun memberinya morning kiss.

Ia mengerang kecil lalu mengerjap-erjapkan matanya, menyesuaikan dengan sinar matahari. Melihat ekspresinya itu, aku hanya dapat menyunggingkan senyuman ku. Lucu dan manis.“Emm, rupanya kau tak bisa tidur tanpa ku, eo?” Goda ku.

“Eh, siapa bilang?” Katanya yang masih setengah mengantuk.

“Buktinya, kau tidur di sini bersama ku. Apa itu masih kurang Nyonya Cho?” Muka yoeja yang berada didekapan ku kini berubah menjadi merah padam. “Aish, tak usah malu kali, kau ini tinggal mengaku saja—“

Ne, Tuan Cho, tadi malam aku memang tak bisa tidur tanpa mu.” Ucapnya kesal sambil terus menutupi wajah nya.“Gomawo.” Bisik ku. Aku tambah mengeratkan pelukan ku. Ia hanya bisa pasrah.

“Jae-ah, aku boleh minta sesuatu?” Tanya ku hati-hati. Sungguh, aku akan sangat bahagia jika ia mengabulkan permintaan ku yang kali ini.

“Emm, apa itu?” Katanya sambil mendongakkan kepala nya.

“Aku.. bolehkah… bolehkan kita mempunyai seorang anak?”

MWORAGO!! Anak? Tapi—“

“Kalau kau memang tak mau tak apa, aku juga tak akan memaksa mu.” Kata ku lembut. Walau sebenarnya aku agak kecewa, mau bagaimana lagi. Bukankah nanti Jae In yang akan mengandung dan melahirkan anak kami nanti. Aku juga tak bisa sekenaknya memaksa nya. Tapi, aku ini kan suami nya dan aku. Dan—arrgghh, aku frustasi.

***

-Jae In POV-

“Aku.. bolehkah… bolehkah kita mempunyai seorang anak?” perkataannya sukses membuat ku melotot dan melonjak kaget. Anak dia bilang, tapi aku kan belum siap mempunyai seorang anak dan, aku sampai lupa memberitahunya, kalau aku memakai alat pencegah kehamilan semenjak aku menikah dengannya.

MWORAGO!! Anak? Tapi—“ Belum sempat aku melanjutkan perkataan ku ia sudah memotongnya. “Kalau kau memang tak mau tak apa, aku juga tak akan memaksa mu.” Bisa ku lihat aura kekecewaan dari wajah tampannya.

Oppa.. Kau—“ Dia mendekap ku erat sebelum aku melanjutkan kata-kata ku. “Jika kau mau, lakukanlah. Aku ini istri mu, tapi jika kau benar ingin mempunyai anak—“ Kata-kata menggantung yang membuatnya penasaran.

“Apa?” Tanyanya dengan wajah seriusnya menatap ke arah ku.

“Nanti siang temani aku ke dokter.” Kata ku.

“Untuk?” Tanya nya bingung.

“Nanti juga kau tahu.” Aku tersenyum penuh selidik kepadanya.

***

                “Anda ingin melepas alat itu?” Kata dokter Lee meyakinkan ku. Aku mengangguk mantap. “Suami saya ingin mempunyai anak dok.” Balas ku dengan senyum yang mengembang.

“Baiklah.” Kata sang dokter.

***

-Kyu Hyun POV-

Oh, jadi selama ini dia memakai alat itu. Setelah kurang lebih 30 menit aku menunggu, ia keluar dengan didampingi dokter Lee.

Ne, mari dok.” Setelah berpamitan dengan dokter Lee aku dan Jae In langsung menuju ke parkiran.

“Terus?” Tanya ku.

“Apanya?” Tanya nya balik yang sedang terlihat kebingungan.

“Kau bersedia?”

“Kalau aku mau menolak sudah aku tolak dari tadi pagi, tapi ini? Aku sudah terlanjur melepaskannya jadi, terserah kau saja.” Katanya pasrah.

“Baiklah, kajja. Kita buatkan cucu untuk orang tua kita.”

“Dasar yadong.” Dapat ku rasakan ia memukul pelan lengan ku yang mendepap bahunya.

***

-3 Weeks later-

“Hueekkk… Huekkk..” Berulang kali Jae In berusaha memuntahkan isi perutnya. Ini sudah yang kedua kalinya ia bolak-balik dari kamar mandi-kamar selama sarapan pagi ini.

“Jae-ah, gwaenchana? Ayo kita ke dokter.” Kata Kyu Hyun dengan sabar mengikuti Jae In keluar masuk kamar mandi.

Aniyo, aku baik-baik saja, oppa. Aku cuma masuk angin.” Kata Jae In berusaha menenangkan suaminya yang panik itu.

“Atau jangan-jangan—“

“Apa?” Jae In berbalik dan menghadap wajah suaminya.

“Kau.. Ayo ke dokter. Ppaliwa, tak pakai lama.” Kata Kyu Hyun tegas, “Dan kali ini tak ada penolakan. Cepat ganti bajumu lalu kita ke dokter.” Lanjut Kyu Hyun. Ia tahu pasti Jae In akan mengelak dan mendebatnya habis-habisan.

***

                “Bagaimana kondisinya?” Kata Kyu Hyun cemas.

“Emm, kondisi istri anda baik-baik saja dan bayi dikandungannya juga dalam keadaan sehat.” Kata Dokter Lee.

MWO!! Bayi? Jadi—“ Jae In melongo tak percaya dengan apa yang diucapkan dokter di depannya, begitupun dengan Kyu Hyun. Ia tak percaya bahwa dirinya kini telah mengandung. Dan secara refleks, Jae In mengelus perutnya yang masih rata. Jae In juga menggenggam erat tangan Kyu Hyun.

Ne, cukhae. Nyonya Cho mengandung dan usia kandungannya memasuki minggu ke-2.” Jelas Dokter Lee dengan senyuman hangatnya.

Ne, gamsahamnida dok.” Kata Kyu Hyun.

“Ne, dijaga kandungannya. Masa-masa awal kehamilan adalah yang paling rawan, Tuan. Jadi, jangan biarkan istri anda melakukan hal-hal berat terlebih dahulu. Jangan sampai kecapaian dan berbanyak minum air putih juga vitamin yang saya berikan.” Titah dokter Lee.

Ne, anyeong dok. Sekali lagi gamsahamnida.” Kata Jae In.

Setelah keluar dari ruang dokter Lee mereka berdua hanya terdiam. Tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Entah apa yang mereka pikirkan, hanya saja mereka masih belum percaya, sebentar lagi akan mempunyai buah hati.

“Jae-ah..” Panggil Kyu Hyun.

Ne?” didongakkan kepalanya menghadap wajah suaminya itu.

“Kau menyangka akan hal ini?” Tanya Kyu Hyun.

Aniyo.” Kata Jae In. Secara tiba-tiba Kyu Hyun langsung memeluk Jae In. “Gomawo, Jae-ah.” Bisiknya tepat di telinga Jae In. “Cheonmayo, oppa. Kajja kita pulang.”

***

-Kyu Hyun POV-

Ya Tuhan beginikah mempunyai istri hamil? Jae In pasti ngidam yang aneh-aneh. Dan dia menjadi lebih manja dari biasanya. Dan yang paling parah, ia menjadi lebih sensitive terhadap sesuatu. Misalnya kotor, ia pasti langsung muntah-muntah jika disekitarnya kotor.

Oppa, aku kenyang.” Mulai lagi, dia selalu saja begitu. Susah makan.

“Ayolah, satu kali lagi. Kau tak kasihan dengan bayi yang ada di perut mu, hemm?” Kata ku lembut.

“Tapi aku udah kenyang oppa.” Rengek nya lagi.

“Sekali saja, arraseo.” Kata ku lembut sambil memandang kearah matanya penuh harap. Dengan enggan akhirnya dia mengangguk. “Hem, bagus.” Puji ku. Ku daratkan ciuman ku sebagai hadiah dan ku belai rambutnya halus. Ia hanya tersenyum bahagia.

***

-Author POV-

Semua keluarga Cho dan keluarga Shin berkumpul di depan ruang operasi. Shin Jae In atau lebih tepatnya Cho Jae In akan menjalani operasi cesar. Kondisi Jae In dan bayinya sangat kritis dan lemah. Tadi siang Jae In terpeleset di tangga rumah nya, yang menyebabkan terjadi pendarahan.

Mereka semua mengharap cemas tak terkecuali Kyu Hyun. Semenjak Jae In masuk ruang operasi Kyu Hyun hanya mondar-mandir tak jelas di sekitar ruang operasi dan pastinya sambil berkomat-kamit merapalkan doa keselamat untuk istrinya dan yang pasti untuk bayi dikandungan Jae In.

“Maaf tuan, kami sudah melakukan dengan sekuat tenaga dan kami hanya bisa menyelamatkan bayi anda saja dan istri anda…” Kata dokter dengan penuh rasa penyesalan. Suster yang tadi menggendong bayi memberikannya ke tangan Kyu Hyun. Kyu Hyun mengamati bayi mungil itu dengan hati-hati. Disatu titik dia bahagia karena akhirnya bisa menjadi seorang appa. Tapi, disisi lain, ia sedih, teramat sedih karena harus kehilangan pasangan hidupnya.

Andwae!! Kau hanya berbohong, kan? Istri dan anak ku baik-baik saja.” Tolak Kyu Hyun.

“Tenang tuan. Anda boleh melihatnya di dalam.” Kyu Hyun masuk didampingi sang dokter dan menggendong anak nya. Keluarga yang lain masih shock hanya menunggu di luar. Kyu Hyun masuk ke ruang itu, air mata yang sedari tadi ia bendung tak bisa tertahan kan lagi. Untuk pertama kali ini ia menangis karena seorang yoeja.

“Jae-ah, anak kita sudah lahir tapi kenapa kau meninggalkan aku dan anak kita, huh? Kau tak sayang dengan dia. Harusnya kau lihat, betapa lucunya dia. Lihatlah, betapa lucunya anak kita, Jae-ah. Ppali, ireona.” Kata Kyu Hyun dengan terisak di sisi Jae In.

Tanpa Kyu Hyun dan tim dokter sadari, tangan Jae In bergerak lemah. Salah satu suster yang melihat itu pun segera memberitahu sang dokter. “Dok, lihat tangannya bergerak.” Kata suster itu. Dokter itu pun mengamatinya. Dan benar saja, bukan hanya tangannya yang bergerak, bibir mungilnya yang pucat juga bergerak, menggumamkan sebuah kata-kata.

“Dok, monitor pasien kembali menyala.” Suster itu melihat kurva yang ada dimonitor yang tadi hanya lurus kini sudah mulai membentuk sebuah gerakan.

“Kyuhhh—hhyyuunn—sarrrangg—hae.” Bisik Jae In yang sontak membuat Kyu Hyun kaget. “Dok.” Pandangannya teralih ke monitor yang tak lagi menunjukkan garis lurus.

“Tolong anda keluar, saya harus memeriksanya sebentar.” Kata sang dokter. Dengan sedikit keengganan di hati, Kyu Hyun lantas meninggalkan ruangan tersebut.

***

-Kyu Hyun POV-

“Ya ampun Kyu, anak kalian benar-benar kyeota dan tampan.” Puji Ah Ra nuna kepada ku sembari melihat bayi yang kini tengah digendong eomma Jae. Aku sedari tadi mengelus lembut kepala istri yang masih tampak pucat dan lemah. “Gomawo Jae-ah, saranghae.” Kalimat yang sekian lama ku tahan akhirnya keluar dari mulutku. Jae In hanya tersenyum sambil mengangguk, “Nado, oppa. Neomu saranghae.

“Iya dong nuna, siapa dulu appanya.” Kata ku membanggakan diri.

“Lalu kau akan memberinya nama siapa?” Tanya appa ku.

“Aku akan meberinya nama Cho Hyun Jae.” Kata ku bangga. “Bagaimana? Kau suka, Jae-ah?” Aku meminta pendapat kepada Jae In.

“Bagus. Aku suka.” Katanya.

-THE END-

Hufftt, akhirnya selesai juga. Gomawo yang udah mau baca ff abal-abal ini. Sampai jumpa di di ff selanjutnya#abaikan. Anyeong. ^^

Author:

Just an ordinary girl with an extraordinary. I'd rather die than live without any passions -JK-

17 thoughts on “FF : IN THE END I SAID “SARANGHAE”

  1. huaaaaaaaaa author daebak! kyuhyunnya awalnya dingin tp ternyata aslinya romantis dan pengertian bangeeeet~ jae in nya juga kecelah! ditunggu ff selanjutnya. kalo bisa ada sequelnya dong thor hihi~~

  2. syang bgd gak ada moment2 ngidam yg gak biasa dri couple ini psti tmbah seru…
    tpi untuk ff nih well done
    keep writing!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s